Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Wadah rezeki
Hima terdiam, Hartati masih melihatnya, menunggu pertanyaan apa yang akan dia sampaikan
“Kalau menurut ibu … ngadopsi anak tuh gimana?”
Hartati tidak langsung menjawab. Ia menatap Hima, lama, seperti menimbang sesuatu di wajah laki-laki itu.
“Ngadopsi itu,” katanya akhirnya, pelan, “bukan solusi cepat dari masalah Mas Hima saat ini. Tapi bisa jadi jalan keluar suatu hari nanti.”
Hima menunduk. "Iya, pasti ada perdebatan panjang."
“Kalau niatnya buat nutup mulut orang, jangan,” lanjut Hartati. “Kalau niatnya buat cuma jadi pancingan biar istrinya lekas hamil ya jangan juga .”
Hima mengangguk kecil.
“Tapi,” Hartati melanjutkan sambil tersenyum lembut, “kalau niatnya buat ngasih kasiha sayang, bantu anak saudara, dan menerima karakter, takdir anak itu tanpa nyalahin siapa-siapa … itu niat yang mulia.”
"Maksudnya?"
"Kan kita nggak tahu, watak orang tuanya macam mana. Bukannya gen menurun ya? Nah, terima nggak suatu saat kalau anaknya bandel?"
Hima menghela napas panjang. “Iya, itu juga yang ditakutkan, Bu.”
“Nah.”
“Takut nggak adil ke anaknya dan hatiku nggak seikhlas yang aku kira.”
Hartati mengangguk, tersenyum. “Brati Mas Hima mikirnya jauh soal tanggung jawab ... adil dan ikhlas itu gak mudah.”
Hima terdiam. Kata-kata itu masuk ke hatinya, menenangkan. Hartati berdiri, merapikan etalase. “Masalah kayak gini nggak harus nemen dipikirin,” katanya sambil membelakangi Hima. “Kadang butuh di bayangin dulu aja.”
Hima tersenyum kecil. “Iya, Bu.” Ia meneguk kopi terakhirnya yang tidak sepanas tadi.
Saat berdiri untuk pamit, Hima merasa langkahnya sedikit lebih ringan.
“Ngomong pelan-pelan aja sama istrinya,” tambah Hartati. “Perempuan itu sebenarnya cuma pengin didengar.”
Hima mengangguk. “Iya, Bu.” Ia bangkit, merapikan tas. “Saya berangkat dulu.”
“Hati-hati,” kata Hartati sambil tersenyum.
Hima hanya mengangguk, meletakkan uang di meja dan keluar dari warung. Sisa 15 menit lagi menuju kantornya tapi hari ini dia tidak ingin buru-buru.
Di kantor, saat jam istirahat Hima duduk di kantin bersama salah satu temannya, Arif. Mereka memesan menu yang sama.
“Kamu kenapa?” tanya Arif sambil menarik piring berisi makanannya, yang baru diantar petugas kantin. “Dari tadi bengong.”
Hima tersenyum hambar. “Lagi mikirin hidup.”
Arif terkekeh. “Berat.”
Hima ragu sebentar, lalu berkata, “Gue sama istri lagi usaha punya anak. Belum berhasil.”
Arif mengangguk. “Oh.”
“Kadang gue mikir,” lanjut Hima, suaranya pelan, “kenapa ya kita susah banget. Sementara di jalanan, orang hidup pas-pasan, anaknya bisa banyak.”
Arif mengunyah sebentar sebelum menjawab, “Karena medan juang tiap orang beda.”
Hima menoleh.
“Mereka dititipi anak,” kata Arif, “tapi hidupnya berat. Kita mapan, kerja jelas, tapi diuji di bagian lain. Hidup tuh adil dengan caranya sendiri—nggak pernah sama.”
Hima terdiam.
“Lagipula,” sambung Arif, “anak itu rezeki. Tapi rezeki juga perlu wadah.”
“Wadah?”
“Iya,” Arif tersenyum. “Mental, waktu, sabar, ilmu. Kadang Tuhan belum ngasih bukan karena pilih kasih, tapi karena wadahnya belum siap.”
Hima mengangguk pelan.
“Kalau mau jujur,” lanjut Arif, “tanpa anak pun hidup tetap bisa utuh sempurn, kok, Him. Yang penting rumahnya hangat, harmonis. Kalau nanti dikasih, ya syukur. Kalau belum, ya jangan saling nyalahin.”
Hima menghembuskan napas panjang. Dadanya terasa lebih ringan.
“Mungkin gue kebanyakan nanya ‘kenapa’,” katanya.
“Ganti jadi ‘apa yang bisa gue siapin’,” jawab Arif. “Itu lebih capek, tapi lebih berguna.”
