Wanita Kedua
Kembali Ditinggalkan
Ekspresi Damar berubah menjadi kepedihan yang mendalam. “Dan kamu pikir itu akan menyelesaikan semuanya? Kamu pikir aku tidak merasakan sakit selama ini? Aku sudah mencari ke mana-mana, Tiara. Aku pikir kamu… kamu tidak akan pernah kembali.”
Ponsel Damar berdering nyaring. Ia melirik layar, nama “Papa” tertera di sana. Wajahnya menunjukkan dilema.
“Den Damar, ini sangat penting. Tuan Besar mendesak,” desak Bi Sumi, menatap tajam pada Tiara.
Tiara melihat tatapan Bi Sumi, tatapan yang menyiratkan bahwa dirinya adalah penghalang. Sebuah perasaan lama, perasaan tidak diinginkan, kembali menyelimuti hatinya. Padahal dulu, Bi Sumi adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya.
Damar menatap Tiara, lalu ponselnya, lalu ke arah Bi Sumi. “Aku… aku akan kembali ke Jakarta sekarang. Aku akan menjelaskan semuanya padamu, Tiara. Tapi tidak di sini. Temui aku. Kumohon.”
“Untuk apa? Untuk melihatmu kembali pada wanita itu?” Tiara memalingkan wajah, hatinya kembali diselimuti amarah dan keraguan.
“Tidak! Bukan seperti itu! Ini tentang… tentang sesuatu yang lebih besar dari yang kamu bayangkan,” Damar mencoba meraih tangan Tiara lagi, namun kali ini Tiara mundur selangkah.
“Kamu punya pilihan, Mas Damar. Antara dia… atau aku,” ucap Tiara dengan suara bergetar, namun penuh ketegasan.
Damar terdiam. Matanya menatap Tiara dengan putus asa. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata tak mampu keluar dari bibirnya.
“Den Damar, kita harus segera pergi!” Bi Sumi kembali mendesak, suaranya kini lebih tegas.
Damar memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengambil keputusan berat. Ia membuka matanya, menatap Tiara sekali lagi dengan tatapan penuh kerinduan dan keputusasaan. “Aku… aku harus pergi sekarang. Tapi aku akan kembali. Aku janji. Jangan pernah berpikir aku menyerah padamu, Tiara.”
Tanpa menunggu jawaban Tiara, Damar berbalik, masuk ke dalam mobilnya. Pria berjas hitam itu juga masuk ke mobil lain. Bi Sumi menatap Tiara dengan tatapan dingin sebelum akhirnya masuk ke mobil Damar. Mobil-mobil itu berbalik arah dan melaju pergi, meninggalkan Tiara sendirian di jalan setapak, dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Tiara jatuh terduduk di pinggir jalan, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Harapan yang sempat tumbuh, kini kembali layu. Apakah Damar benar-benar akan kembali? Atau ini hanya janjinya untuk pergi, lagi? Langit biru pagi yang cerah kini terasa kelabu, seolah ikut merasakan kesedihan yang mencekik. Tiara hanya bisa memeluk lututnya, merasa kembali pada titik nol, kebingungan dan rasa sakit yang sama seperti enam bulan lalu.
Dunia Tiara kembali hancur berkeping-keping. Pemandangan pegunungan yang tadinya menenangkan kini terasa mengejek. Ia merasakan kebodohan yang menyakitkan. Bagaimana bisa ia sebodoh itu, kembali menumbuhkan harapan pada janji yang diucapkan tergesa-gesa di tengah jalan? Kata-kata Damar, "Aku akan kembali," terasa kosong dan hampa, sama seperti mobilnya yang kini hanya menyisakan debu.
Tiara bangkit perlahan, kakinya terasa berat seperti dibebani timah. Ia tidak bisa tinggal di sini, menunggu janji yang mungkin tidak akan pernah ditepati. Kebingungan dan rasa sakit yang sama persis seperti enam bulan lalu kembali menyelimuti dirinya. Hatinya menuntut kejelasan, namun akalnya menyuruhnya lari. Kali ini, ia memilih untuk menghadapinya. Jika Damar memilih Lela, ia akan menerima kenyataan itu. Jika tidak, ia akan menuntut penjelasan yang sesungguhnya. Ia akan kembali ke Jakarta.
Di saat yang sama, Damar duduk gelisah di kursi belakang mobilnya, menelepon berkali-kali namun tidak ada jawaban. Wajahnya yang tegang dipenuhi kekhawatiran. Bi Sumi menatapnya dari kursi depan dengan cemas.
"Den Damar, sebaiknya Den Damar fokus. Tuan Besar sedang menunggu," ucap Bi Sumi, suaranya mengandung nada peringatan.
