Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Terjebak Rasa

“Dan lagi,” kata Rayhan. “Istri saya tidak punya ibu angkat. Dia adalah anak yatim piatu. Dia tidak punya keluarga. Jadi, saya tidak tahu siapa wanita yang Anda maksudkan.”

Penyidik itu menatap Rayhan, matanya melebar. Rayhan tersenyum dingin, lalu mengeluarkan sebuah dokumen. “Ini adalah akta pernikahan kami, dan akta kelahiran istri saya. Dia tidak punya nama keluarga. Dia tidak punya orang tua, dan tidak pernah punya. Jadi, tolong… lepaskan istri saya.”

Penyidik itu menelan ludah. Ia tahu, tidak akan pernah bisa melawan Rayhan. Rayhan adalah orang yang berkuasa, selain dokter ternama, Rayhan juga memiliki perusahaan besar yang sangat diperhitungkan. Reyhan juga punya bukti yang kuat.

“Baik, Pak,” kata penyidik itu. “Kami akan melepaskan istri Anda. Tapi, kami akan tetap menyelidiki kasus ini.”

“Silakan,” jawab Rayhan, dingin. “Tapi, saya akan pastikan, wanita yang melaporkan istri saya akan dihukum. Saya punya bukti, dia telah membuat laporan palsu.”

Rayhan berbalik, membawa Alya keluar dari ruang interogasi. Mereka berjalan menyusuri koridor, melewati beberapa orang yang menatap mereka dengan penasaran. Alya tidak peduli. Ia hanya merasa lega dan sudah aman. Berkat suami palsunya, kini dirinya telah bebas. Bebas dari tuduhan dan penjara yang dingin.

Di dalam mobil, Alya menangis karena merasa lega, dan senang sekaligus tidak sendirian. Di sampingnya Rayhan mengemudi dengan tenang. Wajahnya masih datar, tetapi matanya cukup menenangkan.

“Jangan menangis,” kata Rayhan, suaranya lembut. “Kamu aman sekarang.”

Alya menoleh, menatap Rayhan. “Terima kasih, Rayhan. Terima kasih banyak. Kamu… kamu menyelamatkan saya... lagi.”

Rayhan tidak menjawab. Ia hanya mengemudi, tangannya memegang setir dengan erat. Kemudian menghela napas, lalu berbicara.

“Saya sudah tahu,” kata Rayhan. “Saya sudah tahu mereka akan melakukan ini. Saya sudah minta bantuan Rio untuk menyelidiki mereka. Saya tahu, mereka akan menggunakan foto-foto itu untuk menjebak kamu.”

Alya terkejut. “Bagaimana kamu tahu?”

“Saya hanya menduga,” jawab Rayhan. “Mereka adalah penipu. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Saya tidak akan membiarkan mereka menghancurkan hidup kamu. Saya sudah berjanji, saya akan melindungi kamu.”

Alya terdiam. Ada perasaan asing yang tiba-tiba menyusup dalam hatinya. Pria dingin yang ternyata peduli, dan sangat protektif ini, perlahan mengguncang benteng pertahanannya.

Mereka tiba di apartemen Rayhan.Keduanya masuk dengan beriringan. Alya duduk di sofa, tangannya masih gemetar. Rayhan membuatkan segelas teh hangat untuknya, lalu duduk di sebelah gadis itu.

“Minum,” kata Rayhan. “Kamu butuh sesuatu untuk menenangkan diri.”

Alya mengambil cangkir teh, menyesapnya. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat ia merasa lebih baik.

“Rayhan… apa yang akan terjadi pada Bu Ratna dan Pak Soni?” tanya Alya.

“Mereka akan dihukum,” jawab Rayhan. “Saya sudah punya bukti, mereka telah melakukan penipuan dan pemerasan. Saya akan pastikan, mereka akan dipenjara. Mereka tidak akan bisa mengganggu kamu lagi.”

Alya menunduk. Ia merasa lega meskipun ada sedikit rasa tak tega. Bagaimanapun Ratna adalah orang yang telah menampungnya selama ini meskipun kerap kali menyiksanya. Saat ini, hatinya berperang. Sebagian meminta untuk memaafkan, tapi di sudut hatinya yang lain ada perasaan lega. Ia merasa sudah bebas dan bisa memulai hidup baru.

“Rayhan… bagaimana kamu bisa begitu yakin?” tanya Alya. “Bagaimana kamu bisa tahu, saya tidak bersalah?”

Rayhan menatap Alya, matanya yang dingin kini memancarkan sedikit kehangatan. “Saya tidak butuh bukti. Saya hanya butuh hati saya. Dan hati saya mengatakan, kamu adalah orang yang baik. Kamu tidak akan pernah mencuri.”

Alya terdiam, menatap Rayhan sesaat lalu menunduk, hatinya berdebar kencang. Ia merasa, Rayhan adalah pria yang sempurna. Pria yang akan selalu melindunginya, pria yang akan selalu percaya padanya.

Keesokan harinya, Alya bangun pagi. Ia sudah merasa lebih baik. Bahkan sudah bisa membuat sarapan untuk Rayhan. Rayhan keluar dari kamarnya, wajahnya masih datar, tetapi ia tersenyum sedikit saat melihat Alya.

“Kamu sudah tidak takut?” tanya Rayhan.

“Tidak,” jawab Alya. “Terima kasih, Rayhan.”

Mereka makan sarapan bersama. Setelah sarapan, Rayhan membawa Alya ke kantor polisi. Ratna dan Pak Soni telah ditangkap. Mereka terlihat sangat marah, mata mereka menatap Alya dengan penuh kebencian.

