Seni Seviyorum Aisyah

Mood Aisyah Rusak

Aisyah tertunduk membuat Fatimah memandang ke arahnya dengan perasaan prihatin kini dia bisa melihat sendiri raut wajah Aisyah dengan jelas ada luka di hatinya dan ada kekuatan yang mencoba membuat dia tidak menangis sedangkan Raya nampak kaget tidak percaya dengan apa yang Hawa katakan barusan.

 

"Eh kamu seriusan Hawa? kamu jalan berdua dengan Raka kapan dan ke mana?" Raya terus melemparkan pertanyaan untuk meyakinkan bahwa apa yang dikatakannya itu benar.

 

"Iya aku berkata jujur Ray, sore itu aku Reyhan dan Amel serta Jaki pergi pergi ke bioskop lalu aku beli tiket lebih satu dan dari pada bingung aku pun memutuskan dan memberanikan diri untuk mengajak Raka pergi yang ternyata dia mau dan kita pun akhirnya pergi nonton sore sebab waktu masuknya memang sore sambil nunggu Raka juga sih," jelas Hawa dengan bibir yang terus tersenyum tanpa henti matanya pun terlihat berbinar-binar menceritakannya.

 

Tidak lama kemudian Guru pun masuk ke kelas, suara ketukan sepatu pantoefel menghentikan keributan yang terjadi di kelas Raka dan Ilham pun masuk bersamaan dengan Guru Kimia tersebut.

 

"Syutt Aisyah, Aisyah!" panggil Ilham saat Guru sedang sibuk menulis di papan tulis.

 

Merasa ada yang manggil tiba-tiba Aisyah menoleh namun Fatimah juga ikut menoleh penasaran siapa yang telah memanggil Aisyah yang ternyata itu Ilham.

 

"Syah, mana tugas yang kemarin saya suruh?" seru Ilham dengan menyandarkan punggungnya pada bangku, mata Ilham minus sehingga jika sedang belajar dia harus memakai kaca matanya.

 

Aisyah pun langsung mencari buku yang mana di dalamnya ada tulisan puisinya, "Nih aku robek saja ya kertasnya dan jangan mengejekku jika puisinya tidak bagus," ancamnya sambil mengulurkan tangannya.

 

"Iya tenang saja, thanks ya Syah!" Ilham mengambil buku itu dari tangan Aisyah.

 

Aisyah membalas dengan tersenyum entah kenapa Aisyah merasa Raka memperhatikannya diam-diam membuat dirinya gugup dan tersipu malu dia pun berusaha untuk bersikap tenang tapi Fatimah yang memang melihat tatapan Raka malah mengejeknya.

 

"Syah, kau tahu tadi waktu kamu ngasih buku itu ke Ilham Raka sempat melirikmu gitu loh duh aku saja yang melihatnya baper banget," tukas Fatimah dengan tersenyum.

 

Aisyah tidak menanggapi perkataan Fatimah karena Guru telah kembali menerangkan pelajaran yang memang butuh pikiran yang pokus dan konsentrasi dalam mendengarkan takut Aisyah tidak paham akan materi hari ini, Hawa dan Raya pun terlihat sangat pokus mendengarkan dalam pelajaran kimia yang paling jago diantara empat sahabat itu ialah Fatimah.

 

"Fatimah coba kamu isi jawabannya di papan tulis dan kamu juga Reyhan!" pinta Bu Maya sambil menunjuk ke dua muridnya itu dengan bangganya.

 

Ya mereka berdua paling jago kali ini Reyhan terlihat sangat serasi dimata sahabat-sahabatnya saat berdampingan dengan Fatimah, saat namanya dipanggil Fatimah sempat menoleh ke arah Aisyah karena takut salah dan yang pasti gugup apalagi dipasangkan dengan cowok yang sedang di gopiskan dengannya.

 

Aisyah terkekeh sembari meraih tangan Fatimah meyakinkan bahwa sahabatnya itu pasti bisa mengerjakannya, "Sudah sana ditungguin Bu Maya tuh, aku percaya kamu pasti bisa fighting!" Aisyah tak hanya meyakinkan Fatimah melainkan memberikan semangat dengan mengangkat tangannya dan tersenyum.

 

Karena Reyhan sudah berjalan ke depan akhirnya Fatimah pun menyusul cowok itu dari belakang ya Reyhan memang cowok yang dingin jarang sekali dia tersenyum kepada teman-temannya dengan Raka pun dia sepertinya tidak akrab entahlah Aisyah sendiri tidak mengerti mengapa begitu.

 

"Syah lihatlah mereka terlihat cocok ya?" Raya menoleh menatap ke arah Aisyah dengan tersenyum senang.

