Takdir Purba

Akar

Cahaya merah di dasar Menhir menyala terang sesaat. Lalu…

Galuh mendengar suara. Bukan dari telinga. Melainkan langsung di dalam kepalanya. Pulang. Galuh membeku. Suara itu begitu tua. Dalam. Dan terasa sangat dekat.

Bagja rupanya juga mendengarnya karena laki-laki itu mendadak memegangi kepalanya.

"Aa dengar juga?" bisik Galuh panik.

Bagja mengangguk dengan wajah pucat. Suara itu kembali terdengar. Pulang. Jaga. Bangunkan.

Tubuh Galuh gemetar. Tiba-tiba pandangannya berubah. Situs Cipari lenyap. Di hadapannya kini terbentang sebuah hamparan hutan purba. Kabut tipis menyelimuti tanah basah. Suara burung-burung asing terdengar bersahutan. Di tengah lapangan terbuka berdiri sosok-sosok manusia mengenakan pakaian dari serat alami.

Mereka sedang mengangkat batu besar. Sebuah Menhir. Puluhan orang menarik batu itu bersama-sama sambil melantunkan suara rendah yang berulang. Galuh melihat seorang lelaki berdiri di depan batu tersebut. Tubuhnya tinggi. Matanya tajam. Dan entah kenapa, wajah itu terasa sangat familiar.

Lelaki itu menoleh. Menatap langsung ke arah Galuh. Seolah tahu bahwa Galuh sedang melihatnya dari masa depan.

"Batara Giri…" gumam Galuh tanpa sadar.

Lelaki itu mengangkat tangannya perlahan. Lalu tanah kembali bergetar. Pemandangan berganti cepat. Galuh melihat air mengalir di bawah tanah seperti sungai bercahaya. Jalur-jalur itu terhubung ke berbagai tempat. Ke gunung. Ke hutan. Ke gua. Ke tempat yang sangat jauh di Kalimantan. Gua Mengkuris. Galuh melihat cap-cap tangan merah di dinding gua menyala samar.

Frekuensi. Sirkuit. Semuanya saling terhubung. Dan tiba-tiba… Salah satu jalur itu berubah hitam. Retak. Air di dalamnya mengering. Tanah mulai runtuh. Suara jeritan terdengar dari kejauhan. Galuh tersentak keras. Pandangan itu lenyap. Ia kembali berada di Situs Cipari. Tubuhnya limbung.

Bagja segera menangkap tubuhnya sebelum jatuh. "Galuh!"

Napas Galuh memburu. Matanya masih sulit fokus. "Aku lihat… aku lihat jalur air di bawah tanah," bisiknya.

Rama Anom menatapnya lekat. "Apa yang kamu lihat lagi?"

"Ada yang rusak. Ada jalur yang putus. Kalau itu benar-benar hancur… Cipari bisa mati."

Suasana mendadak semakin tegang. Abah Jumali menatap Menhir dengan wajah muram.

"Batari Watu tidak sedang membangunkan kalian tanpa alasan," ujarnya lirih.

"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Bagja.

Rama Anom terdiam lama. Tatapannya beralih ke arah Munjul Nini yang tampak samar dalam kabut malam.

"Kalian harus menemukan sumber retakannya sebelum musim hujan datang sepenuhnya," jawabnya akhirnya.

"Kalau tidak?" tanya Galuh.

Rama Anom menarik napas panjang. "Seluruh jalur air tua di bawah Cipari akan runtuh. Longsor kemarin hanya awal."

Angin malam kembali bertiup kencang. Nyala merah di dasar Menhir berdenyut sekali lagi.

Dum.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke Cipari, Galuh benar-benar menyadari satu hal. Ia tidak mungkin lagi lari. Takdir itu sudah terlanjur membuka matanya.

Saat mereka kembali dari situs menjelang dini hari, hujan akhirnya turun. Awalnya hanya rintik kecil. Lalu berubah menjadi deras. Air menghantam atap-atap rumah Cipari dengan suara yang nyaris seperti ribuan langkah kaki.

Galuh berdiri di teras rumah Bagja sambil memandangi hujan. Tubuhnya masih gemetar oleh penglihatan yang baru saja ia alami.

Bagja keluar membawa selimut tipis lalu menyampirkannya ke bahu Galuh. "Kedinginan?" tanyanya.

Galuh mengangguk pelan. "Aa percaya sama apa yang aku lihat tadi?"

"Percaya."

