Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Namanya juga usaha
Pagi datang seperti biasanya, membawa sinar semangat meski tak semua mahluk bumi memilikinya hari ini.
Matahari tetap terbit dari arah yang sama. Angin masih menyapu halaman rumah, membuat daun kering yang jatuh, menepi ke teras.
Anggun bangun lebih dulu. Ia menyiapkan air panas, menyeduh teh, lalu duduk di meja makan sambil menatap dinding kosong.
Hima bangun beberapa menit kemudian. Ia melihat Anggun dari ambang pintu dapur. Istrinya itu terlihat tenang.
“Pagi,” sapa Hima pelan.
“Pagi,” jawab Anggun sambil tersenyum tipis.
Mereka duduk berhadapan. Tidak ada pembicaraan soal hasil.
Keheningan menggantung di antara mereka, sebab sama-sama belum tahu harus dihadapi dengan cara apa. Hima ingin bicara. Banyak. Tapi semua kalimat bakal terasa salah.
Anggun lebih dulu berdiri. “Aku mau siap-siap berangkat,” katanya ringan.
Hima mengangguk. “Aku duluan.”
Mereka saling menatap sebentar. Tidak ada pelukan atau kecupan di dahi seperti biasa sebab masing-masing sedang menyimpan sesuatu yang menyesakkan.
Di motor, Hima menyalakan mesin, tangannya menggenggam setang lebih lama dari biasanya. Ia menatap jalan di depan rumah, lalu menunduk. Bukan sedih yang ia rasakan hanya perasaan kecewa pernah terlalu berharap.
Ia tidak tahu harus bersyukur demi terlihat kuat. Menunggu ternyata tidak selalu berakhir dengan jawaban. Kadang hanya melahirkan kehampaan.
Di rumah, Anggun duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia tahu, jika membuka aplikasi itu, ia akan kembali melihat baju-baju bayi yang kemarin sempat ia simpan.
Anggun menarik napas panjang. “Aku baik-baik saja,” gumamnya, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.
Siang itu, mereka menjalani hari masing-masing seperti biasa.
Mereka makan malam berhadapan. Hima memperhatikan Anggun yang tampak lebih santai.
“Kamu kemana aja hari ini?” tanya Hima akhirnya.
“Di kantor aja,” jawab Anggun cepat. “Sumpek."
Hima menaruh sendoknya. “Dek,” katanya hati-hati. “Kalau kamu mau nangis, boleh.”
Anggun terdiam. Ia menunduk, lalu tersenyum kecil. “Aku nggak sedih, Mas. Cuma….”
Hima mengangguk. Ia paham dan memilih tak membahasnya lagi.
Malam itu, mereka tidur berdampingan. Hima menatap langit-langit. Anggun lebih dulu terlelap.
Hari setelah menunggu keputusan ternyata lebih berat dari saat mengambil langkah itu.
Beberapa hari berlalu.
Tidak ada pembicaraan lanjutan tentang klinik, jadwal dokter, atau rencana berikutnya. Hima dan Anggun seperti bersepakat diam-diam untuk memberi ruang pada sesuatu yang belum sempat selesai.
Suatu sore, Anggun pulang lebih cepat dari biasanya. Hima juga baru menyentuh teras saat motor Anggun masuk halaman. Mereka duduk di ruang tamu.
Anggun menatap tangannya sendiri. “Mas,” katanya pelan, “kalau nanti… kita nggak dikasih anak…”
Kalimat itu menggantung. Hima tidak langsung menjawab.
“Kamu takut aku ninggalin kamu?” tanya Hima akhirnya.
Anggun menggeleng cepat. “Bukan itu. Aku takut… kamu kecewa.”
Hima mendekat. Duduk lebih dekat dari sebelumnya. “Dek,” katanya lirih, “aku menikah sama kamu bukan karena kemungkinan punya anak.”
Anggun menunduk. “Tapi aku tahu, kamu juga pengin.”
“Iya,” jawab Hima jujur. “Aku pengin. Tapi yang aku pilih kan kamunya.”
Air mata Anggun akhirnya jatuh, membasahi pipinya. “Aku capek jadi perempuan yang harus kuat,” katanya terputus. “Capek dibilang sabar, ikhlas, nanti juga… Capek berharap sendirian.”
Hima menarik Anggun ke pelukannya. Tidak berkata apa-apa. Ia membiarkan tangis itu selesai dengan sendirinya.
Malam itu, Hima dan Anggun duduk berdampingan di teras. Tidak membicarakan masa depan, hanya mendengarkan suara jangkrik dan kendaraan lewat.
