Andai Tiada Mertua
Pulang
Keheningan melingkupi kamar itu. Tiga pasang mata saling bertukar isyarat tanpa kata. Salamah mengangguk pelan saat manik mata Ziya menatapnya, seperti meminta restu dalam diam.
Ziya bergantian menatap suami dan ibunya. Ada keraguan di wajahnya, tapi tatapan tenang Afnan disertai anggukan kecil memberi kelegaan. Terlebih saat lelaki itu mengulurkan ponsel milik Ziya.
"Mau sekarang?" suara Afnan terdengar rendah, lembut.
Salamah bangkit dari duduknya. Ia mengelus lengan Afnan pelan sambil berkata, "Tolong temani ya, Nak. Hati-hati ngomongnya." Lalu ia meninggalkan kamar dengan langkah tenang, memberikan ruang untuk mereka berdua.
Ziya menggenggam ponselnya ragu. "Mas ... ini sudah malam, ganggu Mama nggak, ya?" cemasnya.
"Kita coba dulu. Kalau nggak diangkat, kita tunggu besok," jawab Afnan menenangkan.
Dering panjang mengisi keheningan kamar. Tak satu pun dari mereka bersuara. Tapi saat dering kelima selesai tanpa jawaban, Ziya menarik napas panjang. Antara lega dan kecewa, ia hanya menaruh kembali ponselnya dan naik ke ranjang.
Afnan masih duduk di tepi ranjang. Pandangannya jatuh pada ponsel yang masih menyala.
"Aku ... sengaja arsipin nomor mama, iya," katanya pelan, seakan menyimpan rahasia yang berat.
Ziya mengerutkan dahi, "Kenapa?"
"Aku takut kalau lagi emosi terus nekat nelpon, ngomong yang nggak perlu, begitupun sebaliknya. Jadi aku arsipin biar nunggu kepala dingin dulu," jelas Afnan dengan nada tenang.
Ziya menatapnya, berbaring miring. "Waktu terakhir itu ... Mas sempat bilang soal jual rumah. Rumah mana, Mas?"
Afnan terdiam sejenak sebelum menjawab, "Rumah Jakarta. Cuma gertakan, Zi. Aku kira kalau didorong, Mama mau berubah. Tapi malah bikin beliau masuk rumah sakit."
Ziya terpejam sejenak, menahan sesal yang menggelayut. "Mas tahu persis dari kapan Mama sakit jantung?"
"Baru tahu setelah Mama diopname. Dokternya bilang sudah dari lama, cuma nggak ditangani serius."
Ziya menunduk, suara hatinya mengutuk diri. Dia hanya sekilas tahu, tak berniat bertanya lebih jauh. "Aku harus pulang, Mas. Mama sendirian..."
"Tunggu, Sayang." Afnan menggenggam tangannya. "Kandungan kamu baru masuk tiga bulan. Kita nggak tahu risiko di jalan. Nanti, pas dokter bilang kamu kuat, kita sama-sama ke sana."
Ziya diam. Tak menjawab.
Afnan menatap wajah istrinya yang mulai basah air mata. "Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, Zi. Kamu itu rumah buat kita. Dan aku ... ingin kita bisa jagain Mama bukan cuma sekali, tapi sepanjang waktu. Pelan-pelan, bareng-bareng."
Ucapan lembut suaminya membuat hati Ziya bergetar. Ia menggenggam jemari Afnan lebih erat.
"Bayangin, Zi ... kita bertiga nanti, main di taman. Kamu cerita dongeng, aku yang jagain cemilannya biar nggak diambil semut." Afnan tertawa kecil, menghapus air mata Ziya dengan ibu jarinya. "Aku pengin keluarga kecil ini bertahan, sayang. Kita bisa lewatin ini, sama-sama."
Ziya tersenyum dalam tangis. Malam itu, mereka tidur saling bersandar, dalam diam yang saling memahami.
***
Pagi Hari.
Dering ponsel menyentak pagi yang masih lembab. Ziya menatap nama ‘Mama’ di layar.
"Angkat, ya," bisik Afnan sambil menyodorkan ponsel. Ziya menjawab dengan anggukan kecil.
"Iya, Assalamualaikum, Ma ... Ziya di sini," suaranya terdengar pelan dan hati-hati.
"Wa alaikumussalaam," jawab Iwana dengan suara bergetar.
Obrolan mereka kaku beberapa saat. Hanya basa basi soal kabar. Tapi saat Ziya bertanya tentang Arman, suasana mulai mencair.
"Arman pindah ke Al-Ghifari. Di sana katanya banyak kegiatan agama," kata Iwana.
Ziya tersenyum, "Itu sekolah aku dulu, Ma. Waktu aku masih jadi guru pendamping."
"Oh ya? Mama dulu nggak perhatiin," jawab Iwana jujur, mulai terdengar bersemangat.
"Ada Wakaseknya, tuh ... Fawwaz namanya. Katanya ada maksud ke Aisyah, bikin Mama khawatir." Suasana obrolan mulai mencair, Iwana kembali ke mode normal.
Ziya terkejut, "Fawwaz? Wah, kalau itu benar Fawwaz yang aku tahu, dia orang baik kok, Ma."
Hening.
Ziya terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Ma, kalau itu benar Fawwaz yang aku kenal dulu waktu mondok dulu, Mama nggak usah khawatir. Dia orang baik, sopan banget, perhatian, dan pintar juga. Dulu dia santri top. Nggak pernah sekalipun dia bersikap aneh.”
