Andai Tiada Mertua
Diarsipkan
Sudah hampir satu jam Iwana duduk di kursi rotannya, memandangi taman kecil di depan rumah yang tak lagi membawa ketenangan. Angin sore yang biasanya membuatnya ingin menyeduh teh, hari ini terasa hambar. Hatinya keruh.
Dia memencet layar ponselnya, membuka WhatsApp, lagi. Namanya masih sama, fotonya masih sama. Tapi tidak ada notifikasi balasan. Hanya dua centang abu-abu. Pesan terakhirnya ke Ziya masih belum dibaca.
Iwana mendesah, lirih. Air matanya menetes membasahi sudut bibir. Pikirannya berkecamuk dengan segala praduga.
“Ziya, kamu benar-benar membenci Mama?” gumamnya, lirih, seakan menyapa kosong ke layar ponsel yang mulai meredup.
Dia nyaris menelpon Afnan, tapi jarinya berhenti saat nada dering kedua berbunyi. Ia buru-buru membatalkan. “Maafkan mama, Afnan,” bisiknya, “Mama takut kalian makin jauh kalau terus menerus menghubungi kalian …”
***
Afnan baru saja selesai membersihkan akuarium kecil mereka saat Ziya muncul dengan wajah cemberut dan kantong teh celup di tangan.
“Aku nyeduhin teh buat Mas, tapi airnya kebanyakan,” gumam Ziya tanpa menatapnya. Malu.
Afnan mendekat, mencium puncak kepala istrinya. “Berarti tehnya pakai cinta ekstra. Mana tehnya, Sayang?”
Ziya meringis geli, menyembunyikan senyum di balik cangkir yang ia serahkan. “Gombal.”
“Lebih baik gombal daripada kamu manyun terus tiap pagi,” goda Afnan, lalu mengajak Ziya duduk di sebelah di kursi.
Ziya memutar bola mata. “Aku random, bukan nyebelin.”
“Justru itu lucunya kamu,” bisik Afnan sambil menggenggam jari-jari Ziya yang dingin. Tangannya lalu berpindah ke perut Ziya, mengusapnya lembut dengan senyum yang tak bisa ia tahan. “Apalagi sekarang kamu bawa dua mood dalam satu tubuh.”
Ziya terdiam sejenak, matanya melirik Afnan. “Mas nggak takut aku makin drama?”
Afnan mengangguk serius. “Takut. Tapi lebih takut kalau kamu nggak anggap aku ada. Aku udah janji sama si kecil, mau jagain kalian berdua dengan sabar setinggi Monas.”
Ziya menahan napas. Dadanya penuh. Ia menggeleng pelan, matanya berair tapi senyumnya lebar.
“Jadi kalau aku nangis cuma gara-gara pengen mangga jam 2 pagi, nggak apa-apa?”
“Kita naik motor cari, meskipun harus sampai pasar induk,” jawab Afnan yakin, sembari tersenyum lebar.
Ziya tertawa, lalu mengusap lengan suaminya. “Mas ... kamu terlalu manis, aku jadi pengen nangis.”
Afnan menarik kepala istrinya ke dadanya. “Kalau kamu nangis, nanti dia ikut sedih. Coba senyum dikit.”
Ziya tersenyum tipis, tangannya refleks ikut menyentuh perutnya. “Nanti dia pasti tumbuh jadi anak baik 'kan, ya?”
Afnan mengangguk cepat. “Kalau kayak mamanya, udah pasti.”
Dari balik dapur, Salamah mengintip, ingin nimbrung tapi rasanya enggan merusak momen manis mereka. Kali ini bukan cuma tersenyum—air matanya ikut menetes.
Dia melihat sendiri bagaimana Afnan menghadapi mood Ziya yang kadang melonjak, kadang ngambek tanpa sebab. Tapi Afnan tidak pernah membalas dengan nada tinggi. Ia hanya menunduk, menenangkan, mengusap bahu istrinya, atau mengalihkan dengan cerita-cerita lucu.
Dan di tengah semua itu, Ziya justru tampak makin bahagia meski tidak ke mana-mana. Hari-harinya hanya di rumah, membantu Salamah atau menyelesaikan tugas kuliah. Tapi sorot matanya kini jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
***
Di kota lain, Yasmin sedang duduk di brangkar yang setengah menegak dengan selimut menyelimuti kakinya yang mulai baal.
Yasmin mulai menjalani terapi pasca operasi. Dua pekan lagi, dia akan menghadapi meja operasi untuk kedua kalinya. Tapi kali ini, hatinya lebih kuat.
Naufal yang menemaninya siang itu menguatkan dari sofa ruang rawat Yasmin.
"Kalau kamu capek, istirahat sebentar. Tenang aja, aku nemenin di sini," ujar Naufal, menepuk sofa yang dia duduki.
Yasmin mengangguk, lalu mulai mengerakkan lagi kakinya pelan-pelan. "Aku nggak nyangka bisa gerakin jempolku semudah ini," ucapnya senang melihat ke suster yang menemaninya.
