Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Harapan Ujang
Sore itu warung Hartati belum juga sepi. Matahari sudah condong, tapi angin siang masih menyisakan gerah.
Sophia masih duduk dengan dua anaknya. Yang satu cemberut, satunya lagi sibuk mengusap mata, sisa tangis yang belum benar-benar reda.
Anggun masih memperhatikan dari kejauhan. Ia duduk di samping Hima, diam menikmati kopinya.
Tak lama, Ujang datang. Helm masih di tangan, keringat menempel di leher.
“Eh,” sapanya ramah, matanya langsung tertuju ke dalam warung. “Ramai amat sore-sore.”
Sophia melirik sekilas. Wajahnya datar, saat nyeletuk, “Ngetem bentaran, Bang.”
Ujang terkekeh. “Cocok di sini, Mbak.”
Anak yang lebih besar menggeser duduknya, mendekat ke Sophia. Yang kecil mulai merengek lagi, minta minum.
Ujang mengangkat alis, setengah bercanda. “Kalau repot, saya juga bisa bantu antar-jemput, Mbak.”
Sophia menoleh. “Hah?”
“Iya,” lanjut Ujang santai. “Sekolah, les, apa gitu. Tarif menyesuaikan. Apalagi buat orang sini. Ojek bulanan juga bisa.”
Sophia tampak mikir sebentar. “Eh… bisa ya?”
Ujang mengangguk mantap. “Bisa banget. Simpan nomor saya aja.” Ia langsung menyodorkan ponselnya ke arah Sophia.
Hartati yang sejak tadi mendengar dari balik etalase tersenyum. “Nah, tuh,” katanya ringan. “Solusi kadang datang sendiri, tanpa dicari-cari.”
Sophia mengambil ponsel Ujang, mengetik cepat. “Ini nomor saya. Nanti Abangnya kirim chat ya, biar sama-sama kesimpen.”
“Iya. Saya Ujang,” jawab Ujang.
Sophia berdiri, menggandeng anak bungsunya. “Rumah saya di sebelah komplek Graha. Tanya aja, Sophia.”
“Oh,” Ujang langsung nyambung. “Sebelah perumahan yang dijagain Pak Slamet?”
Sophia mengerutkan dahi sebentar. Pak Slamet? Yang mana ya? Satpam yang sering nongkrong di warung ini kah? Tapi ia tetap mengangguk. “Iya, deket situ.”
“Gampang itu, Mbak,” kata Ujang. “Mau lewat aplikasi atau nggak juga bebas. Nanti aja dibicarain.”
Sophia mengangguk. Ia membayar pesanannya, lalu menoleh ke Hartati. “Makasih ya, Bu.”
Hartati tersenyum. “Hati-hati.”
Motor Sophia menjauh perlahan. Anak-anaknya sudah lebih tenang, meski wajahnya masih menyisakan capek seharian sekolah.
Ujang kembali duduk. Dia baru sadar, ada Hima di bangku belakang. Mereka saling menoleh.
“Mas,” sapa Ujang singkat.
“Mas,” balas Hima.
Ujang lalu melirik ke arah Anggun. Senyum kecil terbit di wajahnya, canggung tapi sopan. “Istri ya, Mas?”
Hima mengangguk. “Iya.”
Anggun membalas senyum itu pelan. Warung mendadak terasa lebih sunyi.
Warung Hartati sore itu didatangi pelanggan yang silih berganti pergi. Angin dari kipas angin di tiang, bercampur aroma kopi hitam dan gorengan yang baru diangkat dari wajan. Di sudut, radio kecil memutar lagu dangdut yang sedang trend, suaranya sesekali kalah oleh deru motor yang lewat di jalan depan.
Ujang duduk di bangku panjang dekat etalase. Jaket ojolnya masih ia pakai, helm tergeletak di sisinya. Ia mengaduk kopinya pelan. Sendok beradu dengan gelas, ting… ting…
Hartati melirik sambil menuang air panas ke gelas pelanggan lain. “Mikirin apa sih, dari tadi,” katanya. “Order sepi, ya?”
Ujang mengangguk. “Iya, Bu. Lagi susah semua. Ekonomi negara lagi nggak karuan. Dampaknya ke mana-mana.” Ia melirik keluar warung, jalanan yang mulai padat. “Banyak ojol dadakan sebab PHK. Order ojol jadi makin sedikit.”
Hartati mendengus pelan. “Iya, berasa. Yang ngopi aja sekarang mikir dua kali.” ia menunjuk bangku kosong di ujung. “Biasanya jam segini penuh.”
“Makanya saya nyari sampingan,” lanjut Ujang. “Masuk-masuk komplek, nawarin antar-jemput mingguan atau bulanan. Biar jelas pemasukan.”
“Terus ada?” tanya Hartati sambil menyodorkan gorengan ke pelanggan lain.
