Anak Tebu yang Menatap Langit
Sepeda Tua dan Dua Harapan 2
Pagi berikutnya, suara roda sepeda berderit memecah jalan sunyi desa.
Itu sepeda Imam.
Catnya pudar. Rantainya sering berbunyi. Sadelnya sedikit robek. Tapi sepeda itu tetap setia—mengantar Imam menuju sekolah yang jaraknya tidak dekat.
Di belakangnya, Ali duduk menyamping, memegang erat baju kakaknya.
“Kak, jangan ngebut…” kata Ali.
Imam tertawa kecil.
“Kalau pelan terus, kita telat.”
Angin pagi menyapu wajah mereka. Jalan tanah yang berdebu membuat perjalanan terasa panjang.
Dari arah berlawanan, beberapa siswa melintas dengan motor.
“Imam! Masih pakai sepeda?” teriak salah satu dari mereka.
Tawa terdengar.
Ali menunduk.
Imam tetap mengayuh.
Ia tidak menjawab.
Namun kali ini bukan karena malu—melainkan karena ia memilih tidak berhenti.
Sesampainya di sekolah, Imam mengantar Ali ke sekolah dasar di dekatnya.
“Belajar yang rajin, ya,” kata Imam.
Ali mengangguk semangat.
“Nanti aku mau jadi kayak Kakak!”
Imam tersenyum.
Namun dalam hatinya, ia berkata:
Jangan seperti Kakak. Jadilah lebih baik dari Kakak.
Di kelas, Imam duduk di bangku depan.
Ia memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh. Bukan karena ia paling pintar, tapi karena ia takut tertinggal.
Pak Hasan, guru agama, bertanya,
“Siapa yang ingin kuliah?”
Beberapa tangan terangkat.
Imam mengangkat tangannya paling tinggi.
“Apa cita-citamu, Imam?”
“Saya ingin jadi dosen, Pak… dan membangun desa saya.”
Kelas hening.
Beberapa siswa tersenyum kecil.
Tapi Imam tidak peduli.
Karena di dalam kepalanya, yang ia bayangkan bukan tawa mereka—
melainkan wajah Ali.
Sore hari, Imam menjemput Ali.
“Apa yang kamu pelajari hari ini?” tanya Imam.
Ali tersenyum lebar.
“Aku belajar nulis namaku!”
“Tulis apa?”
“Ali!”
Imam tertawa.
Hal sederhana itu terasa begitu berharga.
Di jalan pulang, mereka kembali menaiki sepeda tua.
Namun kali ini, sepeda itu tidak hanya membawa dua tubuh kecil.
Ia membawa dua harapan.