Andai Tiada Mertua

Pengakuan

"Tenanglah, Yas. Semoga semua berjalan lancar," gumam Naufal meraup wajahnya guna meredam gelisah. 

 

Dia lalu menghampiri ibunda Yasmin yang duduk dengan raut wajah sedih, bibirnya bergerak melafalkan dzikir, berusaha agar tenang sambil terus memanjatkan doa.

 

"Tim dokter yang menangani Yasmin, semuanya nakes terbaik, Bu. In sya Allah operasinya berhasil," kata Naufal saat duduk bersebelahan.

 

Hanya anggukan kepala yang dia terima sebagai respon kalimatnya tadi. Naufal pun memilih diam, melantunkan doa yang sama di dalam hati.

 

***

 

"Apa kamu yakin?" suara Iwana parau, wajahnya pucat pasi.

 

Afnan mengangguk pelan. "Yasmin harus menjalani beberapa operasi, Bu."

 

Piring di pangkuan Iwana bergeser, sendok terlepas dari jemarinya. Ia baru saja keluar dari rumah sakit kemarin, masih terbayang aroma disinfektan dan dinginnya ruang pemeriksaan. Kini mendengar kabar Yasmin harus operasi membuat jantungnya mencelos, seolah ia kembali terjebak dalam lorong rumah sakit yang menyesakkan.

 

"Mama nggak pernah suka perempuan itu, tapi ... kenapa tetap nyesek ya?" gumamnya lirih.

 

Afnan tak menanggapi. Ia hanya melanjutkan sarapannya dengan tenang, meski dalam hatinya ada simpati yang samar.

 

Langkah kecil Arman menuruni tangga disusul suara pintu depan yang terbuka. Aisyah datang menjemput. Ia berdiri di ambang pintu ruang tengah, tak berani melangkah masuk sejak kejadian tempo hari, ketika Iwana menegur soal kedekatannya dengan Fawwaz. Sejak itu, ia menjaga jarak. Kali ini, alasannya : “Sedang banyak kerjaan, dan jika berkunjung terlalu malam kuatir Arman capek,” katanya pelan.

 

Saat Arman selesai sarapan dan menghampiri Iwana untuk berpamitan, Afnan keluar rumah. Ia tak berkata sepatah kata pun hingga tiba di samping mobil. Saat hendak membuka pintu, ia menoleh, menatap Aisyah.

 

“Kamu tahu kabar Yasmin, kan?” ujarnya datar. 

 

Aisyah mengangguk dan menjawab pelan, "Dengar dari grup alumni."

 

“Sebagai teman, kamu tahu apa yang seharusnya kamu lakukan,” kata Afnan singkat sebelum masuk ke mobil.

 

Aisyah terdiam. Hatinya sedikit menghangat. Afnan masih seperti dulu, tak banyak bicara, tapi tegas dan jelas. Saat mobil itu melaju, Aisyah membungkuk pelan—sebuah penghormatan diam-diam.

 

“Semoga segera diberi amanah, Kak,” bisiknya lirih. 

 

Aisyah menatap kepergian iparnya, ada sedikit sesal pernah berlaku tak pantas dulu padahal Afnan selalu baik padanya dan Arman. 

 

Huft! Lamunannya dibuyarkan Arman yang menggenggam jemarinya sambil tersenyum. 

 

Di ruang tamu, Iwana termenung menatap kepergian cucu dan menantunya. Punggungnya membungkuk, matanya menatap kosong ke arah halaman.

 

Kalau Aisyah menikah lagi ... dan Arman ikut dibawa ... aku tinggal dengan siapa?

 

Tangannya bergetar memeluk tubuhnya sendiri. Udara terasa dingin. Sepi tiba-tiba menyeruak seperti kabut, menyelimuti seluruh ruang. Dia menangis, sesenggukan, suara tangisnya menggema tapi tak seorang pun berani mendekat.

 

Asisten rumah tangga dan supirnya hanya mengintip dari balik dapur, bingung sekaligus takut—nyonya mereka yang selama ini tegas, egois dan judes, kini remuk tak berdaya.

 

Apa ini ganjaran?

Apa ini balasan karena terlalu banyak menyakiti orang?

Ziya ... Aisyah ... Yasmin ... bahkan cucuku sendiri perlahan menjauh...

 

"Aku ini siapa sekarang...?" bisiknya di sela tangis. "Hanya seorang ibu yang gagal..."

 

"Arif, Paa, aku ikut kalian saja bagaimana?" rintihnya sambil mengusap dada, berharap sesak mereda.

 

Setelah beberapa lama, dia kembali tenang. Iwana meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Ziya. Entah mengapa nama menantunya itu yang pertama terlintas, mungkin alam bawah sadarnya paham, bahwa dia terlalu banyak dosa pada gadis itu.

 

Tangannya gemetar saat menekan tombol kirim. Tapi hingga senja turun, tak ada balasan dari Ziya. Ada seberkas tanya, tapi dia mulai menepis dugaan, mungkin Ziya sedang off medsos, pikirnya.

 

Namun, hari-hari selanjutnya pun berlalu dalam diam. Ziya masih tak menghubunginya, membuat harapan Iwana meredup perlahan. Ingin bertanya pada Afnan tapi masih ada gengsi menyelimuti. 

