Wanita Kedua

Kritis

Damar spontan berdiri. Menghadang salah satu perawat yang ikut berlari. 

"Suster, ada apa?" tanya Damar cemas. 

Tak bisa dipungkiri, hati Damar disapu badai kecemasan. Di dalam ruang ICU hanya ada 2 pasien dan salah satunya Lela. Meski demikian ia berharap bukan istrinya yang saat ini sedang dalam kondisi bahaya.

"Pasien atas nama Nyonya Lela mengalami henti nafas," jawab perawat sambil berlalu. 

Seperti disambar petir mendengar jawaban itu. Mendadak tubuh Damar limbung. Lututnya terasa lemas. Bobot tubuhnya tak mampu ditopang oleh dua kakinya yang gemetar. Pria beristri dua itu ambruk dan bersimpuh di lantai. 

"Allah, jangan kau panggil Lelaki secepat ini. Aku belum bisa membahagiakannya ya Allah. Aku masih ingin melihatnya akur dengan Tiara."

Damar menjambaki rambutnya sendiri. Walau ia tau saat seperti ini pasti akan tiba, tapi tetap saja ia belum siap saat tiba-tiba Lela meninggalkannya. Dalam hati lelaki tampan itu berharap sang istri pertama bisa bertahan.

"Sayang, bukankah kamu ingin bermain dengan Ara? Kamu belum pernah bertemu dengan Ara tapi kenapa kamu menyerah secepat ini?" racau Damar. 

Beberapa perawat yang menyaksikannya hanya bisa menatapnya iba tanpa berani menyapanya. Pintu ruang ICU terbuka, seorang dokter keluar dengan wajah lesu. Damar gegas berdiri meski beberapa kali hampir ambruk lagi. Lalu mendekati dokter yang biasa menangani istrinya.

"Dokter, ada apa dengan istri saya? Bagaimana keadaannya?" 

Dokter Ferdi hanya bisa menatap nanar padanya. Hembusan nafas pasrah sudah cukup menjawab pertanyaan Damar.

Pria yang memakai kemeja biru laut denah lengan dilipat sampai siku itu menggeleng kuat seolah tidak percaya dengan takdir yang menimpanya. Impian Damar untuk membuat dia istrinya akur dan hidup bersama belum juga tercapai. Bahkan kini keberadaan istri keduanya pun belum ia ketahui. 

Kabar ini terlalu berat untuk Damar terima. Bahkan dia belum memenuhi permintaan terakhir Lela yang memintanya untuk menceraikan. Andai bisa memilih, Damar lebih memilih untuk menceraikan Lela dari pada harus kehilangan wanita yang dicintainya itu untuk selamanya. Setidaknya jika bercerai, dia masih bisa melihat atau melindunginya dari jauh. 

"Yang sabar ya, Pak Damar. Sekarang Bu Lela sudah tidak merasakan sakit lagi. Ikhlaskan kepergiannya agar jalannya mudah," ujar dokter Ferdi hati-hati. 

"Kami selaku tim medis yang menangani Bu Lela sejak awal sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi sepertinya Bu Lela memilih untuk menyerah dari pada berjuang sembuh. Sabar," lanjut dokter Ferdi sembari menepuk bahu Damar ringan lalu meninggalkannya. 

Beberapa detik setelah kepergian dokter Ferdi, Damar baru tersadar dan kembali ke dunia nyata. Kemudian ia mengumpulkan energinya kembali untuk bisa bangkit dan berjalan memasuki ruang ICU. 

Damar menatap nanar pada tubuh Lela yang sudah tak lagi terhubung dengan alat-alat penunjang kehidupan. Kedua matanya tertutup rapat dengan bibir pucat. Terlihat sangat damai bahkan jika diperhatikan aura wajahnya tampak seperti orang yang tertidur biasa. Ada sedikit senyum yang tersungging di bibirnya yang pucat itu.

Damar langsung ambruk di samping tubuh sang istri. Tangisnya pecah dan memilukan. 

"Sayang, benarkah kamu sudah tidak merasakan sakit lagi? Kalau iya, aku ikhlas melepasmu," lirihnya. 

Para perawat dan dokter yang menyaksikan betapa pilunya tangisan Damar ikut meneteskan air mata. 

"Aku tahu kamu lebih suka menjauh dariku. Apa untuk ini kamu memintaku untuk menceraikanmu dan karena aku tidak mengabulkannya kamu memilih untuk pergi selamanya?" 

