Warna Pelangi Cinta
Shafwan dan Zulfa
Hari ini cerah menyapa, hari-hari di Kota Metro kini selalu membara. Ketika siang terlihat sangat sepi di setiap tempat di Kota Metro. Mungkin bagi sebagian orang lebih baik tidur, apalagi hari ini hari Ahad. Sungguh terasa sepi jika siang menyapa, jika pagi begitu banyak yang sekedar lari pagi di seputaran taman kota yang ramai. Ketika panas maka banyak yang sudah memutuskan untuk di rumah saja.
Siang itu Shafwan seperti jadwal biasanya, dia ke pasar Cendrawasih dan shoping. Apalagi tujuannya kalau bukan ngubek-ngubek toko buku yang ada di pasar. Mencari buku baru yang menarik hatinya. Uang yang diberikan orangtuanya bukan habis untuk membeli jajan atau untuk keperluan pakaian dan sebagainya tetapi habis untuk membeli buku. Lihatlah kamarnya yang penuh sesak hingga bingung memasukkan dan mengatur buku yang berjubel jumlahnya. Teman-temannya di rumah selalu meminjam buku padanya jika untuk referensi atau untuk dibaca saja.
Shafwan melangkahkan kakinya masuk ke toko buku Fina AA di barisan atas shoping. Dia melihat buku yang dianggapnya bagus, memutar-mutar setiap judulnya dan membaca ringkasan dan komentar di belakang buku. Kalau sudah berurusan dengan buku, biasanya anak ini betah hingga lupa makan. Siang itu, sesudah shalat dzuhur setiap ahad jika tidak pulang kampung di Way Jepara bisa dipastikan untuk mencari Shafwan maka carilah di toko-toko buku Kota Metro.
Mata Shafwan tiba-tiba menghunjam lama pada barisan rak kaset. Dia teringat sesuatu. Besok adalah milad Hafidz, dia tinggal satu juz lagi khatam hafalannya. Shafwan mengambil satu kaset murottal juz 27, Shafwan mencari pasangan hadiah yang lain untuk sahabat satu kamarnya itu. Surban putih plus Al-Quran, karena mushaf Hafidz sudah sangat tua.
Shafwan tersenyum, dia meminta sekalian ketiga barang yang dibelinya minta dibungkuskan oleh pemilik toko. Dia baru sadar, kalau dia belum membeli satu buku pun untuk dirinya sendiri. Dia pamitan kepada wanita berjilbab penjaga toko bernama Mbak Sari, Shafwan sering kesana sehingga hafal namanya.
Shafwan berjalan melewati beberapa toko, beberapa penjual di toko-toko pakaian memanggi-manggilnya, “Cari apa mas?” “Masuk lho Mas.” “Golek opo to Mas?” “Masuk Mas.” Shafwan hanya tersenyum tanpa menoleh pada para penjual wanita itu. Shafwan ingin menjaga pandangannya, kecuali secara tak sengaja jika terlanjur terlihat. Maka dia segera menundukkan pandangannya.
Sebuah papan di depan toko buku semakin dekat dengannya, “Toko Taqwa” Shafwan semakin mempercepat langkahnya, ingin segera melihat dan memandangi buku-buku baru dan ingin segera dipeluknya di rumah. Shafwan mengucapkan salam, seorang wanita menyambutnya dengan tersenyum dan menjawab salamnya. Pemilik toko Taqwa itu adalah Umi Bariah, dia selalu memberi diskon pada Shafwan jika membeli buku juga terutama pada para aktivis kampus. Umi Bariah sangat akrab di telinga para aktivis, dia juga sering memberikan barangnya pada saat mereka mengadakan bazaar buku setiap ada acara.
“Banyak buku baru Mi?” mata Shafwan telah jelalatan menelusuri setiap buku di masing-masing rak. Konsentrasinya seolah tertuju pada ukiran-ukiran di depan sampul buku-buku.
“Banyak Fir, kebetulan kemarin Umi baru saja dari Jawa membeli buku-buku baru dan buku-buku yang best seller. Pilih aja,” Umi tersenyum melihat Shafwan yang telah berputar-putar di sekitar rak. Umi Bariah memanggil Shafwan dengan Firaz, itu karena Shafwan mengenalkan dirinya dulu dengan panggilan Firaz yaitu panggilan kecilnya.
“Memangnya buku apa yang best seller Mi?”
“Ada novel dan buku motivasi serta buku tentang ruhiyah dan banyak yang lain juga.”
“Yang novel apa Mi?”
“Ketika Cinta Bertasbih episode 2 karyanya habibburahman el-Shirazy, lalu...,”
“Sudah keluar ya Mi?” Shafwan memotong cepat.
“Sudah.”
“Ane beli dua Mi,” Shafwan tersenyum.
