Warna Pelangi Cinta
Fokus Skripsi
Pagi itu, sekali lagi Allah melihat keyakinan Faza meluap seperti tahun awal kuliahnya. Semangatnya membara kembali..., setidaknya harapannya masih ingin mendapatkan nilai comlaude harus tercapai dan IPK-nya haruslah baik. Faza tersenyum. Selama ini IPK-nya hingga semester tujuh di kurangi enam yang tidak diambil masih mendapatkan 3,55.
Faza memasuki gerbang Universitas Muhammadiyah masih terlalu pagi, sepi dan masih senyap hanya ada bebarapa Mahasiswa duduk di depan ruangan FKIP Matematika. Dua Mahasiswi berjilbab terlihat sedang asyik berbincang, satu orang mahasiswa terlihat di bawah pohon sedang memarkir motornya. Faza naik ke atas tingkat kedua, di Fakultas Ekonomi. Didatanginya beberapa papan pengumuman di depan FE, siapa tahu ada pengumuman yang baru.
Di papan pengumuman yang kedua terpampang beberapa nama Mahasiswa yang akan seminar minggu depan, tepatnya hari sabtunya. Seminggu lagi. Terpampang ada empat nama mahasiswa, Tomi, Hendra, Jaka, dan Samsul. Ke-empat itu adalah gelombang terakhir dari angkatan kuliah Faza. Faza bertekad bahwa dia harus mengejar ketertinggalannya, waktunya hanya seminggu dari sekarang dan dia belum mangajukan judul. Bisakah? Faza menyerahkan segalanya pada Allah Azza wa Jalla yang menentukan segalanya, tugasnya hanyalah berusaha sekuat tenaga.
Di dudukkannya tubuhnya di kursi panjang di depan ruang Ketua Jurusan yang terdiri dari tiga ruangan, ruangan yang besar adalah ruang tunggu dan dua ruang selanjutnya adalah ruang Kajur Manajemen Perusahaan dan Kajur Akuntansi. Mata Faza menerawang masuk ke dalam jendela kaca ruangan di depannya. Pandangannya kabur, airmatanya mengalir pelan.
Diingatannya nampak jelas pertama kali dia masuk ke ruangan itu untuk interview setelah lulus test tertulis untuk masuk Universitas Muhammadiyah, rasanya saat itu adalah saat yang bersejarah dalam hidupnya. Seorang yang tak punya, yang untuk makan saja harus membanting tulang belulangnya, yang kadang jika hanya punya satu roti untuk sehari, yang kadang hanya minum dalam sehari tanpa ada makanan yang masuk ke perutnya. Bisa masuk Universitas Muhammadiyah yang terkenal bergengsi di Kota Metro.
Sejak itu, sejak menginjakkan kakinya di UM Metro. Kekuatan daya tempurnya meledak-ledak. Semangatnya untuk mengalahkan teman-temannya membara. Tekadnya yang kuat tak ingin kalah dengan Mahasiswa yang lain, yang mereka hanya tinggal belajar dan meminta uang kepada orangtuanya. Faza tak membiarkan sedikitpun waktunya terbuang sia-sia, dipenuhinya dengan belajar, menganalisa, melahap habis isi perpustakaan. Ilmu apa saja di embatnya, organisasi diikutinya hanya satu yaitu Ghuroba setelah diajak oleh kak Andre, ketua Ghuroba.
Namanya tak terkenal di Mahasiswa UM Metro yang lain. Faza sibuk dengan kuliahnya, dia sibuk dengan pekerjaannya yang tak tetap, dia sibuk dengan belajar agamanya yang baru menyadari akan pentingnya belajar agama, dia baru saja belajar membaca Al-Quran dengan Ustadz Ramadhan di masjid kampus di Babussalam belajar tahsin. Ghuroba mengajarinya belajar berbicara di depan orang, di depan para pelajar dan masyarakat. Mendakwahkan indahnya islam, dia belajar menjadi seorang trainer, itu mempermudahnya jika presentasi makalah maupun tugas-tugas ilmiah.
Saat pembagian KHS semester satu, pertama kali itulah dirasakan kebahagiaannya, matanya berkaca saat mengambil KHS di ruang kantor Fakultas Ekonomi karena indeks prestasinya terbesar mencapai nilai 4,00. Dalam hatinya terdalam Faza akan berusaha mempertahankan nilainya, untuk terus menjadi yang terbaik dalam hal akademik.
