Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Penyelamat Saat Terakhir

“Rayhan!” seru wanita itu. “Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku? Dan siapa wanita culun ini?”

Alya tersentak. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya. Rayhan terlihat tidak terkejut. Ia hanya menatap wanita itu dengan dingin.

“Karin,” kata Rayhan, suaranya datar. “Saya sedang makan malam. Tolong jangan ganggu.”

Karin tidak menyerah. “Rayhan, siapa dia? Kenapa kamu bisa bersama wanita seperti dia? Apa dia… pacar barumu?”

“Dia istri saya,” jawab Rayhan, tanpa ekspresi. “Dan dia bukan wanita ‘seperti dia’. Dia jauh lebih baik dari kamu.”

Karin terkejut. Matanya melebar, ia menatap Alya dengan penuh kebencian. “Apa? Istri? Sejak kapan? Kenapa kamu tidak bilang padaku?”

“Saya tidak harus memberitahu kamu,” kata Rayhan. “Sekarang, tolong pergi. Kamu mengganggu makan malam saya.”

Karin tertawa sinis. “Rayhan, kamu tidak bisa mempermainkan saya. Saya tahu kamu masih mencintaiku. Kamu tidak akan menikah dengan wanita seperti dia.”

“Saya tidak mencintai kamu, Karin,” jawab Rayhan, dingin. “Cinta saya sudah mati, sejak kamu mengkhianati saya.”

Karin terdiam. Ia menatap Alya, lalu menatap Rayhan. Ia merasa sangat marah, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menatap Alya dengan penuh kebencian, lalu pergi.

Alya menatap Karin yang pergi, lalu menatap Rayhan. “Siapa dia?”

“Mantan kekasih saya,” jawab Rayhan, singkat. “Dia adalah wanita yang membuat saya trauma.”

Alya terdiam. Ia merasa iba pada Rayhan. Pria yang tampan dan sukses ini ternyata memiliki masa lalu yang menyakitkan. Alya merasa, ia mulai memahami Rayhan.

Setelah makan malam, Rayhan mengantar Alya pulang. Di dalam mobil, tidak ada yang berbicara. Alya merasa, sejak saat ini semakin dekat dengan Rayhan. Ia merasa, mulai sedikit memahami pria itu.

Ketika mereka sampai di apartemen, Rayhan memegang tangan Alya, menghentikannya. “Alya… ada yang harus saya katakan.”

Alya menatapnya. Rayhan menatap Alya, matanya yang dingin kini memancarkan sedikit kehangatan. “Saya… saya merasa, saya harus berterima kasih pada kamu.”

Alya tersenyum. “Terima kasih untuk apa?”

“Terima kasih karena kamu membuat saya merasa… hidup,” jawab Rayhan, jujur. “Kamu… kamu berbeda. Kamu tidak seperti wanita lain.”

Alya terkejut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa, ia mulai jatuh cinta pada Rayhan.

Keesokan harinya, Alya bangun pagi. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu Rayhan. Ia ingin berbicara dengannya, ia ingin memahami perasaannya. Namun, ketika ia keluar dari kamarnya, ia tidak melihat Rayhan. Ia hanya melihat seorang pria dengan seragam polisi, berdiri di ruang tamu.

“Nona Alya?” tanya pria itu. “Anda harus ikut kami.”

Alya panik. “Ada apa? Saya tidak melakukan apa-apa.”

“Anda dituduh mencuri,” jawab pria itu. “Dan kami punya bukti. Foto-foto Anda saat mengambil barang-barang dari rumah Anda.”

Alya terkejut. Ia merasa, kakinya lemas. Ia tidak mencuri. Ia hanya mengambil barang-barang miliknya sendiri. Tetapi, ia tahu, Pak Soni dan Ratna, mereka akan melakukan apa saja untuk menghancurkan hidupnya.

Alya menatap pria itu, air matanya menetes di pipinya. Ia merasa, ia tidak bisa lari lagi. Ia merasa, ia sudah tertangkap. Ia merasa, ia akan kembali ke neraka yang ia tinggalkan.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Pak Soni tertawa. Tawa yang mengerikan. Ia melihat foto Alya yang sedang dibawa oleh polisi. Ia tersenyum, penuh kemenangan. “Alya… kau tidak bisa lari dariku. Kau akan kembali padaku.”

