Wanita Tanpa Rahim
Frozen
#POV Akmal
Semenjak saat itu, Kyai Jumhuri selalu menghubungiku untuk segera memberi jawaban atas tawarannya. Padahal aku sudah menjawab dengan sangat gamblang bahwa aku tak bisa. Mungkin bagi laki-laki lain ini adalah kesempatan emas yang tak bisa disia-siakan. Ditawari poligami oleh seorang Kyai. Bukan sembarang wanita yang ditawarkannya, tapi seorang wanita shalehah yang baik akhlaknya juga bagus agamanya. Bibit, bobot, bebetnya pun sudah jelas. Tak perlu susah payah mencari, justru walinya lah yang menyodorkannya sendiri.
Lantas apakah hal itu membuatku tergiur dan langsung meng-iyakan saja? That’s not my stile. Sejak pertama melihat Aira, aku sudah tak mampu berpaling darinya. Keanggunannya mampu membuatku terpaku hanya padanya. Kesederhanaan dan kelembutannya mampu menghipnotisku. Setiap malam namanya selalu kusebut dalam doa. Allah Maha Baik. Sungguh, tanpa perlu berjuang, Kyai Jumhuri menjodohkan kami. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Ya, aku memang tak mau menjalani ta’aruf lagi dengannya.
“Mal,” panggil Akbar mengagetkanku.
Ah ternyataa aku terlalu asyik larut dalam masa lalu. Akbar menunjuk gawaiku dengan dagu. Rupanya dari tadi benda pipih itu berkedip. Aku memang sengaja tak menghidupkan nada dering agar tak mengganggu. Tertera sebuah nomor asing.
[Assalamu’alaikum, Mas Akmal gimana kabarnya?]
Kulihat lagi nomor yang menghubungiku. Tak tertera dalam kontakku, tapi kenapa ada permpuan yang menelponku dengan nada seperti itu? Apa dia tak salah sambung?
[Mas Akmal, halo]
“Eh, iya, halo. Maaf ini siapa ya dan ada perlu apa?” tanyaku tanpa basa-basi. Jujur aku nggak suka teleponan dengan perempuan asing yang tak kukenal.
[Mas nggak mengenali suaraku? Aku calon istrimu, Mas.]‘
Calon istri? Aku kan sudah beristri? Ngawur nih cewek,’ batinku bicara.
[Maaf, Anda salah sambung]
Aku langsung menekan gambar telepon sehingga panggilan berakhir. Namun sesaat kemudian nomor itu menghubungi lagi. Satu kali, dua kali, tiga kkali, tetap kuabaikan. Akhirnya dia menyerah dan berganti ke chat. Ia mengirim voice note dalam sebuah aplikasi berwarna hijau. Aku sungguh tak menyangka ada cewek senekat ini. Sudah kukatakan kalau aku beristri, dia bilang sudah tahu. Bahkan dia rela menjadi yang kedua. Gila. Ini benar-benar gila. Urusan ning Zahra saja belum kelar, ada lagi yang menginginkan hal yang sama.
***
Semenjak peristiwa keguguran yang dialami bidadariku beberapa bulan lalu, sikapnya mulai berbeda. Ia selalu berusaha untuk menyinggung soal permintaan Abahnya, Kyai Jumhuri. Berulang kali kuyakinkan padanya bahwa aku tak akan pernah melakukannya, tapi ia seolah tak peduli. Rasa tak enaknya pada Abah dan Uminya lebih mendominasi. Meski aku tahu setiap kali ia mengatakannya, ada luka yang berusaha disembunyikan. Ah, dasar cewek! Lain di bibir lain di hati. Dibibir mengatakan rela, tapi di hati nangis-nangis tak mau.
Padahalaku yakin sisi terdalamnya ia juga ingin sekli menolak. Terlihat jelas dari sikapnya yang sering melamun. Terkadang aku sering memergokinya menangis sendirian. Bahkan dia sering mengadukannya pada Sang Pencipta saat aku sedang terlelap. Lebih tepatnya pura-pura terlelap.
Puncaknya, kemarin setelah kami sowan ke pondok dan mengetahui alasan Kyai Jumhuri memintaku untuk menikahi putrinya, Aira semakin mendesak. Ia selalu menjadikan ketidakberdayaan ning Zahra sebagai senjata agar aku mau menurutinya. Sungguh, aku sangat kecewa padanya. Kupikir Aira akan berjuang untuk memepertahankanku apa pun alasannya. Tapi ternyata aku salah. Rasa belas kasih dan hutang budinya pada keluarga Kyai Jumhuri membuatnya tak bisa berpikir jernih. Ia tak memikirkan luka batin yang akan ditimbulkannya setelah ini.
