Wanita Kedua

Tetangga Baru

Tiara menyingkap sedikit korden untuk mengetahui siapa gerangan yang mengetuk pintu. Dahinya mengernyit melihat sosok wanita tak dikenal berada di depan pintu rumah kontrakannya. 

Dengan sedikit ragu-ragu Tiara membuka pintu. 

"Ya? Cari siapa ya, Mbak?" tanya Tiara seramah mungkin. 

Wanita berhijab maroon yang berdiri di depan pintu mengulas senyum. Menatap Tiara teduh lalu mengucap salam. 

"Maaf, Mbak kalau menganggu. Kenalkan saya Rania, tinggal di seberang jalan. Saya dengar dari Abi ada tetangga baru jadi saya ke sini untuk mengenalkan diri." Wanita itu mengulurkan tangan pada Tiara.

Tiara menyambut uluran tangan itu lalu ikut tersenyum. "Mari masuk! Maaf saya belum sempat berkenalan dengan para tetangga di sini. Tapi saya sudah lapor pak RT." 

Tiara menyilakan tamunya duduk di sofa yang sudah tersedia sebagai fasilitas dari rumah kontrakan ini. Beruntung Tiara mendapatkan rumah kontrakan yang nyaman dan sudah lengkap dengan perabotannya. Meskipun minimalis, tapi Tiara merasa betah tinggal di sini. 

"Ini ada kue buatan saya sendiri sebagai salam perkenalan mbak ...?"

"Tiara! Panggil saja Tiara!" sahut Tiara cepat. 

"Ya, mbak Tiara." Rania tersenyum lebar. 

"Terima kasih, Mbak Rania. Jadi merepotkan begini." 

Setelah berbincang-bincang. Rania pamit pulang. Tiara merasa senang karena mendapat teman baru. Selain ramah, Rania juga terlihat tulus. Bahkan di hari pertama bertemu sudah menawarkan banyak bantuan. Hanya saja Tiara merasa sungkan dengan kebaikan Rania. 

"Jangan lupa, kalau butuh apa-apa langsung saja ke rumah atau hubungi saya lewat telepon," pesan Rania sebelum benar-benar pergi. 

Tiara mengangguk. Lalu mengantarkan Rania sampai pintu pagar yang tingginya tidak lebih dari tinggi orang dewasa. Mereka saling melempar senyum sampai akhirnya benar-benar terpisah. 

"Mama!" Suara Ara membuat wanita yang sengaja pergi dari rumah itu langsung berlari masuk. 

"Iya, Sayang. Anak Mama sudah bangun?" Tiara langsung mengangkat putri semata wayangnya ke atas pangkuan. Memeluknya dengan erat dan menghujani dengan ciuman kecil di seluruh wajahnya. 

Gadis kecil itu tertawa girang dengan perlakuan sang Mama. Untuk sesaat Tiara lupa dengan masalah rumah tangganya. Dia merasa lebih tenang setelah menjauh. Walaupun ada rindu yang menggebu, tapi wanita itu bisa mengalihkan dengan menyibukkan diri mencari pekerjaan.

***

"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" Damar terlihat gelisah dalam duduknya. Sudah hampir seminggu pria itu tidak pulang karena kondisi Lela yang semakin memburuk. 

Helaan nafas panjang terdengar dari dokter paruh baya yang menangani Lela. 

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi pasien sepertinya tidak mau berjuang dan memilih untuk menyerah." Ekspresi dokter berubah keruh. 

"Kita hanya bisa berharap pada keajaiban Tuhan untuk saat ini. Do'akan yang terbaik. Pasien sudah cukup lama berjuang. Dan sekarang mungkin sudah sampai di titik lelah."

Damar menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang hampir menetes. Selama beberapa hari ini Lela memang sudah dibujuk. Kondisinya makin melemah dan berakhir koma.

"Ikhlaskan, Pak. Kalau memang beliau sudah nggak sanggup lagi. Mungkin dengan mengikhlaskan, semuanya akan lebih mudah." Dokter menatap Damar dengan tatapan iba.

Bagi dokter Ferdi, Lela bukan hanya sekadar pasien biasa. Sudah bertahun-tahun menanganinya membuat dokter berdarah campuran Jawa-Sunda itu bisa merasakan betapa lelah wanita itu berjuang. 

"Baik, Dok. Terima kasih." 

Dirasa sudah tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, Damar memilih untuk keluar. Dengan langkah gontai, pria yang memiliki dua istri itu kembali berjalan menuju ke depan ICU. 

