Cinta Tertinggal
Tawaran Syaban
Ponselku bergetar untuk kesekian kali. Nama yang muncul di layar membuatku menarik napas panjang. Syaban.
Entah kenapa, aku tidak langsung menjawabnya. Mungkin karena aku tahu, suaranya pasti penuh tanya. Dan aku sedang tak siap menjelaskan apa pun.
Sudah beberapa hari aku meninggalkan kota itu untuk urusan kantor kursus. Tapi sejak pagi tadi, ada perasaan aneh yang mengikutiku—seperti sedang diawasi.
Aku sempat menoleh ke arah luar jendela penginapan, tapi tak ada siapa-siapa. Mungkin hanya perasaanku saja.
Ponsel kembali bergetar. Kali ini, notifikasi pesan.
[“Di mana kamu, Rin? Tolong kabari aku.”]
Pesan lain masuk hampir bersamaan.
[“Arina, jangan pergi jauh tanpa bilang.”]
Aku menatap layar itu lama, jantungku berdebar tidak karuan. Aku tahu, Syaban bukan tipe yang mudah panik. Kalau dia sampai mengirim pesan seperti ini... pasti ada sesuatu yang membuatnya benar-benar khawatir.
Aku menghela napas dan berbisik pelan, menenangkan diri sendiri, “Ya ampun, Pak... aku tuh cuma ke luar kota sebentar, bukan kabur.”
Namun entah kenapa, kata kabur itu justru menggema di kepalaku. Apa aku memang terlihat seperti melarikan diri?
Malam itu, saat aku hendak mematikan lampu kamar, suara mobil berhenti di depan penginapan. Aku mengintip dari jendela, membola ketika melihat sosok yang begitu kukenal turun dari mobil.
Aku menutup tirai secepatnya, jari-jariku gemetar. Dia benar-benar datang ke sini?
Beberapa detik kemudian, ada ketukan pelan di pintu. “Arina?”
Suaranya. Aku tahu benar itu suaranya.
Aku menahan napas. Setengah gugup, setengah merasa bersalah. Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya aku membuka pintu. Dan di sana, dia berdiri dengan wajah lelah, mata tajam, ada kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
“Bapak pikir aku kabur, ya?” tanyaku mencoba tersenyum, meski suaraku terdengar bergetar.
Dia hanya menatapku lama, seolah masih memastikan aku benar-benar nyata. “Aku pikir kamu pergi begitu saja,” katanya pelan dengan nada berat.
Aku tertegun. Ada sesuatu di matanya, campuran antara lega, marah, dan takut kehilangan. Hatiku makin dilanda sesal.
“Ya ampun, Pak,” ujarku sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. “Aku ke sini buat urusan kantor, bukan kabur.”
Tapi ekspresi Syaban tidak sepenuhnya luluh. Dia masih menatapku dengan intensitas yang membuatku sulit menatap balik.
“Segitunya, ya, sama aku?” tanyaku akhirnya, mencoba menggoda.
“Iya,” jawabnya singkat. “Segitunya. Sampai cuma dengar kamu pergi saja, aku bisa gelisah setengah mati.”
Malam ini, di depan pintu penginapan sederhana, kami berdiri tanpa banyak kata.
Ada perasaan yang belum sempat didefinisikan.
Lalu tiba-tiba ia berkata, “Rin... soal lamaranku. Kamu belum jawab.”
Jantungku kembali berdetak tak karuan. Aku mengalihkan pandangan, menatap lantai. “Maaf, Pak... bukan aku tak ingin menjawab. Hanya saja...”
“Hanya saja?” suaranya lembut, tapi jelas ada tekanan di sana.
Aku menatapnya, mencari alasan. “Ini terlalu cepat. Ada banyak hal yang masih harus kupikirkan.”
Syaban terdiam sejenak. Lalu, dengan nada lebih tenang tapi tegas, dia berkata, “Kalau begitu, kamu mau aku menunggu sampai kapan, Rin?”
Aku menggigit bibir. Tak tahu harus menjawab apa.
“Aku tak butuh jawaban sekarang,” lanjutnya, “tapi aku juga tak bisa terus menggantung harapan.”
Dan di detik itu, aku sadar, aku sedang dihadapkan pada pria yang benar-benar tahu apa yang dia mau. Dan sayangnya... yang dia mau adalah aku.
Aku menunduk lagi. Ada bagian dari diriku yang ingin berkata ya, tapi sebagian ragu.
Setelah sekian lama berjuang untuk hidup mandiri, tiba-tiba aku diminta melangkah bersama seseorang lagi—rasanya menakutkan.
“Aku... nggak tahu,” jawabku pelan. “Sungguh...”
Syaban menghela napas panjang, tapi tatapannya tetap lembut. “Baik. Aku akan menunggumu, tapi aku juga butuh tahu bahwa aku nggak menunggu sia-sia.”
Aku hanya bisa mengangguk. Lalu keheningan di antara kami terasa seperti jeda yang panjang, antara ragu dan harapan.
