Takdir Purba

KE RUMAH BAGJA

Galuh mengembuskan napas lega. Setidaknya, obrolan tentang jodoh di pagi ini berakhir tanpa drama keributan. Galuh melirik jam di pergelangan tangan kanannya. Sudah hampir setengah delapan. Dia yakin, Bagja sudah ada di rumah.

Setelah pamit ke Bi Yoyoh, Galuh berjalan menuju rumah Bagja. Tak lupa dia merapatkan jaketnya. Angin bulan Februari sungguh sangat tidak bersahabat.

Rumah Bagja dekat dengan bekas rumah Abah. Mau tidak mau, Galuh kembali menatap tanah rata yang dulu berdiri rumah Abah bergaya Belanda. Temboknya saja tidak bisa ditembus oleh paku. Jendela-jendela besar menjadi ciri khas rumah Abah. Jika pagi, jendela-jendela itu akan dibuka sepenuhnya.

Galuh terus saja berjalan tanpa berhenti. Bekas rumah Abah hanya diliriknya sekilas. Pagi seperti ini jalanan kampung di Cipari cenderung sepi. Anak-anak sibuk ke sekolah. Para lelaki sibuk kerja setelah sebelumnya mengurusi sapi-sapi mereka. Ibu-ibu yang tidak bekerja kantoran, sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Kita tidak akan melihat laki-laki menghabiskan waktu dengan nongkrong di warung kopi ataupun perempuan yang sibuk ngerumpi. Malas menjadi satu kata tabu bagi orang Cipari.

 Ada beberapa orang yang berpapasan dengan Galuh. Namun, sepertinya mereka tidak mengenal Galuh. Hanya seulas senyum semringah yang mereka berikan sambil menundukkan kepala. Di saat seperti ini, Galuh baru benar-benar sadar, sudah terlalu lama dia tidak pulang dalam arti yang sebenarnya.

“Assalamualaikum,” Galuh mengucapkan salam di depan pagar rumah Bagja. Sekali, dua kali, sampai salam yang ketiga kali masih tidak ada jawaban.

Galuh memberanikan diri membuka pagar yang tidak terkunci. Samar, terdengar suara dari arah dapur. Galuh memutar langkah berbelok ke kanan menuju pintu bagian belakang rumah Bagja.

“Assalamualaikum,” Galuh kembali mengucap salam.

“Waalaikumsalam. Ke, sakedap,” terdengar jawaban dari dalam. Dari suaranya, Galuh masih ingat kalau itu suara Sundari, ibunya Bagja.

Pintu terbuka. Sejenak perempuan itu diam sambil menatap wajah Galuh lekat-lekat.

“Ieu saha?” Sundari akhirnya bertanya karena sepertinya gagal mengingat.

“Ini Galuh, Mah,” Galuh menjawab sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

“Galuh … Galuh … ya Allah, Galuh? Galuh cucunya Abah Perwata?”

“Iya, Mah.”

“Ya Allah, Gusti, ayo masuk. Sini masuk ke dalam. Jangan di dapur, ah. Ya Allah ini teh beneran Galuh? Mamah pangling.”

Sundari memeluk Galuh. Merangkul pundaknya lalu membawa masuk ke rumah. Bibirnya tak henti bicara. Tangannya terus saja mengusap punggung Galuh. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah perpisahan.

“Duduk dulu. Sebentar, Mamah bikinin teh manis,” titah Sundari.

“Nggak usah repot-repot, Mah,” Galuh memegangi lengan Sundari agar tidak beranjak ke dapur untuk membuat minuman.

“Repot apa. Cuma air. Nggak repot kok.” Sundari menepis halus tangan Galuh.

Setelah Sundari menghilang ke dapur, Galuh menatap sekeliling ruang tengah rumah Bagja. Nyaris sama seperti dulu. Hanya warna catnya yang berubah. Ada beberapa tambahan foto juga yang tergantung di dinding. Termasuk foto wisuda Bagja bersama ibu dan ketiga adiknya, tanpa didampingi bapaknya.

Galuh masih ingat dengan baik sosok Duriyat. Lelaki ramah yang sangat hangat. Pembawaannya tenang, tetapi penuh canda. Bermain di rumah Bagja membuat Galuh tidak kehilangan sosok Bapak dan Ibu.

