Wanita Tanpa Rahim

Di Jalan-Mu Aku Bertahan 15

POV AIRA

 Bagai petir disiang bolong. Saat aku kembali bertemu dokter Agata untuk ke sekian kalinya. Setelah sebelumnya menunggu selama 2 minggu, akhirnya hasil tes laboratorium keluar.

"Dari hasil PA ternyata ditemukan adanya keganasan. Rahim Ibu terkena kanker ganas, untuk itu Ibu harus dirujuk ke Rumah Sakit Pusat. Di sana alatnya lebih canggih. Yang perlu Ibu dan Bapak siapkan selain dana adalah mental. Bapak harus sabar dan senantiasa memberikan dukungan pada Ibu. Karena pengobatannya butuh waktu panjang dan melelahkan.

                Seolah bumi berputar. Langit runtuh. Duniaku menjadi gelap, kelam dan berkabut. Kurasakan pening tiada tara, ucapan dokter selanjutnya sudah tak terdengar. Bagai kaset kusut yang terus berputar-putar. "Kanker". Kucoba tuk melafalkan kata ikhlas dalam hati, terus dan terus. Beristighfar agar tidak limbung. Namun rasanya kabar dadakan ini tak sanggup untuk membuatku tenang. Pikiranku mengelana, jauh ... tak tentu arah. Bulir kristal sudah terkumpul, mendesak dan siap untuk tumpah. Kurasakan genggangan tangan hangat dari suamiku tercinta. Berharap mampu memberikan ketenangan dan ketegaran menerima Qadla' ini. Aku tau, suamikupun sama hancurnya denganku. Pupus sudah harapan kami selama ini. Inikah akhirnya? Setelah berjuang melawan rasa sakit selama berbulan-bulan, aku harus menerima kenyataan pahit ini?

Dengan lembut, suamiku membimbing jalanku yang tertatih. Membawaku pulang dan menyusun rencana selanjutnya. Mengendarai mobil hasil kerja keras suamiku dengan kecepatan sedang sambil satu tangan suamiku terus menggenggam tanganku. Menyalurkan kekuatan dan harapan. Dalam perjalanan pulang, tumpahlah kristal bening yang sedari tadi kutahan agar tidak keluar. Dalam diam aku menangis, meratapi nasib yang baru saja menimpaku. Kusembunyikan wajahku di balik telapak tangan agar tak terlihat olehnya kalau aku sedang menangis. Sampai akhirnya kami tiba di rumah, tangisku langsung pecah. Yang tadinya aku menangis dalam diam, sekarang sudah tak mampu lagi.

"Sudahlah Dek, ini sudah qadla' Allah. Kamu harus ikhlas menerima kenyataan ini. Yakinlah bahwa Allah punya rencana yang indah untuk kita. Lagipula hasil itu belum pasti. Hari ini biar aku urus semua surat-suratnya. Besok kita langsung ke ibu kota. Semoga hasilnya negatif, sekarang istirahatlah. Tenangkan dirimu. Jangan terlalu stres, nanti tambah sakit.”

Tak sepatah katapun keluar dari bibirku. Rasanya enggan untuk bicara, berbagai pikiran berkecamuk dalam otakku. 'Bagaiman jika aku gak bisa punya anak, bagaimana jika rahimku harus diangkat, bagaimana jika suamiku meninggalkanku?’ Dan beribu kata ‘bagaimana’ yang terus berputar. Kutarik nafas panjang, berharap bisa sedikit melegakan rasa sesak yang menghimpit. Perlahan, mata ini terpejam dan hilanglah kesadaran karena tertidur kelelahan.

 

***

Alunan merdu suara qira’ah quran dari surau terdengar. Sayup-sayup memasuki gendang telingaku. Perlahan kubuka mataku, kulihat jam di atas nakas. Pukul 03.30 WIB. Kusingkap selimut yang menutupi tubuhku. Seketika dingin menusuk kulit. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Suamiku telah selesai dengan shalatnya. Membaca quran dengan suara khasnya.

Sebelum bersiap untuk berangkat ke ibu kota, aku sempatkan untuk memohon pertolongan kepada-Nya. Bermunajat ditengah gelisah. Menengadahkan tangan mengusir gundah. Hanya Dia tempatku mengadu. Hanya Dia tempatku memohon. Dialah Allah Sang Maha Kuasa. Pemilik kerajaan alam semesta. Penentu takdir dan penggenggam jiwa.

“Ya Allah, mudahkanlah urusan ini. Ridloilah ikhtiyarku ini. Berikan aku kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Karena aku belum siap menghadap-Mu dalam kondisi masih berlumur dosa. Begitu banyak dosa-dosa dalam diri, maka ampunilah yaa … Allah."

Setelah siap segala perbekalan kami, akhirnya kami (aku dan suami) berangkat menuju ibu kota. Membelah jalanan beraspal dengan suami sebagi driver-nya.

