Takdir Purba
EYANG SIGRAWANA DAN EYANG BANANTAKA
“Benar, Kakang. Rayi membiarkan Munjul Nini bergerak memberikan peringatan. Tapi tidak ada yang sadar bahwa itu adalah peringatan. Teknologi menjauhkan orang-orang dari alam. Sudah tidak ada lagi yang belajar ngaji rasa. ” imbuh Eyang Sigrawana.
“Bagaimana aku bisa tetap menjaga Cisumur kalau pohon-pohon yang dulu di tanam sejak Darmaraksa masih hidup, sekarang sudah tidak ada. Rungkun awi pun bisa dihitung jari. Manusia beranak pinak, ternak makin banyak. Supata Darmaraksa tentang Cipari ngari menjadi kenyataan. Sayangnya, setelah Surasmita tiada, hampir tidak ada generasi yang menanam pohon. Kalau seperti ini terus, Cipari bukan jirim diri, tapi nyaris kehilangan jati diri. Dengan tetangga kampung yang seharusnya menjadi saudara pun, kini malah bersitegang. Kotoran hewan menjadi biang keladi. Apakah sampai saat ini belum ada solusi yang bisa menyelesaikan urusan kotoran sapi?” tanya Eyang Banantaka.
“Belum Eyang.” Menhir menjawab pelan nyaris tak terdengar.
“Apa harus ada keributan dulu, baru dipikirkan solusinya?” keluh Eyang Banantaka. “Sudah lebih dari seperempat abad masalah ini terus saja menjadi pemicu keributan. Peringatan terakhir, yaitu kematian puluhan ekor sapi tanpa sebab yang jelas, ternyata masih belum cukup untuk menyadarkan orang-orang Cipari.”
“Kita belum kehilangan harapan, Kakang. Frekuensi dua penjaga kali ini nyaris mendekati sempurna. Getih Cipari yang mengalir di tubuh mereka sudah melalui proses pemurnian. Bukan begitu, Menhir?” Eyang Sigwarana beralih memandang Menhir.
“Sumuhun Eyang. Leres pisan. Bagja adalah keturunan Kinasih dan Wijaya. Anak Kinasih yang bernama Sundari menikah dengan Duriyat dari Blok Pakuwuan. Duriyat sendiri adalah keturunan ke lima dari garis silsilah Surawisesa. Selama empat generasi, leluhur Duriyat adalah kuwu di Cipari. Sedangkan Galuh, dia adalah cucu Surasasmita. frekuensi takdir purba itu menemukan titik temu pada Bagja dan Galuh.” Menhir menjelaskan.
“Lalu, sejak kapan mereka terhubung satu sama lain?” tanya Eyang Banantaka.
“Dua tahun lalu, Eyang. Tepat ketika usia Galuh menginjak dua puluh lima tahun. Antena batu andesit di Batu Lepoq mengirimkan kabar tentang keberadaan Galuh. Melalui jejak telapak tangan di dinding Gua Mengkuris, saya mencoba mengirimkan frekuensi kepada Galuh. Di saat yang sama, Bagja datang ke sini dan menyentuh permukaan tubuh saya yang sedang terhubung ke Galuh. Frekuensi keduanya beresonansi dengan sangat baik. Kejadian yang sama terulang hari ini. Mereka menggabungkan frekuensi dan berhasil menemui Batara Giri.” Menhir memaparkan apa yang terjadi tadi.
“Lalu, Batara Giri meminta mereka pulang dan datang lagi saat purnama penuh. Itu artinya, tiga hari ke depan mereka akan kembali ke sini.” Eyang Banantaka menyimpulkan. “Sejauh mana mereka mengetahui peran mereka?” lanjut Eyang Banantaka.
“Sundari sudah menjelaskan apa yang dia ketahui,” jawab Menhir.
“Apa kau sudah berhasil membangunkan Ki Darmaraksa?” selidik Eyang Sigrawana.
“Sudah, Eyang. Ki Darmaraksa sudah bangun dari tilemnya. Begitu pun Surawisesa dan Surasasmita. Mereka sudah memberikan respon terhadap getaran yang saya kirimkan,” jawab Menhir.
“Sudah mendekati janari,” Eyang Banantaka menatap langit. “Sebentar lagi ayam jantan di sini bisa mengendus keberadaanku. Rayi,” Eyang Banantaka mengalihkan tatapan ke Eyang Sigrawana, “Terima kasih sudah menjaga Ciremai dengan baik. Aku tahu, andai tidak ada Rayi, sudah lama Ciremai ingin memuntahkan kemarahannya melihat kondisi Cipari. Menhir, teruskan tugasmu, menjaga dan menyimpan ingatan walaupun para penjaga yang kita tunggu sudah tiba.”