“Alya… kau akan membayar mahal atas apa yang kau lakukan!” teriak Ratna.

“Rayhan… kau akan menyesal!” teriak Pak Soni.

Rayhan tidak peduli. Ia hanya menatap mereka dengan dingin. Ia menyentuh pundak Alya, menenangkannya. “Jangan takut. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu lagi.”

Alya mengangguk. Ia merasa, ia sudah aman. Ia sudah bebas. Ia sudah bisa memulai hidup baru.

Alya berdiri di samping Rayhan, menyaksikan Ratna dan Soni digiring ke dalam penjara . Ada perasaan campur aduk di dadanya. Lega, karena mereka tidak akan bisa menyakitinya lagi. Namun, juga ada sedikit rasa sedih. Bagaimanapun, mereka adalah orang yang telah memberinya tempat berteduh, meski dengan cara yang penuh siksaan.

"Ayo," ajak Rayhan, suaranya membuyarkan lamunan Alya. "Kita pulang."

Mereka berjalan menuju mobil, meninggalkan kantor polisi. Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Alya menoleh ke samping, menatap Rayhan. Pria itu tampak tenang, tatapannya lurus ke jalan. Jarak di antara mereka terasa dekat, namun pada saat yang sama, Alya merasa seolah-olah ada jurang yang dalam memisahkan mereka.

Di balik wajah datarnya, Alya tahu Rayhan menyimpan kebaikan yang begitu besar. Ia telah menyelamatkan Alya dari tuduhan palsu, memberinya perlindungan, dan bahkan membantunya mendapatkan keadilan. Perasaan asing yang menyusup di hatinya kini tumbuh makin besar.

Beberapa hari berlalu. Kehidupan di apartemen Rayhan terasa tenang. Rayhan kembali pada rutinitasnya sebagai dokter dan pengusaha, sementara Alya mulai mencari pekerjaan. Ia ingin memulai hidup baru, tidak lagi bergantung pada siapa pun. Tetapi, setiap kali Rayhan melihatnya, Alya merasa jantungnya berdebar kencang. Tatapan pria itu, meskipun dingin, selalu berhasil membuatnya merasa hangat dan aman.

Suatu malam, saat Rayhan pulang larut dari rumah sakit, Alya menyambutnya dengan secangkir teh hangat. "Kau pasti lelah," kata Alya. "Ini, minumlah."

Rayhan mengambil cangkir itu, menatap Alya sesaat, lalu tersenyum tipis. "Terima kasih."

Melihat senyum itu, Alya merasa seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Perasaan itu begitu kuat, begitu nyata, hingga ia harus menunduk untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Ia sadar, ia telah jatuh cinta pada Rayhan.

Namun, ia juga sadar akan janji mereka. Janji untuk tidak saling jatuh cinta, janji untuk menganggap pernikahan mereka hanya sebatas di atas kertas. Alya memendam perasaannya dalam-dalam, berharap Rayhan tidak pernah menyadarinya. Ia takut, jika Rayhan tahu, pria itu akan menjauh darinya, dan ia tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.

Minggu-minggu berlalu. Alya mendapatkan pekerjaan sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan kecil. Ia bekerja keras, dan setiap hari sepulang kerja, ia selalu disambut oleh Rayhan yang entah bagaimana selalu menunggunya. Mereka makan malam bersama, menonton film, dan terkadang, mereka hanya duduk diam, menikmati keheningan yang nyaman.

Suatu malam, saat hujan deras mengguyur Jakarta, listrik di apartemen mereka padam. Dalam kegelapan, hanya ada cahaya lilin yang menerangi. Mereka duduk di sofa, saling berhadapan. Alya bisa melihat siluet wajah Rayhan yang tegas di balik cahaya lilin yang berkedip. Jantungnya berdebar kencang. Ia ingin mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah pria itu.

"Rayhan," kata Alya, suaranya bergetar. "Terima kasih untuk semuanya."

"Tidak perlu," jawab Rayhan, suaranya lembut. "Aku sudah berjanji, aku akan melindungimu."

Alya tidak bisa lagi menahan perasaannya. "Aku... aku tidak ingin kamu hanya melindungiku. Aku ingin lebih dari itu."

Rayhan terdiam. Ia menatap Alya, matanya memancarkan kebingungan. "Alya... kita sudah berjanji."

"Aku tahu," kata Alya, air mata mulai mengalir di pipinya. Mendadak bibirnya kelu. Gemuruh di hatinya semakin terasa. Sesaat kemudian ia sadar akan apa yang telah ia ucapkan. Penyesalan menyusup dalam dada.

Rayhan terkejut. Ia menatap Alya tajam, lalu bangkit, dan berjalan menjauh. "Alya... kita tidak bisa."

"Ke-kenapa tidak bisa?" tanya Alya, bangkit dan mengikuti Rayhan. 

Rayhan berbalik, menatap Alya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Karena... aku tidak pantas untukmu."

"Apa maksudmu?" tanya Alya.

Rayhan tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya, lalu berjalan menuju kamarnya dan membanting pintu.

Alya berdiri di tengah kegelapan, hatinya hancur. Ia tidak mengerti mengapa Rayhan bersikap seperti itu. Mengapa Rayhan menolaknya? Ia tidak tahu, ada rahasia apa yang disembunyikan Rayhan. Rahasia yang begitu gelap, hingga pria itu merasa tidak pantas untuk dicintai.

Kini, Alya dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah ia harus menyerah pada perasaannya, atau terus berjuang untuk mengetahui rahasia yang disembunyikan Rayhan? Apakah cinta mereka akan berakhir sebelum dimulai?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!