 

Melihat Raya tersenyum Aisyah pun ikut tersenyum mereka memang terlihat sangat serasi, tanpa Aisyah sadari Hawa sedari tadi menoleh ke arah dirinya namun dia juga melirik ke arah Raka yang duduk bersebrangan dengan Aisyah.

 

"Kamu tersenyum sepertinya mendukung mereka ya?" ujar Hawa melihat Aisyah yang diam-diam tersenyum melihat Fatimah dan Reyhan menjawab pertanyaan di papan tulis.

 

Aisyah menoleh menatap Hawa, "Syutt! aku sedang gemetar semoga saja jawaban Fatimah benar," jawabnya yang kembali pokus melihat satu persatu Fatimah memecahkan soal di papan tulis.

 

Terlihat Reyhan yang dengan lancarnya mencoret-coret papan tulis dan menjumlahkan angka-angka yang bagi sebagian orang melihatnya angkanya saja sudah terasa pusing apalagi memecahkannya dengan rumus-rumus kimia.

 

Raya dan Hawa kembali pokus ke depan karena Bu Maya telah duduk di bangkunya menghadap ke anak murid, ya terlihat jelas bahwa Bu Maya selalu membanggakan Reyhan dan Raka yang dikenal oleh anak kelas sebagai anak kesayangan para Guru dan itu tidak mudah dimiliki begitu saja oleh sembarang wanita karena para kakak senior pun mengincar Raka yang memang lebih tampan dibanding Reyhan.

 

Makanya itu Aisyah memilih untuk tidak berterus terang dari pada dia harus menahan rasa sakit karena cinta yang belum tentu menjadi pasangan hidupnya, dan wajar saja Hawa begitu bahagia saat bisa pergi bersama Raka ke bioskop.

 

"Baiklah beri tepuk tangan untuk Fatimah dan Reyhan!" tutur Bu Maya saat melihat jawaban ke dua murid itu yang sungguh luar biasa.

 

Seketika kelas menjadi ramai oleh gemuruh tepuk tangan Adit pun sampai berdiri untuk memberikan tepuk tangan atas keberhasilan teman-temannya, Bu Maya pun langsung mempersilahkan mereka duduk beriringan dengan bunyi bel pelajaran berikutnya.

 

Saat Fatimah duduk dia langsung memegang tangan Aisyah sebab rasa gugup yang kini merasukinya namun disisi lain dia sangat bersyukur melihat jawabannya yang ternyata benar dan sama dengan hitungan Reyhan untung saja waktu itu dia paham saat Bu Maya menjelaskan tentang konsep mol dan perhitungan kimia.

 

"Tangan kamu dingin sekali Fat," bisik Aisyah sambil tersenyum.

 

"Ya Allah Syah, aku sangat takut banget waktu di depan namun Reyhan berbisik sama aku di sana kalau rumusnya tidak jauh berbeda dengan kemarin yang Bu Maya jelaskan jadinya aku hafal," jelas Fatimah.

 

Mendengar cerita itu Aisyah jadi sangat terharu dan senang ternyata Reyhan telah membantu Fatimah menyelesaikan jawabannya karena jika jawaban Fatimah salah otomatis dia akan menanggung malu dan tentu saja Bu Maya akan sangat kecewa kepada Fatimah.

 

Pada pelajaran berikutnya adalah pelajaran Indonesia Ilham yang memang ditugaskan untuk membuat puisi langsung mengumpulkannya di atas meja Guru takut akan kena hukuman jika telat mengumpulkan tugas, pada pelajaran ini hanya menulis dan akan dijelaskan dipertemuan berikutnya hal itu membuat para murid bernapas lega karena bisa beristirahat dan berharap pertemuan berikutnya lebih konsentrasi dalam menyimak penjelasan dari Guru.

 

"Fat, Syah ke kantin yuk! sudah lama aku tidak makan bakso loh," tukas Raya sembari merayu sahabt-sahabatnya untuk makan bersama.

 

Akhirnya mereka pun mau pergi ke kantin untuk makan bakso yang memang sejak Raya sakit mereka jarang sekali makan bakso di kantin begitu Aisyah yang disibukan dengan organisasi OSIS di sekolah.

 

"Aku ke kamar mandi dulu ya gays," ujar Hawa sambil memainkan ponselnya.

 

Mendengar itu Aisyah langsung tersenyum, "Okey gak apa-apa kita pesanin dulu aja ya tapi jangan lama-lama loh."

 

"Heemm." Jari telunjuk dan ibu jarinya Hawa satukan membentuk simbol 'okey' lalu pergi dengan langkah kaki yang cepat-cepat dan menghilang di balik pintu.

 

"Ya sudah yuk, sudah laper nih," rengek Raya sambil merangkul bahu ke dua sahabatnya ini sembari mendorong mereka agar segera berjalan menuju kantin sekolah.