Damar meracau sendiri sampai perawat menutup wajah Lela. 

"Mohon maaf, Pak. Sebaiknya segera kita urus jenazahnya. Jangan ditangisi terus, kasihan dia." Dokter Ferdi menepuk lembut bahu Damar. 

Lelaki itu mengangguk samar lalu berdiri dengan susah payah. Setelah berhasil tegak, ia sedikit menyingkir. Membiarkan para perawat melakukan tugasnya. 

Beberapa menit kemudian Damar mulai sadar dengan apa yang harus dia lakukan. Segera ia menghubungi orang kepercayaannya untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk mengebumikan jenazah sang istri. Tak lupa dia menghubungi mamanya juga. 

Bagaimanapun Lela adalah menantu mamanya meski sejak awal tidak disukai. Setidaknya sang mama harus memberikan penghormatan terakhir sebelum Lela benar-benar pergi dari dunia ini. 

Setelah menghubungi sang Mama, Damar mencoba untuk menghubungi Tiara lagi. Namun hingga puluhan kali pun ia menelpon, nomornya tetap tidak aktif. 

Di sisi lain, Tiara tengah menikmati hidup barunya. Dia sudah mulai bekerja dari rumah sembari mengawasi putri semata wayangnya. Wanita itu berangsur mulai melupakan masalah rumah tangganya. Bahkan rasa rindu yang menggebu pada suaminya sudah bisa ia kendalikan. Dengan bekerja, semua pikirannya kini terpusat pada pekerjaan sehinga segala hal yang berhubungan dengan Damar perlahan mulai samar. 

"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga pekerjaan hari ini," gumam Tiara.

Setelah membereskan laptop yang baru dibelinya kemarin untuk bekerja, Tiara segera membersihkan tubuhnya sebelum memandikan Ara. Beruntung gadis kecil itu sangat anteng bermain boneka saat mamanya sedang bekerja.

"Sayang, mandi yuk!" Tiara sudah tampil segar dengan baju pendek. Di dalam ruamha ini dia bisa bebas memakai baju apa saja karena hanya berdua saja dengan buah hatinya yang masih kecil.

Ada berdiri. Dengan antusias mengulurkan kedua tangan meminta diangkat. Dengan senang hati Tiara melakukannya. 

Pukul 5 sore Tiara mengajak putri kecilnya berjalan-jalan di komplek untuk mencari camilan sekaligus untuk mengenali suasana komplek agar lebih akrab juga dengan para warga.

Tepat saat dirinya hendak mengunci pagar, tetangga depan rumah yang selalu tampil syar'i menyapanya. Dia adalah wanita yang sama yang memberikan makanan sebagai perkenalan. Selain baik, wanita itu juga sangat ramah. 

"Mau kemana, Mbak?"

"Mau keliling komplek, Mbak. Biar kenal daerah ini." Tiara menjawab dengan senyum tersungging di bibirnya.

"Wah, kebetulan bareng yuk! Aku juga lagi mau cari sesuatu." Tiara mengangguk.

Sembari berkeliling, keduanya saling menceritakan kehidupan masing-masing. Meskipun baru kenal, mereka sudah tampak akrab seperti teman lama. Bahkan wanita berhijab syar'i itu tak segan menceritakan kehidupan pribadinya pada Kiara.

"Eh itu aja penjual gado-gado terenak di komplek ini. Beli yuk, sekalian ngobrol di sana!" Tiara mengangguk.

Kebetulan sekali gado-gado adalah salah satu makanan kesukaannya. Sehingga ketika ditawari makan gado-gado tentu dengan senang hati dia menerimanya. 

Dua wanita berhijab itu duduk di salah satu kursi panjang yang ada di bahwa pohon rindang. Ara dibiarkan bermain sendiri dengan tetap dalam pengawasan. Bocah dua tahun itu tertawa-tawa ruang ketika kakinya menginjak rumput. Mungkin kegelian.

"Mbak Tiara, boleh tanya sesuatu nggak? Tapi maaf kalau ini rada sensitif ya?"

Tiara tersenyum lalu mengangguk. "Tanya aja, Mbak. Bebas," jawabnya semakin melebarkan senyum hingga giginya yang putih dengan gingsul satu tampak manis.

"Em ... ini soal kehidupanmu. Dari kemarin aku nggak pernah melihat papanya Ara. Apa dia sedang di luar kota?" tanya Rania hati-hati. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!