Untuk FADHIL

Mulai Unjuk Rasa

Fadhil membuka pintu rumahnya, dan merebahkan tubuhnya di sopa, rasanya lelah sekali hari ini, Fadhil pun meneguk segelas air di atas meja, keributan kecil terdengar dengan samar-samar, dia sudah menduga bahwa kedua orang tuanya pasti sedang bertengkar lagi.

"Mah, mau ke mana?" tanya Fadhil heran saat melihat Mamahnya berjalan dengan sangat tergesah-gesah sambil membawa koper.

"Mah, jawab aku! Mamah mau pergi ke mana?"

Fadhil menarik tangan sang Mamah, tentu saja dia kaget saat melihat keadaan Mamahnya yang sangat hancur, matanya sembab seperti habis menangis, rambutnya yang berantakan dan mau ke mana malam-malam begini membawa koper? sepertinya terjadi pertengkaran hebat antara Mamah dan Papahnya.

"Kamu gak usah ikut campur! Minggir!" tandas Riska, Mamahnya Fadhil, sambil mencoba melepaskan genggaman tangan anaknya yang begitu erat.

"Mah, aku sudah dewasa, aku berhak tahu," sergah Fadhil penuh emosi, rasanya dia selalu dilarang untuk ikut campur urusan kedua orangtuanya, padahal dia sudah tahu semuanya.

"Kenapa Mamah bawa koper malam-malam? Mamah mau pergi ke mana?" Fadhil masih menatap wajah Riska dengan penuh tanda tanya.

Riska pun malah menangis dan mencoba untuk melepaskan genggaman tangan anaknya yang begitu kuat, saat itu pula Papahnya Fadhil menghampiri anak dan istrinya, Fadhil pun langsung menatap tajam sang Papah.

"Pah, jelaskan apa yang telah terjadi? Selama ini aku diam mendengar pertengkaran kalian yang hanya selalu mementingkan keegoisan dan pekerjaan, selalu itu saja yang ada dipikiran kalian, Fadhil merasa malu Pah, Mah," Fadhil melepaskan tangan sang Mamah dan meninggalkan kedua orangtuanya.

"Fadhil, kamu mau ke mana? Hey, Papah bilang berhenti!" teriak Papahnya sambil melangkah mengejar anak remajanya yang ingin kabur.

"Jika Mamah masih mau pergi, aku tidak akan pulang ke rumah!" tandas Fadhil, sambil memakai helmnya dan melajukan motornya dengan kecepatan yang tinggi, meninggalkan asap hitam.

Bagi Fadhil, apa yang kini dia lakukan adalah yang terbaik, meski dia tidak tahu akan pergi ke mana, yang pasti dia bisa menghentikan Mamahnya untuk pergi dari rumah, kesibukan kedua orangtuanya membuat dirinya hidup dalam kebebasan, dia tahu bahwa orangtuanya selalu mengutamakan pendidikan sang anak tanpa memikirkan betapa pentingnya kasih sayang mereka sebagai orangtua terhadap sang anak.

Sikap Fadhil kali ini memang berhasil menggagalkan Mamahnya untuk pergi dari rumah namun, tentu saja Fadhil tidak akan pulang ke rumah, dia berniat untuk menghubungi salah satu temannya dan bermalam di rumahnya, seperti itu kebebasan yang dia lakukan jika kedua orangtuanya sedang ke luar kota untuk mengurus semua bisnis dan perusahaannya.

“Fadh, bangun! udah siang, lo gak mau pergi ke sekolah?”

Riko mengguncangkan tubuh Fadhil yang masih tertutup selimut. Yang hanya di balas dengan gumaman yang tidak jelas, akhirnya Riko memutuskan pergi ke dapur untuk masak dan menyiapkannya di meja makan, agar jika nanti Fadhil bangun langsung bisa sarapan bersamanya.

Kehidupan Riko memang tidak jauh berbeda dengan Fadhil, hanya saja Riko masih beruntung kedua orangtuanya tidak pernah bertengkar meski sering pulang pergi ke luar kota untuk mengurus perusahaan makanan.

“Wahh, lo pintar masak juga ya? baik banget lo, Rik, thanks ya udah masakin sarapan buat gue,” ujar Fadhil sambil memeluk bahu Riko.

