Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Mekar Jam 4 Pagi
“Kai, kalau dalam lima menit kelopak anggrek ini tidak membuka, aku akan kembali ke kasur dan melupakan semua teori filosofis subuhmu.”
Alya merapatkan jaket rajut tebal pemberian Shinta yang dikirim Alina lewat paket tempo hari. Napasnya membentuk kabut tipis di udara Chiang Mai yang sedingin es pukul empat pagi. Senter di tangannya bergoyang, menyorot barisan pot gantung di bawah kanopi bambu.
Kai yang sedang menyemprotkan kabut air tipis ke akar gantung hanya mendengus. “Sabar, Al. Kamu sudah menyikat kandang sapi, mengaduk kompos, tapi masih belum bisa mengatur detak jantungmu sendiri agar selaras dengan alam?”
“Jantungku selaras dengan bantal, Kai. Ini dingin sekali.”
“Lihat ke arah sentermu. Jangan berkedip.”
Alya mengarahkan cahaya senter ke sekelompok kuncup ungu pucat yang bergantung di sudut. Detik berikutnya, ia menahan napas. Perlahan, sangat perlahan, kelopak terluar kuncup itu merenggang. Aroma wangi yang sangat lembut, mirip campuran vanilla dan embun pagi, tiba-tiba menyeruak di antara dinginnya udara.
“Dia... benar-benar mekar?” bisik Alya, matanya melebar.
“Hanya tiga puluh menit dalam sehari, tepat sebelum matahari menyentuh pucuk bukit,” Kai meletakkan botol semprotnya, lalu berdiri di samping Alya. “Indah, kan?”
“Sangat indah. Kenapa dia harus bersembunyi di jam sepi seperti ini?”
“Karena kecantikan sejati tidak butuh tepuk tangan penonton, Alya. Dia mekar untuk memenuhi takdirnya sendiri, bukan untuk dipamerkan.”
Alya menurunkan senternya sedikit, membiarkan cahaya temaram menerangi wajahnya yang kini bebas dari riasan mahal. “Dulu, aku mekar hanya kalau ada kamera. Hanya kalau ada orang yang memuji bajuku, tasku, atau posisiku di Wijaya Corp.”
“Sekarang? Kamu merasa kurang cantik tanpa semua itu?”
Alya menggeleng pelan, jemarinya menyentuh lembut kelopak anggrek yang sudah terbuka sempurna. “Tidak. Anehnya, aku merasa lebih... utuh. Aku tidak perlu bersaing dengan siapa pun di jam empat subuh ini.”
Matahari mulai mengintip dari balik perbukitan, mengubah langit hitam menjadi gradasi warna merah muda dan emas. Kai mengajak Alya duduk di undakan tangga kayu pondok, memegang dua cangkir kopi hitam panas yang mengepul.
“Jadi, penerbanganmu lusa, kan?” tanya Kai setelah menyesap kopinya.
Alya tersentak, menatap cangkirnya. “Kamu sudah tahu?”
“Paman Somchai bilang kamu meminta bantuan untuk memesan taksi ke bandara internasional.” Kai menoleh, menatap Alya lekat-lekat. “Kamu sudah siap menghadapi 'hiu-hiu' di Jakarta lagi?”
“Aku harus siap, Kai. Aku tidak bisa bersembunyi di kebun jerukmu selamanya.”
“Siapa yang bilang kamu bersembunyi? Kamu di sini untuk menempa pedang, Al. Sekarang pedangmu sudah tajam, tinggal bagaimana kamu menggunakannya.”
“Bagaimana kalau aku goyah saat melihat Papa? Saat melihat kemewahan yang dulu sangat aku gilai?”
Kai mengambil sebuah batu kecil dari tanah, lalu melemparnya ke dalam kolam ikan di depan mereka. *Pluk.* Riakan air melebar lalu kembali tenang. “Kemewahan itu seperti air kolam ini. Dia bisa menggoyang permukaan, tapi batu di dasarnya tetap tidak bergerak. Kamu adalah batunya sekarang, Alya. Bukan lagi daun kering yang hanyut terbawa arus.”
Alya tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Aku akan merindukan omelanmu, Kai.”
“Aku tidak akan merindukan keluhanmu soal bau kotoran sapi.”
“Hei! Di hari terakhir, aku menyikatnya tanpa mengeluh sekat pun, ya!”
“Iya, iya. Asistenku sudah lulus dengan nilai pas-pasan,” goda Kai, membuat Alya tertawa lepas.
Siang harinya, Alya bersiap untuk pamit kepada warga desa. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah warung kecil Bibi Sumi di tepi pasar.
