Takdir Purba

LORONG WAKTU

“Sebetulnya kami ada di mana?” Galuh masih mencoba bertanya.

Batara Giri hanya tersenyum. Perlahan membalikkan tubuhnya, lalu melangkah menjauhi Bagja dan Galuh.

Kini, tiga orang datang menghampiri Bagja dan Galuh. Tanpa bicara apa pun, dua orang dari mereka menarik tangan Bagja dan Galuh. Sedangkan satu orang berjalan di depan mereka. Bagja dan Galuh dibawa menuju sebuah pohon beringin raksasa. Ada lubang seukuran Bagja yang menganga di salah satu akar beringin.

Bagja dan Galuh didorong ke dalam lubang pohon oleh kedua lelaki yang memegangi tangan mereka. Tubuh Bagja dan Galuh ditelan oleh lubang hitam. Sebuah entakan keras membuat tubuh keduanya terpental.

Saat membuka mata, Bagja dan Galuh menyadari kalau kini mereka sudah kembali ke posisi semula. Berada di depan Menhir di dalam areal situs Taman Purbakala. 

Galuh mencoba berdiri meski terhuyung. Napasnya masih terengah. Keringat sebesar biji jagung terlihat di jidatnya.

“A, itu tadi apa?”

“Aa juga nggak tahu.” Bagja berdiri. Kakinya terlihat sedikit gemetar. Sedangkan matanya lekat memandang Menhir.

“Kita bukan sedang bermimpi kan?”

“Kalau mimpi, nggak mungkin kita berdua mengalami hal yang sama. Ada yang tidak beres di sini.”

“Gimana A Bagja bisa tahu, kalau Menhir ini semacam pintu untuk ke dimensi lain?”

“Insting. Aa pernah mengalami kejadian yang hampir sama sekitar dua tahun lalu. Tapi Aa tidak sampai menyusuri waktu dan menemukan dimensi lain.”

Hening menyelimuti keduanya.

“A, A Bagja bukan? Ngapain di sini? Aa sama siapa?” Suara Pak Rohim—setengah berteriak karena jarak yang lumayan agak jauh—memecah kesunyian.

“Iya, Pak. Saya Bagja. Ini lagi lihat-lihat aja sama teman.” Bagja menjawab keras.

“Sudah sore, A. Sebentar lagi gelap.”

“Kami sudah mau pulang, Pak.”

“Bapak duluan, A.”

Bagja melambaikan tangan sebagai jawaban.

“Kita juga harus pulang.”

“Tapi aku masih penasaran, tadi itu apa?”

“Sekarang lebih baik pulang. Besok kita bahas lagi. Kamu juga perlu istirahat. Wajah kamu pucat. Pasti capek. Kamu tadi ke sini jalan kaki?”

“Iya.”

“Kalau sekarang pulang jalan kaki juga, kuat nggak? Aa nggak bawa motor.”

“Aku belum jompo, A.” Galuh memberengut.

“Siapa tahu, kamu nggak kuat jalan kaki.”

Galuh mengentakkan kaki. Berjalan menuju pintu keluar areal situs tanpa menghiraukan Bagja.

***

Hampir tengah malam. Sejak lepas Isya, hujan deras mengguyur tanah Cipari. Sesekali terdengar suara petir yang memekakkan telinga. Jalanan lengang. Tak ada satu pun warga yang ke luar dari rumah.

Menhir mulai siaga. Senja tadi, angin dari Puncak Ciremai membawa kabar kalau Eyang Sigrawana akan datang. Sepertinya, kali ini Eyang Banantaka pun tidak ketinggalan. Petir yang terus saja menggelegar, menjadi pertanda Eyang Banantaka sedang bergerak. Biasanya, petir seperti ini terdengar ketika mata air Cisumur memancar mengawali musim hujan.

Dua kakak beradik itu menjaga Cipari dengan dimensi yang berbeda. Jika kehadiran sang kakak Eyang Banantaka ditandai dengan petir yang menggelegar dan mata air Cisumur yang bergejolak, maka sang adik Eyang Sigrawana akan datang ditandai dengan asap putih seperti kabut namun lebih pekat dan getaran pada tanah Cipari.

Eyang Banantaka tetap tinggal di Cipari. Menjaga mata air Cisumur untuk masyarakat Cipari agar tak ada krisis air di Cipari, meski kemarau panjang melanda. Tumbuhan harus tetap hijau, kebutuhan air bagi warga bahkan untuk ternak harus terpenuhi dengan baik.

Menhir menegakkan tubuh. Tengah malam akan segera tiba. Sejak frekuensi Bagja dan Galuh terhubung, tubuh Menhir nyaris tak bisa istirahat. Lipatan demi lipatan ingatan datang silih berganti. Kesibukan Menhir dalam dua tahun terakhir membuat rona permukaan tubuhnya makin hitam dan berkilau.

