Takdir Purba
Dum Dum Dum
Bagja berdiri lalu membuka sedikit jendela kamar. Udara dingin segera masuk. Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara kentongan lain bersahutan dari arah berbeda.
Tong! Tong! Tong!
Tong! Tong! Tong!
Wajah Bagja berubah tegang.
"Ada apa, A?"
"Dulu waktu kecil, Abah Jumali pernah bilang, pola kentongan seperti itu dipakai kalau ada sesuatu yang harus segera dikumpulkan di Bale Agung. Tapi itu sudah lama banget. Bahkan sebelum Aa remaja."
"Malam-malam begini?"
"Makanya aneh."
Bagja mematikan rokok yang baru saja ia nyalakan, lalu berjalan mondar-mandir pelan. Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu kamar.
Tok. Tok. Tok.
“Ja…” suara Sundari terdengar dari luar. "Kamu masih bangun?"
Bagja segera membuka pintu.
Sundari berdiri dengan wajah cemas. Di belakangnya, Sukma Atmaja juga sudah mengenakan jaket dan sarung seperti orang yang sedang bersiap berangkat.
“Rama Anom memanggil semua keluarga ke Bale Agung sekarang juga,” ujar Sukma tanpa basa-basi.
"Sekarang?" Bagja terlihat terkejut.
"Iya. Ada sesuatu yang terjadi di situs."
Jantung Galuh langsung berdegup lebih cepat.
"Menhir?" tanya Galuh pelan.
Sukma rekomendasi.
"Cahaya merah itu muncul lagi. Tapi kali ini lebih besar."
Perjalanan menuju Bale Agung dilakukan dalam keheningan yang aneh. Jalanan Cipari benar-benar gelap karena listrik belum menyala. Hanya lampu-lampu minyak dari rumah warga yang tampak samar di kejauhan. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut turun tipis ke jalanan.
Bagja mengendarai motor dengan Galuh duduk di belakangnya. Jemari Galuh memegang ujung jaket Bagja, ragu-ragu untuk benar-benar memeluk tubuh laki-laki itu.
Sepanjang jalan, mereka melihat beberapa warga berdiri di depan rumah masing-masing. Sebagian menatap ke arah Munjul Nini yang tampak samar di kejauhan.
“Mereka juga mengetahui ada sesuatu yang terjadi,” gumam Bagja.
Saat mereka melewati Situs Taman Purbakala, Galuh refleks menoleh. Dan getarannya langsung menegangkan. Dari sela pepohonan, samar-samar terlihat cahaya merah. Berdenyut. Pelan. Seperti jantung raksasa yang sedang hidup.
“A…lihat itu,” bisik Galuh.
Bagja memperlambat motor. Cahaya itu benar-benar ada. Tidak terang menyala seperti api. Justru redup, namun anehnya mampu membuat udara di sekitar terasa hangat. Kabut tipis di sekitar lokasi terlihat kemerahan. Bagja menelan ludah.
“Ini lebih kuat dibandingkan dua tahun lalu,” gumamnya.
Mereka tidak berhenti di situs tersebut dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Bale Agung. Ketika tiba, halaman Bale Agung sudah dipenuhi beberapa orang tua yang Galuh kenal sebagai sesepuh Cipari. Abah Jumali juga ada di sana, duduk diam sambil memejamkan mata seperti sedang mendengarkan sesuatu. Begitu Bagja dan Galuh turun dari motor, semua mata langsung berbunyi ke mereka. Galuh tiba-tiba merasa seperti sedang diadili.
Rama Anom berdiri di tengah aula Bale Agung mengenakan pakaian putih sederhana. Di depannya terdapat gulungan peta tua dan beberapa batu kecil yang disusun melingkar.
“Akhirnya kalian datang,” ujar Rama Anom tenang.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Rama?" tanya Sukma.
Rama Anom tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Galuh dan Bagja secara bergantian.
"Kalian sudah resmi bersatu?"
Bagja menggunjing. "Sudah."
Rama Anom mengembuskan napas panjang. "Berarti waktunya memang sudah tiba." Kalimat itu membuat bulu kuduk Galuh meremang.
"Waktu apa?" tanya Galuh.
Rama Anom berjalan mendekati salah satu tiang Bale Agung. Jemarinya mengusap kayu tua itu perlahan.
"Selama ratusan tahun, Cipari berdiri di atas keseimbangan yang dijaga oleh banyak hal. Bukan hanya manusia. Bukan hanya alam. Tapi juga ingatan."
