Untuk FADHIL
Keyla Bertemu Orangtua Fadhil
Langit sore mulai redup, warna oranye perlahan tenggelam di balik gedung rumah sakit yang tinggi. Di dalam kamar 307, suara detak jam dinding berpadu dengan bunyi lembut alat medis yang memantau detak jantung Fadhil. Ruangan itu tenang, namun suasananya sarat makna.
Keyla duduk di kursi kecil di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan Fadhil yang dibalut perban, sementara matanya berusaha menahan air yang terus ingin jatuh. Rasa bersalah, lega, dan rindu menyatu jadi satu di dadanya.
Tak lama, pintu kamar terbuka pelan. Dari sana muncul dua sosok yang sudah membuat jantung Keyla berdetak lebih cepat Bunda dan ayahnya Fadhil, kedua orang tua Fadhil.
Bunda sempat terhenti di ambang pintu. Pandangannya jatuh pada gadis yang duduk di sisi anaknya, dan untuk sesaat, waktu seperti berhenti. Ia tidak menyangka ada seseorang yang begitu lembut menjaga anaknya di tengah keadaan seperti ini.
Fadhil yang menyadari kehadiran kedua orang tuanya, segera tersenyum kecil.
“Bun, Pa…” panggilnya pelan. “Ayo masuk.”
Pak Rendy masuk lebih dulu, sementara Bunda menutup pintu perlahan. Suasana berubah sunyi, hanya ada suara lembut AC dan napas yang terasa berat di antara mereka. Keyla melepaskan tangan Fadhil saat kedua orang tuanya datang, dia juga bersalaman.
“Fadhil,” ucap Riska lembut sambil mendekat, “bagaimana keadaan kamu, Nak?”
“Udah mendingan kok, Bun.” Fadhil berusaha tersenyum. Lalu, dengan pelan ia menoleh ke arah Keyla. “Oh iya, kenalin… ini Keyla.”
Keyla spontan berdiri, menunduk sopan sambil meremas ujung bajunya. “Selamat sore, Tante, Om,” ucapnya dengan suara lembut dan hati-hati.
Riska tertegun, sementara Pak Rendy menatap dengan mata yang hangat namun tajam bukan karena marah, tapi karena ingin mengenal lebih dalam gadis yang sudah membuat anaknya melawan dirinya dan menolak perjodohan ini.
“Keyla, ya?” tanya Pak Rendy tenang. “Kamu yang jagain Fadhil dari tadi?”
“Iya, Om. Saya datang begitu dengar kabar Fadhil kecelakaan,” jawab Keyla sopan.
Pak Rendy mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih, Nak. Kadang orang yang datang tanpa diminta itu justru yang paling tulus.”
Fadhil tersenyum mendengar kata-kata ayahnya, sementara pipi Keyla mulai memanas. Namun di balik kehangatan itu, ada tatapan lain yang menyimpan kecemasan milik Bundanya
Ia menatap jam tangannya dengan gelisah. Di benaknya, terngiang kembali suara di telepon beberapa menit lalu.
"Baik, Tante, nanti aku sama Mama ke rumah sakit, ya."
Itu suara Laura, gadis yang telah dijodohkan dengan Fadhil sejak lama.
Riska tahu, sebentar lagi Laura dan ibunya akan tiba. Dan jika mereka melihat Keyla di sini, segalanya bisa menjadi rumit.
“Keyla,” panggil Riska pelan, berusaha menyembunyikan kegugupan dalam suaranya. “Tante senang kamu datang. Tapi… mungkin nanti kamu bisa jenguk Fadhil lagi, setelah dia agak baikan ya, Nak?”
Nada itu lembut, tapi cukup jelas untuk dimengerti. Keyla tersenyum, mencoba menahan rasa perih di dadanya. “Baik, Tante. Saya pamit dulu.”
Namun saat ia hendak berdiri, tangan Fadhil lebih dulu menahan pergelangan tangannya. Keyla menoleh menatap Fadhil berharap cowok itu mah melepaskannya
“Bunda…” Fadhil menatap ibunya lembut. “Biarin Keyla sebentar aja di sini, ya? Aku tenang kalau dia ada, lagian aku butuh dia buat jagain aku.