 

"Biarin dulu deh, penting aku sudah coba perhatian sama Ziya," ucapnya datar meski ketakutan mulai menyelinap lagi.

 

Di rumah sakit, Yasmin tengah menjalani serangkaian pemeriksaan pasca-operasi. Di samping ibunya yang murung, ada Naufal—diam tapi sigap. Ia menyiapkan air putih, membantu menandatangani berkas, dan sesekali berbicara dengan dokter yang menangani.

 

“Terima kasih sudah selalu di sini,” kata ibu Yasmin lirih, melirik ke arah Naufal.

 

Naufal tersenyum kecil. "Sebagai teman baik, sudah jadi kewajiban saya, Bu. Yasmin sedang butuh support. Itu saja."

 

Ucapan itu menenangkan, tapi juga memberi batas. Ibu Yasmin mengangguk, pelan-pelan menghapus harapan yang sempat tumbuh. Naufal hanya simpati, bukan peduli berlebihan.

 

Keesokan harinya, sebelum kembali ke Kuningan, Afnan berkunjung ke rumah sakit. Dia menyapa ibu Yasmin dengan santun, seperti kebiasaan selama ini.

 

"Gimana kondisi Yasmin, Bu. Aku ke sini sekalian mau pamit." Afnan tetap memilih berdiri.

 

Ibu Yasmin terkejut. Naufal yang duduk di pojok hanya menatap Afnan tanpa berkata.

 

“Aku tinggal di Kuningan sekarang, nemenin Ziya yang masih pengen di sana. Dia sedang hamil muda ... Kami mohon doa dari ibu agar Ziya dan baby sehat sampai waktunya lahir nanti,” beber Afnan dengan wajah berseri.

 

"Oh, hamil? Kata Yasmin ... Ehmm, lupakan," kekeh ibu Yasmin canggung. "Semoga lancar ya," sambungnya dengan senyum kaku. Teringat kata-kata Yasmin bahwa Ziya mandul, tapi malah putrinya sendiri yang kena masalah.

 

"Aamiin. Aku pamit, Bu." Afnan menunduk hormat, lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan tenang, meninggalkan keheningan yang dalam.

 

Naufal hanya diam menunduk, Ziya benar-benar terlepas darinya. Dalam hati, dia hanya bisa mendoakan kebahagiaan mereka kini.

 

Yasmin baru sadar keesokan sorenya. Mata yang sembab terbuka perlahan. Ibunya langsung menangis, mencium tangannya, memeluk dengan hati yang masih takut kehilangan.

 

Naufal masih di sana, menyapa lembut. “Selamat datang kembali.”

 

Yasmin menoleh lemah. “Kamu … satu-satunya yang masih peduli.”

 

“Bukan cuma aku, yang lain pasti ada,” sahut Naufal, menatapnya jujur. “Tapi aku tetap temenmu. Dan akan tetap begitu." 

 

Sore harinya, Aisyah datang. Bersama Arman yang membawa gambar untuk Yasmin. Mereka tak bicara banyak. Aisyah hanya bertanya kabar, mendengarkan keluhan ringan, lalu menyerahkan amplop kecil.

 

“Ini cek dulu yang kamu kasih. Aku sempat cairkan seperempatnya, tapi aku janji akan balikin pelan-pelan,” ucap Aisyah sembari mengusap kepala Arman yang duduk di pangkuannya.

 

Yasmin tertegun. “Kamu juga berubah ke aku...”

 

Aisyah tersenyum tipis. “Aku berubah untuk Arman. Aku kerja sekarang. Aku nggak bisa ikut drama siapa pun lagi. Tapi aku doakan kamu lekas sehat.” Kalimatnya ringan, lembut tapi terdengar getir oleh Yasmin.

 

Tak lama, Aisyah pamit. Dan Yasmin menangis lagi. Kali ini lebih sunyi.

 

Semua orang menjauh... Aku kehilangan segalanya. Apakah ini ganjaran?

 

Di tempat lainnya.

 

Malam yang hening, Iwana duduk menggenggam ponselnya. Tak ada kabar dari Ziya. Ia membuka aplikasi pesan, menulis satu kalimat, lalu menghapusnya lagi.

 

Tiba-tiba layar menampilkan pesan baru.

 

Dari ibunya Yasmin.

 

"Jeng, kondisi Yasmin sudah membaik. Hari ini mulai belajar duduk."

 

Iwana tersenyum kecil, lalu menoleh ke jendela. Hatinya berkata Alhamdulillah.

 

Di kejauhan, lampu rumah tetangga mulai padam. Angin malam membawa kecemasan baru.

 

Apakah aku akan hidup sendiri?

Apakah Ziya akan memaafkanku?

Ataukah Yasmin akan sehat lagi, lalu memulai hidup baru?

Atau mungkin ... Aisyah dan Fawwaz? Siapa yang akan tetap ada untukku?

 

Iwana mendongak, menatap langit hitam tanpa bintang. "Aku harus memilih minta maaf pada siapa lebih dulu…"

 

 

.

 

 

 

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!