 Ketika adiknya Bagja lahir, Galuh sempat marah. Merasa tersisih karena Bagja lebih memperhatikan adiknya. Apalagi sapi-sapi milik Duriyat makin banyak yang menyebabkan Duriyat jauh lebih sibuk dan jarang ada di rumah. Sundari merasa kesepian, tetapi tidak bisa mengungkapkannya. Alhasil, dia marah dan tidak mau lagi mengunjungi Bagja. Butuh waktu lebih dari setahun bagi Bagja untuk membuktikan bahwa Galuh juga adiknya.

“Nih, airnya. Ayo diminum,” Sundari muncul dari arah dapur sambil membawa secangkir teh manis dan beberapa stoples panganan. Termasuk peyek dan jimpling.

“Kemarin teh Mamah ke pasar. Beli jimpling. Pulangnya Mamah bikin peyek. Eh, geningan mau ada tamu jauh. Kamu cantik banget sekarang,” Sundari terus saja memandangi wajah Galuh. Membuat wajah Galuh memerah karena jengah.

“Mamah kenapa repot-repot begini. Aku kan jadi enak.”

“Apanya yang repot ah. Mamah seneng ketemu lagi sama Galuh. Kenapa atuh kalau pulang tuh cuma sebentar. Mana nggak pernah main ke sini.”

“Mamah dapat info dari mana kalau aku suka pulang?”

“Ari kamu, kayak bukan orang Cipari aja. Di sini mah nggak ada rahasia. Banyak yang cerita, sejak rumah Abah dijual, kamu pulang cuma pas Lebaran aja. Itu juga sebentar. Datang tengah malem, besok siangnya kamu udah nggak ada lagi.”

“Galuh males aja, Mah. Ke sini juga sedih. Rumah Abah udah nggak ada.”

“Nggak boleh begitu. Karuhun kamu orang Cipari. Tiap orang pasti akan pulang ke akarnya. Sedih pasti. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah takdirnya begitu. Ngomong-ngomong, kamu sudah ketemu Bagja?”

“Sudah, Mah. Kemarin aku ketemu A Bagja di museum.”

“Eta si Bagja, ketemu sama kamu nggak bilang-bilang ke Mamah. Kamu juga, kenapa kemarin nggak main ke sini. Atau nginep di sini aja sekalian, ya.”

“Aku juga baru sampai kemarin siang, Mah. Terus pengen aja ke museum. Malah ketemu A Bagja di sana.”

“Namanya jodoh mah memang begitu.”

“Jodoh apa ini, Mah? Kok bahas-bahas jodoh? Eh, ada Galuh. Udah lama? Sebentar ya, Aa ganti baju dulu. Maklum, habis dari kandang.” Bagja muncul tiba-tiba.

“Kalau masuk tuh bukannya salam. Malah ngagetin. Ini jodoh kamu datang.” Sundari melirik Galuh sambil mengedipkan mata.

“Dari tadi sudah salam, nggak ada yang jawab,” rutuk Bagja.

“Namanya juga lagi sama calon mantu, ya sudah pasti Mamah nggak dengar suara kamu,” cibir Sundari.

Sedangkan Galuh hanya diam. Bingung harus bagaimana menanggapi ucapan Sundari yang terus saja mengatakan kalau dia adalah calon mantu.

“Omongan Mamah tadi jangan kamu masukkan ke hati, ya,” pesan Bagja pada Galuh.

“Harus dong. Malah harus diaminkan,” protes Sundari.

“Ya sudah, terserah Mamah. Aa mau mandi dan ganti baju dulu. Aku tinggal sebentar ,ya, Galuh,” Bagja pamit ke Galuh.

“Iya A,” jawab Galuh singkat.

Sundari menatap Bagja dan Galuh bergantian. Sejak mereka anak-anak, Sundari selalu berharap kalau Bagja dan Galuh akan berjodoh. Satu dari sekian banyak doa yang tak pernah lupa Sundari panjatkan. Diam-diam, Sundari selalu mamantau kabar Galuh sudah menikah atau belum. Menunggu Galuh, itulah alasan kenapa hingga saat ini Sundari tidak pernah menanyakan kapan Bagja akan menikah.

“Aduh, Mamah sampai lupa. Gimana kabar Bapak dan Ibu di Bogor?”

“Alhamdulillah sehat, Mah.”

“Bapak belum pensiun, ya?”

“Belum. Kalau nggak salah sih sekitar lima tahun lagi.”

“Kalau Ibu? Masih ngajar di kampus yang dulu?”

“Masih. Kayaknya Ibu memang sudah betah di situ.”

“Ibu kamu masih suka mikirin omongan saudara atau tetangga nggak?”

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!