Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Gangguan dari Keluarga Angkat
“Ibu… mungkin… tidak perlu resepsi yang besar,” kata Alya. “Cukup syukuran kecil saja. Yang penting, kita bisa berkumpul bersama keluarga.”
Ibu Wiryawan menatap Alya. “Tapi, sayang… Ibu ingin yang terbaik untuk kalian berdua.”
“Ibu… yang terbaik itu adalah kebahagiaan kami,” jawab Alya, ia meraih tangan Ibu Wiryawan. “Rayhan dan saya, kami sangat bahagia. Itu sudah lebih dari cukup.”
Ibu Wiryawan tersenyum. Ia menatap Alya, matanya berbinar-binar. Ia membelai wajah Alya. “Kamu… kamu memang wanita yang baik, Alya. Ibu tidak salah. Rayhan tidak salah memilihmu.”
Rayhan menatap Alya, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sesuatu yang Alya tidak bisa mengerti. Seperti… rasa hormat.
Mereka makan malam bersama. Ibu Wiryawan terus bercerita, dan Alya mendengarkan dengan antusias. Alya merasa sangat nyaman, seperti ia sedang berbicara dengan ibunya sendiri. Ia merasa, Rayhan tidak seburuk yang ia bayangkan. Ia hanyalah pria yang kesepian dan trauma.
Setelah makan malam, Ibu Wiryawan mengajak Alya untuk melihat-lihat rumah. Mereka berjalan menyusuri koridor, melewati beberapa kamar. Ibu Wiryawan menjelaskan sejarah setiap kamar, setiap lukisan. Alya tersenyum, ia merasa sangat senang. Ia merasa… seperti memiliki keluarga.
Di salah satu koridor, Ibu Wiryawan berhenti. Ia menunjuk sebuah pintu yang terkunci. “Ini kamar Rayhan. Dulu, Rayhan tidak pernah membiarkan Ibu masuk.”
Alya tersenyum. “Kenapa, Bu?”
“Tidak tahu,” jawab Ibu Wiryawan. “Tapi, Ibu tahu, ada sesuatu yang dia sembunyikan.”
Alya terdiam. Ia menatap pintu itu.
Sementara itu, di sebuah rumah lain, Pak Soni sedang duduk di sebuah ruangan yang gelap. Di hadapannya, seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh sedang duduk di kursi. Wanita itu tidak lain adalah Ratna, ibu angkat Alya.
“Jadi, kau sudah tahu di mana Alya?” tanya Ratna.
“Tentu,” jawab Pak Soni, tersenyum licik. “Dia bersembunyi di balik nama dr. Rayhan. Dia sekarang menjadi istrinya.”
Ratna terkejut. “Apa? Istri?”
“Ya,” jawab Pak Soni. “Istri kontrak. Tapi itu tidak masalah. Aku akan hancurkan hidupnya. Aku akan buat dia kembali padaku. Dan kau… kau akan membantuku.”
Ratna mengerutkan kening. “Bagaimana caranya?”
Pak Soni tertawa. Tawa yang mengerikan. Ia mengeluarkan sebuah ponsel, menunjukkan sebuah foto kepada Ratna. Foto itu adalah foto Alya, yang terlihat sangat cantik. Foto itu diambil oleh seseorang, di klinik kecantikan tempat Alya melakukan perawatan.
“Kita akan menyebarkan foto-foto ini,” bisik Pak Soni. “Kita akan beritahu semua orang siapa Alya sebenarnya. Bahwa dia seorang penipu. Bahwa dia hanya mengincar harta dr. Rayhan.”
Ratna tersenyum. “Ide yang bagus.”
“Dan itu bukan hanya itu,” kata Pak Soni. “Aku juga akan datang ke rumah dr. Rayhan. Aku akan hancurkan hidup Alya di depan matanya. Dan aku akan pastikan, Alya… dia akan kembali padaku.”
Malam itu, Alya kembali ke apartemen Rayhan. Ia merasa tenang, senang. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, badai akan datang. Ia tidak tahu, bahwa musuh lamanya sedang mengincar dirinya, bersiap untuk menghancurkan kehidupannya yang baru. Alya tidak tahu, bahwa kedamaian yang ia rasakan hanya sementara. Ia tidak tahu, bahwa kebahagiaan yang ia rasakan… akan segera hilang.
Alya kembali ke apartemen Rayhan dengan hati yang lapang. Malam itu, ia tidak lagi merasa asing. Apartemen mewah itu kini terasa seperti rumah, dan ia merasa nyaman berada di dalamnya. Ia menghabiskan malam dengan membaca buku yang ia temukan di rak buku Rayhan. Sebuah novel klasik, dengan alur cerita yang lambat, tetapi indah. Alya merasa, hidupnya kini seperti novel itu. Lambat, tetapi penuh dengan harapan.
