Untuk FADHIL
Apa Aku Harus Menjauh?
Keyla menatap layar ponselnya yang menampilkan beberapa pesan masuk dari Fadhil tanpa ada niat sedikit pun untuk membalas pesan tersebut.
Fadhil mengirimkan banyak pesan yang menanyakan kabar Keyla sejak tadi sore. Jelas saja Fadhil khawatir karena Keyla tidak menemuinya lagi sejak dia meninggalkan Fadhil di halaman belakang tadi siang. Keyla juga sebenarnya merasa bersalah karena membiarkan Fadhil di saat seperti ini, tetapi Keyla juga butuh waktu untuk dirinya sendiri dan menenangkan perasaannya yang sedang terpukul.
Keyla itu seorang perempuan, wajar jika dirinya ingin egois. Jadi tolong jangan salahkan Keyla karena menjauhi Fadhil di saat seperti ini.
Keyla yang kini sedang duduk di meja belajarnya yang menghadap langsung ke arah jendela kamarnya kini beralih menatap langit malam yang dihiasi oleh bulan dam bintang. Tampak indah hingga menghadirkan senyum di bibir Keyla. Sejak penjelasan Fadhil tadi siang pikirannya jadi tidak tenang, dia bahkan tidak bisa fokus dengan pelajaran hingga jam pulang sekolah tiba.
Dia harus bagaimana?
Di tengah pikirannya yang kelut, deringan ponsel di tangannya mengalihkan perhatiannya. Keyla kembali menatap ponsel yang berada di tangannya itu yang kini menampilkan nama Bella di layar ponselnya.
"Halo, Bell," sapa Keyla setelah menjawab panggilan itu.
"Key, besok kan weekend, gimana kalau kita nonton bioskop?" ajak Bella dengan antusias di seberang sana.
Keyla tampak berpikir, besok dia memang tidak ada acara, tapi dia malas untuk keluar rumah karena masalahnya ini.
"Key, lo denger gue gak?" tanya Bella karena Keyla yang masih tidak menjawab.
"Kalian aja yang pergi, gue males."
"Gak seru kalau gak ada lo. Gue perhatiin setelah lo balik ke kelas dari halaman belakang tadi, kayak ada yang beda gitu sama lo. Ada apa? Lo ada masalah sama Fadhil?"
Apakah Keyla menceritakan masalahnya dan Fadhil pada Bella? Dirinya juga butuh tempat untuk curhat.
"Besok aja gue ceritanya. Udah malam, sana tidur, gue juga mau tidur. Bye," ucap Keyla dan segera memutus sambungan itu mengabaikan suara nyaring Bella yang berteriak di seberang sana.
Pasti saat ini Bella penasaran setengah mati.
Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk dari Bella muncul di layar ponselnya. Dengan cepat Keyla membuka isi pesan itu dan melihat sejumlah umpatan yang Bella tujukan padanya, bukannya marah Keyla malah tersenyum membaca pesan itu.
Keyla menatap jam ponselnya yang menunjukkan pukul sepuluh malam, Keyla segera beranjak dari meja belajarnya itu dan mengunci jendela kamarnya karena udara yang sudah semakin dingin dan dirinya yang juga sudah mengantuk, dia masuk ke dalam kamar dan menuju tempat tidurnya menarik selimut hendak tidur.
Keyla harus menyiapkan dirinya untuk menjawab sejumlah pertanyaan dari Bella besok.
***
Ketukan di balik pintu kamar berusaha menarik kembali kesadaran Keyla yang masih terbaring berbalut selimut di atas tempat tidur berukuran sedang miliknya. Dengan malas Keyla turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu yang sejak tadi diketuk tanpa henti.
Masih dengan mengenakan piyama tidur dan muka bangun tidur yang berantakan, Keyla membuka pintu kamarnya itu.
"Pagi, Key!" sapa Bella, Ana dan Raya bersamaan. Rupanya mereka adalah pelaku dibalik pintu yang terus saja diketuk tanpa henti itu. Mereka terlihat sudah berpakaian rapih dan wangi, sangat jauh berbeda dengan dirinya.
"Apaan sih, pagi-pagi gangguin gue," ucap Keyla dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Pagi apaan, ini udah jam sembilan," celetuk Raya sambil menunjukkan jam di ponselnya yang memang sudah menunjukkan jam sembilan pagi, bahkan telah lewat lima belas menit.
Kesadaran Keyla yang tadinya masih berada di atas awan kini terhempas masuk kembali ke raganya. Mata Keyla terbelalak menatap layar ponsel Raya. Tidak percaya dirinya bangun kesiangan, bahkan tidak biasanya bunda juga tidak membangunkan dirinya.
