Merhaba Aisyah
Kak Katya Akan dilamar?
Meja makan malam itu terasa lebih ramai dari biasanya, piring-piring sudah tertata, Aisyah duduk sambil memainkan sendoknya pelan, sementara Kak Katya sejak tadi terlihat seperti menahan sesuatu di dadanya.
Kak Katya yang dari tadi kelihatan ingin bicara akhirnya menarik napas pelan.
“Dek,” katanya sambil menyendok nasi, “kakak mau cerita.”
Aisyah mengangkat kepala. “Kenapa, Kak?”
Kak Katya tersenyum kecil, ada campuran gugup dan bahagia. “InsyaAllah dua hari lagi kakak lamaran.”
Sendok Aisyah berhenti di udara. “Hah? Serius, Kak?”
“Iya,” jawab Kak Katya sambil terkekeh. “Makanya besok kakak harus pulang ke Jakarta.”
Aisyah refleks ikut tersenyum lebar. “MasyaAllah… cepet juga ya.”
“Kakak juga nggak nyangka,” lanjut Kak Katya. “Tapi bunda udah tau dari awal. Kakak juga udah cerita semuanya ke bunda, dan alhamdulillah bunda langsung nyiapin ini itu.”
Aisyah menoleh ke arah bunda yang hanya tersenyum sambil mengaduk sayur.
“Abi juga udah video call sama Deniz,” tambah Kak Katya lagi. “Ngobrol lama. Soal rencana, tanggung jawab, macem-macem.”
Aisyah mengangguk pelan. Ia bisa membayangkan Abi dengan wajah seriusnya.
“Kak,” katanya hati-hati, “terus aku gimana?”
Kak Katya tertawa kecil. “Nah, itu yang mau kakak omongin. Kalau adek mau ikut pulang ke Jakarta, silakan. Tinggal izin libur kuliah sebentar.”
Katya lalu menatap Aisyah lebih lembut.
“Tapi kalau lagi sibuk, jangan dipaksain. Kakak nggak mau adek jadi ribet. Di sini juga nggak apa-apa.”
Aisyah terdiam sebentar bukan karena bingung, tapi karena terharu. “Kakak baik banget sih,” gumamnya.
“Kakak cuma nggak mau kamu ngerasa harus,” jawab Kak Katya santai. “Apapun pilihan kamu, kakak seneng.”
Aisyah tersenyum sambil menatap kakaknya. “Jujur ya, Kak… aku pengen ikut.”
Kak Katya langsung menoleh. “Beneran?”
“Iya,” jawab Aisyah mantap. “Aku pengen ada di hari penting kakak, lagian aku juga kangen bunda dan Abi.”
Kak Katya langsung menjulurkan tangan dan menggenggam tangan Aisyah di atas meja. “Makasih, dek.”
Aisyah balas menggenggam dalam hatinya, ia merasa bahagia bukan cuma karena kakaknya akan melangkah ke fase baru, tapi karena untuk pertama kalinya, masa depan terasa tenang tanpa harus menoleh ke belakang.
Setelah dipikir-pikir jadwal perkuliahan Aisyah tidak sepadat semester awal dan tugas di organisasi pun sudah selesai jadi tidak ada pertimbangan buat dia untuk tetap disini. Aisyah merindukan rumah dan orangtuanya.
****
Ruang tengah apartemen sore itu tetap terasa hangat, meski isinya sekarang lebih sederhana. Tas terbuka di lantai, berapa baju sudah keluar dari lemari dan koper Aisyah tergeletak setengah terisi.
Aisyah duduk di karpet bersama Zehra dan Mariam, berpura-pura fokus ke ponsel padahal matanya bolak-balik melirik ke arah pintu.
“Syah,” Zehra menyenggol lengannya pelan, “dari tadi kamu kayak nunggu paket COD.”
Aisyah mendengus kecil. “Nggak lah.”
“Padahal jelas-jelas deg-degan,” sambung Mariam. “Tenang aja, yang mau lamaran Kak Katya, bukan kamu.”
