Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Sindiran

Siang itu, Anggun pulang dari perjalanan dinas dengan wajah yang lebih tenang. Belajar damai dengan pikirannya sendiri.

Hima menjemputnya di stasiun. Tidak banyak kata di perjalanan pulang. Mereka hanya saling diam, tahu ada hal besar di antara mereka, tapi tidak ingin membahasnya sembarangan.

Di rumah, Anggun langsung mandi. Air hangat mengalir lama membasahi tubuhnya yang lelah. Dia membiarkan uap memenuhi kamar mandi, seolah ingin melunakkan sesuatu yang belum berani ia ucapkan.

Anggun lantas duduk di lantai ruang tamu, punggungnya bersandar ke sofa. Sapu masih tergeletak di dekat kakinya. Teras sudah bersih, tapi hatinya tidak.

Ponselnya bergetar di tangan. Nama Mama muncul di layar. Anggun menghela napas sebentar sebelum mengangkatnya. “Iya, Mah.”

Suara ibunya terdengar ceria, tapi terasa berat di dada Anggun..“Kamu lagi apa?”

“Duduk doang, Mah.”

“Oalah… jangan kecapekan. Badan kamu itu sekarang harus dijaga.”

Anggun tersenyum kecil, kalimat harus dijaga itu biasanya muncuk dengan harapan lain di belakangnya.

“Kamu sehat, kan?” lanjut ibunya.

“Sehat, Mah.”

“Hima?”

“Sehat juga.”

Ada jeda. Anggun tahu, jeda itu bukan karena ibunya sedang menyusun kata.

“Gun…” suara Mama menurun sedikit, “kalian udah periksa lagi?”

Anggun memejamkan mata. Tangannya refleks memijat pelipisnya. “Udah, Mah.”

“Terus?”

Anggun menatap lantai. Garis nat keramik terlihat jelas. “Belum berhasil.”

Di seberang sana, sunyi sekejap. Lalu terdengar napas panjang. “Mama cuma pengin ngerasain gendong cucu,” kata ibunya pelan tapi cukup membuat dada Anggun mengencang.

“Iya, Mah… aku tahu.”

“Kamu jangan kebanyakan mikir,” lanjut ibunya. “Namanya perempuan, nalurinya pengin punya anak. Wajar.”

Anggun menelan ludah. “Aku nggak kebanyakan mikir, Mah. Aku cuma… bosan.”

Ibunya terdiam. “Bosan nunggu?” tanyanya pelan.

Anggun mengangguk meski tahu tak terlihat. “Iya.”

“Ya sudah,” kata ibunya akhirnya. “Mama doain. Jangan lupa, banyak berdoa sama Tuhan.”

“Iya, Mah.”

Telepon ditutup. Anggun masih duduk di tempat yang sama. Ponselnya ia letakkan di lantai, tepat di samping sapu. Matanya berkaca-kaca, karena lelah.

Tak lama kemudian, suara sandal Hima terdengar masuk ke halaman. Anggun buru-buru berdiri, menyapu sisa debu yang sebenarnya sudah bersih.

Hima masuk rumah. “Dari tadi di sini?” tanyanya.

Anggun mengangguk. “Biar nggak suntuk di dalam.”

Hima hanya menimpali singkat. Dia duduk di sana ketika Bu Rina, tetangga depan rumah, lewat sambil membawa plastik belanjaan. Dia mampir melongok ke pagar kami.

“Gun,” sapanya ramah. “Tau nggak, si Dina hamil lagi.”

Anggun mendongak. “Oh ya?”

“Iya,” Bu Rina tersenyum lebar. “Padahal anaknya masih kecil. Katanya kecolongan.”

Anggun ikut tersenyum. Senyum hambar yang sudah sering ia pakai. “Alhamdulillah.”

“Cepet banget ya,” lanjut Bu Rina tanpa sadar. “Orang yang belum siap aja bisa.”

Anggun mengangguk pelan. Namun, senyumnya langsung hilang. Hima hanya menggeleng pelan, kadang, orang lain bicara tanpa peduli perasaan.

Wajah Hima tampak kesal, tapi sorot matanya iba saat menatap istrinya. Mereka makan malam tanpa banyak bicara.

“Hari ini gimana?” tanya Anggun akhirnya.

Hima menghela napas. “Tadi ada yang nanya pas aku di bengkel, tambah angin tadi.”

“Nanya apa?”

