Untuk FADHIL

Keyla Panik

Keyla berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan napas tersengal, air matanya terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Setiap langkah terasa berat. Pikirannya hanya satu: Fadhil.

Sejak mendapat kabar bahwa Fadhil mengalami kecelakaan, dadanya terasa sesak. Pantas saja sejak pagi perasaannya tak enak ada sesuatu yang mengganjal, seperti firasat buruk yang sulit ia jelaskan. Sejak pagi ia menunggu kabar dari Fadhil, menatap layar ponsel berkali-kali, berharap ada pesan masuk. Namun hingga siang, tak satu pun pesan ia terima.

Ia sempat ingin menghubungi Fadhil lebih dulu, tapi gengsinya menahan. Ia masih sakit hati karena kebohongan Fadhil beberapa hari lalu. Namun kini, setelah mendengar kabar dari Kevin, semua perasaan itu runtuh.

> “Key, gue lagi di rumah sakit,” suara Kevin terdengar serak di seberang sana.

“Lo sakit, Kev?”

“Nggak. Tapi Fadhil. Dia kecelakaan. Gue lagi jagain dia sekarang.”

Telepon itu berakhir cepat, tapi cukup untuk membuat Keyla panik. Ia langsung berlari keluar rumah tanpa sempat memikirkan penampilannya.

Kini, di depan pintu kamar rumah sakit bernuansa putih itu, Keyla terdiam. Tangannya gemetar saat hendak memutar gagang pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, lalu membuka pintu perlahan.

Matanya langsung menangkap sosok Fadhil yang terbaring di ranjang pasien, tersenyum lemah namun hangat. Senyum itu meski tipis mampu menenangkan badai dalam hati Keyla.

Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh juga. Ia berjalan mendekat, suaranya serak, “Kamu kenapa bisa sampai kayak gini, Dil?”

Fadhil tersenyum lagi, berusaha membuat Keyla tenang. “Aku cuma kecelakaan kecil, Key. Tapi setelah lihat kamu datang, rasanya besok aku udah bisa pulang.” Ia tertawa pelan, mencoba menutupi rasa sakitnya.

Keyla menggigit bibir, merasa bersalah. “Maafin aku, Dil…”

Fadhil mengernyit, bingung. “Maaf? Buat apa?”

“Karena aku cuekin kamu. Aku nggak bales chat kamu, nggak angkat telepon kamu. Aku egois. Aku sempat mikir cuma perasaanku yang disakiti.” Suaranya pecah, dan air matanya kembali menetes.

Fadhil mengulurkan tangannya, menyeka air mata di pipi Keyla dengan lembut. “Udah, jangan nangis. Aku nggak marah kok. Harusnya aku yang minta maaf karena udah bohong sama kamu. Tapi aku janji, setelah ini aku nggak akan nyembunyiin apa pun lagi.”

Keyla menggenggam tangan Fadhil erat. “Aku sayang banget sama kamu, Dil. Aku janji, aku nggak akan tinggalin kamu lagi. Aku bakal berjuang buat hubungan kita.”

Fadhil tersenyum, dan untuk sesaat waktu seolah berhenti. Di ruangan putih itu, hanya ada mereka berdua dua hati yang saling belajar tentang maaf dan cinta yang tidak selalu sempurna.

Sementara itu, di ruang administrasi rumah sakit, Riska dan suaminya sedang mengurus biaya perawatan Fadhil. Kevin pergi menebus obat di apotek.

Riska sebenarnya enggan meninggalkan Fadhil sendirian, tetapi Fadhil memaksa, berkata bahwa dirinya baik-baik saja. Ia memang anak yang tak ingin merepotkan siapa pun bahkan orang tuanya sendiri.

Sejak mendengar kabar Fadhil kecelakaan, Riska langsung meninggalkan pekerjaannya. Begitu pula sang suami, yang segera keluar dari rapat penting demi melihat kondisi putra semata wayangnya itu.

Mereka mungkin jarang menunjukkan kasih sayang secara langsung, tapi bukan berarti tak peduli. Riska tahu, mereka telah lama sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan Fadhil. Mobil mewah, kamar luas, pakaian baru semua itu bentuk kasih sayang mereka, meski mungkin bukan yang Fadhil butuhkan.

Namun di balik semua itu, ada perasaan bersalah yang perlahan tumbuh. Sudah terlalu lama mereka menukar waktu bersama anaknya dengan tumpukan pekerjaan.

“Pa,” ucap Riska pelan, “apa kita perlu kasih tahu keadaan Fadhil ke Laura dan mamanya?”

Suaminya menatapnya sebentar lalu mengangguk. “Iya. Bagaimanapun, Laura kan calon jodohnya Fadhil. Mereka berhak tahu.”

Riska menghela napas panjang. Bahkan di saat seperti ini, suaminya masih sempat membicarakan perjodohan. Ia tahu, pria itu hanya ingin memastikan masa depan anaknya, tapi Riska merasa belum waktunya membahas itu bukan saat Fadhil masih terbaring lemah.

“Baiklah,” katanya akhirnya. Ia mengambil ponselnya dan menekan nama Laura di daftar kontak.

> “Halo, Laura?”

“Iya, Tante. Ada apa?”

“Nak, Tante mau kasih tahu… Fadhil kecelakaan. Sekarang dia dirawat di rumah sakit.”

“Apa?! Kecelakaan? Gimana keadaannya, Tante?”

“Sudah sadar, Nak. Tapi masih butuh istirahat.”

“Tolong kirim alamat rumah sakitnya ya, Tante. Aku sama Mama segera ke sana.”

Riska menutup telepon dengan perasaan campur aduk, lega karena Fadhil selamat, tapi cemas menghadapi kedatangan Laura dan ibunya. Ia hanya bisa berharap, saat mereka tiba nanti, semuanya tak menambah beban pikiran bagi anaknya.

Di luar sana, langit mulai gelap. Lampu-lampu rumah sakit perlahan menyala, dan di kamar 304, Fadhil masih terbaring dengan senyum tipis tidak tahu bahwa di luar pintu itu, dua hati sedang menyiapkan kisah yang mungkin akan mengubah jalan hidupnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!