Wanita Kedua

Rasa Bersalah

Kiara membuang nafasnya perlahan seolah ingin membuang semua beban yang menghimpit dadanya. Tatapannya beralih ke arah kakinya seolah itu jauh lebih menarik dari pandangan taman di sekitar ia duduk.

"Aku ... pergi dari rumah, Mbak," lirih Kiara. 

Kedua mata Rania membola. Dugaannya benar kalau Tiara sedang menyimpan masalah. Dari awal dia bertemu, dari raut wajahnya sudah sangat kentara kalau Tiara menyimpan beban dalam hidupnya. 

"Kalau tidak keberatan, ceritalah. Siapa tahu saya bisa membantu memberi saran. Kalau saya tidak mampu nanti saya tanyakan suami saya. Kebetulan suami saya lumayan paham agama, jadi insyaallah bisa membantu menyarankan dari sisi agama."

Dua bulir kristal bening menetes tanpa bisa dicegah. Tiara meremas jemarinya sendiri untuk mengurai sesak yang tiba-tiba melanda. Lalu tatapan matanya beralih pada Ara yang sedang bermain. 

"Tiga tahun usia pernikahan kami. Aku bersyukur memiliki suami yang perhatian, bertanggung jawab dan penyayang. Suamiku tampak sangat sempurna di mataku sampai akhirnya aku tahu kalau ternyata ... dia memiliki wanita lain di belakangku."

Tiara tak mampu lagi membendung air matanya yang saling berdesakan keluar. bahunya terguncang dan lama-kelamaan Isak tangis lolos begitu saja. Rania mendekat lalu meraih tubuh Tiara untuk dia peluk. Diberinya kekuatan agar wanita yang memiliki satu anak itu tidak merasa sendirian.

Cerita tentang alasan Tiara memilih pergi pun mengalir hingga Rania bisa mengambil kesimpulan dari cerita sahabat barunya itu. 

"Aku tahu bagaimana perasaanmu, Ra. Boleh kan aku panggil kamu tanpa embel-embel mbak? Sepertinya kamu lebih muda dariku."

Tiara mengangguk. 

"Islam tidak melarang poligami. Apalagi kamu sendiri juga tahu kalau madumu sedang sakit dan bahkan divonis tidak akan lama lagi ya walaupun hidup dan mati tetap di tangan Allah. Dia saja begitu ikhlas melepas suami kalian dan memintmu untuk tidak pergi."

"Justru itu, Mbak. Aku jadi merasa sangat berdosa karena sempat egois dan ingin meminta mas Damar memilih salah satu di antara kami. Tapi setelah bertemu dan berbicara dengannya, aku merasa dzolim. Akhirnya aku memilih mundur agar mas Damar fokus pada istrinya yang lain. Aku sangat mencintai mas Damar, Mbak. Aku ... tak ingin dia menghadap Allah di hari kiamat kelak dengan pundak miring karena tidak bisa adil. Jadi kupikir lebih baik aku mundur saja."

"Tapi caramu ini justru menghancurkan dirimu sendiri, Ra."

"Maksudnya, Mbak?" Kiara menatap Tania bingung.

"Bagaimanapun statusmu saat ini masih seorang istri kan?" Tiara mengangguk.

"Malaikat melaknat wanita yang pergi tanpa izin suaminya." 

Deg.

Ucapan Tania terus terngiang-ngiang di kepala Tiara. Wanita itu tak bisa mengabaikan kalimat yang sederhana tapi sangat mengerikan jika dipahami dengan benar. Ya, dia terlalu gegabah dengan pergi tanpa pamit. Ia yakin saat ini suami dan mertuanya pasti sudah sadar kalau dirinya pergi. 

 "Tapi ... kalau memang Mas Damar sudah menyadari kalau aku pergi, kenapa tidak ada usaha untuk mencariku? Apa dia terlalu sibuk dengan istrinya sampai tidak butuh aku? Ah, bukankah aku sendiri yang memilih untuk mundur?" Tiara berperang dengan batinnya sendiri. 

 Satu sisi dia kasihan pada madunya dan bertekad untuk tidak kembali ke rumah, tapi di sisi lain dia takut dosa karena pergi tanpa pamit. 

