Kini lajuan mobil itu terhenti tepat di pintu yang bertuliskan "Ruangan UGD" Pak Kiki berlari kencang mengarah ke sana.
Dengan keadaaan yang sangat panik Pak Kiki meneriaki semua perawat yang sedang bertugas, "Tolong! Tolong wanita ini, sepertinya ia keguguran." Pelupuk matanya memerah. Ntah mengapa pria berpakaian lengkap memakai seragam kerja itu sangat mengkhawatirkan Aqila.
Abdi hanya berdiri tegap tanpa perasaan, sesaat Naura ingin menghampiri Aqila untuk memberikan sedikit kata-kata semangat. Tetapi baru saja kaki itu melangkah, dengan sergap Abdi menarik lengannya. "Tidak Naura, jangan kesana. Mas nggak mau Aqila menyakitimu." Terlihat raut wajah Abdi yang sulit diartikan.
"Mas, Aku mohon," lirih Naura.
"Tolong ... Nau, Mas sangat mencintaimu," ucap Mas Abdi sembari meremas bahu Naura dengan sangat lembut.
Naura kini hanya menatap nanar mengarah pada Aqila, wanita penghibur rendahan yang dulu sangat ia benci. Lantas sekarang? Mengapa hatinya seolah lemah? Mengapa dirinya sangat mengkhawatirkan wanita itu? Apakah semua itu karna janin yang ia kandung? Naura menundukkan kepalanya pilu. "Apa kita kelewatan ya, Mas?" tanya Naura.
"Kita? Kamu nggak berbuat apa pun ... Nau, jika ada yang disalahkan ya diri Mas sendiri! Mas sudah menghamili orang yang salah. Sudahlah jangan dipikirkan lagi," sanggah Abdi.
Naura tidak habis fikir dengan semua keadaan ini, seolah sang ilahi sedang berbaik hati padanya. Wanita penghibur yang dulu Mas Abdi banggakan selalu ia bela, bahkan Mas Abdi dengan lancang ingin menikahinya! "Lantas sekarang, mengapa Mas Abdi ingin menyingkirkan Aqila demi Aku?"
Pikiran Naura saat ini penuh dengan pertanyaan tertuju pada Tuhannya.
Keadaan kembali hening dengan lampu paramnya rumah sakit, Abdi menarik pelan hordeng jendela ruangan itu. Mengintip penuh seksama. Dilihatnya lelaki paruh baya yang menggunakan seragam security, duduk di samping Aqila sembari menggenggam jemarinya.
Abdi menelan ludahnya kasar."Seharusnya Mas yang di sana, maafkan Mas Aqila. Memang sudah seharusnya begini kan? Mas nggak mau lagi menyakiti hati istri, Mas ...," gumam Abdi pelan sembari menatap Aqila dari kejauhan.
Benar kata Naura, wanita penghibur akan selalu menjadi wanita rendahan selamanya. Tidak akan pernah pantas jika disanding bersamaan dengan istri sah.
Abdi merunduk perlahan menutup gorden dan kini menatap Naura secara bergantian, terlintas sedikit penyesalan yang tiada habisnya. Ia melangkah menghampiri Naura lalu duduk berdampingan dengan dirinya.
"Nau ... mau ikut Mas nemuin Berlin nggak?" ucap Abdi dengan perasaan ragu.
"Apa? Mau nemuin Berlin? Adik Mas itu kan?" ulang Naura dengan pertanyaan yang menggebu.
Abdi menatap istrinya dengan kening yang berkerut heran, mengamati istrinya yang sedari tadi sedang duduk dengan kaki yang menyilang. Mengamati istrinya memandang tidak percaya. "Nau ... nggak takut? Berlin itu gila, Nau?!" tanya Mas Abdi.
"Terus kalo Berlin gila kenapa, Mas?" Naura balik bertanya dan menatap ke arah suaminya.
Abdi yang mendengar itu, berdiam sejenak. Lalu bangkit dengan menjulurkan tangannya ke arah Naura dan menggandeng lengannya menuju parkiran.
Mobil dilajukan dengan sangat kencang, kali ini Abdi bernekat ingin membawa Berlin kembali kepangkuannya. Setidaknya menebus tanggung jawabnya sebagai Abang yang dulu pernah hilang.
"Sekarang, Aku tidak boleh kalah dari mereka." Abdi menggerutu sendirinya.
Bip ....
Biipp ....
Dengan suara klakson yang cukup kencang, Mang Toha beranjak dari tidurnya untuk membukakan gerbang.