Tanah yang dipijak Menhir bergetar pelan. Angin dari arah Selatan Menhir bertiup lebih kencang. Dalam tiga kedip mata, sosok laki-laki rampung dengan tinggi menjulang hampir dua meter berdiri di hadapan Menhir. Jubah putihnya berkibar menguarkan aroma cendana bercampur melati. Wangi yang Menhir kenal sebagai aroma khas Eyang Banantaka.

Jemari tangan kiri Eyang Banantaka menggenggam tongkat berkepala ular naga yang terbuat dari kayu pohon Jamuju. Tiap kali tongkat itu digerakkan, samar-samar tercium aroma segar Gunung Ciremai.

Menhir membungkuk memberikan penghormatan. Eyang Banantaka melayang pelan mendekati Menhir lalu mengusap puncak tubuh Menhir. Hawa dingin yang memberikan kehangatan mengalir pelan merambat masuk ke dalam tubuh Menhir.

“Kamu tidak pernah mengecewakan.” Eyang Banantaka tersenyum memuji Menhir.

“Hatur nuhun, Eyang,” jawab Menhir pelan.

“Sigrawana belum datang?”

“Belum, Eyang. Tapi Gunung Ciremai sudah mengeluarkan kabut.”

“Aku juga melihatnya. Nah, itu dia datang.”

Hujan yang tadi deras, berubah menjadi rintik gerimis. Tubuh panjang Eyang Sigrawana merayap pelan di antara rumah-rumah penduduk.

“Eyang …” Menhir kembali membungkuk memberi hormat.

            Eyang Sigrawana tersenyum pada Menhir. Lalu beralih menatap Eyang Banantaka. “Kakang, hapunten Rayi nembe sumping,” ujar Eyang Sigrawana sambil menundukkan kepalanya sedikit.

“Dihapunten pisan, Rayi,” jawab Eyang Banantaka.

“Menhir, ada apa kamu memanggil kami berdua? Sejak dua hari lalu, aku merasakan getaran yang berbeda. Ada frekuensi yang begitu kuat di sini. Apakah Kakang juga merasakannya?” Eyang Sigrawana bertanya sambil memindai seluruh areal situs.

“Benar, Rayi. Kakang juga merasakan frekuensi berbeda hadir di sini.” Eyang Banantakan membenarkan.

“Mohon maaf Eyang, saya sudah lancang memanggil Eyang Banantaka dan Eyang Sigrawana. Saya bermaksud memberi kabar, dua frekuensi yang selama ini ditunggu, sudah tersambung sempurna. Siang tadi, dua penjaga yang terikat oleh takdir purba sudah tiba di sini dan sudah terhubung ke Batara Giri.”

“Maksudmu, keduanya sudah datang ke sini dan bertemu Batara Giri?” Suara berat milik Eyang Banantaka seolah meminta kepastian.

“Sumuhun, Eyang,” jawab Menhir.

“Mereka terlahir dengan nama siapa?” Kali ini Eyang Sigrawana yang bertanya.

“Bagja Guna Munggaran dan Galuh Endah Wulandari, Eyang.”

“Nama yang luar biasa.” Gumam Eyang Sigrawana. “Apa yang Batara Giri perlihatkan kepada mereka?”

“Bagja dan Galuh hanya sempat melihat sedikit ritual kelompok Batara Giri yang sedang memecah batu. Batara Giri meminta mereka untuk kembali ketika purnama penuh,” jelas Menhir.

“Purnama penuh, tiga hari ke depan adalah purnama penuh,” Eyang Banantaka menerawang seolah sedang menembus waktu. “Apa yang Batara Giri perintahkan terhadapmu?”

“Saya harus membawa mereka bertemu dengan Eyang Banantaka, Eyang Sigrawana, Ki Darmaraksa, Surawisesa, dan Surasasmita. Bagja dan Galuh akan melakukan perjalanan spiritual melintasi ruang dan waktu.” 

“Kita tidak punya waktu lagi untuk menunggu. Cipari harus diselamatkan. Tahun lalu, pertama kalinya dalam sejarah Cipari, hampir setahun kita mengalami kekeringan. Aku tidak bisa lagi menjaga kondisi Cisumur seperti sebelumnya. Pantangan banyak dilanggar, keramat sudah tidak diindahkan, petunjuk semesta diabaikan, bahkan tak ada satu orang pun yang bisa membaca dan menafsirkan tanda yang aku kirimkan. Beberapa bulan lalu, Dua Caringin di Cisumur ditebang. Alam menegur melalui longsor kecil di Munjul. Adikku membiarkannya. Tapi, tetap saja, tidak ada orang yang sadar,” Eyang Banantaka mendengus kasar.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!