"Udah sadar? Mau langsung mandi atau lanjut tidur wahai nona cantik?" tanya Ana dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Tanpa menjawab Keyla langsung masuk kembali ke dalam kamarnya diikuti oleh teman-temannya itu. Keyla menuju jendela kamar dan segera membuka jendela itu hingga sinar matahari yang sudah sangat terang mengenai matanya, dia kemudian beralih membereskan tempat tidurnya yang berantakan, sedangkan teman-temannya kini sedang duduk di meja belajar Keyla menyaksikan gadis itu melakukan kegiatannya.
"Kalian ngapain ke sini?" tanya Keyla akhirnya.
"Ya minta penjelasan lo, lah. Kan semalam lo bilang mau ngomong soal masalah lo sama Fadhil hari ini sama kita," oceh Bella.
Benar juga, Keyla sampai lupa. Keyla berbalik, menatap ketiga temannya itu dengan tatapan sendu. Dia teringat kembali tentang masalahnya dengan Fadhil, tetapi apakah tidak masalah jika dia menceritakan hal ini pada ketiga temannya itu?
"Aisshhh, gue mandi dulu kalian tunggu saja disini." Keyla berlari membawa handuk ke kamar mandi.
Kurang dari 10 menit gadis itu kembali keluar dari balutan handuk yang melilit ditubuhnya, dia berjalan ke depan lemari untuk mengganti pakaiannya menghiraukan ketiga sahabatnya yang sedang sibuk bermain ponsel di kasur dan tempat belajarnya.
"Lo kenapa sih Key, lo sama Fadhil kenapa? Dia mutusin Lo?" tanya Ana khawatir.
Keyla duduk di pinggir tempat tidurnya, menatap ketiga temannya itu lekat. Sebelumnya mereka juga sudah tahu tentang masalah perjodohan Fadhil yang sempat menghebohkan seluruh kelas dan sekolah, membuat fans Fadhil si tuan muda menjadi kecewa dan patah hati.
"Fadhil beneran sudah dijodohin sama orang tuanya," ucap Keyla.
Baik Raya, Ana, dan Bella terdiam. Serius Fadhil di jodohkan? Lalu bagaiman dengan Keyla?
"Lo serius? Lo tau darimana?" tanya Raya.
"Dia sendiri yang kasih tau ke gue."
"Gila banget orang tuanya emangnya ini zaman Siti Nurbaya? Lagian Fadhil itu kan masih muda, masa mau dijodohin sih?"
"Terus dia terima perjodohan itu? Atau dia lebih memilih lo daripada cewek yang bakal dijodohin sama dia?"
"Emang ada apa sih, sampai tiba-tiba dia dijodohin gitu?"
"Jangan-jangan ceweknya nenek lampir Laura? Wahh gak bisa dibiarin sih ini." Ana emosi dia menatap Keyla yang langsung menundukan kepalanya.
Rentetan pertanyaan itu membuat Keyla menarik napas berat. Dia akhirnya menceritakan semua yang dikatakan Fadhil padanya kemarin, sedangkan ketiga temannya mendengarkan dirinya dengan ekspresi yang berbeda.
"Key, lo yang sabar ya," ucap Bella setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Keyla.
"Iya, lo gak salah kok menjauh dari Fadhil saat ini karena lo butuh menenangkan diri. Lo gak usah terlalu merasa bersalah," tambah Raya.
"Key, kalau menurut gue, lo gak boleh terlalu lama jauhin Fadhil. Gue tau lo lagi terpukul sekarang, tapi lo juga harus bantu Fadhil buat nyari solusi," jelas Ana.
Keyla termenung, mengolah masukan dari Ana. Dia benar, Keyla tidak boleh lari dari masalah seperti ini dan membiarkan Fadhil menghadapinya sendirian.
Cinta Keyla untuk Fadhil patut di pertanyakan jika dirinya tidak berada di samping Fadhil saat sang pacar sedang dalam masalah seperti ini.
"Makasih ya, ternyata curhat sama kalian benar-benar bisa buat gue tenang," kata Keyla sambil tersenyum.
Teman-teman Keyla yang tadinya duduk di meja belajar milik Keyla kini mendekati Keyla yang duduk di pinggir tempat tidur dan segera memeluk gadis itu berusaha menenangkan dirinya.
Dalam hati Keyla merasa sangat beruntung karena memiliki teman-teman seperti mereka yang selalu ada disaat dia membutuhkan.