Wanita Kedua

Penyesalan

Damar menyugar rambutnya dengan kasar. Lalu berbalik badan sembari berkacang pinggang. Pikirannya kalut karena takut kehilangan istri dan anaknya. Dia sudah kehilangan Lela untuk selamanya dan tak ingin kehilangan Tiara dan anaknya. 

 Penyesalan bergulung-gulung dalam hatinya. Kenapa dia tidak memberi kabar sama sekali pada Tiara saat menjaga Lela. Bahkan dia juga tenang-tenang saja saat ibunya telepon dan mengatakan Tiara tidak di rumah. 

 "Bik, apa Tiara tidak bilang mau pergi ke mana?"

 "Tidak, Tuan. Nyonya hanya bilang mau liburan bersama Non Ara dan meminta saya untuk tidak menghubunginya apapun yang terjadi kalau beliau tidak menghubungi duluan," jawab bibik lirih. 

 "Kapan perginya, Bik?" 

 "Satu hari setelah Tuan pergi dan nggak pulang-pulang."

 Damar menghentak tangannya dan duduk dengan kasar di sofa yang ada di belakangnya. 

 "Itu artinya dia sudah merencanakan kepergiannya. Tiara, kenapa kamu tega meninggalkanku seorang diri, Sayang? Aku nggak bisa hidup tanpamu," lirih Damar sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. 

 Tanpa sadar air mata pria itu menetes. Dia sudah kehilangan sosok yang selama ini selalu mensupport hingga bisa mencapai kesuksesan seperti sekarang. Dan kini ia harus kehilangan pula sosok yang memberi warna dalam hidupnya. Sosok yang mampu memberinya buah hati. 

 "Bik, tolong telepon Tiara!" perintah Damar tanpa menatap wanita paruh baya itu. 

 "Baik, Tuan." Bibik langsung mengambil ponselnya yang terletak di kamar. 

 Beberapa menit kemudian dia kembali ke ruang tengah sembari membawa ponsel yang masih menyala. Lalu menunjukkan pada Damar kalau panggilannya sama sekali tidak terhubung.

 "Nomornya tidak aktif, Tuan."

 Hembusan nafas kasar terdengar dari mulut Damar. Disaat ia hampir putus asa, tiba-tiba teringat ibunya. 

 "Mama! Pasti Mama yang sudah menyembunyikan Tiara!" Reflek Damar berdiri setelah memikirkan kemungkinan besar mamanya yang menjadi dalang di balik hilangnya Tiara. Karena dari awal mamanyalah yang bersikeras memintanya untuk memilih Tiara dan menceraikan Lela. 

 Tanpa mandi atau ganti baju terlebih dahulu, Damar pergi lagi. Tujuan utamanya adalah rumah mamanya. 

 Karena tidak sabar untuk segera mengetahui kabar Tiara, Damar mencoba menghubungi mamanya sambil menyetir. Namun sayangnya sang mama tidak mengangkat panggilannya. Damar tak tahu kalau wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini sedang marah pada dirinya. 

 Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sang mama. Selain karena jarak yang tidak terlalu jauh, kondisi jalanan cukup lengang karena bukan jam pulang kerja. Sehingga perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu 1 jam hanya membutuhkan waktu 20 menit saja untuk sampai. Tentu saja dengan kecepatan yang lumayan tinggi mengingat jalanan cukup sepi. 

 Sesampainya di rumah orang tuanya, Damar langsung berlari masuk. Di rumah tamu tampak sepi. Lalu ia masuk ke ruang tengah. Namun di ruangan itu pun sepi. Saat dirinya hendak naik ke kamar sang mama, tiba-tiba suara wanita yang dicarinya terdengar dari arah belakang. 

 "Mimpi apa putraku datang," ujar wanita yang masih terlihat cantik dan modis di usianya yang tak lagi muda itu.

 Damar langsung membalikkan badan hingga posisinya kini saling berhadapan. 

 "Di mana Mama menyembunyikan Tiara, Ma?" todong Damar tanpa basa-basi. 

 Wanita yang dipanggil "Mama" oleh Damar itu langsung tersenyum sinis. 

 "Baru tahu kalau Tiara benar-benar pergi meninggakkanmu? Bagaimana rasanya? Bukankah dari dulu aku sudah memperingatkan kamu untuk segera menceraikan Lela sebelum Tiara tahu kebenarannya? Tapi kamu malah ngeyel. Dan sekarang apa yang kamu dapatkan, hah? Tak ada satupun yang tersisa!"

