Cinta Tertinggal

Perjumpaan 2 Wanita

Suara itu memecah momen di antara kami. Aku menoleh, mencari tahu siapa yang memanggil namaku dengan begitu lantang.

 

"Andi?" gumamku, setengah tak percaya.

 

Syaban ikut menoleh, dan aku bisa merasakan ketegangan ini. Wajahnya tetap tenang, tetapi aku tahu dia tidak nyaman dengan kehadiran orang asing di tengah percakapan kami.

 

Andi mendekat, langkahnya mantap namun penuh keraguan saat tatapan kami bertemu. "Rin, aku nggak nyangka ketemu kamu di sini." Suaranya terdengar tulus, tapi ada sesuatu di balik itu, penasaran.

 

"Aku juga," jawabku pelan. Jujur, aku bingung bagaimana harus bersikap. Terlalu banyak hal yang tiba-tiba muncul di pikiranku.

 

Andi menatapku dalam, seolah ingin memastikan aku di hadapannya. "Jadi, kamu di Jakarta?" tanyanya, mencoba mencari konfirmasi.

 

Aku mengangguk, mencoba tersenyum. "Iya."

 

Syaban berdiri di sampingku, matanya bergantian melihat ke arahku dan Andi. Dia jelas ingin tahu siapa pria ini, tetapi menahan diri untuk tidak bertanya.

 

"Maaf," kata Andi, lalu mengulurkan tangan ke arah Syaban. "Saya Andi, teman lama Arina."

 

Syaban menjabat tangannya dengan ramah, meski aku bisa merasakan ketegangan di sikapnya. "Syaban," jawabnya singkat.

 

Suasana menjadi canggung seketika. Aku tahu aku harus mengatakan sesuatu untuk menjembatani situasi ini. "Beliau pemilik restoran ayam tempat aku pertama kali bekerja di Jakarta."

 

"Oh," Andi mengangguk, mencoba memasang senyuman yang sopan. "Senang bertemu, Pak."

 

Aku bisa melihat Syaban tersenyum kecil, tetapi matanya masih penuh tanya. "Jadi, Anda sudah lama mengenal Maisy?" Dia sengaja menegaskan panggilan khusus untukku di hadapan Andi.

 

Andi tertawa kecil, seolah ingin mencairkan suasana. "Ya, cukup lama. Kami pernah bekerja sama di beberapa kegiatan sekolah dulu."

 

Kurasakan jantung berdebar lebih kencang. Percakapan ini mungkin akan menjadi lebih rumit dari yang kubayangkan.

 

"Andi," aku memutuskan untuk bicara, mencoba mengalihkan perhatian. "Kamu ngapain di sini?"

 

Dia tersenyum, tangannya menunjuk ke arah kerumunan di belakang kami. "Aku bagian dari komunitas itu, foundernya dokter Shan Qavi, memintaku membantu acara mereka."

 

Hatiku mencelos. Ini terlalu kebetulan, bukan?

 

"Jadi," lanjut Andi, tatapannya kembali ke arahku. "Mungkin ini takdir ya, Rin? Ketemu lagi di tempat yang tak terduga."

 

Aku tersenyum canggung, tak tahu harus merespons apa, merasakan tatapan Syaban yang kini terfokus padaku, menunggu penjelasan lebih lanjut.

 

"Maisy," suara Syaban memecah kebisuan. "mau lanjut keliling taman? Kita masih banyak waktu."

 

Aku menatap Syaban, mencoba membaca apa yang ada di balik kata-kata beliau. Dia menawarkan pilihan, tetapi seperti harapan bahwa aku akan memilih untuk tetap bersamanya.

 

Andi menatapku juga, menunggu apa yang akan kulakukan. Tuhan ... Aku terjebak di antara dua pria.

 

Aku menarik napas panjang, "Aku ... pikir ... kita bisa lanjut keliling taman dulu."

 

Syaban tersenyum kecil, tampak lega dengan jawabanku. Andi hanya mengangguk sopan. "Baiklah, Rin. Kalau begitu, aku harus kembali ke acara. Sampai jumpa nanti."

 

"Ya, sampai jumpa," jawabku, berusaha menahan senyum canggung.

 

Saat Andi pergi, Syaban mendekat, suaranya lebih rendah. "Dia terlihat perhatian padamu."

 

Aku menoleh, sedikit kaget dengan pernyataannya. "Dia hanya teman lama, Pak."

 

Syaban mengangguk pelan. "Aku percaya. Tapi, tidak bisa menutup mata pada apa yang kurasakan."

 

Aku tidak menjawab, hanya berjalan pelan di sampingnya. Dalam hati, aku merasa bersyukur bahwa dia memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan itu.

