Warna Pelangi Cinta

Faza Kembali Semangat

Faza pulang lebih telat setengah jam. Dia tiba di Baitul’ilmi pukul 23.00, gerobok dan alat-alat dagang telah diberesi. di Masjid Mujahidin setelah kajian dia tidak langsung pulang, tetapi berdiskusi sejenak dengan Ustadz Khalil yang mengisi kajian. Kebetulan, Ustadz Khalil menginap di Masjid Mujahidin. Faza yang datangnya sedikit terlambat mengikuti kajian, materinya juga sedikit tertinggal. Materi yang disampaikan ustadz Khalil tentang keutamaan shalat berjamaah subuh di Masjid.

Faza belajar banyak dari diskusinya tadi. Bahwa, rezeki seseorang itu juga punya hubungan erat dengan keimanan, ’Maka bertakwalah kepada Allah, dan perbaguslah cara mencari rezeki. Jika rezeki salah seorang dari kalian lambat,  maka janganlah dia mengejarnya dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah, karena anugrah Allah tidak dicapai dengan maksiat,’ (HR. Al-Hakim, shohih menurut syarat Bukhari dan Muslim) banyak manusia yang kecewa karana usahanya tak berhasil lalu melakukan kemaksiatan. Dengan melakukan sesuatu yang menurutnya menghibur diri dari kepenatan dan kekecewaan. Padahal itu adalah kemaksiatan kepada Allah Azza wa Jalla.

Kebiasaan buruk juga dapat menolak anugerah dan karunia Allah, semisal banyak begadang yang tidak berguna, tidur lagi setelah shalat subuh, menunda-nunda shalat, perbuatan itu termasuk dibenci Allah. Orang yang tepat waktu dalam shalatnya pertanda bahwa manusia itu mencintai Allah, karena senang jika langsung bersua karena rindunya pada Allah. Jika saja manusia malas untuk shalat maka Allah juga akan malas menatap dan menolongnya di akhiratNya kelak. Astaghfirullah.

Siapa yang tidak akan tenang jika mendapatkan jaminan dari Allah? Bukankah jaminan dari Allah adalah segala-galanya?

’Barangsiapa melaksanakan shalat subuh, maka dia berada dalam jaminan Allah, maka jangan sampai Allah menarik kembali jaminanNya kepada kalian dengan sebab apapun, karena siapa yang Allah cabut jaminanNya darinya dengan sebab apapun pasti akan tercabut, kemudian Allah akan telungkupkan wajahnya dalam neraka jahanam.’  (HR Muslim).

Faza mengambil air wudhu dan shalat dua rekaat. Shafwan masih belum tidur, dia masih menekuri buku, ’Tolak Aliran Sesat,’ anak itu? Semoga Allah selalu memberinya cahaya penerang yang dapat mencerahkan umat ini. Amin. Faza berdoa dalam hati. Shafwan tadi yang membukakan pintu untuknya. Lutfi juga masih membuka-buka skripsinya di kamar, sedangkan Rashid dan Hafidz sepertinya menginap di kesekretariatan Al-Ishlah.

Faza sedari siang sama sekali belum tidur. Didatanginya Shafwan, ”Tidur dulu, sudah malam. Besok diteruskan lagi. Jaga kesehatan dan  stamina untuk kuliah besok,” Faza tersenyum sambil mengambil sarungnya.

”Oke,” Shafwan menutup bukunya dan masuk ke kamar mandi. Terdengar suara gemericik, kelihatannya wudhu.

Langkahnya menuju kamar Zilul, dia telah terlelap di atas kasur dan buku skripsi berada di sebelahnya. Pasti dia ketiduran lagi ketika balajar. Faza masuk dan menutup tubuh Zilul dengan sarung yang biasa digunakan Zilul untuk selimut.

Pukul 11.35, Faza tidur di ruang tengah saja, lebih nyaman. Lebih mudah untuk bangun. Digelarnya tikar gulungan dan mengambil bantal. Dihidupkannya alarm hp dan jam beker, berjarak lima menit. Dihidupkannya pukul 01.00, dia harus menyiapkan untuk pengajuan judul besok. Dia sudah menemukan dua judul, tinggal dua judul lagi. Setiap judul harus dipresentasikan di hadapan Ketua Jurusan.