Kebisuan menyelimuti kami saat perjalanan. Waktu 4 jam terasa begitu lama. Terbayang dalam benakku, prosedur pengobatan yang begitu panjang dan melelahkan. Badan kurus, rambut rontok, dan segala bayangan buruk berkecamuk memenuhi pikiranku. Kucoba pejamkan mata. Berharap bayangan buruk itu raib dari hadapanku. Seolah mengetahui kegelisahan hatiku, suamiku meraih kepalaku. Diletakkannya di pundaknya. Menyalurkan energi positif agar aku tenang.

Dalam sekejap, mataku menutup sempurna. Lelah. Itulah yang kurasakan. Bukan badanku saja yang lelah. Namun hatiku juga. Di dalam dadaku terasa terhimpit. Seolah beban berat menekan tubuhku. Membuat semua syaraf tak bisa bekerja sempurna. Dibawah sana, tepat di bagian rahimku terasa sangat sakit. Namun lidahku kelu. Tak mampu untuk sekadar berucap “aduh, sakit sekali”. Semua rasa sakit yang aku rasakan, telah menguras energi dan emosi. Hingga aku tak mampu lagi untuk mengaduh. Semua serasa mati.

***

Dadaku berdebar-debar saat hendak memasuki ruang MRI. Perawat mengatakan jika di dalam nanti aku akan masuk ke sebuah alat dimana posisiku berbaring di dalamnya. Bayanganku sudah kemana-mana saat kaki mulai menginjakkan ruangan ini. 

“Silahkan berbaring, Bu. Nanti suaranya sangat bising ya, jadi ibu kami pakaikan headset untuk mendengarkan lagu supaya dapat meredam suara bising itu. posisi tangan di atas begini,” ucap perawat bermasker membenahi posisiku. “Pokoknya cari posisi ternyaman dulu ya, selama proses ini jangan bergerak sedikitpun. Kalau nggak kuat, pencet tombol ini!” perintahnya sambil menunnjukkan sebuah tombol yang sudah diletakkan pada telapak tanganku.

“Kalau saya ketiduran gimana, Mbak?”

“Nggak papa. Itu malah bagus. jadi nggak terasa lama.”

Perawat terus menjelaskan apa saja yang boleh dan yang tidak boleh kulakukan selama proses MRI berlangsung. Setelah posisiku siap, para perawat keluar ruangan. Tinggalah aku sendiri dalam posisi berbaring dengan telinga disumbat headset dan kedua tangan diatas. Awalnya biasa saja, namun lama-lama suara itu makin bising hingga lagu yang diputar tak mampu meredamnya sama sekali. Ingin rasanya aku menyerah saja. Selain takut sendirian di ruangan yang tak biasa ini, juga takut karena posisiku seperti tertidur dalam peti.

Cukup lama aku bertahan di sini. Kata perawat jika aku nggak kuat, maka akan diulang dari awal. Oh my God, ini lebih sulit dari yang aku bayangkan. Tangan sudah mulai kesemutan, kaki sudah hamper kram karena tak boleh bergerak sedikit pun. Kubaca ayat-ayat Qur’an yang kuhafal untuk membunuh jenuh.

Suara pintu terbuka, rasanya seperti habis buang air kecil setelah menahan berjam-jam lamanya. Plong.

“Sudah selesai ya, Mbak?”

“Belum, Bu. Disuntik kontras dulu ya. Nanti masuk lagi sekitar lima belas menit.” Seorang perawat menyuntikkan kontras di lenganku. Rasanya sungguh ngilu menjalar melalui pembuluh darah. Setelahnya kembali aku sendiri.

“Gimana, dek nggak papa kan?” tanya mas Akmal tampak khawatir melihatku keluar dalam kondisi lemas. Ya, aku terbaring di sana kurang lebih dua jam. Menahan sakit di perut, kram di kaki dan kesemutan di tangan. Jangan lupakan suara bising yang membuat gendang telingaku bergetar. Setelah mendapatkan hasil, mas Akmal seperti tak sabar ingin mengetahui hasilnya. Barangkali ia berharap keajaiban sepertiku. Dengan tangan gemetar ia menarik kertas putih berisi kesimpulan hasli MRI yang kulakukan beberapa jam lalu. Aku ikut melirik dan membaca deretan huruf itu.

Di barisan awal sedikit kurang paham memang. Namun dibarisan tengah ke bawah cukup membuatku menggigil. Aku yang lulusan biologi, sedikit banyak paham istilah-istilah yang disebutkan di sana. Ya, ternyata hasil Lab dari rumah sakit daerah berbanding lurus dengan hasil MRI ini. Bahkan di sini tertulis jika tak hanya rahimku yang terkena kanker, melainkan sudah menjalar ke indung telur.

 

Tubuhku semakin lemas tak berdaya. Kakiku seperti jeli. Aku kehilangan pijakan. dan ... gelap.  

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!