Wanita Kedua
Aku Rindu
Di ujung telepon, Dina menarik napas. “Mas, dia butuh waktu. Tapi... dia juga mulai goyah. Pelan-pelan aja, ya?”
“Dia sehat?” suara Damar terdengar seperti seseorang yang nyaris tenggelam dan berharap sebatang kayu terapung. Meski kecil, harapan itu timbul.
“Sehat. Ara juga sehat. Mereka aman. Tapi Mas Damr harus sabar.”
Damar menutup mata, lalu mengangguk meski tahu Dina tak melihat. “Terima kasih. Bilang ke dia... aku selalu menunggu. Di tempat mana pun. Kapan pun.”
Dina tak menjawab langsung. Tapi dalam diam, ia tahu—Tiara pasti akan dengar pesan itu. Dan mungkin, diam-diam, Tiara juga ingin kembali. Hanya saja... belum sekarang.
Esoknya, Tiara terbangun lebih awal dari biasanya. Udara masih dingin saat ia duduk di beranda rumah kecil itu. Ia menggelar sajadah dan bersujud dalam doa panjang, lebih lama dari malam-malam sebelumnya. Kali ini tak hanya air mata yang jatuh, tapi juga keyakinan yang mulai tumbuh pelan-pelan.
Saat matahari mulai merangkak naik, ia mengambil ponselnya dan menatap layar kosong. Lama. Hanya diam.
Kemudian, ia membuka chat Damar yang selama ini hanya dibaca tanpa balas. Jemarinya menari pelan di layar.
> “Ara baik. Aku juga. Terima kasih sudah tidak menyerah.”
Send.
Hanya satu kalimat. Tapi itu cukup membuat Damar, di tempat lain, memeluk ponselnya dengan mata basah dan hati yang kembali berdegup. Secercah harapan kembali timbul ke permukaan. Hatinya membuncah. "Aku rindu."
Fajar menyingsing, memercikkan jingga keemasan di ufuk timur. Tiara memandang deretan pegunungan yang tampak seperti lukisan, siluetnya berpadu dengan kabut tipis yang masih enggan beranjak. Kalimat singkat yang ia kirimkan pada Damar terasa seperti batu yang baru saja dilepaskan dari dadanya, ringan sekaligus membebani. Apakah ia terlalu cepat? Ataukah justru terlambat?
Suara gemerisik daun kelapa yang tertiup angin pagi mengisi keheningan. Tiara memutuskan untuk berjalan-jalan kecil di sekitar desa, menghirup udara pegunungan yang segar. Langkah kakinya membawanya menyusuri jalan setapak berbatu, melewati sawah terasering yang hijau membentang bagai permadani. Aroma tanah basah dan embun pagi menenangkan jiwanya yang bergejolak.
Saat melewati sebuah warung kopi sederhana, Tiara mendengar sayup-sayup obrolan dari dalam. Sesuatu tentang “wanita kota” dan “pria mencari” menggelitik telinganya. Jantungnya berdesir. Ia mempercepat langkah, mencoba mengabaikan rasa penasaran yang menusuk. Namun, takdir punya caranya sendiri.
Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah terlihat melaju pelan di jalan desa yang sempit. Sebuah pemandangan yang langka di pelosok seperti ini. Tiara merasakan firasat aneh. Semakin dekat mobil itu, semakin jelas ia melihat sosok di baliknya. Damar.
Napasnya tertahan di tenggorokan. Damar, dengan kemeja putih yang sedikit kusut dan wajah lelah, tampak sedang berbicara serius dengan seorang pria tua di pinggir jalan. Ada guratan cemas di wajahnya yang membuat hati Tiara teriris tipis. Ia ingin bersembunyi, menghindar. Tapi kakinya seolah terpaku di tempat.
Damar mendongak, pandangannya menyapu sekeliling, dan mata mereka bertemu. Dunia seolah berhenti berputar. Tatapan Damar yang awalnya kosong, kini dipenuhi keterkejutan, kelegaan, dan kerinduan yang membuncah. Ia melangkah cepat, seolah tak percaya pada apa yang dilihatnya.
“Tiara?” Suara Damar serak, nyaris tak terdengar, seolah takut jika ini hanya ilusi.
Tiara hanya bisa mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Enam purnama yang dilalui dengan rasa sakit, rindu, dan penyesalan, kini tumpah ruah dalam satu tatapan.