"Tanpa ragu?"

"Karena Aa juga lihat sesuatu."

Galuh menoleh cepat.

"Apa?"

Bagja bersandar di tiang teras.

"Aa lihat Cipari tenggelam lumpur."

Jantung Galuh mencelos.

"Tapi sebelum itu terjadi," lanjut Bagja pelan, "Aa lihat kamu berdiri di depan Menhir sambil memegang cahaya merah itu."

"Aku?"

"Iya."

Galuh terdiam.

Hujan semakin deras. Udara dingin mulai menyusup sampai ke tulang.

"Galuh," panggil Bagja pelan.

"Hm?"

"Mulai malam ini, mungkin hidup kita nggak akan pernah normal lagi."

Galuh tertawa kecil pahit.

"Hidupku sudah nggak normal sejak aku memutuskan resign dan pulang ke Cipari."

"Menyesal?"

Galuh memandangi hujan cukup lama sebelum menjawab.

"Entah kenapa… sekarang aku malah merasa baru benar-benar pulang."

Bagja tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada kecanggungan di antara mereka. Tidak ada lagi dua orang asing yang dipaksa menikah. Yang ada hanyalah dua manusia yang sama-sama sedang berdiri di depan sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Dan di kejauhan, jauh di balik hujan dan gelapnya malam, Menhir kembali berdenyut pelan. Seperti jantung purba yang akhirnya menemukan dua nama yang selama ini dicarinya.

Jalur bercahaya yang dilihat Galuh di bawah tanah terus pecah seperti kaca yang dihantam dari dalam. Cahaya merah yang semula mengalir tenang di antara jalur-jalur bawah tanah kini berubah liar. Sebagian memudar. Sebagian lagi berubah hitam pekat seperti urat yang membusuk.

Galuh mencoba bergerak, tetapi tubuhnya terasa terkunci. Di hadapannya, Batara Giri masih berdiri di tengah hutan purba itu. Angin membuat rambut panjang lelaki itu berkibar pelan. Sorot matanya tidak terlihat marah maupun sedih. Justru terlalu tenang.

“Naon anu dijaga ku karuhun keur dibongkar ku anak incu sorangan.” (Apa yang dijaga leluhur sedang dibongkar oleh anak cucunya sendiri).

Suara itu menggema langsung di kepala Galuh. Lalu tanah kembali bergetar. Galuh melihat jalur-jalur bercahaya itu mulai runtuh satu per satu. Air yang mengalir di bawah tanah berubah hitam. Dari sela-sela retakan, muncul asap merah tipis yang bergerak naik menuju permukaan. Munjul Nini.

Galuh langsung tahu pusat kerusakan itu berasal dari sana. Pemandangan kembali berganti. Kini ia melihat lereng Munjul Nini dari atas. Bukit itu tampak berlubang di banyak titik. Bekas galian batu. Pondasi rumah-rumah baru. Saluran air yang dibelokkan secara paksa. Lalu… suara. Tangisan. Tangisan banyak orang bercampur gemuruh tanah longsor.

Galuh melihat sesuatu bergerak di bawah permukaan tanah. Sangat besar. Sangat panjang. Seperti akar raksasa yang hidup. Dan akar itu… mulai patah.

“Galuh!”

Suara Bagja terdengar jauh.

“Galuh, sadar!”

Seketika semua pemandangan pecah menjadi gelap.

Galuh tersentak. Napasnya memburu. Ia kembali berada di Situs Taman Purbakala Cipari. Tubuhnya gemetar hebat.

Tangannya mencengkeram lengan Bagja sangat kuat sampai kuku-kukunya nyaris menembus kain jaket lelaki itu.

“Galuh…” suara Bagja terdengar cemas. “Kamu lihat apa?”

Galuh mencoba mengatur napasnya. Namun mulutnya terasa kering. Semua orang di sekitar Menhir memandanginya dengan tegang. Cahaya merah dari dasar Menhir Barat masih menyala redup. Denyut itu masih terasa.

“Akar…” bisik Galuh lirih.

“Apa?” tanya Rama Anom cepat.

Galuh mengangkat wajah perlahan.

“Ada akar besar di bawah Cipari. Jalur airnya menyatu seperti akar pohon raksasa. Tapi sekarang mulai patah.”

Rama Anom menutup mata.

Sementara Abah Jumali langsung beristigfar pelan.

“Berarti benar…” gumam Rama.

“Apa yang benar?” tanya Sukma.***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!