Anggun menyandarkan kepalanya di bahu Hima. “Mas,” katanya lirih, “kalau nanti aku pengin coba lagi…”
Hima menoleh. “Kita rencakan pelan-pelan,” jawabnya. “Nggak hari ini juga nggak apa.”
Anggun tersenyum. Tapi di dalam dadanya tetep tumbuh keinginan yang kian kuat.
Keesokan pagi.
Perjalanan dinas itu datang tanpa rencana. Ia menggantikan temannya yang mendadak mengundurkan diri karena istrinya sakit. Anggun mengangguk tanpa banyak pikir. Bandung terdengar cukup jauh untuk menenangkan diri.
Kereta melaju pagi-pagi. Anggun duduk di dekat jendela. Pemandangan berganti, tapi pikirannya tertinggal di lembar hasil tes yang gagal.
Ia tidak menangis. Bukan karena kuat, atau ingin lari tapi karena kalau ia tetap tinggal, air matanya akan jatuh di tempat yang sama setiap hari. Dan ia belum siap dilihat rapuh, bahkan oleh dirinya sendiri.
Di Bandung, matahari terasa malu-malu munchl. Anggun berjalan kaki dari kantor menuju penginapan, sengaja menolak ojek. Ia ingin capek fisik, supaya kepalanya berhenti berisik.
Di sebuah lampu merah, ia berhenti, melihat seorang perempuan muda menggendong bayi. Bajunya lusuh. Keringat mengalir di pelipisnya. Bayi itu terlelap, kepalanya terkulai di bahu ibunya. Panas, bising, penuh asap, tapi pelukan itu seolah tempat paling aman.
Anggun menelan ludah. Beberapa langkah dari sana, matanya tertumbuk pada sebuah papan kecil di tembok tua:
PANTI ASUHAN HARAPAN BUNDA
Menerima donasi & relawan. Anggun berhenti. Entah kenapa, dadanya terasa sesak.
"Apa aku adopsi aja ya?" Pikiran itu datang begitu saja.
"Kalau dari pihakku… keponakan lelaki, biar jadi mahram buatku dan Mas. Atau… anak perempuan dari pihak Mas?"
Ia terkejut sendiri dengan arah pikirannya. Harapan punya anaka tidak lagi harus bayi dari dalam kandungannya.
Di penginapan, Anggun lebih banyak diam. Ia duduk menatap layar, tapi pikirannya melayang. Seorang rekan kerja dari kota lain yang sekamar, perempuan seusianya, mendekat sambil membawa map.
“Kamu bengong dari tadi,” katanya. “Capek?”
Anggun tersenyum tipis. “Iya. Agak.”
Rekan itu tidak langsung pergi. Ia duduk di kursi sebelah. “Asal jangan pikiran.”
Anggun terdiam sebentar. Lalu berkata pelan, seolah sedang mengaku. “Hasil tesku gagal.”
Rekannya menoleh. “Tes apa?”
Anggun menarik napas. “Anak. Bayi tabung.”
Rekan itu justru tersenyum pahit. “Oh.”
“Oh?” Anggun mengulang. Heran dengan ekspresi kawannya.
“Iya,” katanya pelan. “Aku juga.”
Anggun menoleh penuh. “Kamu…?”
“Tiga kali,” jawabnya. “Gagal semua.”
Ruangan terasa kian sesak. “Aku sempat marah sama Tuhan,” lanjutnya jujur. “Sempet iri sama siapa aja yang hamil. Bahkan sama orang yang kelihatannya nggak siap punya anak tapi malah diberi.”
Anggun mengangguk. Ia paham betul. “Sekarang?” tanya Anggun lirih.
Rekan itu mengangkat bahu. “Sekarang pasrah. Bukan karena nggak pengin. Tapi karena capek berharap sambil nyalahin diri sendiri.”
Kalimat itu menancap di hatinya. Anggun menunduk. Tangannya mengepal pelan di pangkuan. “Bosan nunggu, ya,” gumamnya.
“Iya,” jawab rekannya. “Nunggu itu capek, cukup tau aja.”
Sore itu, Anggun pulang lebih lambat. Ia kembali melewati jalan yang sama. Tapi papan panti asuhan masih di sana.
Ia belum membuat keputusan apa pun, apalagi membicarakannya dengan Hima. Mungkin jalannya tidak seperti yang ia bayangkan. Dan doanya dijawab dengan bentuk lain.
Di kamar hotel, Anggun menulis pesan singkat untuk Hima, lalu menghapusnya. Menulis lag. "Mas, aku lagi belajar nerima. Doain aku, ya."
Ponselnya bergetar tak lama kemudian. "Iya, Dek. Aku di sini."
.
.