Merhaba Aisyah

Akhirnya Bisa Pulang

Tak lama setelah itu, suara langkah terdengar dari arah dapur. Kak Katya muncul sambil membawa nampan berisi cemilan dan beberapa gelas minum.

 

“Nih, kalian pasti belum makan kan,” katanya ringan. “Aku bawain pisang goreng sama teh hangat.”

 

Zehra langsung bersorak kecil. “MasyaAllah, penyelamat datang.”

 

Mariam ikut berdiri membantu menata di meja. “Kak Katya baik banget sih. Ini efek mau dilamar apa gimana?”

 

Kak Katya tertawa kecil. “Heh, jangan lebay. Dari dulu juga aku gini.”

 

Aisyah ikut tersenyum, perasaan gelisahnya sedikit mencair. “Makasih, Kak. Pas banget, aku laper.”

 

Kak Katya melirik Aisyah sekilas, matanya menyipit penuh arti. “Kamu dari tadi kenapa kelihatan tegang?”

 

“Enggak apa-apa,” jawab Aisyah cepat. “Cuma kebanyakan mikir.”

 

Zehra dan Mariam saling pandang, lalu tersenyum sok polos.

“Biasa,” kata Zehra santai sambil mengambil cemilan. “Efek liat foto estetik kehujanan.”

 

Aisyah langsung menoleh tajam. “Zehra…”

Kak Katya mengangkat alis. “Foto apa?”

Mariam tertawa kecil. “Nanti aja ceritanya, Kak. Fokus makan dulu. Cemilannya keburu dingin.”

 

Kak Katya tidak memaksa, hanya tersenyum sambil duduk. Aisyah memperhatikan kakaknya cara tertawanya, wajahnya yang terlihat bahagia dan tanpa sadar dadanya ikut terasa hangat.

 

Di tengah candaan kecil dan bunyi piring, Aisyah merasa momen ini sederhana, tapi utuh.

 

Teman-teman Aisyah sudah pulang setelah selesai makan dan bercanda untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpisah untuk sementara waktu.

 

Aisyah melipat kaos terakhirnya, lalu menutup koper pelan. Ia menghela napas lega, merasa rapi dan siap. Dari dapur, suara Kak Katya terdengar sedang menelepon seseorang tak lama kemudian, Kak Katya masuk ke kamar sambil menyelipkan ponsel ke saku.

 

“Kak jadwal berangkatnya kapan?" tanya Aisyah penasaran 

 

“Nanti sore,” jawab Kak Katya santai.

Aisyah refleks mendongak. “Sore ini?”

 

“Iya,” Kak Katya tertawa kecil melihat ekspresi Aisyah. “Kenapa?”

 

Aisyah ikut tertawa. “Untung aku udah packing dari tadi. Kirain masih besok.”

 

“Makanya,” kata Kak Katya sambil duduk di tepi kasur. “Kalau nunggu besok, bisa ribet.”

 

Aisyah menatap koper di depannya. Dalam hati ia bersyukur sudah membereskan semuanya tanpa menunda. Ada rasa deg-degan yang tipis, tapi lebih banyak rasa siap. Pulang sebentar ke Jakarta untuk momen penting Kak Katya terasa seperti jeda yang Allah siapkan di tengah rutinitasnya.

 

Menjelang sore, hujan tipis turun membasahi jalanan. Sebuah mobil berhenti di depan apartemen. Kak Deniz turun lebih dulu, membantu memasukkan koper ke bagasi. Ia menyapa Aisyah dengan sopan, senyum tipis yang tenang.

 

“Siap, Syah? Gak ada yang ketinggalan kan?” tanya kak Deniz. 

“Siap Kak, aman,” jawab Aisyah singkat, tetap menjaga sikapnya.

 

Perjalanan ke bandara berlangsung cukup hening, tapi bukan canggung. Kak Katya sesekali bercerita soal persiapan lamaran, sementara Kak Deniz menyetir dengan fokus, menimpali seperlunya. Aisyah lebih banyak mendengar, matanya sesekali memandang keluar jendela, menikmati suasana sore Jakarta yang mulai padat.

 

Saat sampai di bandara, suasana ramai menyambut mereka troli koper bergerak beriringan, suara pengumuman terdengar bersahut-sahutan. Aisyah berjalan sedikit di belakang Kak Katya, memastikan langkahnya tidak terburu-buru. Saat proses check-in, ia berdiri di samping Kak Katya, membantu sebisanya tanpa banyak bicara.

 

Setelah proses check-in selesai dan mereka duduk menunggu boarding, Aisyah sempat menatap keluar jendela kaca besar. Langit mulai berubah warna, jingga bercampur biru. Ia merasa tenang bukan karena tidak ada pikiran, tapi karena hatinya tidak lagi berlarian ke mana-mana.

 

“Kamu capek?” bisik Kak Katya.

“Enggak, Kak. Aman,” jawab Aisyah pelan.

 

Di ruang tunggu, Aisyah duduk tegak, tangannya terlipat di pangkuan. Ia menjawab setiap pertanyaan Kak Deniz dengan sopan, tidak berlebihan, tidak pula dingin. Sikapnya tenang seperti seseorang yang tahu posisinya dan nyaman berada di sana.

 

Penerbangan berjalan lancar. Aisyah sempat terlelap sebentar, lalu terbangun saat pesawat mulai turun.

“Syah, sudah mau mendarat,” ujar Kak Katya lembut.

 

“Iya, Kak,” jawab Aisyah sambil merapikan kerudungnya.

