Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Bentuk rezeki
Hima tidak langsung pulang hari itu. Dari kantor, ia belok ke rumah orang tuanya. Sudah lama ia tidak mampir sore-sore begini. Biasanya cuma singgah sebentar, mencium tangan, lalu pamit.
Ibunya menyambut seperti biasa. Menawarkan teh hangat. Menanyakan pekerjaan. Hal-hal ringan yang tidak membuat putranya merasa jengah.
Ayahnya duduk di kursi kayu dekat jendela. Kacamata baca bertengger di ujung hidung. Tangannya memegang koran yang tak lagi dibaca.
“Kerjaanmu gimana?” tanya ayahnya singkat.
“Alhamdulillah,” jawab Hima.
Mereka diam sebentar. Angin sore masuk dari jendela, membawa wangi teh yang baru ibunya suguhkan.
Ayahnya menurunkan koran. Menatap Hima lama. "Kamu udah lama nikah,” katanya akhirnya.
Hima mengangguk pelan. “Sebagai lelaki,” lanjut ayahnya, “kamu itu pemimpin. Peranmu berkelanjutan sampai kita tua dan meninggal.”
Hima menelan ludah.
“Rumah ini nanti diwariskan ke siapa?” suara ayahnya datar, menatap Hima yang masih tertunduk. “Nama keluarga diteruskan lewat siapa?”
Hima terdiam. Tangannya saling mengunci di pangkuan.
Ayahnya belum selesai. “Doa anak itu,” katanya pelan tapi jelas, “penolong orang tua di alam kubur. Bekal paling panjang.”
Kalimat itu jatuh menghantam dadanya. Hima kian menunduk. Dadanya terasa sesak. Ia ingin menjawab bahwa mereka sudah berusaha dan tidak semua doa dikabulkan tapi lidahnya kelu.
Ibunya melirik cemas. “Pak…” katanya pelan, mencoba menghentikan.
Ayahnya mengangkat tangan. “Saya ngomong begini bukan nyalahin. Tapi ngingetin.”
Hima hanya mengangguk. Tidak ada air mata. Tidak ada bantahan. Hanya rasa kalah yang mengendap sebagai lelaki.
Ia pamit tak lama setelah itu. Mencium tangan ibu dan ayahnya, lalu keluar dengan langkah pelan.
Di motor, Hima tidak langsung menyalakan mesin. Ia duduk diam beberapa menit. Kata-kata ayahnya berputar-putar di kepalanya. Warisan. Nama. Doa anak. Sebagai lelaki, ternyata ia tidak mampu.
Di pertigaan jalan, Hima membelokkan motor ke arah masjid. Ia parkir, melepas helm, dan masuk. Masjid itu tidak ramai. Beberapa orang duduk bersandar ke tiang. Suara kipas berputar pelan.
Hima mengambil wudu. Air dingin membasuh wajahnya. Saat air menyentuh matanya, sesuatu di dadanya runtuh. Hima tersedu.
Ia lalu shalat dua rakaat. Gerakannya pelan. Bacaan doa terhenti beberapa kali. Sujud terakhirnya terasa lama.
Di lantai masjid, Hima menunduk dalam-dalam. Tangannya gemetar. Air mata jatuh satu satu.
“Ya Allah…” bisiknya. Suaranya serak. “Aku pengin jadi anak lelaki yang semestinya.” Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan lirih. “Kalau aku kurang… tolong kuatkan aku. Jangan hukum istriku dengan rasa bersalah.”
Air matanya menetes ke sajadah.
“Aku nggak minta hidup mudah,” katanya lagi. “Aku cuma minta… jangan biarkan kami merasa sendirian dan putus asa.”
Ia terdiam lama. Saat berdiri, matanya masih merah. Tapi langkahnya sedikit lebih ringan.
Di luar, langit mulai gelap. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Hima menyalakan motor. Di kepalanya, masih ada suara ayahnya, dibawa pulang bersama doanya tadi.
Sementara itu, di tempat lain.
Anggun tidak langsung pulang. Selepas jam kantor, ia duduk sebentar di motornya. Mesin sudah mati, tapi tangannya masih menggenggam setir. Di sekitaran gedung, orang-orang pulang dengan wajah lelah yang sama.
Matanya tertuju ke seberang jalan. Panti asuhan itu tidak besar. Bangunannya sederhana, catnya mulai pudar. Papan namanya sudah ia lihat berkali-kali, tapi baru hari ini kakinya benar-benar bergerak ke arah sana.
Anggun menarik napas, lalu melangkah masuk. Dia hanya datang membawa cemilan kesukaan anak-anak, tidak banyak sebab hanya ingin melihat sebentar.
Di ruang depan, seorang ibu paruh baya menyambutnya dengan senyum ramah.
“Cari siapa, Mbak?”
“Saya kerja di dekat sini,” jawab Anggun pelan. “Boleh… lihat anak-anak sebentar? Kalau tidak merepotkan.”
Ibu itu mengangguk. “Boleh. Anak-anak sedang siap-siap ngaji sambil nunggu adzan Maghrib .”
