Merhaba Aisyah
Hujan Membawa Kedekatan
Kantin kampus siang itu lumayan rame. Bukan rame berisik, tapi rame hidup. Ada suara orang ketawa, bunyi piring ketemu sendok, sama obrolan yang saling nyelip satu sama lain.
Aisyah duduk sambil buka bekal. Baru setengah kebuka, Zehra yang duduk di depannya sudah mantengin dia dari tadi.
“Aku tuh ngerasa ada yang beda dari kamu,” kata Zehra tiba-tiba.
Aisyah mendongak. “Bedanya apaan? Aku masih orang yang sama.”
“Justru itu,” sahut Zehra cepat. “Biasanya kamu tuh keliatan kayak mikir sesuatu terus. Sekarang kok… kalem.”
Mariam datang sambil bawa minum, langsung nimbrung. “Iya sih. Biasanya muka kamu tuh kayak orang lagi nunggu chat tapi sinyal jelek.”
Aisyah nyengir. “Kalian kebiasaan merhatiin aku, ya.”
“Namanya sahabat,” kata Mariam santai. “Kalau nggak kepo malah aneh.”
Aisyah lanjut makan, lalu bilang pelan, “Mungkin karena aku lagi nggak mikirin apa-apa.”
Zehra berhenti ngunyah. “Hah?”
“Serius,” Aisyah ngangguk. “Kepala aku lagi… sepi.” kini Aisyah memang tidak banyak agenda di pikirannya jadi terasa sepi.
Mariam ketawa kecil. “Sepi itu jarang loh buat kamu.”
“Iya,” Aisyah ikut senyum. “Tapi enak.”
Zehra nyender di kursi. “Jadi kamu udah nggak nunggu sesuatu?”
Aisyah mikir sebentar. “Kayaknya nggak.”
“Nggak nunggu siapa-siapa?” Mariam nyengir usil.
Aisyah meliriknya. “Kamu tuh ya.”
“Jawabannya apa?” desak Mariam sambil terkekeh, dia suka sekali menggoda Aisyah.
Aisyah tarik napas pendek. “Aku capek nunggu. Capek mikirin yang udah lewat. Sekarang pengennya jalan aja.”
Zehra mengangguk pelan. “Nah gitu dong, Syah.”
“Dan jarang,” tambah Mariam. “Biasanya orang yang kejar yang ngerasa capek.”
Aisyah ketawa. “Aku juga masih capek, kok. Tugas numpuk tetap bikin stres.”
“Alhamdulillah,” kata Zehra. “Kirain kamu udah naik level jadi manusia tanpa emosi.”
Mereka bertiga ketawa.
Setelah makan, mereka pindah duduk ke taman kecil. Angin sore adem. Aisyah buka tas, ngeluarin buku catatan, tapi cuma dibuka sebentar.
“Kamu nulis apa?” tanya Mariam.
“Entah,” jawab Aisyah jujur. “Pengen nulis aja.”
Zehra melirik. “Tentang apa?”
“Bukan rindu,” jawab Aisyah cepat. “Lebih ke… siap.”
Mariam mengangguk pelan. “Siap buat apa?”
“Buat apa pun yang Allah kasih,” kata Aisyah. “Bukan sibuk berharap yang lama balik.”
Nggak ada yang nyeletuk bercanda kali ini. Tapi suasananya tetap hangat.
“Bagus,” kata Zehra akhirnya. “Kamu kelihatan lebih dewasa.”
Aisyah senyum kecil. “Aku juga ngerasanya gitu.”
Langit berubah kelabu sejak siang dan menjelang asar, rintik turun perlahan lalu semakin rapat. Zehra dan Mariam sudah pulang lebih dulu sejak siang, karena jadwal mereka berbeda. Aisyah masih bertahan di kampus, menyelesaikan laporan dokumentasi museum kemarin menyusun foto, menulis narasi dan mengedit catatan.
Saat ia menutup laptop, jam di dinding menunjukkan hampir pukul enam sore.
“Akhirnya kelar juga,” gumam Aisyah sendiri.
Ia membereskan barang, lalu keluar ruangan. Di koridor, ia melihat Arman berdiri tak jauh, bersama ketua OSIS dan sekretarisnya.
Ketua OSIS itu bernama Faruk orangnya tinggi, berkacamata, dengan gaya bicara lugas. Di sampingnya ada Elif, sekretaris yang rapi dan cekatan, memegang map tebal di dadanya.
“Kita tutup laporan hari ini, ya,” kata Faruk. “Besok tinggal kirim ke pihak museum.”
“Elif, kamu bisa follow up email-nya?” lanjutnya.
Elif mengangguk cepat. “Siap.”
Arman menoleh dan melihat Aisyah. “Sudah selesai?”
“Iya, Kak,” jawab Aisyah. “Baru aja.”
Mereka bertiga berjalan menuju pintu utama kampus. Begitu pintu dibuka, suara hujan langsung menyambut deras, jatuh bertubi-tubi ke pelataran.
Faruk mendecak pelan. “Wah, makin deres.”
