Wanita Tanpa Rahim

Terima Saja Takdir Ini

Kurasakan lenganku diremas oleh wanita pujaanku ini. Kutenangkan ia dengan menepuk-nepuk kecil punggung tangannya yang masih nangkring di lenganku sehingga kemejaku kusut karenanya. Tatapan kami bertemu. Matanya memancarkan kekhawatiran dan ketakutan bersamaan. Sementara ibu-ibu disampingku tadi sudah masuk ke salah satu ruangan yang berjejer di depan kami.

“Bu Aira Cahyani, silahkan masuk ke ruang 6!”

Dengan hati berdebar-debar kugandeng wanitaku ke kamar yang diminta. Sebelum masuk tak lupa kurapalkan doa dalam hati agar semua berjalan lancar. Besar harapan ini ada keajaiban untuk kami sehingga hasilnya tak seperti sebelumnya. Aira lebih dulu duduk di hadapan dokter Arif. Ya, kutahu namanya dari papan di pintu.

Sesaat aku menilai dokter Arif dari penampilannya. Kuperkirakan usinya tak lebih lima tahun dari usiaku. Kulitnya bersih, dengan senyum tulus yang menenangkan. Seorang perawat berkerudung besar mendampingi di sampingnya. Kusodorkan hasil lab dari rumah sakit asal yang diterima dokter ganteng itu dengan senyum. Alisnya sedikit berkerut saat membaca deretan huruf yang aku sendiri tak paham apa bacaannya.

“Baik Bu Aira, apa Ibu tahu sakit apa yang Ibu derita?” tanya dokter itu sambil menatap istriku. Tak ada jawaban kecuali anggukan kepala.

“Coba Ibu berbaring dulu. Kita cek sekali lagi ya,” ucapnya sambil berdiri menuju brankar. Perawat yang membantu sudah siap siaga di samping ranjang. Sekitar lima menit akhirnya pemeriksaan selesai. Dokter kembali duduk dan menuliskan sesuatu di kertas yang diberikan perawat.

“Biar lebih pasti lagi, kita lab ya, Bu. Ini untuk tes darah, dan lembaran ini untuk MRI. Nanti sebelum ke ruang radiologi ke laboratorium dulu ya.”

Kami menerima dua lembar kertas untuk pengantar tes darah dan MRI. Perawat menjelaskan apa yang harus kami lakukan sekarang. Lalu memberikan juga surat kontrol untuk terapi selanjutnya. Sampai disini aku masih belum paham dengan rangkaian tes yang akan dijalani istriku. Kupikir setelah tahu sakitnya, dokter akan segera memberi tindakan pengobatan atau terapi supaya segera sembuh. Ternyata aku salah. Masih banyak rangkaian tes yang harus kami lewati.

Dokter menyarankan kami untuk cari penginapan di sekitar rumah sakit untuk memudahkan proses pengobatan ini. Namun sepertinya sekarang belum saatnya untuk cari homestay. Mungkin nanti kalau sudah mulai sering bolak-balik. Menurut  informasi yang kuperoleh dari beberapa pasien dengan keluhan yang sama, nanti akan sering bolak-balik ke rumah sakit. Bahkan kalau sudah mulai pengobatan bisa setiap hari. Itulah sebabnya mereka yang rumahnya jauh, memilih untuk tinggal di homestay.

Membayangkan hal itu, dadaku kembali nyeri. Terbayang capeknya istriku kalau harus bolak-balik rumah-rumah sakit dengan jarak tempuh 4 jam satu kali perjalanan. Artinya kami akan menghabiskan waktu 8 jam dalam satu kali perjalanan pulang-pergi. Yaa Allah semoga kami kuat menjalani ini semua.

Setelah tes darah untuk mengetahui kadar creatinin dan ureum, kami menuju ruang radiologi untuk daftar MRI. Kata dokter salah satu sarat MRI ginjalnya harus bagus. hal itu dapat diketahui dari jumlah kadar creatinin dan ureum dalam darah. Entah berapa batas normalnya. Kata perawat, seminggu lagi Aira dijadwalkan untuk MRI.

“Besok kalau mau MRI puasa dulu minimal 6 jam ya, Bu. Boleh minum air putih tapi jangan makan selama 6 jam,” jelas perawat yang ada di ruang radiologi.

“Kira-kira estimasi biayanya berapa ya, Mbak?’ tanyaku. Aku harus siap-siap uang banyak mulai saat ini. Kanker adalah penyakit mahal. Biaya untuk rangkaian tes dan pengobatannya cukup menguras kantong. Tapi itu tak masalah, semoga Allah memudahkan rezeki kami.

“Sekitar tiga jutaan, Pak!”

Aira menunduk. Wajahnya kembali sedih. Aku tahu ia pasti merasa bersalah karena harus mengeluarkan uang banyak untuk pengobatannya. Padahal ini baru awal. Perjalanan kami masih sangat panjang.

***

  Kudengar suara isak tangis masuk ke ruang telingaku. Kuraba sebelah tempat tidurku, kosong. Kuraih gawai untuk melihat jam berapa sekarang. Ternyata jam 2 dini hari. Aku bangkit menuju sumber suara. Perlahan kulangkahkan kaki dengan sangat hati-hati agar tak mengganggu kekhusu’an Aira. Benar, dalam ruang ibadah kulihat istriku bersimpuh di atas sajadah. Punggungnya bergetar. Pemandangan ini membuat bulir air mataku ikut luruh tanpa diminta. Ya Allah aku tahu apa yang dirasakan istriku. Sakit fisik juga mental.

