Wanita Kedua
Aku Butuh Waktu
Dina menatapnya lekat-lekat. “Tapi kamu juga nggak bisa terus-terusan begini. Kabur dari masalah bukan solusi. Apalagi Damar bukan orang jahat. Dia suamimu, Tiara. Dan dia pasti panik sekarang.”
Tiara meneguk tehnya, berusaha menenangkan degup jantungnya. “Aku butuh waktu. Bukan karena aku benci Damar... tapi karena aku takut. Takut kalau aku kembali dan ternyata... aku cuma pelarian lagi setelah Lela pergi.”
Dina diam. Ia tahu Tiara tak berkata sembarangan. Kalimat itu lahir dari luka yang dalam. Luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan permintaan maaf atau kata-kata manis.
"Aku ingin jadi istri yang dicintai... bukan yang ditoleransi karena keadaan."
"Aku tahu." Dina menggenggam tangan Tiara. "Tapi kamu juga harus kasih dia kesempatan buat menjelaskan."
Tiara menatap sahabatnya. "Dan kalau ternyata dia nggak pernah bisa mencintaiku sepenuhnya?"
Dina menghela napas, lalu berkata dengan nada pelan tapi tegas, "Kalau kamu nggak pernah kasih dia kesempatan, kamu juga nggak akan pernah tahu jawabannya."
Tiara terdiam. Kata-kata Dina perlahan menembus dinding ketakutan yang ia bangun. Ia memalingkan wajahnya, menatap langit yang mulai berwarna oranye kemerahan. Seolah semesta pun tahu hatinya sedang berperang.
---
Di sisi lain kota, Damar duduk di balik kemudi mobilnya yang diparkir di pinggir jalan. Tangannya masih memegang ponsel yang menampilkan foto Tiara dan Putri kecil mereka. Tangisnya tak lagi deras, tapi sisa sesaknya belum pergi.
Ia memutar nomor Tiara sekali lagi. Tetap tak aktif. Lalu jemarinya membuka galeri, menatap foto-foto lama—saat Tiara tertawa, saat Tiara menyuapi Putri, saat mereka berdua duduk beralaskan tikar di halaman rumah.
"Aku nggak akan berhenti nyari kamu, Sayang," bisiknya lirih. "Mau kamu sejauh apapun, aku akan tetap cari. Karena kehilangan kamu... itu lebih menakutkan daripada kehilangan apapun dalam hidupku."
Mobil pun melaju perlahan, menuju tempat yang bahkan Damar sendiri belum tahu pasti. Tapi ada satu hal yang jelas—ia tak akan menyerah sampai Tiara kembali ke sisinya.
Dan di rumah kecil itu, Tiara memejamkan mata sambil memeluk Putri. Dalam hatinya, ia mulai merasa—bahwa mungkin, waktunya untuk pulang tak lagi terlalu jauh.
Malam datang dengan sunyi yang menyesakkan. Di rumah kecil yang hanya diterangi lampu gantung temaram, Tiara masih belum juga bisa memejamkan mata. Putri semata wayangnya sudah tidur sejak dua jam lalu, tapi gelisah dalam dada sang ibu terus bergejolak.
Sudah hampir enam purnama ia pergi dari rumah. Meninggalkan semua kenangan buruk yang membuatnya memutuskan untuk menghilang dari kehidupan suaminya. Hingga saat ini tak ada sedikit pun kabar dari rumah. Bahkan Tiara yakin suaminya kini sedang sibuk mengurusi istri satunya. Mengingat wanita yang mengaku bernama Lela itu sedang sakit parah, Tiara meyakini lelaki yang pernah membuatnya seperti dicintai dengan sangat itu mencarinya hanya karena rasa bersalah dan takut kehilangan. Kehilangan cinta dan wanita yang memujanya.
Tiara duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Tubuhnya bersandar pada dinding, dan pandangannya menerawang ke jendela yang tak tertutup rapat. Di luar sana, suara jangkrik bersahutan, menyelimuti malam dengan irama alam yang menyayat hening.
Dina masuk pelan, membawa secangkir susu hangat. Menyodorkan pada Tiara lalu duduk di tepi ranjang.
"Minum dulu, sebelum masuk angin," ucapnya lembut, meletakkan cangkir itu di meja kecil dekat ranjang. Dina tahu sahabatnya ini sedang merasa tidak nyaman. Dialah saksi hidup perjalanan cinta Tiara.