Doanya mengalun pelan, doanya tulus bergetar dari bibir dan hatinya. Matanya yang sangat lelah memejam, dan Malaikat menyelimutinya dalam perlindungan Allah.

          

Pukul 12.30 Hp-nya berdering. Faza memaksakan diri membuka matanya. Alhamdulillah. Cepat sekali rasanya. Saat hendak mematikan alarm Hp-nya, bukan bunyi alarm ternyata. Sebuah sms, Allah, kenapa ada orang iseng seperti ini. Apa dia tidak punya kerjaan? Mengganggu istirahat orang.

Faza membuka Hp-nya, dari nomor baru itu lagi?

”Asw. Ayo katanya mo cerita, janji harus dipenuhi.Salwa .”

Masyaallah! Apa benar-benar tidak ada kerjaan anak ini? Faza masih liyer-liyer, ngantuknya masih belum sembuh benar. Sadar atau setengah sadar Faza mengetik sms di Hp-nya.

”Wa’alaikumsalam wr.jika kau ingin tahu tentang diriku carilah seorang wanita bernama Azizah Sabaah An-Nasyath, dia kuliah di STAIN semester dua prodi Ekonomi Syariah. Dan aku akan menitipkan uang pulsa yang anda kirim pada Azizah. Jangan ganggu lagi, ingatlah Allah.” Faza tak kuat menahan kantuknya. Dia tidur kembali, dan terbangun tepat pukul satu ketika dua alarmnya berbunyi bergiliran.

Faza menuju kamar mandi, berwudhu. Dia kembali shalat, menyerahkan segala persoalan yang dihadapinya. Tangisnya memburai di malam sepi itu, setelah shalat dia membuka-buka buku ekonomi dan menentukan dua judul skripsi yang hendak diajukan kepada Pak Harto besok. Setelah menemukan judul, dia langsung mempelajari semua komponen-komponen yang akan digunakan pada setiap judul skripsi namun dikuatkan pada satu judul yang dia anggap akan menjadi judul sesungguhnya yang akan diteliti.

Malam itu keasyikannya belajar seperti awal kuliahnya tiba-tiba muncul kembali. Mata yang lelah, tak kuasa menahan semangatnya yang membara. Matanya berbinar-binar bercahaya kala memandang setiap huruf demi huruf yang terangkai bagai bunga-bunga yang berwarna-warni. Indah hingga matanya tak mau beralih sama sekali. Begitu matanya sedikit lelah, dia langsung berdiri sejenak. Mengambil gelas dan minum segelas air hingga tenggorokannya terasa nyaman dan segar. Olahraga sejenak, meregangkan sendi-sendinya. Setelah segar segera diraihnya bukunya kembali. Allah, kulakukan semua ini hanya untukMu. 

Waktu seolah tenang berlalu, mengiringil cita-cita dan harapan Faza. Setiap senyumnya adalah cinta, cinta pada Rabbnya yang tertuang dalam akan ilmu. Bukankah jika kita meniatkan sesuatu karena Allah, apalagi ilmu maka setiap rangkaiannya adalah jihad? Insyaallah, setiap huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, lembar demi lembar adalah pahala yang akan terus mengalir dan ditulis dengan seadil-adilnya.

Matanya mulai mengantuk kembali, dia membuka pintu kontrakan. Keluar sejenak menghirup udara pagi yang masih gelap. Masih pukul 03.00, dia menjejak-jejakkan kakinya ke depan bergiliran, melakukan gerakan relaksasi untuk persendian tangan dan kepalanya. Matanya sudah mulai kuat lagi. Faza masuk kembali ke kontrakan, perasaan yang dirasanya sungguh indah seperti pertama kali kuliah dulu yang penuh semangat dengan mengurangi tidur dan makannya agar belajarnya semakin optimal.

