Anak Tebu yang Menatap Langit
Lampu Minyak dan Janji yang Tumbuh 3
Malam di Isorejo selalu lebih sunyi dari siang.
Lampu-lampu rumah tidak banyak. Jalanan gelap. Hanya suara jangkrik dan angin yang menemani waktu.
Di dalam rumah, listrik kembali padam.
Limah menyalakan lampu minyak.
Cahaya kecil itu menerangi ruangan dengan hangat—meski redup.
Imam duduk belajar.
Di sampingnya, Ali mencoba menulis di buku tulisnya.
“A… L… I…”
“Benar enggak, Kak?”
Imam tersenyum.
“Benar, Li. Pintar.”
Ali tersenyum bangga.
Lalu bertanya lagi,
“Kak, nanti kalau aku besar… aku bisa sekolah tinggi juga?”
Pertanyaan itu kembali datang.
Namun kali ini lebih dalam.
Imam menatap adiknya.
Melihat mata kecil yang penuh harapan.
Ia tidak ingin menjawab setengah hati.
“Iya, Li,” katanya pelan,
“Kakak janji.”
Ali tersenyum, lalu kembali menulis.
Seolah janji itu sudah cukup untuk membuatnya tenang.
Di sudut ruangan, Gimin memijat tangannya yang lelah.
Limah menjahit dengan sabar.
Rumah itu kecil.
Penghuninya sederhana.
Tapi malam itu, ada sesuatu yang besar tumbuh di dalamnya—
janji.
Imam membuka bukunya.
Namun pikirannya tidak hanya pada pelajaran.
Ia mulai menyadari satu hal:
Ia bukan lagi hanya anak yang bermimpi.
Ia adalah kakak.
Ia adalah harapan.
Dan di pundaknya, ada masa depan orang lain.
Sebelum tidur, Imam menatap langit dari celah dinding rumah.
Bintang-bintang terlihat jauh.
Tapi tidak mustahil untuk dicapai.
Ia menutup mata.
Dan dalam diam, ia berdoa:
“Ya Allah… kuatkan aku. Bukan hanya untuk diriku… tapi untuk adikku.”
Angin malam berhembus pelan.
Di antara kebun tebu yang luas, sebuah janji telah ditanam.
Dan janji itu… akan tumbuh bersama waktu.