"Ingatan?"
Ya. Leluhur kita percaya, bumi menyimpan kenangan. Setiap penebangan, setiap kerakusan, setiap darah, setiap kesedihan, semuanya tersimpan di dalam tanah. Dan ketika keseimbangan itu rusak, bumi akan mencari cara untuk mengingatkan manusia.
Suasana di Bale Agung semakin sunyi.
“Longsor di Munjul Nini bukan bencana biasa,” lanjut Rama Anom. "Itu adalah respons."
"Respon terhadap apa?" tanya Bagja.
"Terhadap rusaknya jalur air tua di bawah Cipari."
Sukma terlihat langsung memahami sesuatu.
“Maksud Rama…jalur bawah tanah yang dulu dijaga Batara Giri?”
Rama Anom meninjau pelan.
"Kalian pikir leluhur membangun Menhir hanya untuk ritual? Tidak. Batu-batu itu adalah penanda. Penjaga keseimbangan. Mereka berdiri tepat di titik-titik simpul udara dan energi bumi."
Galuh merasakan tengkuknya dingin. Sebagai sarjana kehutanan, ia terbiasa berpikir logistik. Namun semakin lama berada di Cipari, semakin banyak kejadian yang tidak bisa ia jelaskan hanya dengan ilmu akademik.
"Kalau memang ada kerusakan di bawah tanah, apa teknisnya dengan kami?" tanya Galuh.
Rama Anom tersenyum samar.
"Karena kalian berdua dibangun di tempat ini."
"Kami?"
"Bagja terhubung dengan Menhir. Kamu terhubung dengan Gua Mengkuris. Kalian berdua mengalami frekuensi yang sama di waktu yang hampir bersamaan. Itu bukan kebetulan."
Abah Jumali yang sejak tadi diam akhirnya membuka mata. "Batari Watu sudah lama menunggu," gumam lelaki tua itu lirih.
Galuh menoleh cepat. “Batari Watu itu siapa sebenarnya?”
Tak ada yang langsung menjawab. Angin menderu-deru terdengar lebih kencang. Lampu minyak di Bale Agung bergoyang-goyang. Dan tepat pada saat itu…
Dum.
Sebuah getaran halus terasa dari bawah lantai.
Dum.
Getaran kedua. Galuh refleks memegang lengan Bagja. “Gempa?” bisiknya.
"Bukan," jawab Rama Anom pelan.
Dapatkan itu terlalu ritmis. Seperti berdenyut.
Dum.
Dum.
Dum.
Lantai kayu Bale Agung ikut bergetar pelan mengikuti irama tersebut. Abah Jumali perlahan berdiri. Wajahnya tajam. "Menhir Barat sudah aktif sepenuhnya," katanya.
Malam semakin larut ketika rombongan kecil itu berjalan menuju Situs Taman Purbakala. Tak ada satu pun warga biasa yang mengikuti mereka. Entah karena takut atau memang tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kabut turun semakin tebal.
Galuh berjalan di samping Bagja sambil terus mengamati sekitar. Udara malam terasa aneh. Lebih hangat dibandingkan biasanya.
Ketika mereka mendekati area situs, langkah semua orang melambat. Cahaya merah itu kini terlihat jauh lebih jelas. Memancar dari dasar Menhir Barat. Bukan hanya satu titik. Cahaya itu membentuk pola seperti akar atau jaringan tipis yang menjalar di atas tanah. Galuh menahan napas. Persis seperti yang pernah Bagja ceritakan.
"Ya Tuhan…" bisiknya.
Menhir itu tampak hidup. Permukaan batunya yang hitam memantulkan cahaya merah seperti bara api yang tersembunyi di dalam tubuh batu. Bagja melangkah maju perlahan. Semakin dekat ke Menhir, semakin kuat getaran yang terasa di dada mereka.
Dum.
Dum.
Dum.
Irama itu kini terdengar jelas. Bukan suara. Melainkan denyut yang dirasakan langsung tubuh.
“Jangan menyentuhnya dulu,” ujar Rama Anom cepat saat melihat Bagja hendak mengulurkan tangan.
Bagja berhenti. "Kenapa?"
"Karena kali ini bukan hanya kamu yang akan melihat sesuatu."
Galuh menoleh bingung. Belum sempat ia bertanya lagi, tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar lebih kuat.***