“Alhamdulillah ada, Bu.” Wajah Ujang sedikit berbinar. “Pekan lalu sudah jalan. Ada bapak-bapak, masih kerja tapi udah nggak kuat bawa motor. Sama satu lagi anak SMP, jemput pulangnya aja.”
Hartati mengangguk. “Lumayan, Jang.”
“Iya, Bu. Banget.” Ujang tersenyum kecil. “Bisa buat nabung nikah. Sama bantu ibu bayar sekolah adek.”
Di meja belakang, Anggun memegang gelas tehnya dengan dua tangan, mendengarkan tanpa ikut nimbrung. Hima sesekali melirik ke arah Ujang, lalu kembali menatap jalan.
“Semoga cepet kekumpul,” kata Hartati tulus. “nggak mau ngelamar dulu, kayak Mas Reza.”
Ujang langsung tertawa pendek. “Ndak, Bu. Ngeri.”
Hartati ikut tertawa. “Lho, kenapa?”
“Nanti ditagih kapan nikah,” jawab Ujang cepat. “Habis nikah, mikir biaya kalau langsung dikasih anak.” Ia mengangkat bahu. “Wong nyukupi istri aja masih remang-remang.”
Hartati menggeleng sambil senyum. “Kamu ini…”
“Tapi targetku dua tahun lagi, Bu,” lanjut Ujang, suaranya lebih pelan. “Cukup nggak ya?”
“Bisa,” jawab Hartati mantap. “Asal prihatin.”
Ujang mengangguk. Ia menyesap kopinya, kali ini lebih santai. Radio di sudut warung berganti lagu, matahari mulai turun, bayangan bangku memanjang ke lantai. Ia tidak memedulikan tatapan Anggun dan Hima di belakangnya.
Di antara kopi, gorengan, dan obrolan seadanya, setiap orang sedang membawa arah hidupnya masing-masing.
Ujang menatap layar ponselnya lama. Warung Hartati mulai sepi. Pasangan Hima baru saja keluar. Bangku-bangku kosong, hanya sisa gelas dan sendok yang belum sempat diangkat. Lampu bohlam kuning menyala setengah terang, membuat bayangan tangan Ujang memanjang di meja.
Ada pesan masuk. [“Jangan lupa makan ya. Jangan terlalu maksa kejar orderan.”] Dari dia.
Ujang menghela napas pelan. Jemarinya menggantung di atas layar, ingin membalas, tapi pikirannya keburu melayang.
Pacarnya kerja pabrikan. Masuk pagi, pulang sore, kadang lembur. Gajinya tetap, penampilannya selalu rapi dan wangi.
Sementara aku… Ujang tersenyum tipis. Jalan, nunggu order, kadang satu jam cuma dapat satu.
Banyak yang bilang jadi laki-laki itu harus kuat. Harus siap punya ini-itu sebelum berani melangkah ke pernikahan. Ujang paham.
Ia mengetik balasan pelan. “Iya. Kamu juga jaga kesehatan.” Pesan terkirim.
Ujang kembali menatap kopinya yang sudah tinggal separuh.
'Aku pengin nikah,' batinnya. 'Tapi takut.'
Takut nanti pas nikah, duit selalu kurang. Tiap akhir bulan cuma hitung sisa. Kuatir kebahagiaan berubah jadi saling ungkit, dan paling menakutkan adalah dia kecewa tapi nggak bilang.
Ujang menelan ludah. Ia ingat obrolannya dengan Hartati barusan. Soal anak. Soal pusing setelah nikah. Ia terkekeh pelan, bukan karena lucu, tapi karena ngeri.
Punya anak… Ia membayangkan wajah kecil, suara merengek, kebutuhan yang nggak bisa ditunda. Sementara dirinya masih harus muter otak buat bayar ini-itu.
"Belum siap, bener ternyata," jujurnya bergumam.
Ponselnya bergetar lagi.
[“Aku hari ini lembur. Capek, tapi gapapa. Yang penting nanti kita bisa nabung.”]
Ujang memejamkan mata sebentar. Dadanya menghangat, sekaligus nyeri. Dia percaya padanya pikir Ujang. Padahal dirinya belum jadi apa-apa.
Ujang mengusap wajahnya lalu menatap jalan depan warung, motor-motor lewat satu-satu. Hidup orang lain kelihatan terus jalan. Sementara hidupnya seperti di persimpangan, muter pelan, nyari arah.
'Aku nggak mau kaya mendadak,' batinnya. 'Tapi cukup percaya diri buat bilang ke orang tuanya, aku bisa jaga anakmu.'
Ia mengetik lagi. “Makasih ya. Aku juga lagi usaha.”
Pesan sederhana. Tapi ada doa, supaya dua tahun ke depan bukan cuma angan-angan. Agar disehatkan badannya, dimudahkan urusannya.
Ujang meneguk sisa kopinya sampai habis. Ia berdiri, mengenakan helm. “Pelan-pelan,” gumamnya pada diri sendiri. “Yang penting berusaha.”
.
.