 "Ma, aku ke sini bukan untuk berdebat dengan Mama. Aku hanya ingin tahu di mana Mama menyembunyikan Tiara?"

 Wina menatap putranya dengan senyum sinis. Dalam hati ia menertawakan putranya itu yang begitu frustasi kehilangan Tiara. Namun tak ayal dia juga berpikir, kemana kira-kira menantu kesayangannya itu pergi? 

 "Mama tidak tahu ke mana dia pergi."

 "Bohong! Pasti Mama sengaja kan menyembunyikan Tiara dariku? Tolong, Ma katakan di mana dia?"

 Wina tertawa sumbang. Rasanya sangat puas melihat putranya kehilangan Tiara. Wanita baik yang rela meninggalkan puncak karirnya demi menikah dengan Damar. 

 "Baiklah. Kalau tidak percaya. Emangnya kalau mama sembunyikan, kamu mau apa, hah? Bukankah kamu sudah menentukan untuk tetap mempertahankan wanita penyakitan itu?" 

 "Ma, Lela sudah tiada, Ma. Tolong jangan sebut dia dengan panggilan kejam itu," lirih Damar. 

 "Terserah! Kamu cari sendiri saja di aman Tiara berada sekarang. Mama mau pergi!" 

 Setelah mengatakan itu Wina pergi meninggalkan Damar seorang diri dalam keterpakuan. 

 "Di mana kamu, Sayang? Please, kembalilah."

 Damar menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan perasaan hancur. Tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut di punggungnya. Spontan bibirnya tersenyum, lalu menoleh ke belakang.

 "Sayang?"

Namun bukan wajah Tiara yang menyambut pandangannya.

 Damar tercekat. Yang menatapnya dengan mata penuh iba adalah Rani—keponakannya yang sejak tadi membantu Wina beres-beres halaman belakang.

 "Om... nggak apa-apa?" Rani bertanya pelan, setengah ragu. Ia menggigit bibir bawah, tak tahu harus ikut bicara atau membiarkan sang paman dengan kesedihannya sendiri.

 Damar buru-buru menyeka air matanya. Wajahnya memerah, bukan hanya karena amarah dan frustasi, tapi juga malu. “Om nggak papa,” ujarnya cepat, lalu berdiri, menepis debu di celananya.

 Rani menunduk, lalu berkata pelan, “Om cari Tante Tiara, ya?”

 Damar hanya menatap gadis itu. Pandangan matanya sayu, penuh tanya yang tak terjawab. “Kamu tahu di mana dia?”

 Rani menggeleng cepat. “Nggak tahu pasti, Om. Tapi waktu terakhir Tante ke sini, dia sempat ngobrol lama sama Mama di gazebo belakang. Setelah itu... Tante pamit pergi, sendiri.”

 Damar mengerutkan alis. "Sendiri?"

 Rani mengangguk. “Iya. Kayaknya Tante bawa mobil sendiri, sambil gendong Ara.”

 Damar berpikir keras. Ia bahkan tak tahu Tiara membawa mobil yang mana. Semua kunci ia simpan. Atau... mungkinkah Tiara menyuruh Dina menjemputnya? Atau dia punya salinan kunci yang selama ini tak ia ketahui?

 "Om, Tante itu kelihatan capek banget waktu itu. Tapi dia senyum terus. Kayak... mau pamit selamanya," gumam Rani, pelan sekali.

 Kata-kata Rani mengiris dada Damar. Senyum pamit selamanya. Kalimat itu menusuk lebih dalam dari pisau manapun. Ia menoleh ke arah gazebo yang disebut Rani. Tak ada siapa pun di sana kini, hanya kenangan samar yang berserakan.

 ---

 Sementara itu, di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi kebun kecil penuh bunga, Tiara duduk di beranda dengan secangkir teh hangat. Matanya menatap jauh, kosong. Putri kecilnya tidur lelap dalam ayunan kain yang digantungkan di tiang kayu.

 Angin sore menerpa lembut wajahnya. Helaan napasnya berat, seperti ada beban yang tak kunjung pergi dari dadanya.

 "Tia, kamu yakin nggak mau pulang?" suara Dina memecah keheningan. Sahabatnya itu duduk di kursi sebelah, memeluk lutut sambil menatap Tiara penuh kecemasan.

 Tiara menunduk. “Aku... belum siap, Din.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!