Aku tetap terpaku dalam posisiku. Mengamati gerak-gerik bidadariku dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tangannya menengadah ke atas. Ia merintih. Mengadu pada sang pembuat hidup. Hatiku ikut tersayat mendengar doa-doanya. Sungguh, pemandangan ini membuatku merasa tak berguna sebagai suami. Andai bisa ditukar, biar aku saja yang merasakan kesakitannya.

“Ya Allah, hamba ridlo dengan segala ketetapanmu. Hamba ikhlas jika akhirnya hamba tak mampu membersamai suamiku hingga ujung usiaku. Berikan aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian ini sebagaimana  Engkau beri  kesabaran pada nabi Ayub. Beri hamba kekuatan iman sebagaimana Engkau berikan kekuatan iman pada keluarga Yasir saat merasakan sakitnya disiksa orang-orang kafir. Hanya padamu hamba berserah diri. Beri kekuatan pula pada suamiku dalam menghadapiku. Luaskanlah kesabarannya sebagaimana istri Ayub yang tetap setia mendampingi suaminya. Aamiin.”  Doa Aira mampu menggetarkan jiwaku.

Cukup. Tak sanggup aku mendengar permohonannya. Dia bukan mengeluh atas sakitnya. Tapi ia meminta diberi kekuatan untuk menghadapi sakitnya. Ya rabbana, terbuat dari apa sebenarnya hati istriku itu. Sungguh dzalim diri ini yang tidak pernah bersyukur atas karunia-Mu. Kau berikan aku seorang istri yang begitu sempurna. Tapi aku sering mengabaikannya karena kesibukan duniawi.

Kulangkahkan kaki kembali ke kamar. Lalu masuk ke kamar mandi yang ada di kamar kami. Mengambil wudlu lalu berdiri menghadap-Nya. Aku juga mau mengadu pada rabbku. Memohon dijagakan bidadariku dan diringankan sakitnya. Sungguh, aku tak sanggup melihatnya menahan sakit setiap hari.

Setelah salat subuh, aku membereskan segala keperluan istriku. Satu setel pakaian ganti untuknya dan untukku. Kuberikan ia sarapan karena setelah ini ia harus berpuasa. Kutatap wajahnya yang sayu. Tapi senyum manisnya tetap tercipta untukku.

“Maaf ya, Mas.”

“Sudahlah, sayang … jangan meminta maaf terus. Kita jalani saja semuanya berdua. Kita terima saja takdir ini ya.” Dia mengangguk sambil terus mengunyah. Sesekali meringis menahan sakit. Namun sesaat kemudian kembali tersenyum. Melihatnya seperti ini semakin membuat hatiku teriris. Sungguh, lebih baik melihatnya meraung-raung sambil bicara apa saja yang ia rasakan daripada melihatnya tersenyum dalam tangisan.

 “Loh, Mal pada mau kemana kok pagi-pagi sudah bersiap pergi?” tanya bapak yang tiba-tiba nongol dari belakang. Sepertinya habis jalan-jalan pagi seperti kebiasaanya.

“Mau ke ibu kota, Pak.”

“Ada apa to?”

Aku melirik Aira yang sudah membuka pintu mobil. Ia mengangguk memberi kode.

“Mau kontrol, Pak. Aira sakit lagi.”

Setelah menjelaskan garis besarnya pada bapak, kami pamit berangkat. Jarak tempuh yang lumayan lama mengharuskan kami harus segera beragkat pagi-pagi. Apalagi jadwal MRI istriku sebelum dzuhur. Semoga kami sampai tepat waktu.

Pukul 11 siang istriku menjalani pemeriksaan awal. Seorang dokter mendata riwayat sakit istriku. Melakukan wawancara tentang beberapa hal sebelum masuk ruang MRI. Dijelaskan pula di dalam tak boleh ditemani. Namun para tim medis selalu mengawasi melalui kamera. Setelah siap, Aira diminta ganti dan melepas benda-benda dari logam yang melekat di tubuhnya. Untungnya dia bukan tipe wanita yang suka memakai perhiasan emas. Sehingga memudahkannya untuk masuk ke ruang bermagnet tinggi itu hanya dengan mengganti pakain steril.

Dua jam aku menunggu dengan cemas. Sesekali mataku tertuju pada pintu bertuliskan “Ruang MRI” itu.  Untungnya sebelum berangkat, aku sudah browsing dulu tentang MRI. Bagaimana prosedurnya dan apa fungsinya.

 

Setelah menunggu beberapa jam, hasilnya jadi. Dengan tangan gemetar aku membuka hasil MRI itu. Empat buah film besar dengan gambar organ dalam terpampang di sana. Tapi aku tak paham apa hasilnya. Lalu kucari keterangan lainnya. Selembar kertas putih berlogo rumah sakit kutarik dari dalam amplop besar itu. Mataku membelalak membaca kesimpulan dari kertas itu. Ya Allah, apa ini mimpi?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!