Saking fokusnya pada Lela, Damar sampai lupa dengan masalah yang menimpanya. Lelaki itu juga tidak menghubungi Tiara selama beberapa hari ini karena menganggap bahwa istri keduanya itu sedang butuh waktu sendiri dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk membiarkannya merenung dan menerima takdirnya. 

Tidak ada maksud untuk mengabaikan, karena sesungguhnya Damar juga sangat merindukan wanita keduanya itu. Hanya saja karena keadaan Lela yang sangat kritis, maka dia mengesampingkan perasaannya itu. 

Damar menunduk dengan kedua siku bertumpu pada lutut. Dalam hati terus berdoa agar Allah memberi keajaiban pada Lela. Di saat sedang khusu' berdoa, ponsel di sakunya bergetar. Awalnya ingin mengabaikan, tapi karena terus menerus bergetar hingga membuatnya terganggu, mau tak mau ia mengambilnya. 

Lelaki yang memiliki satu anak itu menghela nafas pasrah saat nama ibunya tertera di ponsel. 

"Assalamualaikum, Ma? Ada apa?"

[Wa'alaikumsalam. Kamu di mana? Apa Tiara ada bersamamu? Kenapa beberapa hari ini nomor ponselnya tidak aktif?]

Kedua mata Damar membulat. Dia memang tidak pernah menghubungi sang istri. Karena alasan yang sama yaitu ingin memberinya waktu sendiri. Namun dia tak tahu kalau nomornya tidak aktif.

[Damar, apa kamu dengar perkataan Mama?]

"I-iya, Ma." Damar tergagap. Kalau sudah seperti ini mamanya pasti akan mencecar terus. 

Damar sangat hafal sifat mamanya. Wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu sangat menyayangi Tiara. Bahkan dia sudah menganggap Tiara seperti anaknya sendiri. 

[Bagaimana, apa kamu bersama Tiara? Mama mau mengajaknya jalan-jalan biar nggak suntuk]

Untuk mencari aman, Damar tidak mengatakan kalau dirinya di rumah sakit beberapa hari ini dan belum pulang bertemu Tiara. 

"Nggak, Ma. Mungkin Tiara ada di rumah. Ponselnya kehabisan baterai sepertinya." 

[Kamu mau membohongi Mama? Sekarang Mama di rumahmu dan Tiara tidak ada! Apa kamu tahu kalau menantu kesayangan Mama pergi dari rumah sudah beberapa hari ini? Dan kata bibik kamu juga tidak pulang selama beberapa hari. Mama pikir kalian sedang liburan bersama. Ternyata kamu malah tidak tahu kalau Tiara pergi. Suami macam apa kamu ini, Dam]

Seketika persendian Damar terasa lemah. Tulang-tulangnya seperti telah dilolosi dari tubuh sehingga tidak ada kekuatan yang menopang badannya. Apa yang selama ini ia takutnya akhirnya terjadi. Tiara pergi tanpa pamit.

"Ma-mama jangan bercanda, Ma. Nggak mungkin Tiara pergi," ucapnya lirih. 

[Mama serius, Damar! Kemana saja kamu selama ini sampai tidak tahu istrimu pergi? Atau jangan-jangan kamu sedang sibuk dengan wanita penyakitan itu sampai-sampai mengabaikan Tiara? Jawab, Dam! Kamu sibuk dengannya?]

Damar mengusap wajahnya dengan tangan kiri. Mamanya memang tidak pernah menyukai Lela sejak awal. Dan setelah tahu kalau Lela sakit dan tidak ada harapan untuk bisa memberinya keturunan, kebencian mamanya makin bertambah. 

"Maaf, Ma. Tapi Lela sedang kritis. Sekarang koma."

Tiba-tiba sambungan diputus sepihak oleh mamanya. Damar tahu pasti saat ini sang mama sedang marah besar. 

Damar mencoba untuk menghubungi kembali mamanya tapi ditolak. Ia coba lama tapi hasilnya sama, ditolak. Lelaki itu berpikir untuk menghubungi bibik yang jaga rumah. Namun baru dalam proses pencairan nomor, tiba-tiba telinganya mendengar derap langkah bersahutan mendekat. 

Pria bermata elang itu mendongak dan mendapati ada dokter Ferdi dan beberapa perawat berlarian memasuki ruang ICU. Mendadak pikiran pria itu menjadi buntu. "Apa yang terjad" gumamnya. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!