Malam itu, Alya tidak bisa tidur. Ia merasa takut, ia merasa putus asa. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Ia hanya tahu, ia sudah terjebak. Ia tidak bisa lari. Ia tidak bisa lari dari takdir ini.

Alya duduk di kursi ruang interogasi, tubuhnya gemetar hebat. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk, tidak sebanding dengan hawa panas ketakutan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Di depannya, seorang penyidik dengan wajah tanpa ekspresi terus menanyainya.

“Jadi, Anda mengaku mengambil barang-barang itu dari rumah orang tua angkat Anda tanpa izin?” tanya penyidik, suaranya datar.

Alya menggeleng, air mata kembali membasahi pipinya. “Tidak, Pak. Saya tidak mencuri. Itu barang-barang saya sendiri. Mereka yang memaksa saya pergi, dan saya hanya mengambil pakaian dan dokumen penting.”

Penyidik itu tidak peduli. Ia hanya menatap Alya dengan pandangan meremehkan, seolah Alya adalah penjahat kelas kakap. “Di dalam laporan, ibu angkat Anda, Ratna, mengatakan bahwa Anda mencuri uang dan perhiasan berharga. Dan dia memiliki bukti rekaman CCTV.”

Alya tersentak. “Itu tidak benar! Mereka menjebak saya!”

Penyidik itu menghela napas. “Nona Alya, kami punya bukti. Anda terlihat mengambil barang-barang dari rumah. Dan ibu angkat Anda bersaksi bahwa Anda mencuri. Kami punya saksi mata. Jadi, akui saja perbuatan Anda.”

Alya menunduk, menangis. Ia merasa putus asa. Ia tahu, Ratna dan Pak Soni telah merencanakan ini semua. Mereka telah menyiapkan perangkap untuknya. Alya merasa, ia tidak bisa lari lagi. Ia sudah terjebak. Ia sudah kalah.

“Saya… saya tidak punya pengacara,” bisik Alya. “Tolong, Pak… saya tidak bersalah.”

“Anda bisa menghubungi pengacara Anda, Nona Alya,” kata penyidik. “Tapi, kami punya bukti yang kuat. Anda akan dihukum.”

Jantung Alya berdebar kencang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa, ia akan dikirim ke penjara. Ia merasa, ia akan kembali ke neraka yang ia tinggalkan. Ia merasa… ia akan hancur.

Tiba-tiba, pintu ruang interogasi terbuka. Seorang pria tinggi dan tegap, dengan setelan jas mahal, masuk. Wajahnya dingin, tetapi matanya memancarkan amarah yang tersembunyi. Dia adalah Rayhan.

Penyidik itu terkejut. “Maaf, Pak… Anda tidak boleh masuk.”

Rayhan tidak peduli. Ia berjalan ke arah Alya, menatapnya. Matanya yang dingin, kini memancarkan sedikit kehangatan. Rayhan menyentuh pundak Alya, dan Alya merasa sedikit lebih tenang.

“Anda tidak punya hak untuk menahan istri saya,” kata Rayhan, suaranya dingin dan tajam.

Penyidik itu terkejut. “Istri Anda? Kami punya bukti dia mencuri, Pak. Dan kami punya laporan dari ibu angkatnya.”

Rayhan tersenyum sinis. “Bukti? Laporan dari ibu angkatnya? Saya punya bukti yang lebih kuat.”

Rayhan mengeluarkan ponselnya, menunjukkan beberapa foto kepada penyidik. Foto-foto itu adalah foto-foto Alya dengan pakaian yang ia bawa, yang diambil di sebuah studio foto profesional. Di foto-foto itu, Alya terlihat cantik, anggun, dan jauh dari kesan pencuri.

“Istri saya adalah seorang model, Pak,” kata Rayhan. “Dia sering melakukan pemotretan. Dan pakaian-pakaian ini adalah pakaian yang ia gunakan untuk pemotretan. Dia mengambilnya dari rumahnya. Dia tidak mencuri. Dia hanya mengambil pakaiannya sendiri.”

Penyidik itu terdiam, ia melihat foto-foto itu, lalu menatap Alya dengan tatapan rumit. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!