Wanita Tanpa Rahim
Divonis Kanker
“Dari hasil PA menunjukan kalau di rahim Bu Aira terdapat keganasan. Ibu terkena kanker Rahim,” ucap dokter denngan sorot mata penyesalan. Meski suaranya lirih, tapi telinga ini cukup mampu mendengar dengan jelas. Duniaku seakan runtuh mendengar berita ini. Kutolehkan kepala menatap bidadariku yang sudah membeku. Pipinya sudah basah dengan air mata. Tak ada suara. Tak ada pergerakan. Tubuhnya kaku seperti patung. Namun aku tahu, bahwa hatinya hancur berkeping-keping.
“A—apa masih bisa disembuhkan, Dok?”
Kudenngar hembusan napas dokter yang terasa berat. Tubuhnya yang tadinya tegak ia sandarkan di kursi yang didudukinya. Tangannya memainkan bolpoint sambil mencorat-coret kertas membentuk sebuah gambar yang tak kutahu gambar apa itu. Lalu menjelaskan tentang gambar yang dibuatnya. Kudengarkan dengan saksama agar tak ada yang terlewat sedikit pun. Sambil tangan kananku merangkul tubuh istriku yang mulai lemas tak berdaya.
“Ini gambar Rahim,” ucap dokter menunjukkan gambarnya. “Dan ini indung telur. Jumlahnya sepasang, kanan dan kiri. Kalau kankernya masih stadium awal, masih bisa diobati, dan tak perlu mengangkat indung telurnya.” Tatapan mata dokter bergantian antara aku dan Aira. Ada rasa iba yang terlihat dari sorot matanya yang tedduh.
“Saya kasih rujukan, Bapak bisa membawa bu Aira ke Rumah Sakit pusat. Di sana fasilitasnya lebih canggih dan dokternya sudah berpengalaman menangani kasus seperti ini. Bahkan yang lebih parah dari ini.”
Tangannya terulur. Memberikan coretan berupa rujukan ke rumah sakit pusat. Kuterima rujukan itu dengan tangan gemetar. Sementara Aira masih tetap sama. Larut dalam kesedihan tanpa kata. Sebelum beranjak meninggalkan ruangan ini, kutanyakan satu hal untuk menenangkan jiwaku dan juga istri.
“Apa kami masih bisa program hamil lagi, Dok?”
“Berdoa saja, Pak. Saya tidak bisa memastikan. Biar dokter sana saja nanti yang menjelaskan. Yang penting tetap yakin dengan ketetapan Allah. Apa pun itu, pasti yang terbaik. Yang dibutuhkan bu Aira saat ini adalah dukungan Anda sepenuhnya. Jaga emosinya agar tetap stabil.”
Aku mengangguk lalu permisi. Kupapah Aira yang sudah tak berdaya. Sepanjang jalan, wajahnya terus dibanjiri air mata. Tatapannya kosong. Binarnya redup seperti bulan tertutup awan. Sesekali kuusap lembut punggung tangannya yang dingin. Fokusku terpecah antara menyetir dan menenangkan Aira. Untung sekarang jam kerja. Jalanan yang biasanya ramai kini sepi. Hanya ada satu dua kendaraan melintas.
Empat puluh lima menit kami menyusuri jalanan beraspal tanpa kata. Kesunyian menyelimuti kami. Sedih, kecewa, dan marah menjadi satu. Entah kami harus marah pada siapa. Apakah kami harus marah pada takdir yang mempermainkan kami? Tidak. Kami masih punya iman. Kami yakin inilah jalan terbaik yang Allah berikan kepada kami. Bukankah manusiawi jika hati kita bersedih saat Allah beri ujian seberat ini? Mampukah kami menghadapi kenyataan kedepan?
Sampai di rumah, Aira langsung meringkuk di kamar. Tatapannya masih sama. Kosong. Tubuhnya bergetar hebat. Sudut hatiku berdenyut melihat belahan jiwaku terguncang seperti ini. Aku bergerak mendekatinya. Kupeluk dia dari belakang. Menyalurkan kekuatan agar dia tak hancur.
“Sabar, Sayang. Kita hadapi ini sama-sama,” bisikku di telinganya. Kurasakan tubuhnya makin bergetar. Isakan tangisnya mulai terdengar. Kutahu apa yang dipikirkan saat ini.
“Ini sudah qadla’, kita mmharus menerimanya dengan ikhlas. Semoga Allah mengangkat sakitmu ini dan memebrikan yang terbaik buat kita.”
Tak ada respon. Hanya isak tangisnya yang terdengar dan tubuhnya yang terguncang-guncang. Aku lebih suka ia mengungkapkan isi hatinya dengan berbicara. Meledak-ledak juga tak apa. Asal bisa membuat hatinya lega. Daripada ia menangis dalam diam seperti ini. Pasti lebih menyakitkan dan menyesakkan.
“Maafin Adek, M—Mas.”