“Memang yang satu untuk siapa Fir?” Umi memasukkan dua buku novel yang masih terbungkus rapi dan memasukkannya ke dalam plastik.
“Untuk kak Faza Mi, dia juga jago menulis. Novelnya yang pertama bagus tapi belum sempat dikirimkannya ke media, dia masih ragu padahal novelnya itu ceritanya bagus banget tak kalah dengan para penulis-penulis sekaliber nasional,” Shafwan berkata penuh semangat.
“Faza yang satu kontrakan denganmu itu?”
“Iya Mi, darimana Umi tahu?”
“Dia pernah ke rumah sewaktu mengantar anakku Roni yang sekolah di SMK N I Metro. Dia juga banyak cerita tentangmu sewaktu mampir di rumah mengobrol dengan Umi dan Abi. Dia orang yang penuh semangat, kalau saja Umi punya seorang putri yang telah siap menikah pasti pemuda itu akan Umi lamar untuk puteri Umi.”
“Benarkah dia banyak cerita tentang aku Mi?”
“Benar, bahkan dia sangat salut padamu. Ilmunya katanya tak sebanding denganmu yang tiap waktu pekerjaannya hanya membaca dan belajar serta organisasi.”
Shafwan semakin mengagumi tokoh bernama Faza, “O ya Mi, bukankah Umi punya satu putri kenapa tidak dilamar saja untuk kak Faza?”
“Husss! Ngawur! Putri Umi itu kan masih umur lima tahun. Memangnya pantas?”
Shafwan tersenyum mendengarnya. Sesosok wanita memasuki toko itu dan mengucapkan salam. Shafwan dan Umi Bariah membalas salam hampir berbarengan. Shafwan segera masuk ke belakang rak, sambil mencari-cari buku yang lain. Siang di luar pasar sangat menyengat, tukang bakso seolah tak mau keluar dari tendanya. Penjual di rumah makan Ampera juga tak mau keluar dari ruangannya, mereka betah di dalam tenda-tenda dengan kipas angin yang distel paling cepat. Walau begitu, keringat mereka masih mengucur deras juga.
Shafwan masih mendengar juga percakapan wanita berjilbab yang baru masuk dengan Umi Bariah, walaupun berusaha tak didengarnya namun suara lembut wanita itu memancingnya tarik ulur dalam pendengarannya.
“Umi, beli kitab Nailul Author jilid satu, lalu Minhajul Muslim dan satu novel Ketika Cinta Bertasbih episode II. Saya mau mencari-cari lagi ya Umi?”
Umi mempersilakan wanita itu untuk beralih mengitari rak-rak buku, Umi sendiri menyiapkan pesanan wanita yang sering datang ke tokonya itu.
Wanita itu membolak-balik buku di rak pajangan, saat melihat sebuah judul buku yang sampulnya menarik, dia mendekatinya. Tangan putihnya segera terulur untuk menggapainya, saat itulah kedua matanya yang biru menatap sekilas seseorang yang terlihat dari lubang yang tercipta dari buku yang diambilnya. Mata mereka sekilas saling menatap. Keduanya sama-sama mengambil buku pada tempat yang sama. Segera menundukkan pandangan dan istighfar mereka pun terdengar agak keras.
“Ehm..., berapa Mi semuanya?” Wanita itu langsung bisa mengatasi keadaan. Dia berbalik dan menatap Umi Bariah. Tatapannya sangat menawan hati siapapun yang menatapnya.
“Rp 175.000 dipotong 10%, jadi harga jualnya Rp 157.500. Zulfa tidak jadi mencari yang lain?”
“Sepertinya cukup Mi, ini pesenan Abi. Nanti Insyaallah kapan-kapan kesini lagi. Saya buru-buru Mi, Jazakillah , Assalamu’alaikum,” gadis itu menyempatkan diri untuk tersenyum.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah. Hati-hati Zulfa,” yang dipanggilnya telah berbelok sehingga tak kelihatan lagi. Umi Bariah masih bingung kenapa dia begitu cepat pulang, biasanya dia betah bahkan kadang membaca disini agak lama. Ah! Mungkin di rumahnya sedang ada acara atau keperluan lain. Umi segera menepis prasangka-prasangka.
Shafwan gemetaran di belakang rak, tangannya bergetar memegang buku, “Keajaiban Shalat Subuh.” Bayangan wanita itu teramat jelas membayangi setiap ruang di hatinya, seolah wajah wanita yang baru saja dilihatnya itu begitu melekat di kelopak matanya. Wajah itu sangat cantik dan matanya yang biru bagai mutiara lazuardi, kedipan matanya yang sekilas dan wajah yang bercahaya itu. astaghfirullahal ‘adzim. Shafwan berusaha menguasai hatinya yang tiba-tiba gundah.