 

Setibanya di Bandara Jakarta, udara hangat langsung terasa. Setelah mengambil bagasi, mereka melangkah keluar. Seorang pria paruh baya melambaikan tangan dari dekat pintu kedatangan.

 

“Syah!” panggilnya.

Aisyah tersenyum lebar. “Om!”

 

Pamannya menghampiri, menyalami Kak Katya dan Kak Deniz, lalu membantu mengambil koper Aisyah. Setelah berpamitan dengan sopan, Aisyah masuk ke mobil pamannya. Dari balik kaca, ia sempat melirik Kak Katya dan Kak Deniz yang berdiri berdampingan.

 

“Tya, aku pulang dulu ya ke rumah orangtua, kamu hati-hati di jalan," ujar Deniz sebelum Katya masuk ke dalam mobil.

 

Deniz asli orang Bandung, jadi dia akan pulang ke rumah orangtuanya terlebih dahulu sambil menyiapkan proses lamarannya.

 

"Iya, kamu juga hati-hati ya pulangnya,” kata Katya sambil tersenyum.

 

Mobil melaju meninggalkan bandara. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.

 

“Orang tua kalian sudah nunggu di rumah,” kata pamannya.

 

Aisyah mengangguk pelan. “Iya, Om.”

 

Ia menyandarkan punggung ke kursi, menarik napas dalam. Perjalanan ini terasa berbeda bukan sekadar pulang, tapi melangkah ke babak baru, dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang tidak lagi berlari ke masa lalu.

 

Begitu mobil berhenti di depan rumah, pintu pagar sudah terbuka lampu teras menyala terang, seolah rumah itu memang sedang menunggu.

 

Belum sempat Aisyah turun sepenuhnya, pintu rumah sudah terbuka. Bunda dan abinya sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya langsung berubah cerah begitu melihat dua putrinya.

 

“MasyaAllah… akhirnya sampai juga,” ucapnya hangat.

 

Aisyah menurunkan tasnya, langkahnya cepat menghampiri bundanya tanpa banyak kata, ia langsung memeluk tubuh yang sangat ia rindukan itu erat-erat. Wajahnya tenggelam di bahu bundanya, napasnya sempat tertahan.

 

“Bun…” suaranya lirih, hampir bergetar.

Bundanya mengusap punggung Aisyah pelan, penuh kasih. “Iya, iya… bunda di sini. Kabar kamu gimana? Sehat?”

 

Aisyah mengangguk sambil masih memeluk. “Sehat, Bun. Kangen banget.”

Katya ikut mendekat, memeluk dari sisi lain. “Kami baik, Bun. Alhamdulillah.”

 

Bundanya tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kedua putrinya di depan mata. “Masuk dulu, yuk. Di luar dingin.”

 

Di dalam rumah, aroma masakan langsung menyambut. Aisyah berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam.

 

“Bun masak?” tanyanya, nada suaranya langsung berubah ceria.

 

“Iya,” jawab bundanya sambil tertawa kecil. “Masakan kesukaan kalian. Dari siang bunda sudah siapin.”

 

Aisyah menoleh ke meja makan, matanya langsung berbinar. “Rendang sama sayur asem?”

 

Bundanya mengangguk. “Kamu masih hafal.”

Aisyah terkekeh kecil. “Mana mungkin lupa.”

 

Mereka duduk bersama, suasana rumah terasa penuh bukan oleh suara keras tapi oleh kehangatan yang pelan-pelan mengisi setiap sudut. Bunda dan abinya sibuk menanyakan kabar tentang kuliah Aisyah, aktivitas Katya, perjalanan mereka juga sekadar hal-hal kecil yang terasa penting ketika rindu sudah lama tertahan.

 

Aisyah menjawab satu per satu, sesekali tersenyum, sesekali hanya mengangguk sambil menikmati makanan. Di sela-sela itu, bundanya beberapa kali menatap Aisyah lama, seperti ingin memastikan anak bungsunya benar-benar baik-baik saja.

 

Bundanya memperhatikan Aisyah diam-diam dari balik meja makan, cara Aisyah menyendok nasi, ekspresi wajahnya setiap kali mengunyah, sampai senyum kecil yang tak sengaja muncul semuanya terasa berbeda lebih ringan dan lebih hidup

 

“Kamu kelihatan bahagia,” ucap bundanya tiba-tiba.

 

Aisyah mendongak, sedikit kaget. “Hah?”

Bundanya tersenyum lembut. “Iya, dari matamu dari caramu makan.”

 

Aisyah terkekeh kecil, lalu melirik piringnya. “Soalnya rendang bunda masih yang paling enak di dunia.”

 

Katya ikut tertawa. “Nah kan, itu yang bikin dia pengen pulang juga.”

 

Bundanya menggeleng pelan, tapi matanya hangat. “Bukan cuma itu. Bunda bisa ngerasa ada yang beda.”

 

“Bahagia bisa pulang ketemu Abi dan bunda, hehe…” 

 

Bundanya mengangguk pelan, tak bertanya lebih jauh. Ia hanya menepuk tangan Aisyah di atas meja isyarat sederhana tapi cukup untuk membuat dada Aisyah terasa hangat.

 

Malam itu, Aisyah kembali ke kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan. Ia duduk di tepi ranjang, memandang sekeliling. Semuanya masih sama tapi dirinya terasa sedikit berbeda.

 

Ia berbaring, memejamkan mata, dengan satu rasa yang lama tak ia rasakan sepenuhnya, pulang.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!