“Udah buruan makan, gue tahu lo dari tadi malam belum makan,” cetus Riko, dia ingat betul saat bertemu dengan Fadhil kemarin sore, yang lain pada makan bakso dia hanya sibuk dengan ponsel dan ketika pulang dia harus mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya dan akhirnya melarikan diri ke rumahnya, bahkan tadi malam pun Fadhil tidak mau makan, katanya dia sudah kenyang makan emosi.

“Lo emang pengertian banget, gue jadi sayang sama lo Rik,” gurau Fadhil, membuat Riko bergidik, dan menoyor kepala Fadhil yang otaknya mulai rusak, Fadhil hanya tertawa sadar bahwa ucapannya memang alay.

Mempunyai kedua orangtua yang gila dengan pekerjaan membuat Fadhil tidak pernah merasakan makan bersama dalam satu tempat meja, bahkan dari kecil dia selalu dititipkan dengan Bi Tinah, sang pembantu di rumahnya, Mamah yang selalu sibuk di Singapura untuk bisnis perusahaannya sedangkan Papahnya yang menjadi kepala sekolah selalu sibuk ke luar kota, kedua orangtunya sesekali pulang dan menemuinya namun, jenis pekerjaan Mamah yang membuat Papah selalu merasa rendah sebagai seorang suami, dan keegoisan Mamahnya yang selalu menitipkan anaknya kepada seorang pembantu sedangkan dirinya sibuk dengan perusahaan, bagi Riska dia berkerja keras untuk pendidikan Fadhil sebagai penerus perusahaan nantinya, hal itu terkadang membuat Fadhil merasa tertekan sebagai pewaris, pertengkaran sering kali terjadi, awalnya Fadhil hanya diam karena tidak diperbolehkan untuk ikut campur urusan kedua orangtuanya, namun, saat Fadhil sudah beranjak dewasa dia merasa bahwa lebih baik kedua orangtuanya tidak ada di rumah, jika di rumah pun hanya untuk bertengkar saja, membuatnya stres.

Uang suatu benda yang paling Fadhil benci, jika Mamahnya mentransfer uang dia selalu menggunakannya untuk berpesta dengan teman-temannya, hal itu kadang membuat pandangan teman-teman yang lain buruk kepadanya, sebagai anak kepala sekolah Fadhil merasa tidak ada Guru yang berani menegurnya jika dia berbuat salah, hal itu juga yang membuat dia benci, dia ingin lahir seperti anak-anak yang lainnya, yang terpenting kedua orangtuanya selalu ada bersamanya.

“Eh, Fadh, lo mau pergi makai motor kan?” tanya Riko, setelah menghabiskan sarapannya.

“Iya, kan semalam gue ke sini makai motor,” jawab Fadhil antusias, rasanya dia beruntung banget punya teman yang begitu pengertian.

“Gue berangkat dulu ya, cewek gue sudah nungguin dari tadi, jangan lupa rumah gue di kunci.”

Riko menepuk bahu Fadhil sambil tersenyum, Fadhil mengerti bahwa Riko selalu mengantar jemput pacarnya, sepertinya hal itu yang membuat Riko merasa hidupnya damai meski kedua orangtuanya selalu di luar kota bahkan ke luar negri untuk mengurus perusahaannya. Fadhil jadi teringat seseorang.

Dengan bergegas dia membuka ponselnya, matanya terbelalak melihat info di grup, sedetik kemudian dia tersenyum senang, ternyata yang menjadi sekretaris Event nanti adalah Keyla, gak bisa di bayangin betapa hari-harinya akan begitu menyenangkan, berharap cewek itu juga senang bisa menjadi sekretarisnya.

“Hey, lo sudah berangkat?”

Fadhil mengirim pesan untuk Keyla, dan di ponselnya pun terdapat pesan dari sang Papah, untuk tidak absen sekolah, begitulah rasanya menjadi anak kepala sekolah, kesalahannya di sekolah memang tidak pernah mendapat teguran dari Guru namun, selalu ada hukuman dari Papahnya.

"Sudah, ini baru saja sampai, lo sudah berangkat juga?”

Mendengar bahwa Keyla sudah berangkat, Fadhil langsung bergegas meninggalkan rumah Riko dan menyalakan mesin motornya.

"Baiklah, sampai ketemu di sekolah.” Dengan cepat Fadhil membawa motornya untuk segera sampai di sekolah untung saja rumah Riko dekat dengan sekolahnya.