 

Bukan hanya teman kelas yang mengetahui persahabatan mereka melainkan anak-anak dari kelas lainnya pun tahu bahwa mereka bersahabat, saat mereka berjalan di koridor sekolah tidak sedikit yang menatap mereka dan menyapa mereka apalagi adek kelas yang mengaku bahwa dia fans dengan Aisyah sejak mengikuti acara kelas dan saat itu Aisyah menjadi motivator muda yang menyampaikan tentang indahnya menghafal al-quran.

 

Dan bagi Aisyah dari OSIS dia mengenal sosok Raka lebih dari sikap cowok itu saat di kelas, Raka memang sosok yang baik dan tegas kadang Aisyah juga kesal jika cowok itu sedang memarahi anggotanya yang lain apalagi Raka sampai main tangan, waktu itu juga Raka pernah bilang bahwa: Reyhan siswa yang pintar namun tidak berguna karena cowok itu tidak mau bergabung dengan OSIS.

 

"Hey siapa nih yang mau pesan?" tanya Fatimah saat melihat Raya dan Aisyah sedang bermain ponsel saat sampai di kantin.

 

Aisyah tidak berkutik sama sekali mendengar teguran Fatimah dia sedang sibuk di grup OSIS nya yang katanya pulang sekolah akan mengadakan rapat bersama Pak Bambang untuk membahas acara ulang tahun sekolah.

 

Melihat Aisyah yang sedang sibuk dengan ponselnya Raya pun bangkit dari duduknya, "Biar aku saja yang pesan, kalian mau makan bakso semua kan?" katanya.

 

"Iya sudah bakso aja jangan lupa satu buat Hawa Ray!" seru Fatimah mengingatkan Raya takut lupa.

 

Raya pun pergi untuk memesan sedangkan Aisyah telah selesai dengan urusannya, "Fat, pulang sekolah aku ada rapat bersama anggota OSIS lainnya," ungkap Aisyah sambil meletakan ponselnya di atas meja.

 

"Ya sudah lantas kenapa wajahmu begitu murung?" Fatimah melihat ada sesuatu yang terjadi sehingga wajah Aisyah terlihat murung, dulu dia ingin masuk OSIS namun saat orang tuanya melarangnya dia jadi tidak bisa bergabung dan alasan dia mau gabung awalnya dia mengira bahwa Reyhan juga masuk OSIS namun nyatanya cowok itu juga tidak mau.

 

Aisyah menarik napasnya, "Aku masih malas untuk bertemu dengan Raka Fat," ungkapnya lirih.

 

Mendengar itu Fatimah tersenyum, "Kau cemburu kan Syah? buktinya kamu masih malas bertemu dia," ejeknya.

 

Cemburu? apakah rasa kagumnya dulu terhadap Raka telah berubah? ah Aisyah kenapa kamu tidak menyadari bahwa rasa yang kamu miliki itu bukanlah rasa kagum melainkan rasa suka dan kini semua sudah terbukti dia menangis saat mendengar kabar itu dia juga merasa sakit saat mendengar Hawa berceritakan semuanya.

 

"Ah, kamu ngomong apa sih Fat," gerutu Aisyah menutupi perasaan yang sebenarnya dia sendiri pun tidak bisa memaknainya.

 

"Ya habisnya kamu sih makai acara malas ikut rapat, kamu sendiri kan tahu gimana Raka dari pada kena omel dia mending pergi rapat," saran Fatimah dengan tersenyum memandang Aisyah.

 

"Iya iya nanti aku bakal pergi kok."

 

Aisyah merasa bersyukur memiliki sahabat yang seperti Fatimah selain bisa mengerti dia juga selalu memberikan saran yang baik untuknya, semalas-malasnya dia tidak mungkin absen rapat apalagi dihadiri oleh Pak Bambang.

 

"Eh Fat, aku mau ke kamar mandi dulu ya."

 

Aisyah pergi begitu saja bersamaan dengan Raya yang datang dengan membawa satu nampan yang berisi dua basko dia menatap kepergian Aisyah dengan tanda tanya.

 

Raya menatap Fatimah dengan alis yang terangkat, "Mau ke mana tuh dia?"

 

Mendengar suara Raya lantas Fatimah langsung menoleh dan melihat siapa yang dimaksudnya, "Owh Aisyah mau ke toilet katanya."

 

Raya menganggukan kepalanya, "Hawa juga belum kembali?" tanyanya saat masih tidak melihat Hawa.

 

Aisyah berjalan ke kamar mandi yang tidak jauh dari kantin dia hanya ingin membasuh wajahnya dan buang air kecil namun saat keluar dari kamar mandi ada pemandangan yang membuatnya kembali mundur dan menarik napasnya karena hampir saja dia bertemu dengan dua orang itu, karena rasa penasaran menyelimutinya akhirnya dia pun mengintai dari balik dinding melihat pemandangan yang sebenarnya tidak ingin dia lihat.