“Sstt, nggak, Sayang. Kamu nggak salah. Ini takdir yang harus kita jalani. Besok kita ke kota untuk berobat, ya. Semoga masih ada jalan kesembuhan terbaik.”
***
Habis subuh kami berangkat ke kota. Jarak yang kami tempuh sekitar empat jam. Sepanjang jalan Aira hanya diam sambil tangannya memainkan tasbih. Kuyakin ia sedang mencari kekuatan melalui dzikir itu. air matanya terus saja luruh tanpa suara. Kubiarkan ia mengadukan perasaannya pada Sang Kekasih. Karena Dia-lah sebaik-baik Dzat. Penggenggam jiwa manuisa. Dengan mengadukan segala keluh kesah kepada-Nya, hati akan semakin tenang.
Kupandu Aira duduk di salah satu kursi tunggu di rumah sakit besar ini. Aku melakukan pendaftaran dan mencari banyak informasi tentang prosedur pengobatan di sini. Maklum, ini pertama kalinya kami ke mari. Seorang petugas menunjukkan tata cara berobat dan mendaftar lewat online jika nanti kami kembali ke sini. Sungguh, keramahan para petugas membuat kekhawatiranku sedikit demi sedikit berangsur hilang.
“Yuk kita ke poli!” ajakku pada Aira yang masih bergeming. Tatapan matanya fokus pada salah satu pasien yang juga sedang duduk tak jauh darinya. Tubuhnya sangat kurus hingga tulang-tulangnya tampak menonjol. Rambutnya habis, hingga menunjukkan kullit polosnya. Tatapannya sayu dan ada lingkar biru di bawah kelopak matanya. Aku tahu apa yang sedang berkelana dalam pikirannya. Segera kubuyarkan lamunannya dengan lambaian tanganku di depan matanya. Dia terkesiap, lalu bangkit dan berjalan mengiringi langkahku. Kusejajarkan langkah panjangku agar tidak mendahuluinya. Tangan ini tak lepas untuk menggenggamnya.
Langkah kami terhenti di depan ruangan bertuliskan Poli Kandungan. Ada sekitar 10 ruangan lagi yang terbagi-bagi dengan masing-masing pintu tertulis nama dokternya. Di depan ruang itu sudah berjejer para pasien yang menunggu dipanggil. Kupindai seluruh penjuru ruang ini. Pemandangan di depan mata kami sungguh menyayat hati. Jika di depan loket pendaftaran tadi hanya ada satu orang yang kurus dengan kepala pelontos, di ruang ini jumlahnya sangat banyak. Bahkan ada yang terbaring di atas brankar dengan kondisiyang mengenaskan.
Ya Allah kuatkan kami. Apa setiap hari pemandangan seperti ini yang akan kami lihat nanti? Dua kursi kosong di sebelah ibu-ibu yang terlihat segar dan sehat tertangkap netraku. Kubimbing Aira uuntuk duduk di tempat itu.
“Pasien baru ya, Pak?” sapa ibu-ibu tadi yang kutaksir usianya sudah memasuki kepala empat. Di sampingnya ada seorang lelaki yang ikut tersenyum menyapaku.
“Iya, Bu. Ibu pasien juga atau … “
“Iya. Saya sudah empat tahun berobat di sini.” Mataku membelalak mendengar penngakuannya. ‘Empat tahun?’ tanyaku dalam hati.
“Dulu saya juga seperti itu,” ibu-ibu yang kuketahui berasal dari ujung Jawa Tengah itu menunjuk pasien di brankar dengan dagunya. Kuikuti arah pandangannya dan kembali aku membelalak.
“Nggak usah kaget, Pak. Kita semua pernah mengalami fase itu. tapi lihatlah saya sekarang, sudah sehat seperti tidak pernah sakit, kan?”
Aku bernapas lega. Seolah beban yang menghimpit dada telah hilang sehingga kini tak lagi menyesakkan. Setidaknya ada harapan besar untuk istriku. Aira tak ikut menyahut. Hanya mendengarkan sambil mengedarkan pandanggannya. Mengamati satu per satu orang yang ada di ruanngan ini. Aku tahu, dia sedang khawatir. Dan mencari orang-orang yang bernasib sama dengannya. Biarlah ia menyerap fakta yang ada di depan matanya agar bisa menjadi motivasi dan kekuatan untuk menjemput kesembuhan. Agar dia berpikir bahwa dia tak sendiri. Ada ratuan perempuan lain yang bernasib sama dengannya.
“Ibu sakit apa?”
“Kanker hahim. Saya sudah operasi tiga kali. Kemo 12 kali dan sinar puluhan kali. Tak terhitung sudah jumlahnya.”
Kulihat istriku semakin pias. Wajahnya memucat mendengar pengakuan ibu di sampingku ini. Jantungku juga serasa dicabut dari tempatnya. Yang benar saja? Lalu bagaimana dengan istriku?