Tapi..., setiap kondisi manusia selalu membuat manusia menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Pekerjaannya yang bergonta-ganti, tak tetap, tak bisa dijadikan patokan untuk membiayai keperluannya dan keperluan adiknya. Sudah puluhan kali mungkin Faza berganti profesi, mulai dari menjadi buruh bangunan ketika ada proyek, menjualkan kue dari warung ke warung, menjadi perantara penjualan Hp, menjadi tenaga cat rumah atau bersih-bersih kebun bagi orang yang tak punya waktu membersihkan rumahnya, menjual somay keliling, bekerja menjadi pelayan di toko kelontongan, menjadi cuci piring di Rumah Makan, menjual jagung bakar di pinggiran taman kota, menjual gorengan. Rasanya hidupnya telah kenyang untuk menjadi enterpreneur tak tetap.
Kuliahnya semakin terbengkalai, harapannya yang dicanangkan dalam hatinya tak tercapai. Tapi..., Faza bersyukur karena walau tak bisa menjadi yang terbaik di Fakultas Ekonomi setidaknya dia masih masuk lima besar. Hidup telah mengajarinya satu hal, Allah melihat prestasi hambaNya adalah sebatas mana manfaatnya untuk orang lain. Walau Faza hanya seorang yang tak diperhitungkan, tapi dia ingin mengajak para pelajar dan masyarakat yang dibimbingnya untuk dapat merasakan apa yang dirasakannya. Bahwa Allah itu sayang kepada manusia, sangat sayang, lihatlah walau kita berbuat maksiat tapi Allah masih memberi kita kenikmatan demi kenikmatan tak ternilai dengan dunia dan seisinya. Lihatlah dua mata kita, kita tentu tak mau menjualnya walau dibeli dengan dunia dan seisinya, tidak mau bukan?
Faza menginginkan tahun ini harus lulus, apapun resikonya. Dia harus wisuda bareng teman-temannya. Dan saat itu juga, Allah terasa sangat dekat dengannya. Pak Harto yang ditunggunya datang pertama kali. Ketua Jurusan itu tersenyum kearah Faza dan masuk ke ruangan, mengambil kunci dari kantong celananya dan membuka ruangan Kajur Manajemen Perusahaan. Faza segera bergegas, dia harus mengajukan judul dan menyusun KRS semester enam yang belum diambilnya.
”Judul mana yang kamu inginkan Faz?” pak Harto menelisik satu demi satu judul yang diserahkan Faza. Dia memang datang duluan karena ada tugas penting yang akan diserahkan pada Dekan FE, biasanya dia datang pukul sembilan dan entah kenapa hari ini dia harus berangkat pukul tujuh. Faza semakin sadar, Allah telah mengatur segalanya.
”Insyaallah, saya mantap ketiga judul yang paling atas Pak. Saya telah mempelajari teori-teorinya dan pembahasan yang akan digunakan atau alat analisa yang akan digunakan. Untuk judul yang keempat, terus terang saya sedikit lemah dari yang lain karena itu adalah tentang perilaku konsumen yang sering berubah-ubah dan akan selalu berubah setiap zamannya dan mungkin setiap tahun,” Faza jujur menggambarkan keadaan dirinya.
Dosen itu menatapnya sejenak. Mengamati secara seksama, ”Kamu ketua ghuroba?”
Faza menatap sejenak Dosen di hadapannya, ”Benar Pak, ada masalah?”
Suharto tersenyum, ”Tidak apa-apa. Kamu kenal Ricki murid SMA 3?”
”Sangat kenal Pak, kenapa dengan dia Pak?”
”Dia adalah anakku, aku berterima kasih padamu. Dia kini telah berhenti merokok, kau tahu dia banyak membicarakan tentangmu. Aku bangga padamu anakku, aku tahu kau berprestasi namun keadaanmu yang tidak menguntungkan membuatmu harus paling terakhir yang mengajukan judul. Insyaallah aku akan membantumu sebisaku, aku akan usahakan kau seminar di gelombang terakhir Fakultas Ekonomi agar engkau bisa wisuda tahun ini,” Harto menatapnya tenang.