Sampai di dalam, Faza kembali membuka-buka coret-coretannya. Sudah dibuatnya enam judul skripsi yang akan diajukan, itupun setelah melalui proses editing berulang kali. Kali ini, editing terakhir. Faza harus menyingkirkan dua judul yang dianggapnya paling lemah dalam bidang itu. Dia membuat pertanyaan sendiri tentang judul-judul skripsinya, lalu dijawab sendiri. Mana jawaban yang mantap, di antaranya ada tiga judul yang pengetahuannya masih kurang. Maka, di antara tiga judul yang masih lemah dia coba lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mudah dan dijawabnya sendiri dengan penjelasannya sedetail mungkin. Dia harus bersifat obyektif walaupun pembuat pertanyaan dan penjawabnya adalah dirinya sendiri.

Alhamdulillah, terpilih satu akhirnya di antara tiga judul yang masih dianggapnya lemah, walau lemah sebenarnya Faza hanya sedikit ragu karena sesungguhnya dunia praktek selama hidupnya adalah bergelut dalam dunia bisnis dan pekerjaan apa saja. Faza hanya sedikit ragu saja, itu lebih tepatnya dan bukan lemah dalam pelajaran itu. Judul dari ketika yang dianggapnya ragu adalah, ”Analisis perilaku masyarakat terhadap pelayanan publik di Kantor Camat Metro Timur.” konsepnya adalah melihat sebatas mana pelayanan masyarakat terhadap akibat yang timbul dan perbuatan masyarakat dalam menanggapi pelayanan tersebut. Apakah berpengaruh positif penuh, positif saja atau mungkin negatif? Menarik jika meneliti sebuah hal yang berhubungan tentang keputusan konsumen sebagai pemakai. Karena, tanpa konsumen maka produsen tak akan memproduksi produk dan tidak ada kreatifitas di dunia ini.

Setelah yakin Faza mengetuk pintu Zilul, kebetulan Zilul sudah bangun untuk shalat malam. Faza meminta izin untuk memakai komputer, Zilul mempersilakan dan pergi ke kamar mandi. Komputer on, Faza memasukkan flasdisknya dan membuka data novelnya. Matanya benar-benar bersinar meneliti tulisan demi tulisan. Faza membenahi kata-kata yang masih kurang pas atau kesalahan pengetikan. Novelnya ada 342 halaman A4. matanya terus menelusuri kata demi kata, lebih cepat karena sudah pernah dieditnya. ini editing terakhir karena besok rencananya akan dikirim teman-temannya dan langsung penerbit di yogyakarta.

Sambil membaca novelnya, Faza meyakinkan dirinya bahwa novelnya akan langsung diterima penerbit. Novelnya bercerita tentang kisah pribadinya, kisahnya dengan adiknya yang serba kekurangan dalam mengarungi samudera kehidupan dan samudera ilmu. Beberapa kali Faza membacanya, airmatanya selalu keluar berjejalan. Siapapun yang membaca novelku bisa dipastikan akan menangis jika dia mengetahui kisahku sesungguhnya dengan segala penderitaan dan kepedihan dalam menetapi cinta padaNya, menetapi ilmu dengan segala kesempitan harta. Lebih baik belajar daripada makan, lebih baik perut melilit daripada tidak bisa belajar ilmu.

Jika Faza sudah menekuri dunia tulis-menulisnya, matanya sudah tak bisa mengeluh lagi. Itulah sebuah hobi. Jika hati menyenangi sesuatu, maka semua bagian akan tunduk dan mematuhi hati yang teramat cinta. Itulah kekhusyukan.

Alhamdulillah. Tepat pukul 04.20, seluruh proses editing selesai, pikiran Faza mengembara sejenak. Selain akan dikirimkan ke Penerbit, dia akan mengirimkan filenya ke teman-teman di FLP, Mozaik Entertainment, dan DKM Kota Metro. Dia memikirkan endorsment apa saja yang akan diperolehnya. 

Pikirannya melayang membayangkannya.

