Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Cahaya di Balik Lumpur

“Kalau aku terpeleset dan masuk ke dalam kubangan ini, aku bersumpah akan menyeretmu ikut masuk, Kai!”

Alya berdiri di tepi kandang kayu dengan napas tertahan. Bau tajam yang menyerang indra penciumannya jauh lebih mengerikan daripada gundukan kompos kemarin. Di tangannya, sebuah sikat kasar dan selang air yang bocor di sana-sini terasa seperti senjata yang tidak berguna.

Kai, yang sudah lebih dulu berada di dalam kubangan dengan sepatu bot karet setinggi lutut, hanya menoleh sambil menyeka keringat dengan lengan bajunya. “Sapi-sapi ini tidak peduli pada sumpahmu, Alya. Mereka cuma peduli kapan lantainya bersih supaya mereka bisa tidur nyenyak. Ayo, turun!”

“Satu langkah lagi, Kai. Aku butuh satu detik lagi untuk meyakinkan paru-paruku bahwa ini bukan akhir dunia.”

“Paru-parumu akan baik-baik saja. Gengsimu saja yang sedang sekarat. Cepat, Paman Somchai sudah menunggu di ujung sana.”

Alya memejamkan mata sejenak, menarik napas pendek, lalu melompat masuk. Croot! Cairan kental menciprat ke celana kainnya yang sudah kusam.

“Sialan! Kai, ini mengenai wajahku!” teriak Alya sambil mengusap pipinya dengan panik.

“Itu cuma air, jangan lebay. Sekarang sikat bagian pojok itu. Kalau tidak bersih, mereka bisa kena penyakit kulit,” perintah Kai tanpa ampun.

“Kenapa aku harus peduli pada kulit sapi? Kulitku sendiri saja sudah berubah warna karena matahari!”

“Karena hidup itu tentang menjaga apa yang ada di depanmu, Al. Bukan cuma menjaga apa yang menguntungkanmu saja.”

Alya mendengus, namun ia mulai menyikat lantai semen yang licin itu dengan tenaga penuh. Anehnya, rasa jijik yang tadi mendominasi perlahan berubah menjadi sebuah fokus yang asing. Ia melihat seekor anak sapi kecil mendekatinya, mengendus kakinya dengan suara dengkuran yang lucu.

“Eh, dia tidak takut padaku?” tanya Alya, gerakannya melambat.

“Hewan tahu siapa yang berniat baik. Kamu menyikat rumahnya, dia berterima kasih dengan caranya sendiri.”

Alya menatap anak babi itu, lalu tersenyum tipis tanpa sadar. “Dia mirip sekali dengan tas kulit limited edition-ku yang harganya ratusan juta. Bedanya, yang ini bernapas.”

“Dan yang ini tidak akan membuatmu merasa lebih hebat dari orang lain saat menentengnya,” sahut Kai sambil menyemprotkan air ke arah kaki Alya.

“Kamu benar-benar ahli dalam menghancurkan momen emosional, ya?”

Setelah tiga jam bekerja keras, Alya duduk di bawah pohon mangga di samping kandang. Tubuhnya lemas, lengannya pegal, dan aromanya... jangan ditanya. Paman Somchai datang membawakan dua botol air dingin dan sepiring pisang goreng yang masih hangat.

“Khop khun khrap, Paman,” ucap Alya, mencoba mempraktikkan bahasa Thai yang diajarkan Kai.

Paman Somchai tertawa, menepuk bahu Alya dengan bangga. “Ging mak! Kamu gadis kota yang tangguh.”

Setelah Paman Somchai pergi, Alya menatap pisang goreng di tangannya. Ia memakannya dengan lahap, seolah itu adalah hidangan termewah yang pernah ia cicipi.

“Kenapa kamu menatap pisang itu seperti sedang melihat emas?” tanya Kai sambil meneguk air.

“Karena aku tahu rasanya lapar yang sebenarnya, Kai. Dulu, aku makan karena jadwal. Sekarang, aku makan karena tubuhku benar-benar membutuhkannya. Rasanya... sangat berbeda.”

“Itu namanya kesadaran. Banyak orang punya segalanya tapi tidak pernah merasa 'cukup' karena mereka tidak pernah merasa 'kurang'.”

Alya menyandarkan kepalanya di batang pohon yang kasar. “Kai, apa menurutmu aku bisa membawa 'kesadaran' ini kembali ke Jakarta? Maksudku, di sana semuanya serba cepat. Serba pamer.”

“Kamu tidak perlu membawa seluruh kebun ini ke Jakarta, Al. Cukup bawa hatimu yang tidak lagi mudah silau oleh lampu neon.”

“Tapi bagaimana kalau aku tergoda lagi? Bagaimana kalau aku kembali jadi Alya yang dulu, yang menganggap orang lain adalah bawahan?”

