Naura mengamati wajah Berlin dengan mulut yang sangat busuk dipenuhi kotoran yang sepertinya kotoran itu adalah miliknya sendiri.
"Mas, sepertiny kita harus ngebersihin Berlin dulu sebelum dibawa pulang. Berlin sudah benar-benar sangat butuh untuk dibersihkan ... Mas," titah Naura.
Abdi membalikkan badannya, menatap Berlin dengan seksama. "Dek, Kamu makan kotoranmu sendiri ya Dek! Itu jorok tau! Nggak bagus untuk kesehatanmu," bentak Abdi.
Berlin hanya mengangguk cepat. "A-aku laper ... Bang, Aku haus. Semut-semut udah nggak ada yang lewat lagi. Adek terpaksa, Abang jangan marah ya," ujar Berlin tatapannya kosong mengarah pada Abdi sembari memainkan rambut gimbalnya.
Abdi yang mendengar jawaban itu langsung menangis memeluk Adiknya. Siapa pun itu, pasti sangat hancur hatinya melihat Adik satu-satunya diperlakukan bak seorang binatang. "Maafkan Abang ... Lin." Abdi mencium pipi lembut Adiknya, tidak peduli seberapa bau aroma yang menyeruak menusuk sampai ke tenggorokan. Abdi tetap dengan erat memeluk Berlin penuh kerinduan.
Drrrttt ... Drrrtttt ... Drrrrt.
Dering ponsel di dalam saku celana Abdi bergetar berkali-kali, lalu dengan malas Abdi mengangkat panggilan itu.
"Halo Pak Kiki"
"Pak, Alhamdulillah teman wanita Bapak bayinya selamat. Tetapi teman bapak harus melakukan transfusi darah ... Pak."
Suara Pak Kiki parau terdengar dari balik telepon itu.
Klik.
Panggilan itu diputus oleh Abdi, ia terduduk lemas. Menghembuskan napasnya kasar, "Bayi itu selamat ... Nau. Mas nggak ngira ini pasti mukjizat! Karna tadi Nau liat sendiri kan betapa hebatnya pendaharan Aqila." Abdi melemah tidak percaya.
"Bagus dong ... Mas, itu artinya anakmu selamat kan," sahut Naura dengan polos.
Abdi mendengar jawaban Naura hanya bisa menggeleng, istri yang di hadapannya ini benar polos atau bodoh? Atau bahkan Naura sebenarnya merencanakan sesuatu lagi?
"Tidak!"
"Istriku memang polos dan menggemaskan bukan?"
"Wajar saja Naura sebegitu dendamnya kemarin, itu pun bukan salahnya. Buktinya Aku setelah menjelaskan. Ia langsung luluh dan kembali seperti semula." Pikiran Abdi berkecamuk saat ini.
"Mas?" panggil Naura yang telah membuyarkan lamunan Abdi.
Abdi hanya menoleh ke arah Naura, tanpa menjawab sepatah kata pun. "Mas ayo mandiin Berlin!" ajak Naura.
"Tapi ini gimana?" tanya Abdi dengan menunjukkan ke arah pasung yang di rantai kuat oleh gembok.
"Pakai kapak saja mas atau semacamnya deh, karna kalo ngambil dengan Mbak Nengsi akan buang-buang waktu aja," sahut Naura mendengus.
"Oke" jawab Abdi singkat dengan langkah yang cukup cepat.
Tidak perlu menunggu lama, Abdi kembali membawa sebilah Kapak di tangannya. Lalu ia mencoba mengayunkan kapak itu ke arahh rantai yang bergembok.
Naura hanya menggigit jarinya, menyaksikan ayunan kapak itu mengarah pada kaki Berlin. Dengan pikiran yang berimajinasi tinggi, menghayal yang tidak-tidak semakin membuat netra Naura tidak sanggup melihat ke arah kapak.
Brak!
"Aaaaaaaaa." Naura menjerit sangat kencang, beriringan dengan suara kapak yang terdengar kuat menghantam rantai besi.
Naura menyipitkan matanya, mengintip sedikit demi sedikit mengamati kaki Berlin dari kejauhan. Lalu ia membuka matanya dengan lebar. "Hah! Akhirnya terbuka juga, Aku takut banget ... Mas," ucap Naura hembusan napas kasar.
Dengan kasar Abdi melempar seluruh balok yang menimpa Adik kesayangannya ini selama bertahun-tahun, sebuah tetesan air mata menetes deras dari pelupuk mata indah Abdi.
Air mata itu, air mata kebahagiaan sekaligus air mata penyesalan! Bahagia karena telah membebaskan Adiknya, dengan kedua tangannya sendiri. Dan rasa penyesalan yang amat sangat menggebu di balik dadanya. Abdi menyesal mengapa baru sekarang ia memberanikan diri untuk memberontak?