Elif melihat jam tangannya. “Aku naik tram aja, masih keburu.”
“Aman?” tanya Arman.
Elif tersenyum. “Aman. Aku biasa kehujanan.”
Ia berpamitan, lalu berlari kecil menembus hujan.
Faruk menyusul tak lama kemudian. “Mobilku parkir di seberang. Aku duluan ya.”
“Siap, Kak,” ujar Arman.
Tinggal Aisyah dan Arman di bawah atap kampus. Hujan belum menunjukkan tanda-tanda reda.
Aisyah berdiri sambil memeluk tasnya, menatap jalanan yang basah. “Kayaknya lama ya, Kak.”
“Iya,” jawab Arman singkat.
Hening sejenak. Tidak canggung hanya sunyi yang wajar.
Arman melirik Aisyah. “Kamu pulang naik apa?”
“Bus,” jawab Aisyah jujur. “Biasanya nunggu agak sepi dulu.”
Arman mengangguk pelan. Beberapa detik kemudian, ia berkata dengan nada datar, tanpa dibuat-buat, “Kalau mau, aku anterin. Mobilku di parkiran belakang.”
Aisyah refleks menoleh. “Nggak ngerepotin?”
“Enggak,” jawab Arman singkat. “Sekalian pulang.”
Aisyah ragu sebentar bukan karena tidak nyaman, tapi karena terbiasa mandiri. Namun hujan semakin deras, dan jalanan terlihat dingin.
“Kalau Kakak nggak keberatan…” katanya akhirnya.
Arman tersenyum tipis. “Ayo.”
Mereka berjalan menuju parkiran, menembus hujan di bawah satu payung besar, langkah mereka seirama tanpa saling tergesa.
Di dalam mobil, suara hujan terdengar jelas di atap. Arman menyalakan mesin dan heater pelan.
“Capek?” tanyanya sambil fokus ke jalan.
“Lumayan,” jawab Aisyah. “Tapi lega karena sudah selesai.”
Aisyah tersenyum kecil. Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menatap lampu jalan yang memantul di kaca basah.
Beberapa menit pertama mereka diam. Bukan karena canggung, melainkan karena sama-sama menikmati suasana.
Aisyah memecah keheningan lebih dulu. “Kak…”
“Iya?” Arman melirik sebentar, lalu kembali fokus ke jalan.
“Ibu Kak Arman sekarang gimana?” tanyanya pelan, suaranya hati-hati seolah takut terdengar terlalu jauh masuk ke ranah pribadi.
Arman menarik napas kecil. “Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik. Kemarin sempat bikin kaget, tapi sekarang sudah boleh rawat jalan.”
Aisyah mengangguk lega. “Syukurlah. Aku kemarin kepikiran, tapi nggak enak nanya.”
“Gapapa,” jawab Arman singkat, tapi nadanya hangat. “Terima kasih ya sudah peduli.”
Mobil itu berhenti di depan apartemen Aisyah. Hujan masih turun, tapi tidak sederas tadi lebih seperti sisa-sisa langit yang belum selesai bercerita.
“Sudah sampai,” kata Arman pelan.
Aisyah membuka sabuk pengamannya. “Terima kasih, Kak. Kalau nggak, mungkin aku masih nunggu hujan reda.”
Arman tersenyum tipis. “Hujan di sini jarang nurut.”
Aisyah ikut tersenyum. Ia membuka pintu, lalu berhenti sejenak. “Hati-hati ya kak pulangnya.”
“Iya. Kamu juga jangan lupa istirahat,” balas Arman.
Aisyah menutup pintu mobil dan melangkah masuk ke dalam apartemen. Saat ia menoleh ke belakang, mobil Arman masih diam sejenak seperti memastikan ia benar-benar sudah masuk baru kemudian beranjak pergi.
*Zehra
“Syah, liat nih kamu ketahuan kan?"
Zehra mengirim pesan sambil emot tertawa, ternyata diam-diam dia punya mata-mata untuk Aisyah.
Saat sampai di rumahnya Aisyah langsung mengambil air putih dan duduk di sofa, dia membuka ponselnya dan terkejut melihat foto dirinya dan Arman saat sedang berjalan satu payung di bawah hujan.
"Ra, siapa yang memfoto ku? Astaga jangan disebarkan ya aku takut ka Arman kena masalah.”
*Zehra
"Dalam situasi seperti ini ajh kamu mikirin ka Arman, cie kalian sudah jadian ya?"
Aisyah menarik nafas dalam-dalam, dia percaya Zehra tidak mungkin melakukan hal tidak baik kepada dirinya. Baru semester 4 dia tidak mau merusak nama baiknya dengan gosip-gosip yang tidak benar.
Kak Katya pun datang menghampiri Aisyah yang sedang duduk sendirian.
"Dek, sudah pulang? Kan di luar hujan kamu gak hujan-hujanan kan?” tanya kak Katya
"Gak ka, tadi aku nebeng bareng senior naik mobilnya.”
"Oalah, yaudah sana ganti baju nanti kita sarapan kakak sudah masak ayam tuh," ujar kak Katya sambil menepuk bahu Aisyah.