"Wah, Non ... sudah sembuh nih? Makin cantik aja," sapa Mang Toha sembari membuka pintu mobil untuk Naura.
"Siapa yang ada di dalam, Mang?" tanya Abdi
"Cuma ada Non Nengsi ... Den," sahut Mang Toha.
Tanpa jawaban apa pun, Abdi menarik lengan Naura untuk masuk ke dalam. Abdi menemui Mbak Nengsi yang tengah duduk menonton televisi. "Mbak, kunci kamar Berlin mana?" tanya Abdi dengan nada yang sedikit keras.
"Hah! Untuk apa? Jangan ah! Nanti Ibu marah!" ucap Nengsi tanpa perasaan sama sekali.
"Aku ingin membawa Adikku, Mbak! Itu saja!" ucap Abdi, sembari membongkar seluruh permukaan laci di dalam rumah itu! Namun nihil, tidak satu pun kunci yang cocok dengan kamar yang ditempati oleh Berlin.
"Mas, Nau rasa kuncinya bukan disini tapi disimpan dengan Mbak Nengsi."
"Heh! Kau Naura! Istri yang cacat yang sebentar lagi ingin diceraikan oleh Adikku, jangan berlaga sombong kamu di Rumah ini!" bentak Nengsi sembari menyantak Naura.
"Adik katamu? Sudahlah ... Mbak, sudah jelas yang berhak dan berlaga sombong di rumah ini adalah Aku. Bukan Mbak Nengsi! Mbak Nengsi kan hanya Saudara tiri, apa yang Mbak harapkan?" desis Naura yang sangat dendam atas perlakuan iparnya ini yang dulu pernah membuat Naura hampir gila karna perbuatannya.
"Cuih! Kau ya! Berani-beraninya ...." Nengsi meludah ke arah wanita yang ada di depannya itu, lalu dengan cepat mengarahkan telapak tangannya ke wajah Naura.
Namun ... belum sempat tangan itu mengenai wajah Naura, tangan itu segera ditepis oleh Abdi. "Jangan pernah berani menyakiti istriku! Meski hanya seujung jarimu! Aku nggak akan dengan segan mengusirmu dari sini!"
Mendengar ucapan suaminya, Naura hanya melempar senyuman sinis mengarah ke Nengsi. "Mas dobrak aja pintunya," titah Naura.
Abdi mengangguk tanda mengiyakan, kemudian melangkah ke arah pintu berwarna hitam di ujung ruangan bawah.
Brakh!
Dengan dorongan yang kuat oleh Abdi, pintu itu terbuka. Abdi tidak mampu menahan air mata dari pelupuk mata. Melihat Berlin terlentang lemah dengan kaki yang terpasung. Abdi melangkah cepat menghampiri Adiknya.
Naura yang baru saja datang menyusul Abdi dari belakang, terperanjak tidak percaya dengan apa yang ia saksikan saat ini. Berlin bukan hanya di pasung! Tetapi juga tersiksa baik mental mau pun fisik!
"Ini sih orang yang tadinya waras, bertahun-tahun di giniin juga bakalan gila!" Naura mengumpat di dalam hati.
Naura menyusuri ruangan itu dengan perlahan, ruangan itu lebih parah dari gudang. Bau yang sangat menyengat parah dan kotoran Berlin ... juga hewan berserakan di mana-mana.
Setelah itu bola mata Naura menatap pilu Adik iparnya, tubuh yang sangat kurus, rambut gimbal keatas dengan tubuh dipenuhi luka lebam.
Naura perlahan mendekati Berlin, dengan sangat ketakutan Berlin memeluk Abdi erat. Tubuhnya gemetar, bibirnya kering dan kaku untuk mengucap.
"Kenalin ini Mbak Naura ... Dek, Istri Mas ...," ucap Abdi sembari mempertemukan tangan Berlin dan tangan Naura.
"M-Mbak Na-Naura," panggil Berlin terbata-bata.
Naura tidak bisa menahan air matanya, Naura ikut hanyut dalam keharuan. Mengapa baru sekarang ia tahu bahwa selama ini Adik Mas Abdi terkurung dari balik kamar ini bertahun-tahun. "Pantas saja Ibu tidak pernah mengizinkanku untuk menimbrung di lantai bawah."
"Bodohnya Aku Tuhan! Satu Tahun lebih Aku hidup bersama mereka. Tidak sedikit pun diri ini menaruh curiganya padanya!" Naura meremas tangannya penuh dendam.