Keesokan harinya, Alya bangun pagi. Ia membuat sarapan untuk Rayhan. Roti panggang, telur mata sapi, dan segelas jus jeruk. Ia tersenyum, membayangkan Rayhan terkejut melihat sarapan di meja. Ketika Rayhan keluar dari kamarnya, wajahnya masih datar, tetapi matanya memancarkan sedikit keheranan saat melihat Alya sudah rapi dan sarapan sudah tersedia di meja.
“Kamu tidak perlu melakukan ini,” kata Rayhan.
“Tidak apa-apa,” jawab Alya, tersenyum. “Saya hanya ingin berterima kasih.”
Rayhan duduk, memakan sarapannya tanpa berkomentar. Namun, Alya bisa melihat, ekspresi wajahnya sedikit melunak. Setelah sarapan, mereka pergi ke kantor Rayhan. Rayhan mengurus beberapa dokumen penting, sementara Alya duduk di sofa, menunggu. Alya memperhatikan Rayhan. Ia terlihat sangat sibuk, tetapi juga sangat profesional. Ia adalah pria yang sibuk, cerdas, dan tampan. Dan Alya, seorang gadis culun yang tidak memiliki apa-apa. Alya merasa, ia tidak pantas berada di sisinya.
“Tunggu di sini,” kata Rayhan. “Saya akan ke ruang rapat. Ada yang harus saya urus.”
Rayhan pergi, meninggalkan Alya sendirian. Alya mengambil ponselnya, membuka Instagram. Ia melihat-lihat foto-foto yang diunggah oleh teman-temannya. Ia merasa, hidup mereka sangat bahagia. Mereka tidak perlu menghadapi masalah seperti yang ia hadapi. Alya menghela napas, ia merasa sedikit iri.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama "Ratna" muncul di layar. Alya panik. Ia tidak ingin berbicara dengan Ratna. Ia mematikan ponselnya, lalu menyimpannya di tas. Namun, tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Alya membukanya. Sebuah foto. Foto itu adalah fotonya, yang diambil dari jarak jauh, saat ia berada di klinik kecantikan. Di bawah foto itu, ada tulisan. "Aku akan menemukanmu, Alya. Dan kau akan membayar mahal atas apa yang sudah kau lakukan."
Alya gemetar. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, ini bukan hanya ancaman. Ini adalah janji. Pak Soni dan Ratna, mereka tidak akan menyerah.
“Alya, ayo!” Suara Rayhan mengagetkan Alya.
Alya menyembunyikan ponselnya, lalu menatap Rayhan. “Rayhan… saya… saya takut.”
Rayhan menatap Alya, alisnya berkerut. “Ada apa?”
Alya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, air mata menetes di pipinya. Rayhan mengambil sapu tangannya, menyeka air mata Alya. “Jangan menangis. Ceritakan ada apa?”
Alya mengambil ponselnya, menunjukkan pesan yang ia terima dari Ratna. Rayhan membaca pesan itu. Wajahnya yang datar, kini terlihat dingin dan marah.
“Bajingan!” gumam Rayhan. “Dia tidak akan menyerah.”
“Saya takut, Rayhan,” bisik Alya. “Mereka… mereka akan menemukan saya. Mereka akan menghancurkan hidup saya.”
Rayhan menatap Alya, matanya menenangkan. “Tenang. Saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Saya akan urus mereka.”
Rayhan mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. “Hallo, Rio. Saya butuh bantuanmu. Cari tahu tentang Pak Soni. Dan saya butuh perlindungan untuk Alya. Kita tidak bisa membiarkan dia sendirian.”
Rayhan mengakhiri panggilan, lalu menatap Alya. “Mulai sekarang, kamu tidak boleh ke mana-mana sendirian. Kamu akan selalu bersama saya. Saya akan pastikan, mereka tidak akan bisa menyentuhmu.”
Alya merasa lega. Ia merasa, ia tidak sendirian. Ia memiliki Rayhan. Pria dingin yang ternyata peduli.
Malam harinya, Rayhan mengajak Alya untuk makan malam di sebuah restoran mewah. Rayhan mengatakan, ia ingin Alya merasa nyaman. Ia ingin Alya merasa, ia aman.
“Makan saja,” kata Rayhan, saat mereka duduk di meja. “Jangan pikirkan mereka.”
Alya mengangguk. Ia mencoba tersenyum, tetapi ia tidak bisa. Ia masih merasa takut. Ia masih merasa, bayangan Pak Soni dan Ratna terus menghantuinya.
Ketika mereka sedang makan, tiba-tiba seorang wanita cantik dengan pakaian mahal datang menghampiri mereka. Wanita itu terlihat marah, matanya menatap tajam ke arah Alya.