"Tapi sebagai lelaki, aku di cap lemah, Rif."
Arif mengunyah pelan sambil menoleh ke arah Hima. "Kan bisa diperkuat di bagian lain," ujarnya. Dia meraih gelas, minum sebelum lanjut, "apa potensimu, Him?"
Hima diam. Selama ini dia hanya hidup seperti apa adanya, semua aman dan jalan teratur, sudah. Tanpa memikirkan hal lain, toh, Anggun juga tidak menuntutnya bisa ini itu.
"Entah," jawab Hima.
Arif terkekeh. "Gimana orang lain mau percaya kalau kamu nggak yakin sama kemampuan dirimu sendiri. Kan Tuhan juga gitu," jelasnya.
Deg.
"Iya juga ya," gumam Hima.
"Coba aja renungkan, Bre. Berdua, itu juga salah satu jalan supaya ~wadah kalian lebih kokoh. Doa kalian makin berbobot," pungkas Arif, menyenggol lengan Hima yang mengangguk.
Jam istirahat hampir selesai. Mereka berdiri kembali ke meja masing-masing. Di meja kerjanya, Hima duduk sambil menatap layar komputer yang belum juga disentuh.
Pikirannya kembali ke Anggun. Ke mimpi semalam. Ke kata-kata Hartati dan Arif.
Mungkin memang bukan soal cepat atau lambat, pikirnya. Tapi soal siap atau belum, menata bagian mana dari dirinya yang masih perlu dibesarkan.
*
Mereka janjian pulang bareng sore itu. Hima hanya bilang, “Ngopi bentar yuk.”
Anggun mengangguk.
Warung Hartati masih seperti biasa. Kursi plastik, meja yang sedikit lengket bekas ceceran kopi. Tempat orang-orang singgah, sekedar melepas penat sebelum pulang.
Anggun duduk di samping Hima. Hartati menyapa singkat, lalu menyiapkan kopi dan teh manis.
Hima melirik jam. “Biasanya sore-sore ramai, Bu,” katanya pelan.
"Iya, ndak tahu ini pada kemana," sahut Hartati.
Tak lama kemudian, benar saja.
Sophia datang dengan dua anaknya. Yang besar membawa tas sekolah, wajahnya kusut. Yang kecil dia tuntun, mulai rewel, minta ini itu.
Sophia terlihat lelah bahkan sebelum duduk. “Jangan lari-lari! Duduk yang bener!” bentaknya.
Sophia memesan gorengan hangat dan sayur yang masih ada di etalase. Anak kecilnya kejeduk meja, menangis keras. Sophia menghela napas, makin kesal.
“Aduh, Mama capek tau!” suaranya meninggi. “Dari tadi nggak berhenti berulah kamu tuh ya!”
Anak yang besar menunduk. Lalu tiba-tiba berkata pelan, tapi jelas, “Kita tuh salah terus, dimarahin mulu sama Mama.”
Sophia terdiam. Tangannya berhenti merogoh dompet, dia akan membayar tapi langsung merasa bersalah, mendengar sulungnya bicara.
“Maaf,” katanya singkat, seperti orang yang kehabisan tenaga untuk merangkai kalimat panjang. “Mama capek.”
Anaknya menghela napas. Nada suaranya bukan marah, lebih seperti pasrah. “Kita juga, Maa. Jajan dan main kan buat hiburan,” katanya. “Sekolah sampe sore. PR banyak. Dimarahin guru.”
Anggun merasakan dadanya mengencang. Sophia menatap anaknya lama, lalu menariknya ke pelukan. Anak yang kecil ikut mendekat meski tangisnya belum benar-benar reda.
Di antara suara motor lewat, Hartati mendekat sambil membawa pesanan Sophia.
“Udah,” katanya lembut. “Semua capek sesuai porsinya. Mama capek, anak capek. Yang sabar-sabar kalian semua.”
Sophia mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
“Anak itu kadang ngerti perasaan kita,” lanjut Hartati. “Wes, sama-sama belajar.”
Anggun diam sejak tadi. Matanya tak lepas dari pemandangan itu. Anak-anak yang rewel. Ibu yang lelah. Pelukan yang datang setelah kata-kata tajam terlanjur keluar.
Begini ya, hidup jadi ibu. Bukan cuma tawa dan foto lucu. Tapi juga capek, emosi, salah paham, lalu belajar minta maaf.
Ia menoleh ke Hima. Suaminya tidak bicara apa-apa. Anggun kembali menatap Sophia dan anak-anaknya.
Dia sadar, kalau suatu hari aku jadi ibu, batinnya, 'aku siap nggak ya sampai di titik ini? Apalagi jika adopsi?'
.
.