“Bibi,” panggil Alya, membungkuk pelan.
Bibi Sumi yang sedang menata sayuran menoleh, wajah keriputnya langsung dihiasi senyum lebar. “Ah, Alya! Kamu mau beli kangkung lagi?”
“Tidak, Bibi. Saya datang untuk pamit. Lusa saya harus kembali ke negara saya.” Alya menyerahkan sebuah bungkusan kecil berisi kain tenun lokal yang ia beli dari hasil upahnya sendiri. “Ini untuk Bibi. Terima kasih sudah mengizinkan saya membantu di pasar.”
Bibi Sumi menerima bungkusan itu, matanya berkaca-kaca. Ia memeluk Alya dengan erat, mengabaikan pakaian Alya yang jauh lebih bersih hari itu. “Kamu anak baik, Alya. Jangan lupakan desa ini, ya? Kalau kamu lelah di kota besar, pulanglah ke sini.”
“Pasti, Bibi. Pasti.”
Saat berjalan kembali ke pondok, Alya berpapasan dengan Paman Somchai yang sedang menuntun sapinya. Pria tua itu berhenti dan memberikan sekeranjang kecil mangga matang.
“Untuk bekalmu di jalan, Gadis Tangguh,” kata Paman Somchai dengan bahasa isyarat dan senyum tulus.
Alya menerima keranjang itu dengan kedua tangannya. “Khop khun khrap, Paman. Jaga sapi-sapi itu baik-baik.”
Kai yang berjalan di belakang Alya hanya memperhatikan dengan tangan bersedekap di dada. “Lihat? Kamu datang sebagai orang asing yang dibenci karena sombong, tapi kamu pulang sebagai bagian dari mereka.”
“Karena mereka melihatku sebagai manusia, Kai. Bukan sebagai 'anak Wijaya' yang bisa dimanfaatkan,” sahut Alya, mendekap keranjang mangga itu erat-erat.
Malam terakhir di Chiang Mai dihabiskan di teras pondok, ditemani suara jangkrik yang sahut-menyahut. Barang-barang Alya yang sedikit sudah tertata rapi di dalam ransel kainnya. Tas bermerek miliknya yang dulu ia bawa, kini tersimpan di bagian paling bawah, tertutup oleh baju-baju katun murah.
“Aku sudah mengirim pesan pada Alina,” ucap Alya memecah keheningan.
Kai yang sedang membersihkan pelita minyak mendongak. “Apa katamu?”
“Aku bilang, 'Siapkan posisi paling bawah di Wijaya Corp untukku. Aku tidak mau jabatan manajer lagi. Aku ingin mulai dari tempat di mana aku bisa mendengar detak jantung perusahaan yang sebenarnya'.”
Kai tersenyum lebar, menyandarkan tubuhnya ke tiang bambu. “Jawaban yang sangat 'Alina'.”
“Tidak, Kai. Itu jawaban 'Alya' yang baru,” ralat Alya dengan nada tegas namun tenang. “Aku tidak meniru Alina lagi. Aku menghormatinya, tapi aku punya caraku sendiri untuk membuktikan pada Papa bahwa aku bukan pajangan.”
“Bagus. Jangan pernah biarkan siapa pun meredupkan anggrek yang baru mekar ini.”
Alya menatap Kai, ada kilat emosi yang tertahan di matanya. “Kai... kalau suatu saat aku lelah dengan politik kantor di Jakarta, apa pintu pondok ini masih terbuka untukku?”
Kai berdiri, berjalan mendekati Alya, lalu menepuk pucuk kepalanya dengan lembut—sebuah gestur yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. “Pondok ini tidak punya kunci, Al. Dan angin subuh di sini selalu menunggu orang yang ingin melihat anggrek mekar. Pulanglah, selesaikan urusanmu di sana.”
Alya mengangguk, air matanya akhirnya jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih atau marah. Ini adalah air mata kebebasan.
Di bawah langit malam Chiang Mai yang bertabur bintang, Alya tahu bahwa lusa ia akan kembali ke dunia yang penuh dengan tipu muslihat, angka-angka saham, dan tatapan dingin ayahnya. Namun, ia tidak lagi takut. Di dalam dadanya, ada aroma anggrek jam empat subuh, kehangatan pelukan Bibi Sumi, dan ketegasan tanah basah yang akan menjaganya tetap tegak di tengah badai korporasi yang menanti.
“Sampai jumpa di titik nol, Kai,” bisik Alya pelan.
“Sampai jumpa, Nona Manajer Baru,” sahut Kai, membiarkan angin malam membawa janji yang tak tertulis itu menuju masa depan.