Kai mengambil sebuah ranting kecil, lalu menggambar garis di tanah. “Hidup itu seperti garis ini. Kadang berbelok, kadang lurus. Tapi selama kamu tahu di mana titik nolmu—titik di mana kamu bukan siapa-siapa selain manusia yang butuh makan dan minum—kamu tidak akan pernah benar-benar tersesat.”

Alya terdiam, mengamati garis di tanah itu. “Titik nolku adalah kubangan babi ini, ya?”

“Bisa dibilang begitu. Tempat di mana gengsimu tenggelam, tapi martabatmu lahir.”

Sore harinya, mereka berjalan pulang melewati pasar kaget di desa. Alya melihat seorang anak kecil yang sedang menangis karena es krimnya jatuh ke tanah. Tanpa pikir panjang, Alya merogoh saku celananya, mengambil sisa upahnya dari Paman Somchai, dan membelikan anak itu es krim baru.

Anak itu berhenti menangis dan tersenyum lebar, membungkuk memberi hormat pada Alya.

“Lihat itu,” bisik Kai di sampingnya.

“Apa? Aku cuma belikan es krim.”

“Berapa harga es krim itu? Lima Baht?”

“Iya, murah sekali.”

“Tapi senyum anak itu harganya lebih mahal dari seluruh koleksi perhiasanmu di rumah, kan?”

Alya tertegun. Ia merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya—rasa puas yang jauh lebih nyata daripada saat ia berhasil mendapatkan diskon tas mewah di Paris. “Dulu aku pikir memberi itu harus dalam jumlah besar, harus masuk koran, harus ada fotonya.”

“Itu namanya amal untuk ego. Yang tadi itu namanya berbagi dari hati. Perbedaannya tipis, tapi dampaknya di dalam sini sangat jauh.” Kai menunjuk dada Alya.

Malam harinya, di teras pondok, Alya duduk sambil menulis di sebuah buku catatan usang. Tidak ada cahaya lampu selain dari lentera minyak dan rembulan.

“Sedang menulis surat cinta untuk babi Paman Somchai?” goda Kai sambil membawa teh melati.

“Aku sedang menulis daftar hal-hal yang tidak aku butuhkan lagi saat pulang nanti,” sahut Alya serius. “Daftarnya panjang sekali, Kai. Sepatu hak tinggi yang menyiksa, lingkaran pertemanan yang hanya membicarakan orang lain, hingga rasa haus akan pengakuan Papa.”

“Lalu apa yang akan kamu simpan?”

Alya menoleh pada Kai, matanya berkilat di bawah cahaya lentera. “Aku akan menyimpan rasa syukur ini. Aku akan menyimpan ingatan tentang tangan yang kotor tapi hati yang bersih. Dan aku akan menyimpan keberanian untuk bilang 'tidak' pada hal-hal yang hanya membebani jiwaku.”

Kai tersenyum, lalu duduk di sampingnya. “Alina akan sangat terkejut melihatmu.”

“Aku tidak peduli lagi apakah dia terkejut atau tidak, Kai. Aku hanya ingin dia tahu bahwa saudaranya sudah 'bangun'. Aku ingin berdiri di sampingnya sebagai rekan, bukan sebagai beban yang harus dia selamatkan terus-menerus.”

“Kamu sudah siap pulang, Al?”

Alya menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah dan bunga melati yang menenangkan. “Belum. Aku masih mau belajar cara menanam anggrek besok. Katanya itu butuh kesabaran ekstra, kan?”

“Oh, jadi sekarang kamu menantang dirimu sendiri?”

“Anggap saja ini ujian akhir sebelum aku kembali ke 'hutan beton' itu. Aku ingin tahu seberapa jauh aku bisa bertahan tanpa fasilitas serba ada.”

Kai tertawa, menyodorkan cangkir teh pada Alya. “Baiklah. Tapi jangan protes kalau besok pagi aku membangunkanmu jam empat subuh.”

“Jam empat? Untuk apa?”

“Untuk melihat bunga anggrek hutan mekar. Mereka hanya menunjukkan kecantikannya pada orang yang bangun pagi. Sama seperti kesempatan hidup, Al. Dia tidak menunggu orang yang malas.”

Alya menyesap tehnya, merasakan kehangatan yang mengalir di kerongkongannya. Di bawah langit Chiang Mai yang luas, ia menyadari bahwa ia tidak kehilangan dunianya yang mewah; ia justru baru saja menemukan dunia yang jauh lebih luas di dalam dirinya sendiri.

“Kai?”

“Hmm?”

“Terima kasih sudah menjadi cermin yang sangat menyebalkan buatku.”

“Sama-sama. Cermin memang harus jujur, kalau tidak itu namanya lukisan.”

Alya tertawa pelan. Tawanya kini terdengar ringan, tanpa beban, menyatu dengan suara jangkrik malam. Ia tahu, perjalanan ini masih jauh dari kata selesai, tapi setidaknya, ia tidak lagi berlari dalam kegelapan. Ia telah menemukan cahayanya sendiri, meski cahaya itu bermula dari lumpur dan keringat di kandang sapi.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!