"Aku tidak bisa, Bi! Aku tidak bisa berhenti memikirkan Tiara," jawab Damar frustrasi. Ia mengusap wajahnya kasar. "Aku bahkan tidak sempat meminta nomor teleponnya atau alamat yang jelas. Bagaimana kalau dia menghilang lagi?"
Bi Sumi menghela napas. "Nona Tiara itu… dia orang yang kuat. Dia pasti baik-baik saja." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada dingin, "Bukan Nona Tiara yang harus Den Damar khawatirkan sekarang. Tapi pemindahan aset dan penyerahan jabatan Presdir dari perusahaan yang Tuan besar bangun akan dipindahkan pada sepupu Den Damar yang urakan itu."
Damar memejamkan mata. Seolah-olah nama itu adalah pintu menuju labirin masalah. "Bi Sumi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Papa sampai menelepon berkali-kali?"
"Den Damar akan tahu saat sampai di rumah. Lebih baik Tuan Besar yang menjelaskannya sendiri." Bi Sumi tahu persis seberapa serius masalah ini. Ia juga melihat bagaimana Reno, sepupu Damar selalu berusaha merebut perhatian dan kekayaan Tuan Besar, dan sekarang situasinya benar-benar di luar kendali.
Mobil mereka melaju di jalan tol menuju Jakarta. Setiap kilometer yang mereka tempuh terasa seperti menjauhkan Damar dari Tiara, dari kejelasan yang ia inginkan.
Sore itu, Jakarta menyambut Tiara dengan kemacetan yang pekat dan udara yang terasa sesak. Ia berhasil kembali ke kota dengan menumpang bus, berbekal uang yang tidak seberapa. Ia menuju rumah Dina, satu-satunya tempat yang bisa memberinya perlindungan. Dina terkejut melihatnya, namun dengan cepat ia memeluk Tiara.
"Tiara! Kenapa kamu kembali? Ada apa? Apa Damar..." ucapan Dina terhenti melihat mata Tiara yang sembab.
"Aku menemuinya, Din," bisik Tiara, suaranya parau. "Dia janji akan kembali. Tapi aku tidak bisa hanya menunggu. Aku butuh kepastian. Dia bilang ada masalah mendesak di kantor dan… tentang Lela."
Dina menatapnya, ada sorot iba dan khawatir di matanya. "Lela... Aku pikir wanita itu sudah ridlo padamu. Terakhir kali saat kamu pergi, dia yang menyuruh Damar untuk mencarimu. Dia juga yang meminta Damar untuk membawamu dan Ara kembali."
"Tidak mungkin!" ucap Tiara.
Dina tampak ragu, namun melihat tatapan Tiara yang menuntut, ia akhirnya menyerah. "Lela itu… dia bukan orang baru. Dia adalah anak dari teman baik keluarga Damar. Sejak kecil, mereka selalu berusaha menjodohkan Damar dengannya. Nyonya Lela, ibunya Lela, adalah wanita yang ambisius dan sangat menginginkan posisi menantu di keluarga Damar. Tapi setahun setelah mereka menikah, orang tua Lela meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dan Lela... divonis kanker ovarium stadium 4. Karena dia tidak bisa memberikan keturunan, ibunya Damar mengatur pertemuanmu dengan Damar."
Jantung Tiara berdebar. "Jadi... pernikahanku dengan Mas Damar itu settingan?"
Dina mengangguk. "Ya, karena keluarga Damar butuh pewaris. Itulah sebabnya keluarga Damar menyembunyikan pernikahan pertama Damar dengan Lela darimu agar kamu tidak lari."
"Aku harus gimana sekarang, Din?," tanya Tiara. "Kamu tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku. Aku seperti orang bodoh yang dijadikan boneka oleh Mas Damar. Aku harus pergi. Aku tidak mau lagi jadi boneka."
Dina menghela napas, menyerah pada keras kepalanya Tiara. "Baiklah. Aku akan mencoba mencari informasi. Aku punya koneksi di kantor Damar. Kita akan tahu apa yang terjadi. Sampai semuanya jelas, kamu jangan menyerah dulu."
Damar tiba di mansion keluarga di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Rumah itu terasa asing, dingin, dan dipenuhi ketegangan. Ayahnya, Tuan Hardian, menunggu di ruang kerja. Tuan Hardian adalah seorang pengusaha sukses yang disegani, namun tatapannya kini memancarkan amarah dan kekecewaan.
"Dari mana saja kamu, Damar?" suaranya menggelegar. "Semua orang panik mencarimu! Perusahaan sedang dalam masalah, dan ka
mu malah menghilang begitu saja!"