Tangannya kanannya mengepal kuat, Kenapa aku jadi selemah ini ya Allah, tapi..., belum pernah aku melihat wanita yang matanya begitu indah berwarna biru. Mata itu teramat tajam, seolah aku pernah melihatnya entah dimana, seolah dia teramat dekat. Allah..., ampuni hambaMu yang sangat lemah ini. Ada apa dengan hatiku ya Allah. Shafwan menguatkan dirinya.
Dia berjalan keluar dari rak-rak, “Semuanya berapa Mi?”
Umi Bariah menatapnya bingung.
“Kau tidak ingin pulang kan?” Umi bertanya heran.
“Firaz mau pulang Mi, tidak tahu kenapa perasaan Firaz pingin pulang.”
Umi Bariah menepis prasangka-prasangka yang berjejalan memenuhi memorinya, tadi Zulfa yang tiba-tiba aneh, sekarang Firaz yang biasanya betah membaca di tokonya. Lalu..., ah! Hanya kebetulan saja. Umi berhuznuzhon .
“Umi kenapa?” Shafwan bertanya karena Umi terlihat sedikit bingung, terlihat dari raut wajahnya yang telah menampakkan keriput.
“Tidak apa-apa, hanya sedikit heran. Kamu dan Zulfa yang biasanya suka membaca dan betah disini. Tiba-tiba ingin pulang tergesa-gesa, tidak biasanya. Tapi..., mungkin Zulfa ada keperluan mendadak juga,” wajah itu akhirnya tersenyum.
“Mungkin hanya perasaan Umi saja,” Shafwan tak mau mengakui kalau sekilas pertemuannya dengan wanita bermata biru itu sebenarnya penyebabnya. Hatinya terasa perih oleh bayangan-bayangan yang tiba-tiba menguap dan terus menjejali pikirannya. Wajah wanita cantik bermata biru itu. Allah! Hati Shafwan menjerit dan ingin menangis tak tertahan.
“Berapa Mi dua novelnya?”
“Rp 99.000 dipotong 10% jadinya Rp 89.000 saja.”
Shafwan mengeluarkan uang seratus ribu, setelah menerima kembalian dan menerima barangnya dalam wadah plastik yang berlogo Toko Taqwa, Shafwan pamitan pada Umi Bariah. Perasaannya masih berguncang, karena ingatan kepada wanita itu tak bisa hilang dari hatinya yang telah tertancap sebuah tanda. Dia pulang sambil mengatur hatinya, menata hatinya, menenangkan hatinya, apakah dia sanggup? Shafwan bersikeras mengalahkan syahwatnya.
Shafwan melangkah meninggalkan Toko Taqwa, langkahnya sedikit berbeda dari awal tujuannya ke pasar. Untuk berburu buku. Kini, dia tidak tahu perasaan apa yang menghimpitnya hingga hatinya terus bimbang, konsentrasinya yang telah bertahun-tahun terlatih kini terasa tumpul. Beberapa kali dia menabrak orang yang sedang belanja di pasar. Ada apa dengan diriku? Apa ini fitrah? Ataukah dari Syetan?
Shafwan membawa kakinya dalam sejuta kebimbangan. Baru pertama kali ini hatinya terluka terlalu dalam hingga membuat kecintaannya pada buku tidak sempurna seperti dahulu dan sejak kecilnya. Nun di tempat kost bu Sud dan suaminya pak Mahmudi, seorang wanita juga tak berlaku seperti biasanya. Langkah kakinya terasa sedikit berat, hatinya berdebar-debar atas peristiwa yang baru saja terjadi di toko buku tadi.
Wanita bermata biru itu tergesa masuk rumah setelah mengucapkan salam, dia tidak menyapa seorang yang tengah memperhatikannya di samping rumahnya. Wanita itu terus melihatnya sambil menjahit baju pesanan dari pak Fahri.
“Zul, Zulfa...Zul...,” suaranya terhenti. Dia bingung, biasanya gadis yang dipanggilnya Zulfa itu akan mendatanginya dan sering curhat padanya. Kali ini..., entahlah apa yang terjadi. Zulfa bukanlah anak kandung pak Mahmudi dan bu Sud. Mereka hanya orangtua angkatnya, selebihnya dia belum tahu banyak tentang gadis cantik bermata biru itu.
“Temanmu itu kenapa? Sepertinya sedang ada masalah,” wanita yang sedari tadi duduk di depan Azizah menatap Zulfa yang masuk tanpa menyapa mereka.
Azizah menghembuskan nafasnya pelan dan lembut, “Aku juga tidak tahu, tidak biasanya sikap Zulfa seperti itu,” Azizah menatap wanita cantik yang sedari tadi menemaninya itu. Walau Zulfa terlihat aneh, tapi wanita ini jauh lebih aneh. Dia mencariku kemarin, baru kenalan. Lalu..., hari ini dia datang kemari dan ingin berteman denganku? Namanya Salwa? Astaghfirullah, jangan berprasangka.