“Sami-sami, Kakang”
“Sumuhun, mangga Eyang.”
Eyang Sigrawana dan Menhir menjawab hampir bersamaan.
“Menhir,” suara Eyang Sigrawana terdengar lirih. “Aku pun harus segera kembali ke Ciremai. Tugasmu masih sangat banyak, jaga diri baik-baik. Kakang, Rayi izin mulih ka Ciremai.”
“Sok, mangga Rayi.”
“Baik Eyang.”
Menhir membungkuk memberikan penghormatan kepada dua sosok penjaga sekaligus leluhur masyarakat Cipari itu. Gerimis kembali berubah menjadi hujan lebat. Kabut tebal menyelimuti Cipari. Petir bersahutan silih berganti.
***
Pagi belum sepenuhnya siaga. Kabut masih pekat menyelimuti kampung, tetes embun menggantung di pucuk-pucuk daun. Galuh mondar-mandir gelisah di teras rumah sambil sesekali mengetatkan jaketnya.
Hatinya gusar. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin sore. Dia ingin bertanya ke Bagja, tetapi lupa menanyakan nomor gawai lelaki itu—Galuh merutuki kebodohannya. Mau datang ke rumah Bagja, Galuh takut mengganggu kalau datang malam-malam. Apalagi dia perempuan. Bisa jadi bahan gunjingan satu kampung kalau ada yang tahu Galuh mendatangi Bagja malam-malam.
Galuh sedang menunggu matahari menghangat yang terasa begitu lambat. Bahkan, secangkir kopi pahit, setangkup serabi, dan tiga buah bakwan yang dihidangkan Bi Yoyoh belum disentuhnya.
Bi Yoyoh keluar dari dalam rumah lalu duduk di bale yang ada di teras. “Kamu kenapa? Dari tadi Bibi perhatikan kok mondar-mandir kayak orang bingung. Ada yang ditunggu? Itu sarapan malah belum dimakan.”
“Bi, kalau jam segini, A Bagja ada di rumah nggak, ya?” Galuh ikut duduk di samping kanan Bi Yoyoh.
“Atuh jam segini mah, Bagja masih sibuk di kandang. Biasanya meres susu sapi itu beres jam setengah delapan. Mau ada urusan apa sama Bagja?” selidik Bi Yoyoh.
“Ada urusan penting.”
“Kamu ada hubungan apa sama Bagja?”
“Hubungan apa, Bi? Nggak ada hubungan apa-apa. Aku sama A Bagja kan memang temenan dari kecil.”
“Siapa tahu punya hubungan spesial,” goda Bi Yoyoh.
“Sumpah Bibi, nggak ada hubungan apa-apa.”
“Ada apa-apa juga ya nggak apa-apa. Bagja belum menikah. Mukanya kasep, uangnya banyak, punya usaha sendiri, sarjana, kalau Bibi masih muda mah, Bibi pelet itu si Bagja. Nggak tahu itu anak kenapa belum nikah sampe sekarang. Padahal yang mau sama dia itu banyak. Dia tinggal milih.”
“Kenapa jadi bahas masalah begini sih, Bi?” Galuh memijit pelipisnya.
“Mumpung lagi bahas masalah jodoh, Bibi mau tanya sama kamu. Kenapa kamu belum nikah? Umur kamu sebentar lagi sudah mau tiga puluh, lo.”
“Bi, nyari pasangan hidup itu nggak gampang. Kan harus dilihat dulu bibit bobot bebetnya. Kebetulan aja, Galuh belum ketemu lelaki yang cocok, Bi. Belum ada yang ngajakin Galuh nikah juga. Gimana, dong?”
“Kamu terlalu pintar sih, mapan juga. Jadi laki-laki pada minder.”
Kali ini Galuh diam tak menanggapi penilaian Bi Yoyoh. Rasa-rasanya semua argumen Galuh tidak ada yang bisa diterima oleh Bi Yoyoh. Alih-alih membantah ucapan bibinya, Galuh memilih untuk menikmati serabi dan bakwan serta kopi yang sudah tidak beruap lagi.
“Ini serabi dan bakwan beli di Bi Arinta, ya?”
“Kamu mah kebiasaan, suka mengganti topik pembicaraan kalau sudah nyerempet urusan jodoh teh. Iya, itu Bibi beli di si Arinta. Sudah ah, Bibi mau lanjut jemur cucian.” Bi Yoyoh berlalu menuju ke dalam rumah lagi untuk mengurusi cucian bajunya.
***