Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Percikan Kecil

 

“Kalau kamu cuma mau memandangi lalat yang lewat, mending tukar posisi denganku di bagian angkat ban, Al!”

Alya tersentak dari lamunannya saat sebuah map plastik hijau tebal diempaskan ke atas meja kerjanya yang sempit. Siska, staf administrasi gudang yang mengenakan kacamata berbingkai bulat besar, menatapnya dengan berkacak pinggang. Aroma soto ayam dari kantin lantai dasar masih menguar di antara tumpukan kertas laporan.

Alya langsung menegakkan punggungnya, buru-buru mengambil pulpen. “Maaf, Sis. Aku cuma sedang memikirkan nota retur dari vendor proyek pelabuhan tadi pagi. Datanya tidak sinkron dengan sistem yang baru.”

Siska menarik kursi plastik di seberang meja Alya, lalu duduk dengan helaan napas panjang. “Nah, itu dia! Makanya tim audit Nona Alina di atas sana bolak-balik menelepon ke sini. Kamu sudah cek nomor manifes dari truk nomor lima yang kamu periksa kemarin?”

“Sudah. Di manifes tertulis tiga puluh boks baut baja, tapi fisik yang masuk cuma dua puluh delapan.” Alya membalik lembaran kertas di papan jalannya. “Dua boks lagi raib. Dan tanda tangannya... ini bukan tanda tangan Pak Hadi.”

“Lalu tanda tangan siapa?” Siska mencondongkan badannya, menurunkan volume suaranya hingga berbisik. “Jangan bilang orang-orangnya Pak Danu yang belum bersih?”

“Bukan. Ini inisial baru.” Alya menunjuk coretan tinta hitam di pojok bawah kertas. “H.R. Siapa H.R. di divisi logistik, Sis?”

Siska melebarkan matanya, mendadak menutup mulutnya dengan tangan. “Alya, mending kamu hapus catatan itu. Jangan cari masalah di minggu pertamamu.”

Suasana di ruang administrasi lobi belakang yang biasanya bising oleh suara mesin cetak mendadak terasa tegang. Pendingin ruangan yang tua berderit pelan, mengembuskan angin suam-suam kuku yang tidak mampu mengusir rasa gerah.

“Kenapa harus dihapus?” tanya Alya, matanya menyipit tajam. “Dua boks baut baja itu nilainya ratusan juta, Sis. Kalau ditotal dengan selisih bulan lalu, perusahaan bisa tekor miliaran.”

“H.R. itu Haryo Ruslan,” bisik Siska sambil melirik ke arah pintu keluar. “Dia keponakan tertua Pak Wijaya dari lini keluarga besar. Di sini jabatannya pengawas senior, tapi dia jarang masuk. Sekalinya masuk, pasti ada barang yang 'salah hitung'.”

Alya menyandarkan punggungnya, pulpen di jarinya diketuk-ketukan ke meja dengan ritme konstan—persis seperti kebiasaan Alina saat sedang berpikir keras. “Berarti dia memotong jalur Pak Hadi?”

“Pak Hadi tidak bisa berkutik kalau dia sudah bawa-bawa nama keluarga Besar Wijaya, Al. Bahkan Nona Alina di atas sana mungkin belum tahu soal ini karena laporannya selalu dimanipulasi sebelum naik ke lantai empat puluh dua.”

Alya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Siska bergidik. “Menarik. Ternyata rayapnya tidak cuma di jajaran direksi, tapi bersarang di dalam fondasi.”

“Al, ingat posisi kamu sekarang cuma staf magang kemeja loak,” Siska mengingatkan sambil menunjuk tanda pengenal Alya. “Jangan sok jadi pahlawan. Haryo itu orangnya kasar.”

“Aku tidak sedang jadi pahlawan, Sis. Aku cuma sedang mempraktikkan pelajaran dari Chiang Mai.”

“Pelajaran apa?”

“Cara membersihkan kotoran sampai ke akar-akarnya.”

Pintu tripleks ruang administrasi mendadak terbuka dengan kasar. Seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja safari necis dan jam tangan emas yang mencolok masuk tanpa permisi. Langkah sepatunya terdengar angkuh di atas lantai semen.

“Heh, anak baru!” bentak pria itu sambil menunjuk Alya dengan telunjuknya. “Mana berkas manifes truk lima kemarin? Sini, saya mau tanda tangan ulang.”

Alya tidak beranjak dari kursinya. Ia menatap pria itu dengan tenang. “Anda Pak Haryo Ruslan?”

“Sudah tahu pakai nanya lagi! Cepat serahkan berkasnya. Saya sibuk, ada janji makan siang dengan kolega Papa Wijaya.”

“Berkasnya sudah saya kunci di sistem digital, Pak,” jawab Alya, suaranya datar namun terdengar jelas di seluruh ruangan. “Dan laporannya sudah terkirim ke divisi audit pusat.”

Haryo melangkah maju, memukul meja kerja Alya hingga segelas air mineral di pojok meja terguling. *Brak!* “Kamu lancang ya! Siapa yang menyuruhmu memasukkan data itu ke sistem sebelum saya periksa? Kamu tahu saya siapa?”

Siska di sebelah Alya sudah gemetar, pura-pura sibuk mengetik dengan wajah pucat.

Alya berdiri perlahan, menjentikkan sisa air yang mengenai ujung jarinya. “Saya tahu siapa Anda, Pak Haryo. Anda adalah orang yang membuat laporan fiktif tentang dua boks baut baja yang sekarang berada di gudang penampungan luar milik pribadi Anda, bukan?”