Iwana tak langsung menjawab, seolah sedang memikirkan ucapan menantunya.
“Mas Afnan juga kenal sama Fawwaz, kan?” tambah Ziya. “Mereka satu almamater.”
Afnan yang duduk di sebelah Ziya hanya diam, wajahnya berubah sedikit kaku. Tapi Ziya tak menyadarinya dan lanjut bicara di telepon, sampai akhirnya sambungan terputus.
Ziya meletakkan ponselnya sambil menghela napas lega. Ia tak menyadari perubahan ekspresi Afnan yang kini tampak ... cemberut.
Di belakangnya, Afnan mengerutkan kening. Sorot matanya berubah.
"Mas?"
Afnan tak menjawab. Ia menatap keluar jendela.
"Mas ... ngambek ya?"
Afnan tetap diam, namun pipinya sedikit menggembung, seperti anak kecil.
Ziya menahan tawa, lalu mengelus pipi Afnan. "Mas cemburu?"
Afnan mendengus pelan. "Enggak. Cuma ... lengkap banget tadi kamu muji Fawwaz,” jawab Afnan datar. Dia menoleh ke arah lain, pura-pura sibuk mengangkat cangkir minum.
Ziya mendekat, menggoda, “Mas Afnan yang paling ganteng, paling sabar, dan paling bisa bikin aku jatuh cinta ulang tiap hari, kok bisa kalah saing sama Fawwaz?”
Sunyi.
Ziya membungkuk mendekat. "Ih, lucu amat sih cemburunya."
Afnan akhirnya menoleh, tersenyum malu tapi senang. “Ya, jangan muji dia segitunya, nanti aku mimpi buruk.”
Ziya tertawa dan menyandarkan kepala di lengan suaminya. “Tenang... yang ada di mimpiku cuma Maaaasssssss.”
Afnan menatap mesra istrinya. "Jangan bawa-bawa masa lalu deh..."
"Aku pilih Mas, tahu," bisik Ziya sambil mencium punggung tangan Afnan lalu pipi Afnan. "Cium nih, biar percaya."
Afnan tertawa kecil, akhirnya luluh juga.
***
Hari-Hari Selanjutnya
Setiap hari, Iwana mulai belajar video call. Afnan dan Ziya dengan sabar menuntunnya, dari arahkan kamera hingga menjelaskan cara mematikan panggilan. Tidak ada lagi bujukan untuk pulang. Iwana hanya bilang, “Mama cuma mau istirahat... dari semuanya.”
Namun Afnan merasa tak tenang. Iwana mulai bicara sendiri saat video call, atau menyela pembicaraan dengan kalimat tak nyambung. Ia pun mengajak Ziya ke dokter untuk memastikan kehamilan cukup kuat dibawa bepergian.
Seminggu kemudian, Ziya berangkat ke Jakarta bersama Salamah dan Santi. Mereka langsung menjenguk Iwana.
Saat bertemu, Salamah tak langsung menegur atau menasihati. Ia hanya berkata pelan, “Perempuan itu tempat kembali banyak hati. Kalau patah satu, harus tahu caranya merawat yang lain.”
Iwana menangis dalam pelukan Salamah. “Maafkan aku ... Maaf.”
Salamah balas memeluknya. “Yang penting sekarang ibu tahu, Ziya nggak pernah pergi dari sisi ibu.”
Tangisan Iwana menjadi, teringat segala hal buruknya pada Ziya yang tak pernah membalas. Dia menyesal sampai Salamah kuatir ketika tangisnya mulai membuat Iwana sesak.
Beberapa hari, Salamah menginap. Saat sore hari dia melihat seseorang pulang bersama Aisyah, ia bertemu Fawwaz.
Aisyah pulang dari kerja dan turun dari mobil yang dikendarai Fawwaz. Di teras, Salamah yang sedang menyiram tanaman menyapa mereka berdua.
“Mas Fawwaz sehat?” sapa Salamah ramah.
Fawwaz tersenyum dan sedikit membungkuk sopan. “Alhamdulillah, Bu. Lagi jenguk Ziya ya?" balasnya masih berdiri di teras.
Salamah mengangguk. "Dulu waktu Ziya cerita soal teman lama di Al Ghifari, ibu nggak ngeh kalau Fawwaz yang ini,” kekehnya.
Fawwaz tersenyum lebih lebar. “Saya juga nggak nyangka ketemu Ziya, Bu,” ucap Fawwaz.
Salamah mengangguk-angguk sambil menatapnya sejenak, lalu berujar diselingi tawa kecil,
“Kalau semua guru laki-laki seperti Mas Fawwaz, ibu-ibu pasti sekolahin anaknya ke situ semua.”
Fawwaz menggaruk tengkuk, tersipu. “Bisa aja, Bu.” Dia pun langsung pamit sebab tak enak berlama-lama.
Salamah sambil tersenyum bijak. “Mudah-mudahan Allah selalu bimbing dalam niat baik.”
Mereka berdua saling tersenyum sebelum Fawwaz pamit.
Tak jauh dari situ, Iwana memperhatikan diam-diam dari balik jendela, hatinya mulai sedikit tenang melihat interaksi Fawwaz dan Salamah yang hangat. Mungkin ... ia bisa beri sedikit ruang untuk percaya lagi.
Namun ketika malam menjelang, ia berkata lirih, “Kalau Aisyah menikah, Mama sendirian lagi...”
Ziya menggenggam tangan mertuanya. “Maaa....”
.
.