Sebelum berpamitan, dia sempat menatapku sekali lagi. “Aku ada tawaran,” katanya tiba-tiba.
Aku mendongak, sedikit bingung. “Tawaran?”
“Iya. Kelola restoran ayam itu. Tempat kita pertama kali saling mengenal.”
Aku terdiam. Rasanya seperti mendengar harapan masa lalu yang tiba-tiba menyala lagi.
“Restoran itu?” tanyaku memastikan, dan dia mengangguk pelan.
“Aku ingin kamu di sana,” lanjutnya, “sebagai orang yang menjalankan semuanya. Aku tahu kamu bisa. Dan… mungkin dari sana, kita bisa mulai lagi.”
Jujur, tawaran itu mengguncang. Ada kenangan, ada harapan, ada risiko yang sama besar.
Aku menatapnya tak percaya. “Dengan begitu aku bakal menerima lamaranmu, gitu kan?”
Syaban tersenyum tipis. “Mungkin tidak langsung. Tapi setidaknya aku tahu kamu tidak jauh-jauh dariku.”
Aku ingin tertawa, tapi juga ingin marah. Lelaki ini selalu tahu bagaimana membuatku tak bisa menolak sepenuhnya.
“Pak, ini terdengar seperti cara halus untuk ‘mengawasi’, bukan memberi kesempatan,” kataku akhirnya.
Dia menatapku serius. “Bukan mengawasi, Rin. Menemani.”
Aku tercekat. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa dalam. Menemani bukan mengikat. Menjagatanpa menahan.
Dan entah kenapa, aku akhirnya berkata, “Baiklah. Aku pikirkan.”
Syaban tersenyum. “Itu saja sudah cukup.”
***
Beberapa minggu setelahnya, aku kembali ke restoran ayam itu. Aroma bumbu yang dulu begitu kukenal menyambutku sejak di pintu. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan, nostalgia dan harapan baru.
Bekerja lagi di sana membuatku sadar betapa aku merindukan suasana sederhana seperti ini. Suara penggorengan, pelanggan yang ramai, dan tawa para pegawai yang saling menggoda. Semuanya seperti potongan hidup yang dulu kutinggalkan.
Syaban beberapa kali datang, tapi tak pernah menyinggung soal lamaran. Ia hanya membantu mengatur stok, atau sesekali membawakan makan siang. Sikapnya tetap sama, tenang, tapi selalu ada.
Sampai suatu hari, ia menatapku di sela kesibukan dan berkata pelan, “Rin, aku ingin menunjukkan sesuatu.”
Aku sempat menolak karena banyak pesanan yang harus disiapkan, tapi dia bersikeras.
“Sebentar saja,” katanya, dengan tatapan yang membuatku tak tega menolak.
Akhirnya aku menurut. Kami naik mobil menuju taman kota. Saat tiba, aku tertegun.
Ada sebuah acara komunitas pecinta satwa liar yang sedang berlangsung.
Beberapa sukarelawan merawat kucing dan burung yang terluka, anak-anak kecil memberi makan hewan-hewan itu, dan di tengahnya, ada seorang wanita yang sedang menjelaskan pentingnya menyayangi makhluk hidup.
Aku berdiri memandangi pemandangan itu dengan mata berbinar.
“Aku tahu kamu suka kucing,” kata Syaban dari sampingku. “Tapi kamu bilang nggak sempat merawat. Jadi kupikir... mungkin kamu bisa menemukan cara lain untuk dekat dengan mereka.”
Aku menoleh. Tatapan Syaban tenang, tapi aku bisa lihat ada sesuatu di balik itu, ketulusan. Dia tidak mencoba menahanku. Tidak memintaku berhenti bermimpi. Dia hanya... memahamiku.
“Aku kenalkan dengan founder-nya, ya?” katanya lagi, sambil menunjuk ke arah wanita di tengah kerumunan. “Dia juga punya program sosial untuk anak-anak dan pengajar bahasa sukarelawan. Kupikir ini sejalan sama mimpimu.”
Aku terpaku. “Bapak tahu?”
“Dengar waktu kamu cerita,” katanya pelan. “Tentang keinginanmu bikin lembaga kursus bersubsidi. Aku pikir, ini langkah kecil untuk ke sana.”
Entah kenapa mataku terasa panas. Ada rasa hangat mengalir di dada, tapi juga getir.
Seseorang yang benar-benar mendengarkan, bukan hanya menunggu gilirannya untuk bicara, itu langka.
Kami berdiri cukup lama di taman itu, menyaksikan interaksi manusia dan hewan yang penuh kasih. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian waktu, aku merasa damai.
Tapi saat aku mendekat, suara yang begitu familiar memecah udara sore itu.
“Riin!”
Aku menoleh spontan. Suara itu membuka kenangan yang belum sempat kupulihkan. Dan dalam sekejap, hatiku kembali berdebar, tapi bukan karena Syaban.
.
.