“Tau,” jawab Aisyah cepat. “Tapi tetep aja, aku belum pernah sedekat ini ngeliat acara lamaran.”
“Biasanya orang bilang gitu terus nangis pas doa,” kata Zehra sok bijak.
Aisyah melirik. “Aku nggak segampang itu nangis.”
Bel pintu berbunyi.
Mariam berdiri. “Nah, ini pasti bala bantuan.”
Begitu pintu dibuka, Hana dan Naila langsung masuk tanpa sungkan.
“Assalamu’alaikum!” seru Hana sambil nenteng tas kecil.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Aisyah sambil senyum. “Kalian ngapain ke sini?”
Naila langsung duduk di lantai, nyengir. “Katanya kamu mau pulang. Masa packing sendirian?”
Hana menimpali, “Iya, kita nggak bantu juga gapapa sih, tapi minimal nemenin panik.”
“Aku nggak panik,” bantah Aisyah.
Zehra terkekeh. “Itu kata-kata klasik.”
Mereka mulai bantu-bantu. Hana buka lemari, Naila pegang koper.
“Ini dibawa semua?” tanya Hana sambil ngeluarin jaket.
“Iya,” jawab Aisyah. “Di Jakarta masih kepake.”
Naila melipat asal. “Yang penting muat.”
“Rapi dikit napa,” protes Mariam.
“Namanya juga packing darurat emosional,” balas Naila santai.
Aisyah ketawa. Suasananya ringan, nggak ada tegang-tegangnya.
Hana tiba-tiba berhenti dan duduk di samping Aisyah. “Syah, kamu seneng pulang?”
Aisyah mikir sebentar lalu mengangguk. “Seneng. Bukan karena pengen ninggalin sini, tapi karena ngerasa… pas aja momennya.”
“Bukan kabur kan?” goda Hana.
Aisyah menggeleng. “Enggak. Justru aku ngerasa lagi berdiri di tempat yang tepat.”
Naila menoleh sambil nutup koper. “Wih, bahasanya udah kayak orang beres sama dirinya sendiri.”
“Doain aja,” kata Aisyah pelan.
Koper akhirnya ditutup. Hana duduk bersandar, menepuk-nepuk koper itu. “Besok beneran pulang ya.”
“Iya,” jawab Aisyah.
Zehra tersenyum kecil. “Pulang dengan hati yang lebih tenang.”
Aisyah menatap teman-temannya satu per satu. Ia sadar, kali ini perginya bukan membawa beban tapi membawa rasa syukur dan kesiapan.
“Syah, kamu gak bilang ka Arman kalau pulang?" tanya Zehra
“Iya, kamu harus bilang ka Arman takutnya dia cariin kamu," timpal Mariam
“Wahh wah kayaknya aku ketinggalan gosip nih, jadi Aisyah sekarang deket sama senior ganteng itu?” tanya Naila dia memang sempat curiga namun tidak menyangka jika Aisyah beneran punya hubungan dengan ka Arman.
"Hissh kalian nih ya gosip terus deh, Naila kamu jangan percaya aku tidak ada hubungan apa-apa sama ka Arman!” sergah Aisyah panik jika Naila dan Hana jadi salah paham.
"Kalau bener pun aku tidak masalah, Syah, malah itu bagus dari pada ka Arman sama si ratu itu yang suka tebar pesona,” celetuk Hana seperti punya dendam dengan senior itu yang dulunya saat ospek pernah kena hukuman.
Semuanya terkekeh mendengar Hana berbicara seperti itu, karena jarang sekali Hana memakai orang baru kali ini mereka mendengar Hana yang berbicara penuh emosi.
"Syah, serius deh kamu harus bilang sama kak Arman kalau mau pulang," ujar Zehra dia sudah curiga pasti cowok itu akan nyariin.
Aisyah terdiam, “Nanti aku pikirkan lagi ya," katanya tenang.
Teman-teman mengembuskan nafas pelan, merasa sia-sia berbicara panjang lebar dengan Aisyah.