 Perlahan wanita yang baru memiliki satu buah hati itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan wajah yang segar karena terkena air wudhu. 

 Selanjutnya Tiara menggelar sajadah dan menunaikan qiyamul lail dengan khusyuk. Mohon petunjuk kepada Allah agar diberikan jalan yang benar dalam memutuskan urusan ini. 

 Tiara mengadukan semua masalahnya pada sang khalik dengan darah air mata. Selesai menunaikan salat wanita itu kembali berbaring sambil memeluk Putri kecilnya yang terlelap. Hanya dengan posisi seperti inilah Tiara merasakan ketenangan yang luar biasa. Karena dia merasa hanya buah hatinya yang bisa membuatnya tetap tenang dan terus berjuang. 

 Sementara itu di kota lain pada siang hari, Damar baru saja pulang ke rumah yang ia tinggali bersama Tiara. Sengaja dia tidak memberi kabar pada Tiara bahwa Lela sudah meninggal dunia agar istrinya itu memiliki banyak waktu untuk merenung. 

 Baru saja kakinya menapaki rumah pria tampan dengan wajah lembut itu merasakan ada sesuatu yang berbeda. Rumah terlihat sangat sepi dan tidak terdengar suara buah hatinya yang selalu menyambutnya. 

 "Tuan sudah pulang?" tanya bibik yang mengurus rumah. Lalu mengambil koper kecil yang diseret sang majikan. 

 "Kenapa sepi sekali, Bik. Kemana Istri dan anakku?" tanya Damar heran. 

 Tanpa menunggu jawaban dari bibik pria itu langsung mencari sang istri ke kamarnya. Ya masih berpikir positif kalau sang istri mungkin sedang tidur siang bersama buah hatinya. Dengan sangat hati-hati Damar membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Namun ia mendapati ranjang dalam keadaan kosong, bersih dan rapi seperti tidak pernah digunakan sama sekali. Namun ia masih berprasangka baik kalau sprei baru saja diganti. 

 Kemudian Damar berjalan menuju ke arah lemari untuk mengecek apakah ada barang sang istri yang berkurang. Namun saat melangkah, tanpa sengaja ekor matanya melirik ke arah meja rias yang kosong. Tak ada skin care milik istrinya yang biasa berjajar rapi di sana. 

 Perasaan Damar semakin tak nyaman ketika membuka lemari dan separuh lebih pakaian Kiara tidak ada di sana. Jantung pria itu berdetak cepat ketika membuka laci berisi perhiasan milik sang istri juga kosong. Lalu membuka laci di bawahnya dan ternyata buku nikah mereka juga hilang.

 Seketika wajah Damar berubah pias. Tubuhnya seperti tak bertulang hingga membuatnya terhuyung ke belakang. 

 "Tidak, ini tidak mungkin. Tiaraku tidak mungkin pergi," lirihnya dengan kepala menggeleng tak percaya. 

 Lelaki itu mencoba untuk mencari pegangan agar tidak limbung. Belum kering sakit akibat ditinggal Lela untuk selamanya dan kini kenyataan kembali membuatnya semakin sakit. Istrinya yang satu juga pergi meninggakkan dirinya.

 Beberapa saat Damar mengumpulkan kembali kekuatannya yang sempat hilang. Lalu berlari ke lantai bawah dan bertanya kepada bibik.

 "Bik, dimana Tiara?"

 Bibik yang sedang membawa minuman langsung menunduk. Dia sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada majikannya ini. Tapi melihat sang majikan begitu panik, rasanya juga tidak tega. 

 "Bik, kenapa diam saja? Dimana Tiara dan anak kami?" Tanpa sadar Damar membentak wanita yang ada di hadapannya. 

 Bibik semakin menunduk. Tubuhnya gemetar karena mendengar suara lantang Damar. Selama bekerja di sini, Damar belum pernah sekalipun membentaknya. Namun meski begitu ia tahu saat ini sang majikan tengah panik dan takut kehilangan istrinya. Wanita yang beberapa waktu terakhir tampak kecewa dan menderita akibat ulah suaminya. 

 "Ma-maaf, Tuan. Bibik nggak tahu," jawabnya dengan suara bergetar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!