Ketua DKM Metro memberinya komentar, ’Karya yang memadukan antara keindahan hidup dan keimanan, tokoh yang nyata, setting tempat yang amat jelas tergambar dan motivasi untuk berjuang yang meledak-ledak.’ Ketua FLP berkomentar cukup pendek, ’Sebuah kisah yang fantastik, menghanyutkan setiap pembaca dalam dunia kepedihan dan cinta.’ Ketua Mozaik Entertainment pun tak kalah provokasi, ’Nilai seni yang tergambar dalam novel membuatku menyelesaikannya membacanya dalam waktu dua jam saja. Mataku tak kuasa membendung lautan airmata. Kisah yang mempertahankan keteguhan jiwa di atas segalanya walau ternyata takdir belum berpihak padanya. Penulis sanggup membawa pembaca dalam dunia kesadaran, good luck.’

Faza tersenyum membayangkannya.

Aku berlindung padamu ya Allah, dari setiap kesombongan. Faza hanya mencoba bersikap positif dan optimistis dalam hidup dan usahanya. Bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuknya. Anaa ’indadlonni ’abdii bii  

”Ya Allah, jangan Kau tinggalkan aku untuk diriku walau hanya sekejap mata atau yang lebih sedikit dari itu, karena kalau Kau meninggalkanku, maka Kau tinggalkan aku dalam kelemahan, aurat dan kesalahan. Dan aku tidak percaya kecuali pada rahmatMu.” (HR. Al-Baihaqi)

Airmata Faza meleleh ketika ending editing novelnya. Dia tak sanggup berkata apa-apa kecuali rasa cintanya semakin membuncah pada Rabbnya, betapa setiap kemampuan adalah milik Allah. Ditutupnya program word komputer setelah menutup flasdisknya. Dia mengambil sajadah kecilnya dan shalat witir karena waktu subuh sebentar lagi menyapa.

”Dengan namaMu, aku menyandar diri pada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. (HR. Ahmad) kuserahkan hidupku padaMu ya Allah, dengan penyerahah yang sebenar-benarnya. Engkau satu cinta yang selamanya aku cari, tidak ada masa yang akan kutinggalkan untukMu, cintaku, harapku, takutku hanyalah untukMu ya Allah, Kau yang terunggul di hatiKu. Berilah yang terbaik untuk hambaMu yang lemah dan hina ini.”

Adzan subuh kembali bertalu-talu. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ’Shalat yang paling berat bagi orang-orang yang munafik adalah shalat isya’ dan subuh.’ Karena sesungguhnya shalat subuh berjamaah di masjid itu lebih baik bagi manusia daripada dunia dan seisinya.

Faza dan beberapa temannya di Baitul’lmi berangkat bersama ke Al-Agsha, dua orang tak ada karena menginap di sekretariat Al-Ishlah untuk menyiapkan acara besok pagi mereka adalah Hafidz dan Rasyid, walau beda Universitas dan organisasi namun mereka saling membantu dalam hal dakwah.

Pulang dari masjid, Faza dan ketiga rekannya membaca doa pagi bersama-sama dan tilawah bergiliran walau hanya satu halaman-satu halaman. Kali ini giliran taujih dari Shafwan, dia menyampaikan tentang menjaga amanah yang merupakan hal terberat dari agama Allah ini. Ya, bukankah seluruh kehidupan ini adalah amanah dari Allah? Mata kita adalah amanah, lisan kita adalah amanah, telinga kita adalah amanah, kita tidak punya hak sedikitpun kecuali semuanya dari Allah. Lalu..., kenapa manusia tidak mau tunduk padaNya?

Setelah taujih mereka berempat memilih bergelut dengan urusan masing-masing. Shafwan telah mengambil buku The Way to Win-nya Sholihin abu Idzudin, Lutfi tengah menghitung keuangaannya lalu membaca skripsinya kembali untuk persiapan ujian. Zilul tengah menghidupkan komputer dan menyetel murottal lalu mengedit skripsinya di bab ke-lima, dia juga tinggal perbaikan akhir dan ujian. Faza menyiapkan dokumen-dokumen untuk pengajuan judul skripsinya dan menyusun KRS untuk mata kuliah yang diambilnya di semester enam yang tidak diambilnya kemarin karena cuti.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!