 

Namun, beberapa langkah kemudian, Syaban berhenti. Dia berbalik menghadapku, ekspresinya serius. "Maisy, ada sesuatu yang ingin kubahas."

 

Aku menatapnya, bingung dengan perubahan suasananya. "Apa itu, Pak?"

 

Syaban terdiam sejenak, seolah mengumpulkan keberanian. “Aku ingin meminta nenek bertemu ibu.”

 

Dia tersenyum tipis, tetapi aku bisa melihat ketegangan di matanya. “Membahas lamaranku biar ibu tahu betapa seriusnya aku. Agar kita mendapatkan restu dari keluarga.”

 

Jantungku berdetak lebih cepat. Aku tahu, cepat atau lambat momen ini akan datang, tapi mendengarnya langsung membuatku gugup.

 

“Pak, aku ...” ucapku pelan, mencoba mengingatkan.

 

“Aku tahu,” potongnya cepat. “Aku tidak meminta jawaban sekarang. Tapi aku ingin memulai langkah ini agar saling mengenal lebih dalam.”

 

Kata-katanya membuatku terdiam. Ada ketulusan dan keberanian di balik suaranya, sesuatu yang sulit kutolak.

 

Aku terdiam sejenak, mencerna maksudnya. Ibu memang mengenal baik Syaban, bahkan menganggapnya sebagai pengganti Ari. Tentu saja, beliau akan sangat mendukung. Tapi, aku sedikit terkejut dengan seberapa cepat semua ini berkembang.

 

“Ka-ka-pan?” tanyaku ragu-ragu.

 

“Akhir pekan ini,” jawabnya percaya diri.

 

Aku terkejut dengan kesiapannya yang begitu cepat. Namun, di dalam diriku, ada sedikit rasa kagum pada tekadnya.

 

“Baiklah,” kataku setelah beberapa saat. “Aku akan bicarakan ini dengan ibu.”

 

Syaban tersenyum lega, senyum yang meneduhkan dan penuh harap. “Terima kasih, By. Janji, aku akan melakukan yang terbaik untuk meyakinkan ibu.”

 

Aku mengangguk perlahan, meskipun perasaan dalam dadaku bercampur aduk. Aku tahu ini adalah langkah yang harus kuambil, tetapi entah kenapa, hati ini masih merasa ragu.

 

***

 

Hari berikutnya, aku mempersiapkan diri untuk berbicara dengan ibuku. Setelah pindah ke Jakarta lagi, ibu rajin berkebun, membuatkan bekal untukku dan Syaban. Malah kadang, Sila pun dibaginya.

 

Aku juga mengundang guru ngaji ke rumah. Agar ibu tetap memiliki kegiatan positif.

 

Namun, saat aku mulai mendekati ibu. Sebuah panggilan dari kampus mengharuskanku menunda niatan. Aku gegas pamit pada beliau untuk mengurus beberapa hal mengenai kuliah online. Tujuanku, menghindari Elvan.

 

Setibanya di kantor sekretariat. Suaraku tercekat saat melihat dia berdiri di ambang pintu.

 

Elvan tersenyum canggung, tetapi ekspresinya tampak penuh harap. “Arina, aku ... aku benar-benar ingin bicara.”

 

Aku terkejut, tidak tahu harus berkata apa. “Maaf, Pak, permisi.”

 

Elvan menghalangiku masuk, berbicara dengan nada yang hampir memohon. “Aku memang banyak salah, dan aku minta maaf. Tapi ... aku butuh kamu sampai bisa pulih.”

 

Aku terdiam, kata-kata itu membuatku merasa cemas dan bingung. Namun, sebelum aku bisa menjawab, terdengar suara dari belakang—Syaban muncul entah darimana.

 

Mungkinkah ini kebetulan? Ada urusan apa Syaban di sini. Aku bisa melihat dari raut wajahnya bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

 

“Byy, apa dia menghambatmu?" tegas Syaban. Matanya beralih tertuju pada Elvan. “Aku ingin kita bicara empat mata, Pak Elvan.”

 

Suasana langsung berubah, dan aku merasa cemas, melihat Syaban yang sudah mengatur intonasinya dengan sangat serius.

 

“Pak...” ucapku, hampir tak percaya.

 

Syaban menatapku dengan penuh perhatian. “Jangan khawatir, By. Aku hanya ingin memastikan dia tidak mengganggumu lagi.”

 

Elvan mengerutkan keningnya seraya melirik ke arah Syaban, sebelum menatapku dalam-dalam. "Byyy?" 

 

 

.

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!