Sebagai suami, aku merasa seperti tak dibutuhkan lagi. Dan itu sangat melukai egoku.
“Aira, tolong jangan meminta sesuatu yang aku tak sanggup memberikannya!”
“Tapi, Mas … lihatlah keadaan mbak Zahra, ia sangat membutuhkan pendamping yang mampu mengayomi dan membantu menghilangkan traumanya. Dan Adek yakin, Mas lah orangnya.”
Ia mengatakan itu dengan derai air mata. Sungguh, hati ini rasanya tercabik-cabik. Kutinggalkan dia yang larut dalam tangisannya. Dadaku semakin sesak. Kecewa, marah, kesal, benci, campur aduk jadi satu. Orang yang kuperjuangkan justru berusaha menanam duri dalam rumah tangga ini. Andai tangisan itu tangisan yang biasanya, aku akan dengan senang hati merenghuknya dalam dekapan ini. Namun entah mengapa, melihat sikapnya yang terus mendesak untukku menikahi wanita lain, sisi terdalam hatiku terluka.
Apa dia sudah tak cinta lagi padaku? Atau dia akan pergi meninggalkanku? Tidak. Akku akan terus memperjuangkan rumah tangga ini agar tetap tenteram seperti sebelumnya.
Kurasakan sebuah tangan melingkar di perutku. Kutahu ini adalah Aira, bidadariku. Lalu kepalanya menyandar di punggunggku. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuh. Amarah yang hampeir saja menguasai, luntur sedikit demi sedikit.
“Maafkan Adek, Mas. Adek tak bermaksud melukai perasaanmu. Adek hanya … hanya tak tahu harus bagaimana bersikap.”
Punggungku basah oleh air matanya. Kubiarkan ia mengungkapkan perasaannya tanpa berusaha untuk berbalik.
“Adek banyak berutang budi pada keluarga Abah. Saat Abah dan Umi meminta sesuatu yang jelas aku tak kuasa memberikannya, aku bingung. Aku … tak rela berbagi suami dengan mbak Zahra.” Senyumku terbit mendengar pengakuannya. Namun hanya sesaat. “Tapi, mungkin hanya dengan cara ini aku bisa membalas budi mereka.”
Kulepaskan tangan yang melingkar di perutku. Lalu kutinggalkan dia begitu saja. Kupikir setelah menyadari perasaannya, dia akan berubah pikiran. Nyatanya dia tetap pada pendiriannya. Yaa Allah, tolong jaga rumah tanggaku. Aku tak mampu menahkodai dua kapal sekaligus. Beri jalan keluar atas masalah ini,’ doaku dalam hati.
Hari-hari berlalu dengan kondisi yang berbeda. Aira tak lagi hangat seperti sebelumnya. Namun ia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Menyiapkan bajuku, memasakkan makanan, membuatkan teh ketika aku datang, menyambut dengan senyum manis. Sayang senyumnya tak sampai ke mata. Aku pun enggan berlama-lama dengannya. Meski rindu ini sudah menggunung, tapi rasanya aku masih belum bisa menyalurkannya. Ditambah agenda dakwah yang menyita waktu, membuat hubungan kami semakin renggang.
Hingga suatu malam aku tak melihatnya menyambutku. Pintu terkunci. Untung saja aku selalu membawa kunci cadangan. Lampu di ruang tamu juga sudah mati. Begitu pun dengan dapur dan ruang makan. Kulirik jam tangan di pergelanganku, jarum pendek menunjuk angka 12. Ternyata aku pulang terlalu larut.
Ada yang hilang dari hatiku saat tak melihat senyumnya untuk menyambutku. Kucari di setiap ruangan. Di kamar, di dapur, di ruang tengah, nihil. Aku menyugar rambut kasar. Napasku memburu. Apakah Aira pergi dari sisiku? Kubuka lemari pakaiannya. Masih utuh. Aku bisa sedikit bernapas lega karena Aira tak mungkin pergi tanpa membawa apa pun.
Kembali aku mencarinya, ada satu tempat yang belum kudatangi. Kamar shalat. Ia biasanya hampir menghabiskan malamnya di sana. Dadaku berdebar-debar saat melihat pintu bertuliskan “Ruang Ibadah”. Kubuka perlahan pintu yang tak tertutup sempurna itu.
“Aira!”