Damar berhenti beberapa langkah di depannya. Ia tampak ragu untuk mendekat, seolah takut Tiara akan lenyap jika ia bergerak terlalu cepat. “Kamu… di sini?”
“Aku… aku hanya butuh waktu,” ucap Tiara, suaranya bergetar.
Hening. Hanya suara alam yang menjadi saksi pertemuan mereka. Burung-burung berkicau riang, seolah ikut merayakan momen ini.
Damar akhirnya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangannya perlahan, seolah ingin menyentuh Tiara, namun ragu. “Aku mencarimu. Setiap hari. Aku… aku hampir gila.”
Tiara menunduk, tak sanggup membalas tatapan Damar yang penuh kepedihan. “Aku tahu. Dina memberitahuku.”
Mendengar nama Dina, Damar menghela napas lega. “Jadi, Dina tahu. Kenapa kamu nggak… kenapa kamu pergi begitu saja?”
“Aku terluka, Mas Damar. Sangat terluka,” Tiara mengangkat wajahnya, menatap Damar dengan mata berkaca-kaca. “Aku nggak sanggup lagi.”
Wajah Damar berubah muram. “Aku tahu. Aku salah. Aku minta maaf, Tiara. Aku menyesal setiap detik sejak kamu pergi. Aku nggak bisa tidur, makan, atau… bernapas dengan tenang tanpamu.”
Sebuah mobil lain mendekat dari arah yang sama dengan mobil Damar. Mobil itu berhenti tepat di belakang Damar. Dari dalamnya, seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi dan tatapan tajam keluar. Ia adalah Bi Sumi, pengasuh Damar sejak kecil, sekaligus orang kepercayaan keluarga Damar yang sangat setia. Di belakangnya, seorang pria muda berjas hitam ikut turun. Mereka tampaknya sedang mencari Damar.
Bi Sumi melangkah mendekat, pandangannya langsung tertuju pada Tiara, lalu beralih pada Damar dengan tatapan penuh pertanyaan. “Den Damar? Syukurlah akhirnya ketemu. Kami semua khawatir.”
Kehadiran Bi Sumi seolah memutus momen intim antara Damar dan Tiara. Damar terlihat sedikit terkejut, namun ia segera menguasai diri. “Bi Sumi? Ada apa?”
“Tuan Besar mencari Den Damar. Ada masalah mendesak di kantor. Dan… soal Nyonya Lela… ” ujar Bi Sumi dengan nada khawatir. Ia melirik Tiara sekilas, seolah mencoba memahami situasi.
Mendengar nama Lela, Tiara menegang. Jantungnya kembali berdetak tak karuan. Damar terdiam, ekspresinya sulit ditebak. Ia menatap Tiara, lalu pada Bi Sumi, seolah terjebak di antara dua dunia.
“Lela?” tanya Tiara pelan, mencoba menyembunyikan getaran dalam suaranya.
Damar menghela napas panjang. “Dia… " Mendadak tenggorokan Damar tercekat. "Ini bukan seperti yang kamu kira.”
“Bukan seperti yang aku kira?” Tiara menyeringai pahit. “Apa lagi yang harus aku kira, Mas Damar? Kau memilih dia, lalu kau meninggalkanku sendirian dengan semua kehancuran ini!” Nada suaranya meninggi, menarik perhatian beberapa warga yang kini mulai berbisik-bisik.
Bi Sumi memandang Tiara dengan ekspresi tidak suka. “Nona… ada baiknya kita bicara baik-baik, Den Damar. Situasinya tidak memungkinkan di sini.”
Damar mengabaikan Bi Sumi. Ia melangkah lebih dekat ke Tiara, meraih tangannya, namun Tiara segera menariknya. “Tiara, kumohon. Aku bisa jelaskan semuanya. Aku tidak pernah meninggalkanmu. Justru aku yang ditinggalkan, tanpa sepatah kata pun. Aku berhak tahu kenapa kamu pergi.”
“Aku pergi karena aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan!” Tiara berteriak, air mata kini membasahi pipinya. Wajah Damar sampai terlihat samar dan berbayang karena air mata itu.
“Aku ingin kau tahu bagaimana rasanya dicampakkan! Bagaimana rasanya hati ini hancur!”