Untuk FADHIL
Aku Masih Ingin Berjuang
Suara langkah sepatu bergema di koridor rumah sakit sore itu. Langit di luar sudah mulai gelap, dan lampu-lampu di sepanjang lorong menyala, menciptakan pantulan samar di lantai mengilap. Keyla berjalan perlahan bersama Kevin di sisinya. Udara di sekeliling terasa dingin, bukan hanya karena AC, tapi juga karena hati Keyla yang masih belum tenang setelah bertemu dengan orang tua Fadhil.
Setiap langkahnya terasa berat. Kata-kata lembut Fadhil masih terngiang di telinganya “Aku tenang kalau kamu ada.”
Namun di sisi lain, nada suara ibunda Fadhil membuat hatinya kembali goyah. Ada sesuatu yang menekan, sesuatu yang terasa seperti jarak yang tak kasat mata.
Keyla menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Kev,” ucapnya pelan, “menurut kamu, aku salah gak datang ke sini?”
Kevin menoleh sekilas, melihat gadis di sampingnya dengan tatapan yang lembut tapi berat. “Enggak, Key. Kamu cuma ngelakuin apa yang dirasa benar. Kamu sayang sama dia, dan gak ada yang salah dari itu.”
Keyla tersenyum tipis. “Tapi sepertinya Bunda Fadhil gak begitu nyaman sama aku.”
Kevin diam sejenak. Ia tahu, ucapan itu benar. Namun ia juga tahu, cinta yang tulus selalu punya jalannya sendiri meski penuh luka. “Gak apa-apa. Kadang orang tua cuma butuh waktu buat ngerti, bukan buat ngizinin, tapi buat nerima,” katanya pelan.
Keyla hanya mengangguk. Tapi sebelum ia sempat menjawab, langkahnya terhenti. Di ujung koridor, seseorang berdiri dua orang tepatnya. Seorang wanita paruh baya dengan wajah elegan, dan di sampingnya, gadis muda berambut panjang bergelombang yang tampak menatap tajam ke arah mereka.
Laura.
Buket bunga putih di tangannya tampak kontras dengan ekspresinya yang dingin. Tatapan matanya langsung jatuh pada Keyla, dan untuk sesaat, waktu terasa berhenti.
Keyla membeku. Dunia seakan menyempit hanya pada pandangan itu — dua pasang mata yang saling bertabrakan, dua dunia yang akhirnya bertemu.
Laura melangkah pelan mendekat, tatapannya tak pernah lepas dari Keyla.
“Keyla!!” suaranya datar tapi mengandung tekanan halus.
Keyla menelan ludah. Dia tidak percaya Laura akan datang menjenguk Fadhil bersama orangtuanya.
Hening. Suara roda ranjang pasien di ujung lorong terdengar samar, namun tak cukup untuk menyingkirkan ketegangan di antara mereka.
“Gw tadi lihat lo keluar dari kamar Fadhil,” lanjut Laura, suaranya mulai bergetar meski ia berusaha terdengar tegas. “Ngapain lo di sana?”
Pertanyaan itu menampar udara. Keyla sempat menunduk, berusaha mengatur napas sebelum menjawab. “Aku datang buat lihat keadaan Fadhil. Aku dengar dia kecelakaan, jadi—”
“Jadi lo datang sendiri?” potong Laura cepat. “Atau Fadhil yang nyuruh Lo datang?”
Kevin yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. “Cukup, Laura. Dia cuma khawatir, gak lebih.”
Laura menatap Kevin, kali ini dengan raut terkejut. “Kevin?” gumamnya pelan. Ia tidak menyangka laki-laki itu ada di sana, bersama Keyla. Sekilas, bayangan masa lalu mereka bertiga melintas di pikirannya masa sekolah dulu, ketika Kevin dan Fadhil berantem karena Keyla adalah gadis yang mereka berdua sukai diam-diam.
Laura menarik napas tajam, menatap mereka bergantian. “Lucu ya, dunia kecil banget. Tiga orang yang dulu sempat… ‘dekat’, ketemu lagi di tempat seperti ini.”
Nada bicaranya lembut, tapi tajam seperti pisau yang disembunyikan di balik senyum.
Keyla hanya menunduk. Ia tidak ingin memperkeruh keadaan. “Gw gak bermaksud ganggu, Laura. Gw cuma pengin tahu kabarnya. Udah itu aja.”
Namun Laura melangkah lebih dekat, hingga jarak mereka hanya sejengkal. “Lo tahu, Keyla, Fadhil itu bukan cuma milik Lo. Ada orang lain yang juga peduli padanya, yang bahkan sudah disiapkan untuk masa depannya.”
Ucapan itu terasa seperti belati. Keyla menatap Laura dalam diam, bibirnya bergetar tapi tak ada kata yang keluar. Ia tahu maksud dari kalimat itu, perjodohan.
Kevin memandang keduanya, lalu melangkah setengah langkah ke depan, berdiri di antara mereka. “Laura, cukup. Bukan waktunya bahas hal ini di rumah sakit.”
Laura menatap Kevin tajam. “Kenapa? Lo sekarang di pihak siapa, Kev? Fadhil? Atau dia?”
Kevin terdiam sejenak. Pandangannya kosong, tapi suaranya tegas. “gw cuma di pihak yang gak mau lihat orang terluka lagi.”
Hening menyelimuti lorong itu. Hanya terdengar hembusan AC dan langkah kaki perawat di kejauhan.
Keyla akhirnya menghela napas pelan. “gw pamit, Laura. Gw gak mau bikin masalah.”
Tanpa menunggu jawaban, Keyla melangkah pergi. Kevin mengikuti di sampingnya, menatap sekilas Laura yang masih berdiri kaku dengan tatapan yang sulit diartikan antara marah, cemburu, dan terluka.
Mereka berjalan menjauh, meninggalkan Laura yang masih menggenggam buket bunganya erat-erat hingga kelopak putih itu sedikit hancur di ujungnya.
Laura menatap pintu kamar Fadhil dari kejauhan, matanya memerah.
“Fadhil…” gumamnya nyaris tak terdengar. “Apa aku sudah terlambat?”
Di sisi lain, Keyla berjalan di bawah langit malam yang mulai menitikkan hujan. Kevin membuka payung dan menahannya di atas kepala mereka berdua.
“Keyla,” ucap Kevin lirih. “Lo yakin masih mau berjuang buat dia?”
Keyla menatap lurus ke depan. Air hujan menetes di pipinya, entah itu air mata atau bukan.
“Gw gak tahu, Kev. Tapi gw juga gak mau nyerah cuma karena dunia bilang aku gak pantas.”
Kevin menatapnya lama. Dalam hatinya, ia tahu cinta yang tulus kadang tidak selalu berakhir dengan memiliki. Tapi malam itu, di bawah hujan yang pelan, dua sahabat berjalan berdampingan tanpa tahu bahwa badai yang lebih besar baru saja dimulai.