“Anak.”

Anggun terdiam. Sendoknya berhenti di udara.

“Katanya,” lanjut Hima pelan, “laki-laki itu harus ninggalin keturunan.”

Anggun menunduk. “Terus Mas jawab apa?”

Hima tersenyum tipis. “Aku bilang… doain aja.”

Mereka saling diam. Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan, tapi karena terlalu banyak yang dirasa.

Anggun meraih tangan Hima di atas meja. Menggenggamnya erat. “Aku tau kita mulai bosan ya, Mas,” katanya lirih.

“Iya,” jawab Hima. “Tapi rasanya pengen lari aja, malas dengan semuanya.” 

Anggun mengangguk. Dia paham bagaimana rasanya. 

Di luar rumah, orang-orang terus bertanya, membandingkan dan menunggu kabar baik dari mereka

Dan di dalam rumah kecil itu, mereka hanya ingin hidup tanpa harus menjelaskan semuanya ke siapa pun.

Hima terbangun malam itu. Jam di dinding menunjukkan pukul dua. Rumah terasa lengang tapi kepalanya tidak.

Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk, tangan menutup wajah. Rasanya lelah bukan cuma di badan, tapi di dada dan otaknya. Sejak kapan jadi laki-laki itu rasanya begini berat?

Ia ingat obrolan siang tadi di bengkel.

“Mas Hima belum punya anak ya?”

“Iya.”

“Wah… sayang banget. Kan udah lama nikah.”

Kalimatnya memang diucapkan dengan enteng. Nadanya bercanda. Tapi di bahu Hima, rasanya seperti memikul karung pasir. 

Ia menoleh ke arah Anggun. Istrinya tidur miring membelakangi, selimut setengah terlepas. Anggun tidur nyenyak. Hima merapatkan selimut, lalu memperhatikan wajah itu lebih dekat.

Bibirnya bergerak sedikit, seolah sedang bicara dengan seseorang di dalam mimpi.

“Mas…” gumam Anggun lirih.

Hima menahan napas.

“Tangan kecil… halus…” kata Anggun terbata, pelan sekali.

Hima mengernyit. Tangannya refleks menyentuh lengan Anggun.

“Aku ... Ibu…” lanjut Anggun, suaranya bergetar. “Ini, ibu…”

Hima merasa dadanya diremas. Ia tahu itu cuma mimpi, tapi tubuh Anggun menggeliat, keningnya berkeringat.

“Dek,” bisik Hima pelan sambil menepuk bahu istrinya. “Aku di sini.”

Anggun membuka mata. Matanya basah. Nafasnya tersengal sebentar sebelum kembali normal.

“Kamu mimpi,” kata Hima lembut.

Anggun menatap langit-langit. “Aku mimpi gendong anak,” katanya lirih. “Dia mungil sekali.” 

Hima terdiam. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan.

“Aneh ya,” lanjut Anggun, masih menatap kosong. “Di mimpi itu… aku nggak mikir lahir dari siapa.”

Hima menoleh. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Yang penting aku yang gendong,” kata Anggun pelan. “Yang penting aku yang jaga.”

Sunyi.

Hima tidak langsung menanggapi. Ia menarik Anggun ke dadanya. Memeluk erat. Setelah napas Anggun kembali teratur dan matanya terpejam lagi, Hima masih tetap terjaga. Pikirannya semakin berisik.

Tentang dirinya yang laki-laki, tubuhnya yang katanya “kurang berkualitas”. Soal Anggun yang ingin jadi ibu—dengan cara apa pun.

“Kalau nanti kamu minta adopsi,” gumam Hima dalam hati, “aku harus siap.”

Ia menatap plafon.

Adopsi bukan sesuatu hal sepele. Ada rundingan antar keluarga. Ada orang tua yang pasti bertanya. Ada stigma yang makin menghakimi.

Dan yang paling berat : apakah ia siap membesarkan anak yang bukan darahnya… tanpa merasa ego?

Hima menoleh ke arah Anggun lagi. Istrinya tidur lebih tenang sekarang. Wajahnya damai. Seolah mimpi barusan sudah memberinya kelegaan.

Hima menghela napas panjang. “Mungkin,” pikirnya, “jadi ayah itu bukan soal gen.” Ia menyentuh jemari Anggun pelan.

“Kalau itu jalanmu, Dek,” bisiknya tanpa suara, “aku akan belajar menyesuaikan diri.”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!