Wanita Tanpa Rahim

Kenyataan Pahit 12

“Aira! Kamu kenapa, Sayang? Aira, bangun!” kutepuk-tepuk pipinya yang sudah memucat. Rasanya kembali ke masa beberapa bulan lalu saat belahan jiwaku ini juga mengalami hal yang sama. Ia pingsan saat aku baru datang. Bedanya kali ini ia sudah pingsan sebelum aku sampai rumah. Telapak tangannya dingin, kakinya juga dingin.

Dadaku rasanya sesak menyaksikan kejadian seperti ini terulang kembali. Disaat hubungan kami sedang beku, kenapa ini harus terjadi lagi?

“Aira sayang, maafkan Mas yang sudah mengabaikanmu beberapa hari ini. Mas hanya ingin membuatmu berpikir. Mas hanya ingin memepertahankan rumah tangga kita agar tetap terjaga utuh hingga maut memisahkan kita. Sungguh, Mas nggak bermaksud mengabaikanmu, Sayang. Tolong bangunlah, bangunlah … bangunlah, sayang.”

Kurengkuh kepalanya yang tertutup mukena dan kudekap erat dalam pelukanku. Rasanya dadaku seperti diremas-remas melihatnya begitu tenang dalam lelap. Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri, hingga seluruh tubuhnya terasa dingin. Mungkin juga efek tergeletak di lantai yang hanya beralaskan sajadah. Tubuhku bergetar tak mampu menahan rasa sedih yang mendera. Perlahan, kuangkat tubuhnya yang ringan. Kubawa ke peraduan kami yang dingin.

Saat tubuh ringgikny mendarat sempurna di atas ranjang, kelopak mata itu bergerak. Dari kedua sudut matanya masih terdapat sisa-sisa air mata yang mengering. Dadaku semakin sesak mendapati fakta bahwa istriku habis menangis. Ya Allah, apa yang sudah kulakukan pada bidadariku?

“Mas,” suara yang telah lama kurindukan terdengar merdu di telinga. Kutempelkan telapak tangannya ke pipiku yang entak sejak kapan sudah basah. Tak ada sepatah kata pun yang mampu terucap dari bibirku.

“Mas, … maafkan Adek.”

Kugelengkan kepala tanda bahwa dia  tidak salah. Akulah yang terlalu egois. Tak mengerti dengan perasaannya yang mungkin sangat tertekan menanggung utang budi pada Abahnya. Ya, bukan dia yang salah. Tapi keadaan yang membuatnya begini. Setelah berjibaku dengan pikiran, akhirnya mulutku mampu bersuara.

“Maafkan Mas, Dek. Semua ini gara-gara, Mas.”

“Nggak, Mas. Ini salahku. Adek yang nggak bisa memahami perasaan Mas. Adek yang terlalu takut mengambil sikap, karena … kerena nggak mau dicap anak tak berbakti.”

Setelah beberapa saat kami saling menyalahkan diri sendiri, akhirnya kami mampu mencairkan hati yang sempat beku. Rasanya seperti ada ribuan kembang api meledak dalam dada ini. Sungguh, benar kata orang, jika pertengkaran kecil terkadang dibutuhkan untuk membuat rumah tangga semakin erat. Nyatanya, memang setelah masa frozen yang kami alami, kerinduan di dada kami sudah membuncah. Dan saat kami berbaikan, rasanya seperti pengantin baru yang sedang bulan madu.

“Dek,” ucapku sambil memandang manik matanya yang masih berkaca-kaca. “Tolong jangan lagi memintaku untuk memberikan sesuatu yang tak mampu kuberikan. Susah payah aku menjaga hati ini agar tetap utuh untukmu, kenapa justru kamu memintaku memberikan separuhnya untuk orang lain? Aku tak sanggup, Dek. Sungguh.”

Kurasakan ia terisak lagi dalam dekapanku. Biarlah untuk hari ini dia tumpahkan semua air matanya. Besok, tak kan kubiarkan setetes pun air mata itu mengalir di pipinya. Kecuali tangisan bahagia. Setelah puas kami saling menumpahkan rasa, kami tertidur dengan perasaan lega. Rasanya seperti beban yang selama ini menghimpit dada telah hilang dan mampu membuat kami bernapas lega.

                “Dek, sudah salat subuh?” tanyaku saat pulang dari masjid dan mendapati tulang rusukku ini masih bergelung di bawah selimut. Ia hanya mengulat sebentar lalu menarik selimut hingga ke telinga. Kuletakkan tangan ke dahinya. Panas.

                “Dek, masih sakit? Apa yang dirasakan?”

                “Iya, Mas. Ini beberapa hari ini perutku sering nyeri. Semalam nyeri banget sampai Adek tak kuat menahan sakitnya.”

                “Ya Allah, Dek … kenapa nggak pernah bilang sama, Mas?”