 

"Bukannya Hawa pergi ke kamar mandi ya? kok dia malah asik ngobrol dengan Raka, astagfirullah sebenarnya apa yang sedang Hawa sembunyikan darinya," pekik Aisyah dalam hati karena tidak sanggup lagi melihatnya dia pun memutuskan untuk masuk lagi ke dalam kamar mandi.

 

"Huhf, mengapa semua ini terasa begitu menyakitkan ya?" batinnya terus berbicara membiarkan emosi dan amarah itu merenda di dalam sana.

 

Sekali lagi Aisyah membasuh wajahnya dengan air lalu mengelapnya dengan tisu yang telah disediakan, setelah merasa tenang dia pun keluar dari kamar mandi dan untung saja Hawa dan Raka telah pergi entah ke mana dia tidak mau tahu itu.

 

Selama perjalanan menuju kantin dia berusaha sekuat mungkin untuk bersikap biasa apalagi melihat bahwa Hawa sudah bergabung dengan yang sahabat-sahabatnya di meja sana.

 

"Aisyah lama sekali kamu ke toilet," ujar Raya sambil menyeruput air esnya yang terasa menyegarkan dan mampu menghilangkan dahaganya.

 

Dilemparkan pertanyaan itu Aisyah tersenyum lalu duduk di dekat Hawa, "Iya tadi cuci muka dulu jadi agak lama," katanya yang setengah jujur padahal yang membuatnya lama adalah pemandangan yang begitu menyakitkan.

 

****

 

Hawa tersenyum lalu kembali menyantap bakso miliknya, tanpa dia sadari Aisyah diam-diam memperhatikan gerak-gerik Hawa yang memang terlihat berbeda dari biasanya hal itu membuat Aisyah penasaran kepada Hawa ditambah lagi ponselnya berdering dengan bergegas pun Hawa langsung meraih ponselnya.

 

Tidak hanya Aisyah yang sedang memperhatikannya akan tetapi Raya juga, "Hemm, sampai segitunya kamu Hawa memangnya pesan dari siapa sih hah?" celetuknya dengan sinis.

 

"Hehehe gak bukan siapa-siapa kok," kata Hawa sambil terkekeh lalu melanjutkan makannya lagi.

 

Khuk ... khuk ...

 

Mendengar Aisyah batuk-batuk Fatimah pun langsung menyodorkan air minum kepada Aisyah, "Pelan-pelan Syah makannya!" tukasnya.

 

"Iya Fat, eh aku duluan ya ke kelas mau ada urusan dulu," ujar Aisyah kepada sahabat-sahabatnya dengan tersenyum simpul.

 

"Loh kan belum habis tuh baksonya Syah," sergah Hawa yang melihat mangkok Aisyah yang masih tersisa.

 

Aisyah tersenyum memandang Raya, "Tenang saja kan ada dia, Ray tolong habiskan ya bakso aku."

 

"Hah, okey deh nanti aku yang bakal habiskan," sahut Raya dengan sedikit kaget padahal sebetulnya dia sudah kenyang namun dia tidak bisa melihat bakso itu terbuang begitu saja.

 

Mendengar jawaban Raya, Aisyah pun langsung bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan banyak pertanyaan di kepala Fatimah yang merasakan ada yang beda dengan Aisyah pagi hari ini.

 

"Sebenarnya tuh anak kenapa ya? kok tumben-tumbenan tidak happy gitu," gumam Fatimah sambil memandang kepergian Aisyah.

 

Di koridor Aisyah sempat bertemu dengan Ilham dan Farel yang sedang bermain game, awalnya Aisyah berjalan biasa saja namun tiba-tiba Ilham memanggilnya membuat dia harus menghentikan langkah kakinya.

 

"Ada apa?" sahut Aisyah dengan raut wajah yang cuek hari ini dia merasa sedang tidak stabil apalagi melihat pemandangan di depan kamar mandi tadi hal itu menambah buruk suasana hatinya.

 

Ilham menghampiri Aisyah, "Ada apa kok wajah kamu ditekuk gitu? apa ada cowok yang berani jahati kamu, bilang saja sama aku Syah biar aku hajar tuh cowok."

 

Mendengar perkataan Ilham berhasil membuat Aisyah tersenyum meski sedikit, ya itulah dia yang selalu bisa menghibur meski kadang suka ngeselin juga.

 

"Hem, aku baik-baik saja kok gak ada yang berani jahatin aku bahkan cowok-cowok pun pada tunduk saat aku lewat hehe," ujar Aisyah dengan terkekeh.

 

Begitu pun Ilham yang juga ikut tertawa mengetahui bahwa Aisyah bisa melucu. "Kamu lucu juga ya Syah, berarti cowok-cowok di sini baik sama kamu."

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!