Tiara hanya menoleh sejenak, lalu kembali menatap keluar. "Aku ngerasa bersalah, Din."
Dina pindah duduk di lantai, menyandarkan diri pada kasur sambil mendongak menatap sahabatnya. “Kamu pergi karena luka. Bukan karena niat jahat.”
Tiara menggeleng pelan. "Tapi aku nggak pamit. Aku ninggalin dia dalam keadaan bingung dan tanpa penjelasan. Dan... mungkin dia juga butuh aku saat itu."
Dina menghela napas, lalu menyandarkan kepala ke ranjang. "Dan kamu butuh dia jauh sebelum itu, Tiara. Tapi dia nggak ada. Kalau sekarang kamu mulai merasa bersalah... mungkin tandanya kamu sudah mulai memaafkan."
"Dia sudah melukaiku begitu dalam. Dengan begini, dia akan berpikir ulang untuk menyakiti wanita lain lagi. Dia hanya mementingkan kepuasan dan kesenangan diri sendiri tanpa memikirkan aku. Hatiku. Juga anakku," ucap Tiara menggebu.
Hening. Suara jarum jam berdetik pelan seolah ikut mengiringi pergulatan batin Tiara. Perkataan Dina benar. Tapi ucapan guru spiritualnya juga benar.
“Aku takut,” gumam Tiara akhirnya. “Kalau aku pulang dan ternyata... dia baik hanya karena rasa bersalah. Bukan cinta.”
Dina menoleh cepat. “Kalau cuma rasa bersalah, Damar nggak bakal segila itu nyari kamu. Tiara, dia nelpon aku tiga kali hari ini. Nanya kamu. Aku nggak angkat.”
Tiara memutar wajah, mata membulat. “Kamu—kenapa nggak angkat, Din?”
“Aku takut dia bisa lacak lokasi kita. Kamu belum siap.” Rahasia ini hanya Dina yang tahu. Selama ini dia tidak memberi tahu Tiara kalau Damar selalu mencoba untuk menghubungi nomor ponselnya.
Tiara mengatup bibirnya. Ada rasa sesak yang tak bisa dia jelaskan. Rasa ingin tahu, rindu, tapi juga takut. Takut jika harapannya tak bersambut. Takut ia kembali sakit karena terlalu berharap.
“Aku harus ngomong sama dia. Tapi nanti. Bukan sekarang.”
Dina mengangguk. “Aku nggak akan maksa. Tapi janji ya, jangan tutup pintu terlalu rapat. Setidaknya... kasih dia ruang buat mengetuk.”
Dina kembali berdiri. "Kalian berdua butuh bicara dari hati ke hati untuk menemukan solusi. Jika kamu terus lari, masalah tak akan pernah selesai. Hatimu akan terus terkungkung rasa sakit dan bersalah bersamaan."
---
Sementara itu, di tempat lain, Damar menatap layar laptopnya yang terbuka di depan mata, namun isi pikirannya jauh dari pekerjaan yang harus diselesaikan.
Di tangannya, selembar foto keluarganya hampir kusut karena terlalu sering ia genggam. Wajah Tiara yang tertawa lepas di foto itu menghantam dadanya berkali-kali. Ia mengingat saat foto itu diambil—di taman belakang rumah, hanya sepekan setelah Putrinya-Ara-belajar berjalan. Tiara tertawa sambil mengejar si kecil yang pincang-pincang melangkah di rumput.
Waktu itu ia hanya memotret sambil tersenyum. Tak menyangka bahwa momen sesederhana itu akan menjadi harta paling berharga ketika semua telah pergi.
“Gue bego,” gumamnya lirih. “Gue terlalu sibuk jaga yang akan pergi... sampai lupa jaga yang tetap ingin tinggal.”
Telepon genggamnya berdering. Nama ‘Dina’ tertera jelas di layar. Detik itu juga jantung Damar berdetak tak beraturan. Tangannya bergetar saat menekan tombol hijau.
"Tiara?" suaranya serak, nyaris putus.
“Halo, Mas.”
Damar langsung berdiri dari duduknya. “Dina, kamu tahu di mana Tiara, kan? Tolong... kasih tahu dia. Aku cuma mau bicara. Sekali saja. Aku janji nggak akan maksa kalau dia belum siap balik.”