Untuk FADHIL
Fadhil Kecelakaan
Cahaya putih lembut menyambut ketika Fadhil membuka matanya.
Yang pertama kali ia sadari adalah aroma tajam obat-obatan dan suara mesin monitor yang berdetak teratur di sampingnya. Ia menoleh perlahan — ada tiang infus dengan cairan bening yang menetes perlahan. Tatapannya lalu turun ke tangan kirinya, tempat selang infus menancap di kulit.
Perlahan kesadaran datang bersamaan dengan rasa sakit yang berdenyut di kepala.
Fadhil mengerang pelan sambil memegangi pelipisnya. Ia mencoba mengingat bagaimana dirinya bisa berada di sini, tapi setiap kali mencoba, rasa sakit itu makin menjadi.
Suara pintu terbuka membuatnya menoleh. Seseorang masuk membawa kantong plastik berisi air mineral dan beberapa bungkus makanan ringan.
“Akhirnya lo sadar juga,” ucap Kevin dengan nada lega sekaligus khawatir. Ia meletakkan kantong itu di meja samping tempat tidur.
Fadhil mengerjap beberapa kali, mencoba fokus. “Gue kenapa? Dan… kenapa lo ada di sini?”
Kevin terdiam sejenak, menatap wajah Fadhil yang tampak pucat, perban membalut kepalanya, dan selang infus di tangannya. Ada rasa bersalah yang muncul tanpa bisa ia tahan. Ia menarik napas dalam, mencoba tenang.
“Lo tadi kecelakaan,” jawab Kevin akhirnya.
Fadhil tertegun. “Kecelakaan?” ulangnya pelan, nyaris tak percaya.
Kevin lalu menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Bagaimana Fadhil tiba-tiba turun dari mobilnya begitu melihat Kevin di depan sebuah toko, bagaimana ia berlari menyeberang tanpa memperhatikan mobil yang melaju, dan bagaimana tubuhnya terhempas keras ke aspal. Kevin-lah yang segera menolong dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Fadhil mendengarkan tanpa menyela, mencoba mengingat kembali potongan peristiwa yang masih samar. Ia memang ingat satu hal: rasa penasarannya terhadap Kevin.
Ia mengunjungi rumah Kevin, tapi tidak menemukan siapa pun di sana. Dalam perjalanan pulang, secara kebetulan ia melihat Kevin berdiri di depan toko di seberang jalan. Tanpa pikir panjang, ia turun dan berlari menghampiri… lalu semuanya gelap.
Kini, ketika melihat Kevin berdiri di hadapannya, rasa penasaran itu kembali muncul. Namun Kevin justru tampak bersalah.
“Gak usah ngerasa bersalah, deh,” ucap Fadhil mencoba tersenyum. “Yang bego gue. Siapa suruh lari gitu aja gak liat kiri kanan.”
Kevin tertawa kecil. “Tapi gue heran, kenapa sih lo segitu penasarannya sama gue?”
“Karena lo mirip banget sama teman masa kecil gue,” jawab Fadhil tanpa ragu. “Bukan cuma mirip, malah gue yakin lo orang yang sama. Apalagi luka di bahu lo itu—sama persis kayak yang dia punya.”
Kevin terdiam. Tatapannya menurun, jemarinya menggenggam lutut.
Ia tahu saat ini bukan waktunya lagi untuk bersembunyi di balik nama palsu.
“Lo bener, Dil,” ucap Kevin akhirnya.
Fadhil menoleh cepat. “Bener soal apa?”
Kevin menatap mata Fadhil, serius. “Gue sebenarnya Hendra. Teman masa kecil lo yang dulu tinggal di samping rumah lo.”
Fadhil terdiam, mencoba mencerna kata-kata itu.
Kevin melanjutkan dengan suara pelan, “Waktu itu keluarga gue harus pindah mendadak karena urusan kerjaan bokap. Gue gak mau, tapi gak bisa nolak. Gue pikir kita gak bakal ketemu lagi. Gue… gak nyangka lo masih inget sama gue setelah semua tahun berlalu, apalagi setelah gue bohong soal nama gue.”
Ada campuran emosi yang melintas di wajah Fadhil kaget, senang, sekaligus kesal.
Namun rasa lega lebih besar dari semuanya.
“Jadi beneran lo Hendra…” gumamnya. Bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum kecil. “Gila, gue nyari lo lama banget, bro. Dan ternyata lo di depan mata gue selama ini.”
Kevin ikut tersenyum, kali ini dengan tatapan yang hangat. “Gue juga kangen lo, Dil. Maaf ya, gue udah bohong. Gue cuma… gak tahu harus mulai dari mana.”
Fadhil menggeleng. “Udah, gue maafin kok. Yang penting lo balik.”
Suasana hening sesaat. Dua sahabat lama itu saling menatap, sama-sama merasa aneh, tapi juga damai.
Setelah bertahun-tahun, nama Hendra yang dulu hanya tersisa dalam kenangan, kini kembali hidup di hadapan Fadhil.
“Gue udah hubungin orang tua lo,” ujar Kevin, berusaha mencairkan suasana. “Mereka bilang lagi otw ke sini.”
Fadhil tersenyum kecil. “Makasih. Dan maaf ya, udah ngerepotin lo sejauh ini.”
“Ngerepotin gimana? Kalau gue gak nolong lo, bisa-bisa gue dibilang gak punya hati. Lo kecelakaan depan mata gue, masa gue kabur?” Kevin terkekeh.
Fadhil ikut tertawa kecil, meski kepalanya masih terasa berat.
Tawa mereka belum sempat reda ketika pintu kamar terbuka lebar. Dua sosok yang sangat Fadhil kenal masuk dengan wajah panik, Riska dan suaminya.
“Ya ampun, sayang, kamu gak apa-apa kan? Kenapa bisa sampai begini?” Riska langsung memeluk anaknya, matanya berkaca-kaca.
Fadhil tersenyum berusaha menenangkan. “Aku baik-baik aja, Ma. Untung aja tadi Hendra ada di sana, jadi Mama gak perlu khawatir.”
“Hendra?” Riska mengerutkan kening, lalu mengikuti arah pandangan Fadhil pada Kevin yang berdiri di samping tempat tidur.
Sesaat ia terpaku. Kemudian, sebuah senyum lembut muncul di wajahnya.
“Ya Allah… Hendra kecil itu?”
Kevin menunduk sopan sambil tersenyum. “Iya, Tante. Lama gak ketemu.”
Riska tersenyum haru, menepuk bahu Kevin dengan lembut. “Pantesan Mama kayak ngerasa kenal. Aduh, udah segede ini, ganteng lagi.”
Fadhil terkekeh melihat ibunya memuji Kevin, sementara Kevin hanya bisa tertawa kecil, sedikit canggung.
Dan di antara tawa dan rasa lega itu, keduanya tahu pertemuan ini bukan sekadar kebetulan. Takdir baru saja mempertemukan dua sahabat lama, di tengah luka dan rahasia yang belum sepenuhnya selesai.