Tak ada yang membuat hatinya bergetar pada detik itu. Faza merasakan apa yang dilakukannya selama ini tidak ada yang sia-sia. Allah selalu menunjukinya jalan yang indah. Hatinya tak kuat merasakan karunia-karunia yang selalu datang di saat-saat dia membutuhkannya, tak kuasa airmatanya mengalir.
”Terima kasih Pak, aku tak akan mengecewakan Bapak. Saya akan belajar sungguh-sungguh untuk mengejar ketertinggalanku. Lalu..., judul apa yang sebaiknya aku ambil Pak?”
”Kau boleh memilih yang kau anggap bisa menambah pengetahuanmu, tapi jika aku boleh memberi saran ambillah judul yang keempat. Bukankah kau sering berinteraksi dengan pelajar dan masyarakat, itu akan menjadi bekalmu dalam bermasyarakat nantinya.”
”Baik Pak, Insyaallah aku akan berupaya keras untuk mempelajarinya. Walau perilaku masyarakat berubah-ubah tapi disana ada ilmu untuk meramalkan kearah mana masyarakat menginginkan sesuatu termasuk pelayanan dan produk.”
Pak Harto mengangguk yakin akan kemampuan Faza, dia menandatangani judul keempat yang dianggap Faza masih lemah pengetahuannya dari judul yang lain. Tapi, Faza keluar dari ruangan dengan senyuman penuh kemenangan. Di luar dia bertemu dengan Tomi yang sedang sibuk mengurusi bimbingan proposal untuk seminar hari sabtu depan.
”Hoi! Rajin kuliah kau sekarang Faz. Gimana skripsimu? Apa kamu mau wisuda tahun depan?”
”Aku akan berusaha wisuda tahun ini bareng kamu Tom, mohon doanya.”
”Ok, Fren!” tubuhnya yang sedikit gemuk berlalu ke ruangan Pak Eri, salah satu pembimbingnya. Faza meneruskan langkahnya ke ruangan pak Suryadi yang merupakan Pembimbing Akademiknya, hari ini semuanya harus beres. Pak Suryadi ada dan menandatangani KRS-nya, langsung dimasukkannya ke ruang BAK, beres. Semuanya dimudahkan Allah. Faza tersenyum. Kuliah hari ini semester enam jam sepuluh, masih satu jam lagi. Faza pergi ke warnet di SMK 3 metro. Letaknya di belakang STAIN, disana lebih murah daripada yang lain.
Faza segera masuk ke dunia cyber, membuka emailnya. Memasukkan flasdisk dan mengirimkan atachment naskah novelnya ke penerbit nasional di Yogyakarta. File terkirim, Faza kembali ke kampus. Langkahnya hari ini seolah penuh dengan nyanyian kemenangan. Dia masuk kuliah di semester enam, mata kuliah Anggaran Perusahaan oleh Afdal Mazni SE.M.M, Faza khusyuk bersama Mahasiswa adik tingkatnya. Dia ingin di semester enam ini nilainya membantu dalam ketertinggalannya selama ini.
Hari ini, semanggat seorang Mahasiswa yang menginginkan yang terbaik kembali berkobar. Itulah cita-cita, sebuah harapan yang harus dimiliki oleh setiap pencari ilmu, mempersembahkan yang terbaik untuk Allah, untuk agamanya dan untuk negaranya.
Sepulang kuliah waktu mendekati waktu dhuhur, Faza segera ke masjid Babussalam. Masih ada waktu. Faza menelentangkan tubuhnya di bawah kipas angin masjid. Kesejukan segera menjalar ke seluruh pori-porinya. Sungguh..., Masjid memiliki aura untuk para perindu Allah. Allah sebagai pemilik rumah menjamu para hambaNya dengan baik. Faza terlelap sejenak, beberapa menit kemudian adzan menggema, jiwanya segera bangkit menyambut seruan.
Ba’da dzuhur Faza menyerahkan file ke Dewan Kesenian Metro, lalu ke kantor kesekretariatan FLP dan ke sekretariat Mozaik Entertainment. Semuanya diberi untuk memberikan endorsment secepatnya. Mereka menyambutnya dengan bangga dan antusias. Faza semakin mantap menatap masa depannya di dunia tulis-menulis, karena baginya dunia tulis-menulis adalah bagian dari dakwah.