Keyla tersenyum saat membaca balasan dari Fadhil, dia bergegas untuk ke ruangan Bu Fatimah untuk memberikan laporan mengenai event sekolah nanti, dia melewati lorong kelas sambil menatap lembar kertas yang telah di printnya, mengingat bahwa Fadhil ketuanya Keyla tersenyum dan berpikir ‘apakah cowok itu bisa di andalkan? Bahkan untuk memegang penuh tanggung jawab pun rasanya sulit untuk dipercaya’

“Assalamualaikm, maaf mau bertemu dengan Ibu Fatimah.”

Keyla memasuki ruang Guru dengan sangat sopan, dan mendekati ruangan Bu Fatimah yang berada di pojok ruangan, betapa terkejutnya dia melihat ada Fadhil bersama Bu Fatimah.

“Keyla, silahkan duduk.” Bu Fatimah tersenyum, dan menyuruh Keyla untuk mendekat.

Keyla menjadi sangat grogi, tangannya tiba-tiba menjadi panas dingin, ‘huhf, kenapa harus ada dia sih?’ batin Keyla mengerutu kesal.

“Silahkan duduk,” ujar Fadhil, sambil menarik kursi dan mempersilahkan Keyla untuk duduk di sampingnya.

Keyla tersenyum meski jantungnya berdetak dengan sangat kecang, dia menarik nafas pelan sebelum berbicara dengan Bu Fatimah. ‘Huhf’ keluhnya, sambil menghembuskan nafasnya yang terasa berat.

“Ini Bu, data panitia yang akan bertanggung jawab penuh saat event nanti." Keyla menyerahkan lembar kertas, yang kemudian di baca sama Bu Fatimah.

Fadhil dengan santai, menatap Keyla sambil senyum-senyum, membuat kening Keyla mengerut, bisa-bisanya dia tersenyum, membuat Keyla benar-benar panas dingin. Sealay itukah sosok Keyla? Fadhil yang tahu jika Keyla sedang deg-degan, dia pun menyentuh tangan Keyla yang sedang di gepit oleh kedua pahanya. Sontak Keyla kaget dan menatap Fadhil, dengan cepat Keyla menghempaskan tangan Fadhil.

“Jadi bagaimana Bu, apakah pulang sekolah kita akan mengadakan rapat kepanitiaan?” tanya Keyla untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi.

Bu Fatimah menatap kedua muridnya, “Fadhil kamu dipercaya untuk menjadi ketua event, jadi Ibu harap kamu bisa aktif berdiskusi dan bertanggung jawab penuh atas event ini.”

“Siap Bu, saya tidak akan mengecewakan,” tukas Fadhil dengan mengubah duduknya menjadi tegap.

“Keyla, karena kamu sekretaris, kamu harus bisa berkerja sama dengan ketua, Ibu harap kalian bisa mensukseskan event sekolah ini.”

Fadhil menoleh menatap Keyla, setelah Bu Fatimah mempersilahkan untuk kembali ke kelas masing-masing, Keyla dapat bernafas lega.

“Hey, Putri Snow White!” teriak Fadhil sambil berlari menyamai langkah Keyla.

Keyla menunduk tidak ingin menatap cowok ngeselin itu, entahlah kenapa jantungnya selalu berdetak saat melihat Fadhil.

“Selamat berkerjasama, gue senang bisa dekat dengan lo, dah! Gue duluan.”

Cowok itu pergi setelah mengatakan itu semua, tanpa dia sadari bahwa lawan bicaranya tersenyum mendengarnya.

“Huhf, entah kenapa gue merasa bahagia mendengar rayuan receh yang mungkin bukan hanya gue yang pernah mendengarnya,” keluh Keyla, sadar bahwa Fadhil bisa saja membuatnya menangis setelah menerbangkannya.

***

Saat bel istirahat Fadhil di panggil untuk menemui Papahnya di kantor sekolah, dengan santai Fadhil melewati para siswa dan siswi yang menatapnya hingga ada yang berteriak histeris, penampilan Fadhil yang memakai almamater dan kaca mata, menambah imagenya saja sebagai anak kepala sekolah.

Fadhil tersenyum kepada semua cewek yang menyapanya, membuat mereka berteriak histeris, saat Fadhil berbelok langkahnya terhenti, ternyata Laura sedang menghadang di depannya.

“Gue perlu bicara sama lo sebentar,” ucap Laura dengan kedua tangannya yang melipat di depan dada.

“Gue harus ke ruangan kepala sekolah sekarang, jadi gue gak punya waktu buat bicara sama lo.”