                “Adek takut Mas marah sama Adek.”

                Rasanya seperti ada yang menusuk tepat di jantungku mendengar pengakuannya. Istriku sendiri sampai takut untuk berkata jujur. Padahal seharusnya akulah tempatnya untuk berkeluh kesah, tempatnya mengadu selain Allah. Tapi … ketika istri sudah takut, itu artinya ada yang nggak beres dengan hubungan kami. Sudah sebesar inikah keretakan rumah tangga kami hingga menyebabkan  kepercayaan sang istri hilang? Dan aku sebagai pemimpin justru membiarkannya terus berkubang dengan tekanan. ‘Ya Allah, ampuni dosa-dosaku.’

                Pukul 7 pagi kami sudah nyampai di klinik kandungan dokter Agata. Beberapa orang sudah duduk menunggu namanya dipanggil. Aira terlihat sangat pucat. Bibirnya memutih dan sinar matanya meredup. Sesekali ia meremas perutnya yang sakit. Kuelus punggungnya untuk sekadar menenangkannya. Dua puluh menit menunggu, tibalah giliran Aira yang dipanggil.

                “Bagaimana, Bu, ada keluhan apa?”

                “Ini, Dok, rasanya nyeri sekali. Semalam sampai pingsan karena nggak kuat menahan sakkitnya.”

Dokter Agata memerintahkan istriku untuk berbaring. Selanjutnya alat USG dioperasikan di atas perutnya. Sesekali alis dokter Agata mengerut. Lalu alat USG-nya berhenti agak lama di satu titik. Kedua bola matanya fokus pada layar.

“Begini, Pak, Bu,” ucap dokter setelah selesai memeriksa perut istriku. “Sepertinya ada yang tak beres di Rahim Bu Aira. Saya belum bisa memastikan itu apa. Tapi biar lebih jelas, kita kuret lalu sampelnya di PA.”

Seperti ditikam sembilu rasanya hatiku. Aku tahu Aira juga merasakan hal yang sama dennganku. Bahkan dia mungkin jauh lebih sakit mendengarnya. Namun sebagai lelaki, aku harus menunjukkan ketegaran. Karena jika aku lemah, maka istriku akan semakin terpuruk dengan keadaannya seperti ini.

“Kira-kira kapan itu harus dilakukan, Dok?”

“Secepatnya. Sekarang Bapak bisa membawa istrinya ke rumah sakit untuk rawat inap dulu. Besok kita lakukan tindakan. Atau menunggu jadwal dari rumah sakit.” Pria berjas putih itu menuliskan sesuatu di kertas, membubuhi dengan tanda tangan, dan menyerahkan padaku.

“Berikan memo ini ke bagian pendaftaran, supaya Bu Aira bisa langsung masuk!”

Kuterima memo itu dengan tangan gemetar. Lalu menggandeng istriku yang masih terdiam mencerna apa yang terjadi keluar ruangan. Lalu menuju rumah sakit dan melaksanakan apa yang diperintahkan dokter tadi. Dengan cekatan paraperawat menyambut dan menangani istriku. Memasangkan selang infus pada pergelangan tangannya dan mengambil sebagian darah untuk dibawa ke laboratorium. Aku yang selalu disamping Aira, diminta menunggu di luar saja. Sebenarnya enggan meninggalkannya sendiri dalam kondisi seperti ini. Meski ada dokter jaga dan beberapa perawat yang menangani, tetap saja hati ini tak bisa tenang.

Hampir satu minggu Aira dirawat di umah sakit pasca dikuret lagi. Kali ini sma, ia kehilangan banyak darah dan harus ditransfusi. Untungnya kalli ini stock darah yang sesuai Aira ada, jadi nggak perlu minta tolong lagi. Kami harus pulang setelah seminggu dirawat. Dokter berpesan agar seminggu lagi datang untuk kontrol sekalligus mengetahui hasil PA-nya.

   Hari-hari berlalu dengan ceria. Aku berusaha untuk pulang lebih awal sekarang. Karena di rumah ada sang istri yang sedang sakit dan membutuhkanku. Hari ini, hari senin. Kami kembali ke dokter untuk kontrol. Entah karena terlalu semangat atau penasaran dengan hasil PA-nya, kami dating lebih awal. Bahkan ini pertama kalinya kami mendapat nomor antrian 1.

Tanpa basa-basi, aku langsung bertanya pada dokter Agata setelah mengatakan hasil uji PA-nya sudah jadi. Dengan perasaan was-was, kutatap gerak bibir dokter itu. Memastikan apa yang aku dengar nanti tidak salah.

 

“Jadi, dari hasil PA-nya, Bu Aira ini … “ dokter Agata menjeda kallimatnya. Tatapannya beralih antara aku dan Aira. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Menunggu kalimat dokter selanjutnya, seperti menunggu putusan hakim dalam pengadilan. Sungguh menyiksa.  

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!