Naufal tersenyum. "Kamu kuat, Yas. Lebih kuat dari yang kamu kira."
Yasmin lalu meraih cermin, menatap wajahnya sendiri, lalu lirih berkata, "Tapi kadang aku merasa nggak utuh. Seperti kehilangan sesuatu yang dulu aku banggakan."
Naufal menoleh padanya. “Kamu kehilangan sedikit bagian tubuh, iya. Tapi kamu nggak kehilangan cahaya kamu. Malah sekarang, aku lihat kamu jauh lebih bersinar. Tangguh," puji Naufal.
Yasmin tertawa kecil. “Itu cuma karena kamu temenin aku tiap terapi.”
Naufal terkekeh, “Aku nemenin kamu karena kamu temenku. Karena aku sayang kamu sebagai manusia, bukan karena ... kamu harus jadi ‘sempurna’ dulu.”
Yasmin terdiam. Matanya memanas. Kalimat itu mengusap sisi hatinya yang sering ia abaikan.
“Aku tahu, Nov ... kamu selalu bilangnya cuma teman. Tapi tetap saja, kamu penyemangat paling besar selama ini.” Yasmin beralih pandang kembali ke cermin, nadanya terdengar getir tapi begitulah faktanya.
Naufal tersenyum tipis. “Ya udah, anggap aku vitamin. Vitamin buat nyalain semangat kamu, ya?”
Yasmin terkekeh. “Oke, Vit-Fal. “Tapi aku takut,” katanya pelan, saat Naufal bangkit menyodorkan minuman hangat.
Naufal pindah duduk di kursi sebelah brangkar, mengulurkan gelas. “Itu artinya kamu manusia.”
Yasmin tertawa kecil. “Aku takut operasi kedua gagal.”
“Yasmin,” Naufal menatap mata gadis itu dengan lembut, “Kamu bukan cuma jago bertahan. Kamu juga jago bangkit.”
“Kamu selalu bilang gitu.”
“Karena itu benar. Kamu buktiin setiap kali suster datang ke sesi ini.”
Yasmin menggigit bibirnya. Ada sesuatu di dada yang hangat dan menusuk bersamaan. Aku tahu dia hanya teman… Tapi kenapa pelukannya bisa lewat kata-kata begini?
“Aku nggak bisa berharap lebih, 'kan?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Naufal tak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan. Sebagai teman.
Tapi Yasmin tahu, satu-satunya tempat ia bisa merasa cantik adalah di hadapan Naufal. Meski bukan karena cinta, perhatian lelaki itu adalah pelampung kecilnya saat dunia seolah menenggelamkannya.
***
Malam hari. Ziya sedang memindai dokumen di laptopnya setelah tugas kuliah selesai dikerjakan. Ada notifikasi WhatsApp masuk. Dia membuka ponselnya—dan diam ketika melihat folder di bagian atas.
“Di arsipkan? Nomor siapa?” bisiknya.
Dia membuka arsip. Di sana ada belasan pesan dari Iwana. Yang belum ia lihat sama sekali. Ziya membeku.
“Kenapa bisa kearsip?” desisnya, lalu menatap Afnan yang sedang membaca buku di sudut kamar. “Mas … ini yang arsipkan nomer siapa, ya?”
Afnan hanya menoleh sebentar. “Iya, biar kamu nggak terganggu.”
Ziya terdiam. Matanya mulai memerah.
“Jadi Mas sengaja ... nutupin pesan mama? Kenapa? Pasti mama mikirnya aku nggak mau balik ke sana, aku ngambil anaknya,” seru Ziya sambil menahan isak.
“Ziya ... Sayang .…” Afnan bangkit, mendekat. “Bukan gitu maksudku.”
Tapi Ziya sudah bangkit, memunggunginya. “Mas, kamu tahu mama pasti makin benci aku sekarang. Aku keliatan kayak menantu durhaka!”
“Aku cuma mau kamu tenang, Zi—”
“Mas nggak ngerti!” suara Ziya meninggi. “Aku udah cukup nahan semua omongan orang. Sekarang Mas malah sengaja jauhin aku dari beliau. Nggak kebayang deh, gimana nanti kalau mama ketemu aku,” seru Ziya menangis.
Afnan tersengal, menyesal. Dia berbalik, mengambil ponselnya. “Aku telpon mama sekarang, biar aku yang jelasin.”
Tapi Salamah tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mereka yang tidak terkunci. “Maaf ibu ikut campur. Jangan, Nak,” katanya tegas.
Afnan menoleh, kaget. “Kenapa, Bu?”
“Kalau Nak Afnan yang telpon, beliau akan makin merasa kamu campuri urusan Ziya dan ibumu. Biar Ziya yang putuskan sendiri.” Salamah menjelaskan sudut pandangnya. Dia juga seorang ibu, sedikit paham bagaimana keinginan Iwana.
Ziya mendongak, mata basahnya kini menatap Salamah dan Afnan penuh harap—dan ragu.
"Bisakah aku?"
.
.