Wajah Haryo mendadak berubah merah padam. “Jaga mulutmu, ya! Buruh rendahan seperti kamu tidak punya hak bicara soal logistik! Saya bisa pecat kamu detik ini juga!”

“Pecat saya?” Alya terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat meremehkan. “Silakan coba, Pak Haryo. Tapi sebelum surat pemecatan saya keluar, tim keamanan Alex mungkin sudah menjemput Anda di parkiran bawah atas dugaan penggelapan aset.”

“Ada apa ini ribut-ribut?”

Suara bariton yang dingin menginterupsi perdebatan dari ambang pintu. Pak Hadi masuk dengan langkah cepat, diikuti oleh Arya yang langsung berdiri di depan Alya secara protektif.

“Hadi! Lihat ini kelakuan staf magang pilihanmu!” adu Haryo dengan napas memburu. “Dia menuduh saya mencuri! Dia tidak punya sopan santun pada keluarga pemilik perusahaan!”

Pak Hadi melihat air yang tumpah di meja, lalu menatap Alya. “Alya, apa yang terjadi?”

“Saya hanya menegakkan aturan sistem baru Nona Alina, Pak Hadi,” Alya menyerahkan salinan manifes fisik yang sudah ia simpan di dalam laci. “Ada selisih barang, dan Pak Haryo memaksa saya mengubah datanya secara manual. Bukankah itu dilarang?”

Pak Hadi menerima kertas itu, membacanya sejenak, lalu menatap Haryo dengan pandangan lelah namun tegas. “Haryo, sistem digital yang sekarang tidak bisa diakali lagi. Semua pergerakan barang terekam kamera sensor di gerbang belakang.”

“Halah! Kalian semua sama saja, mau menjatuhkan saya, kan? Saya akan laporkan ini langsung ke Papa Wijaya!” ancam Haryo sambil berbalik menuju pintu.

“Papa sudah tahu, Mas Haryo.”

Sesosok wanita dengan setelan blazer hitam tajam dan rambut yang disanggul rapi berdiri di koridor. Alina. Kehadirannya seketika membuat suhu di area lobi belakang terasa turun beberapa derajat. Di belakangnya, dua petugas keamanan bertubuh kekar langsung menutup jalur keluar.

Haryo tercekat, langkahnya terhenti. “Alina... kamu... kenapa kamu di sini?”

Alina melangkah masuk ke dalam ruang administrasi yang sempit, matanya menatap tajam ke arah Haryo, lalu beralih ke arah Alya. Ada kilat kepuasan yang samar di mata sang Direktur Utama saat melihat adiknya berdiri tegak tanpa rasa takut.

“Sistem audit Siska mendeteksi adanya manipulasi data dari komputer lobi belakang sepuluh menit yang lalu,” kata Alina dingin. “Dan kebetulan, adik saya di sini melakukan tugasnya dengan sangat baik sebagai pengawas lini pertama.”

“Adik?” Haryo menoleh ke arah Alya dengan mata melotot. “Dia... Alya?”

Alya tersenyum manis, lalu merapikan kemeja katunnya yang agak dekil. “Iya, Kak Haryo. Maaf kalau kemeja magang saya membuat Kakak pangling. Di Chiang Mai saya terbiasa pakai baju kotor, jadi saya pikir di sini juga sama.”

Alina menoleh pada petugas keamanannya. “Bawa Pak Haryo ke ruang pemeriksaan. Amankan semua gawai dan kunci mobilnya. Tolong periksa gudang penampungan di Jakarta Barat sore ini juga.”

Haryo tidak bisa bersuara lagi saat lengannya dicengkeram kuat oleh anak buah Alex dan digiring keluar dari ruangan. Suasana mendadak kembali hening, menyisakan Siska yang masih shock di sudut meja.

Alina berjalan mendekati meja Alya, menatap air yang tumpah, lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelapnya sendiri.

“Pekerjaan yang bagus, Staf Magang Alya,” ucap Alina tanpa senyum, namun suaranya tidak lagi sedingin es.

Alya menerima tisu dari tangan Alina untuk melanjutkan pembersihan meja. “Terima kasih, Bu Dirut. Tapi meja saya jadi basah semua karena orang itu.”

“Aku bisa ganti dengan meja baru di lantai empat puluh dua kalau kamu mau naik sekarang,” tawar Alina, melirik Arya yang hanya tersenyum di samping mereka.

Alya menggeleng, kembali duduk di kursi plastiknya yang berdecit. “Tidak perlu. Meja ini masih bagus setelah dilap. Lagipula, pekerjaan saya di lantai dasar belum selesai. Masih ada tiga truk kontainer lagi yang harus saya periksa sore ini.”

Alina terdiam sejenak, menatap lekat kembarannya yang kini tampak jauh lebih tangguh daripada wanita mana pun yang pernah ia temui di lantai bursa. “Baiklah. Selesaikan tugasmu. Jangan telat makan siang.”

Saat Alina berbalik untuk pergi, Alya memanggilnya pelan. “Alina.”

Alina berhenti, menoleh sedikit. “Ya?”

“Kirimkan beberapa pot anggrek hutan ke ruang administrasi ini, ya? Di sini udaranya terlalu pengap, butuh sesuatu yang mekar dengan jujur.”

Alina tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang sangat jarang ia perlihatkan di dalam gedung korporasi itu. “Akan aku minta Rendy mencarinya sore ini. Selamat bekerja, Al.”

Pintu itu kembali tertutup. Alya menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu menatap Siska yang masih melongo.

“Ayo, Sis, jangan melamun,” ajak Alya sambil menyodorkan papan jalannya kembali. “Bantu aku cek data truk nomor enam. Hari pertamaku sebagai rayap pembersih baru saja dimulai.”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!