Abdi mengira selama ini, Ibunya menyanyangi mereka juga sama seperti anaknya yang lain. Tetapi kenyataannya, Berlin diperlakukan dengan sangat keji layaknya binatang. Pantas saja selama ini Abdi di larang keras menemui Adiknya oleh Ibu dengan alasan. "Berlin akan bertambah gila jika melihatmu!" kata-kata itu selalu Ibu ucapkan saat Abdi merindukan Adiknya.
Abdi menangis meraung layaknya anak kecil, di hadapan Adiknya Berlin. Mereka berpelukan tiada henti melepas rindu dan kini Naura hanya berdiri mengamati haru dari kejauhan.
"Buu? Apakah Aku masih bisa memendam dendam dengan keluarga mereka, sedangkan kenyataannya saat ini. Keluarga merekalah yang sangat menderita. Di banding anakmu Buu? " gumam Naura dari dalam hatinya.
"Mas, ayok Kita mandikan Berlin," ujar Naura sambil memegang bahu Abdi dengan sangat lembut.
Abdi hanya mengangguk dan dengan perlahan menurunkan kaki Berlin satu persatu. Kaki itu sangat kaku!
Kretek
Kretek
Bunyi kaki yang meregang bebas, tidak jarang Berlin meringis kesakitan saat kedua kakinya digerakkan oleh Abdi. Abdi mengangkat Berlin perlahan berharap besar jika kaki Adiknya ini jangan sampai lumpuh.
"Aku tidak bisa berdiri Bang! Jangan lepaskan Aku," rengek Berlin.
Kata-kata itu seolah menusuk relung hati Abdi yang paling dalam, ia sudah mengira sebelumnya. Inilah yang Abdi takutkan! Kedua kaki itu kehilangan fungsinya, setelah sekian lama tidak dipergunakan dengan baik.
Dengan tetesan Air mata yang masih deras, Abdi membopong Adiknya ke kamar mandi. Di saat kami keluar berpapasan dengan Mbak Nengsi, ia hanya berdiam membatu menyaksikan kami yang sibuk berlalu lalang mengurusi Berlin.
Abdi mendudukkan Berlin di bangku, lalu menggunting seluruh pakaian yang sudah lusuh tidak nampak lagi warna aslinya. Menggunting seluruh rambut gimbalnya itu dan mempersilahkan Naura untuk membersihkan Berlin.
Naura menyirami Berlin dengan hati-hati, nampak dari reaksi Berlin saat di siram air. Ia bergidik terkejut ketakutan, tetapi ia tahan ... Naura membersihkan daki yang bertumpuk di tubuh Berlin dengan sangat lembut.
Namun, ada satu yang membuat Naura heran, mengapa tubuh Berlin penuh dengan luka memar? Naura pun sempat memberi tahu Abdi, Abdi hanya mengatakan. "Bersihkan dulu semuanya, urusan memar itu urusan nanti. Biar polisi yang bertindak."
Lalu Abdi pergi meninggalkan Naura dan Berlin berdua di kamar mandi.
Dengan tetap hati-hati Naura membersihkan seluruh penjuru tubuh Adik iparnya itu, membersihkan gigi, muka, rambut dan sampailah saat Naura ingin membersihkan daerah intim milik Berlin.
Berlin dengan sergap menghindari Naura, mendorong Naura dengan sangat kencang dan mengamuk sejadi-jadinya.
"Jangan Kak! Aku mohon! Kasihan anak-anakku. Aku tidak mau lagi untuk hamil! Tolong kak kasihani Aku!" teriak Berlin dengan sangat ketakutan ia merangkak ke ujung sudut kamar mandi.
Naura yang sangat bingung dengan kejadian itu, langsung mengambil ponsel dari dalam sakunya dan merekam keadaan yang terjadi saat ini.
"Aku janji tidak menyakiti mu," pancing Naura dengan layar ponsel yang masih merekam keadaan mereka.
"Bohong! Di mana anakku, Kak?" ucap Berlin terisak isak.
"Anak? Anak apa?"
"Anak kita kak. Tolong kembalikan!"
"Memang kamu tau aku siapa?" tanya Naura pelan.
"Tentu! Kak Bryan kan?" ucap Berlin dengan nada setengah berteriak.
Naura mengerutkan dahinya? Mengapa Berlin tidak mengenalinya saat ini? Apa jiwanya memang sudah terganggu?
Tetapi ... tunggu? Kak Bryan? Berarti selama ini Bryan pun menyetubuhi Adik tirinya sendiri?
Dengan perasaan yang tidak menentu, Naura hanya bergeming sendiri sembari tangan yang masih sibuk merekam.
"Aku Mbak Naura Dek, Istri dari Abangmu. Lihatlah Aku Dek, Aku ini perempuan," ucap Naura dengan melangkah perlahan mendekati Berlin.
Dan tiba-tiba saat Naura mendekatinya, Berlin memeluknya dengan sangat erat. "Kak Bryan mencuri Anakku Mbak!" bisik wanita yang kinit tubuhnya gemetar hebat dipelukan Naura.