Anggun mengiyakan cepat.
Di aula belakang, mereka berkumpul. Mukena dan peci sudah dikenakan, beberapa anak sedang bermain. Ada yang berlari kecil, ada yang duduk di lantai sambil memangku juz Amma.
Saat melihat Anggun, beberapa pasang mata menoleh penasaran.
“Tante?” tanya seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir dua.
Anggun tersenyum. “Tante Anggun.”
Seorang balita mendekat, tangannya terangkat minta digendong. Refleks, Anggun meraih tubuh kecil itu. Tapi dadanya terasa penuh.
“Kamu namanya siapa?” tanya Anggun sambil mengusap punggung kecil itu.
“Reno,” jawabnya cadel.
Anggun tertawa kecil. Ia ikut duduk di lantai, Reno masih di pelukannya. Anak-anak lain ikut mendekat. Ada yang langsung bercerita soal sekolah, ada yang pamer gambar, ada yang cuma duduk diam tapi matanya berbinar.
Anggun mendengarkan. Sesekali bertanya lalu tertawa.
Satu jam berlalu tanpa terasa.
Anehnya, dadanya terasa lebih ringan. Ia sadar, ternyata begini rasanya. Bahagia melihat senyum muncul hanya karena kehadirannya.
Saat pamit, beberapa anak melambaikan tangan. “Tante datang lagi ya,” kata si anak perempuan berkuncir.
Anggun mengangguk. “Insya Allah.” Di motor, matanya berkaca-kaca, terharu.
Anggun sampai rumah saat langit sudah gelap. Lampu ruang tamu menyala. Hima sudah di rumah. Duduk di sofa, masih mengenakan kemeja kerja, mungkin dia juga baru tiba. Wajahnya terlihat lelah, tapi tenang.
“Maaf pulang telat,” kata Anggun pelan.
“Iya,” jawab Hima singkat.
Tidak ada tanggalan lain. Anggun langsung melepas sepatu, lalu masuk ke dapur. Mencuci piring yang tersisa, menyapu lantai, menyiapkan baju untuk besok.
Ia sengaja menyibukkan diri. Hima tetap diam. Membiarkannya.
Malam itu, Anggun tidur lebih awal. Badannya lelah, tapi pikirannya sedikit lebih tenang. Di ranjang, ia membelakangi Hima. Menarik selimut sampai bahu.
Hima memperhatikannya sebentar. Tidak berkata apa-apa. Hanya mematikan lampu, lalu berbaring.
***
Udara masih dingin sisa hujan semalam. Jalanan belum terlalu ramai. Gorengan baru saja diangkat, masih mengepul. Aroma kopi hitam menyebar, bercampur bau minyak panas yang khas.
Hima duduk di bangku dekat etalase. Biasanya ia datang cepat, minum kopi dua teguk, lalu pamit kerja. Hari ini kopinya sudah tinggal setengah, tapi belum juga dihabiskan.
Hartati memperhatikannya sambil menuang air panas ke teko. “Tumben,” katanya sambil melirik jam dinding. “Nggak buru-buru kayak biasanya.”
Hima tersenyum tipis. “Lagi malas ngantor, Bu. Aslinya. Suntuk.”
Hartati terkekeh saat menaruh cangkir di depannya. “Kenapa lagi?”
“Denger komentar netizen,” jawab Hima tersenyum getir. “Mereka kok seenaknya komentarin hidup orang lain."
“Soal apa?” tanya Hartati sambil mengelap tangan dengan lap.
Hima mengaduk kopinya pelan. “Biasa, Bu. Yang kemarin-kemarin itu.”
Hartati langsung paham. “Hidupnya kurang meriah jadi julidin orang,” katanya santai.
Hima tertawa kecil. “Iya juga.”
Hartati duduk di bangku seberang. “Mas Hima,” katanya ringan tapi kena, “diamanahi rezeki itu nggak selalu bentuknya sama.”
Hima mengangkat kepala.
“Ada yang dikasih anak, sehat, rumah tangga harmonis, kerjaan enak. Ada yang dikasih waktu luang.” Hartati tersenyum. “Nggak ada yang hidupnya sempurna.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Mau 9 naga sekalipun, pasti ada aja kurangnya.”
Hima tertawa lepas kali ini. “Ibu bisa aja.”
“Lah iya,” sahut Hartati. “Kalau semua sempurna, ya bukan hidup namanya.”
Hima menyesap kopi. Dadanya terasa agak longgar. “Kadang pria juga bisa lelah, Bu.”
Hartati mengangguk pelan. “Iya. Itu juga salah satu nikmat. Tandanya masih hidup. Nikmat dunia sedikit dibagi banyak orang, kan.”
Mereka diam sebentar. Hima menatap ke luar warung. Jalanan mulai ramai dengan orang-orang yang berangkat kerja.
“Bu,” katanya tiba-tiba.
“Iya?”
Hima ragu sejenak. “Mau minta pendapat.”
"Soal?"
.
.