Fadhil meninggalkan Laura setelah penolakan, membuat Laura mendengus kesal. Tiara dan Cintya pun langsung menghampiri Laura yang masih menatap Fadhil.

“Cuek banget dia sama lo Ra, beda banget saat gue lihat dia sama Keyla,” celetuk Tiara sambil tersenyum miring.

Cintya pun setuju dengan perkataan Tiara, membuat Laura semakin naik pitam, hatinya terasa panas mendengarnya, dengan kesal Laura meninggalkan kedua sahabatnya itu dengan langkah kaki yang sengaja dihentakan.

“Kayanya gue salah ngomong ya tadi?” tanya Tiara sambil menutup mulutnya, Cintya hanya mengangkat bahunya lalu pergi menyusul Laura.

Ketika sampai di ruangan kepala sekolah Fadhil langsung masuk dan duduk di ruang tamu, dia sudah bisa menebak bahwa Papahnya akan membahas perkara semalam.

“Semalam kamu tidur di mana? Mamah kamu khawatir ketika kamu tidak pulang sampai pagi, apakah benar kamu selalu seperti ini saat Papah dan Mamah tidak ada di rumah?” ujar Haris, Papahnya Fadhil. Sambil menatap anak sulungnya ini.

“Fadhil menginap di rumah Riko, Papah telat jika bertanya bagaimana kehidupanku saat selalu ditinggal sendirian di rumah,” tandas Fadhil masih menunduk tidak mau menatap Papahnya.

Haris menarik nafasnya yang terasa berat, menurutnya apa yang dia lakukan ini benar namun, di mata anaknya semua adalah kesalahan.

“Semalam Papah hanya menyuruh Mamah kamu untuk tinggal lebih lama lagi di rumah, agar bisa mengurus kamu.”

“Tapi, nyatanya Mamah malah memilih perusahaan di banding anaknya sendiri, dan sudahlah Pah, jika Papah pun ingin pergi ke luar kota pergi saja, aku tidak akan melarang kalian lagi, aku mau ke kelas sudah bel masuk,” potong Fadhil dan pergi meninggalkan Papahnya yang masih membisu.

Saat masuk ke kelas, Fadhil meletakan kacamatanya dan menyiapkan buku untuk pelajaran berikutnya namun, Laura kembali mengajaknya untuk berbicara, meski Fadhil sudah menolaknya.

Laura ingin mengatakan tentang amanah Tante Riska, rasanya susah sekali mengajak Fadhil untuk berbicara.

Fadhil masih diam dan sibuk dengan buku pelajarannya hingga akhirnya Laura terlihat marah, dan terjadilah perdebatan kecil antara dirinya dan Fadhil. Pak Eza pun masuk dan merelaikan perdebatan antara Fadhil dan Laura.

“Bilang, gue akan baik-baik saja dan Ingat ya, jangan pernah bawa-bawa nama Keyla atas masalah ini!”

Laura dengan kesal meninggalkan Fadhil dan duduk di bangkunya, “Sepertinya Fadhil memang menyukai si Keyla, jika seperti ini hubungannya dengan Fadhil akan hancur,” gerutu Laura dalam batinnya, kebencian Laura semakin menambah kepada Keyla.

Fadhil merasa bahwa mood untuk belajarnya hancur, gara-gara menjadi pewaris perusahaan, kedua orangtua Fadhil menyuruhnya untuk menikah dengan Laura yang memang berasal dari orang yang sepandan dengannya.

"Sial!" desis Fadhil merasa geram. Riko dan Jaya menatap temannya ini dengan heran.

"Kenapa sih Fadh? Ada masalah?" tanya Jaya sambil mengerutkan keningnya.

Pak Eza sibuk menjelaskan sedangkan Fadhil sibuk dengan pikirannya sendiri, “Lo urusin tuh mantan pacar lo, bilang sama dia gak usah ikut campur urusan keluarga gue.”

Jaya dan Riko mengerti apa yang sedang sahabatnya ini rasakan, Jaya pun dengan santai menanggapi omongan Fadhil yang baginya sudah jelas bahwa Laura kini telah mencintai Fadhil.

Kedua orangtua mereka yang sudah mensetujui jika Laura dan Fadhil pacaran dan bahkan menikah. Apalagi jika itu terjadi kekayaan Fadhil akan semakin bertambah namun, sayangnya Fadhil hanya mencintai Keyla, cowok seperti Fadhil tidak bisa di kekang.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!