Keheningan kembali mengisi kamar. Riska menatap wajah anaknya, kemudian menatap gadis yang kini menunduk di sampingnya. Ada sesuatu di mata anaknya sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya ketulusan dan cinta yang mendalam.
Riska menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Baiklah. Tapi sebentar saja ya, Nak.”
Keyla mengangguk dengan wajah sendu. Ia tahu, rasa khawatir seorang ibu tidak bisa dilawan dengan kata-kata.
Sementara itu, Pak Rendy hanya tersenyum kecil dari belakang. Ia memperhatikan bagaimana tangan anaknya menggenggam tangan gadis itu dengan penuh kehangatan. Dalam hati, ia tahu Fadhil telah menemukan seseorang yang mampu membuatnya hidup kembali, bukan karena harta, bukan karena status, tapi karena hati.
“Jaga Fadhil baik-baik ya, Keyla,” ucapnya lembut. “Tapi jangan lupa, kamu juga harus jaga diri.”
“Terima kasih, Om,” jawab Keyla dengan nada penuh hormat.
Beberapa menit kemudian, Bunda Riska dan Pak Rendy memuruskan untuk menunggu di luar membiarkan keduanya mengobrol terlebih dahulu. Sebelum keluar, Riska sempat menoleh sekali lagi ke arah Keyla pandangan yang sulit diartikan, campuran antara kekhawatiran dan harapan yang samar.
Begitu pintu tertutup, ruangan itu kembali sepi. Fadhil menatap Keyla, lalu tersenyum kecil.
“Kamu gugup, ya?” tanyanya pelan.
Keyla tertawa kecil. “Banget. Aku kira mereka bakal marah.”
“Enggak kok,” jawab Fadhil, menatap gadis itu dengan lembut. “Ayah malah kayaknya suka kamu.”
Keyla tersipu. Tapi di balik senyum itu, ada perasaan lain yang muncul takut. Ia takut pada masa depan hubungan mereka yang terasa begitu rapuh di antara restu orang tua dan kenyataan yang belum berpihak.
Fadhil mengusap punggung tangannya pelan. “Kamu jangan mikirin hal aneh-aneh, ya. Aku janji, aku bakal jelasin semuanya ke Bunda nanti.”
Keyla hanya mengangguk, meski dalam hatinya ia tahu, ucapan Fadhil tidak akan mudah diwujudkan. Dunia mereka berbeda, dan ada nama lain yang sudah disiapkan untuk mengisi hidup Fadhil.
Beberapa saat kemudian, Kevin muncul di depan pintu. Ia mengetuk pelan lalu menyembulkan kepala.
“Dari tadi, Key?” tanyanya lembut.
Keyla berdiri. “Iya, tapi bentar lagi gw pulang."
"Dra, nanti Lo pulang bareng Keyla ya! Gw bakal tenang kalau dia pulang sama Lo," ujar Fadhil, dia sudah melupakan masalah yang pernah terjadi antara dirinya dan Kevin dulu, dia juga belum cerita apapun ke Keyla.
"aku pulang dulu sama Kevin," pamit Keyla dia tidak mau berlama-lama disini apalagi ada orangtua Fadhil membuatnya takut.
Fadhil menatapnya, menahan genggamannya untuk sesaat sebelum akhirnya melepaskan. “Hati-hati, ya.”
Keyla tersenyum lembut. “Kamu juga cepat sembuh.”
Mereka bertukar pandang sejenak pandangan yang dalam dan penuh arti, seolah ribuan kata tertahan di baliknya. Lalu, Keyla melangkah keluar, disambut Kevin yang setia menunggu di koridor.
Kevin menatap gadis itu sekilas, lalu berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara. Ia tahu, kata-kata tidak akan cukup untuk menenangkan hati yang sedang berperang.
Mereka berjalan melewati koridor rumah sakit yang sepi, cahaya lampu putih memantul di lantai yang mengilap. Dan tanpa mereka sadari, dari kejauhan… langkah kaki lain mulai mendekat.